
Sae Rin menyendok croissant pesanannya, lalu mengunyahnya perlahan, menatap So Yeon yang tengah bergeming, memandangi lemonade-nya putus asa.
"Tidak perlu khawatir, jika suamimu berhasil membantu pengacara senior menyelesaikan suatu kasus besar. Ia akan mendapat bonus menggiurkan."
"Begitukah? Tapi, apa sewaktu interview dulu kau juga mendapat pertanyaan soal besaran gaji yang kau inginkan?" Tanya So Yeon, mengutarakan kekhawatirannya. Inilah yang sebenarnya ia takutkan. Dalam hal kemampuan, Dae Han mungkin bisa bersaing, ia lelaki yang pandai. Ia juga tipe lelaki high achiever yang pantang kalah. Ia hanya takut jika suaminya akan gagal bahkan dalam tahap pertama karena ambisinya yang terlampau besar soal gaji.
"Tentu saja. Mereka sudah mewanti-wanti hal itu sejak awal, kalau-kalau kinerjaku menjadi intern memuaskan."
Kedua bahu So Yeon mendadak lemas seketika. Sepertinya ketakutannya sebentar lagi akan benar-benar terwujud. Ia tak bisa membayangkan melihat wajah suaminya yang kusut dan tak bersemangat saat mendengar jika firma hukum itu tak mampu menggaji sejumlah yang ia inginkan. Lebih dari itu, ia takut jika suaminya akan mundur dengan serta merta jika tahu ia tak mendapat gaji selama menjadi seorang intern.
"Hanya firma hukum besar yang bisa menerima intern seperti ini. Beruntung suamimu mendapat kesempatan itu."
So Yeon hanya mengangguk lesu. Ia tak yakin Dae Han akan berpikir demikian.
"Chagi-ya..."
"Ya?" So Yeon sontak menatap seseorang yang sejak tadi memenuhi kepalanya. Seperti momok menakutkan yang berubah menjadi kenyataan, wajah kacau suaminya menjawab semua kekhawatirannya. Dae Han datang dengan wajah kuyu yang memerah, kemeja yang dikenakannya tak lagi tapi, lengan panjangnya ditekuk hingga siku, sedang rambutnya sangat berantakan bak seorang yang tengah putus asa.
"Chagi-ya..." So Yeon menanggapi dengan sebuah gumaman pula. Ia berdiri dengan merentangkan kedua tangannya yang gemetar, lalu meraup Dae Han dalam pelukannya. Tak peduli dengan tatapan aneh para pengunjung kafe yang mungkin menganggap adegan itu tak seharusnya dipertontonkan di tempat umum seperti ini. So Yeon tak peduli. Ia tetap memeluk suaminya erat. Bahkan ia melupakan Sae Rin yang sudah melongo tak percaya.
Dae Han hanya bisa membenamkan kepalanya pada ceruk leher istrinya. Mecari kehangatan diantara kepedihan yang membuatnya beku dalam sekejap.
"Semuanya baik-baik saja?" Tanya So Yeon lembut, hati-hati. Entah benar atau tidak jika ia membahas hal itu sekarang. Ia hanya ingin membuat Dae Han membagi kepedihannya dengannya.
"Mereka menolakku." Dua kata yang mampu membuat So Yeon kesulitan untuk sekedar menghela sejengkal tarikan napas.
"Ditolak?" Sahut seseorang yang sedari tadi hanya diam, memperhatikan.
Perlahan, So Yeon melepaskan pelukannya, menarik Dae Han untuk duduk di sebelahnya. Lalu mulai menanggapi keingintahuan Sae Rin. "Benar. Firma hukum itu telah menolak suamiku."
"Apa alasannya?" Tanya Sae Rin sekali lagi. Ia belum mendapatkan jawaban.
"Mereka tidak bisa memberi kesempatan untuk orang yang ambisius sepertiku." Balas Dae Han lesu.
Kedua wanita itu saling pandang. Ambisius? Sae Rin semakin penasaran. "Ambisius seperti apa yang kau maksud?" Tanyanya sekali lagi, menggali lebih dalam.
"Ya, mereka mundur saat aku menyebut besaran gaji yang ku inginkan." Lanjut Dae Han menjelaskan, meski setelah itu ia menatap So Yeon, meminta penjelasan siapa wanita yang tengah mengajaknya bicara kini.
"Ah, dia teman lamaku, oppa. Sae Rin."
Sae Rin membasahi bibirnya, menyibak poni menyampingnya ke belakang telinga. "Hai, Sae Rin." Ia mengulurkan tangannya, menjabat tangan Dae Han yang menyambutnya ragu-ragu.
"Ah, ya." Balas Dae Han singkat. Ia tak terlalu tertarik dengan basa-basi seperti ini.
Sae Rin melipat bibirnya, ingin memulai pembicaraan lebih lanjut mengenai masalah lelaki itu. "Aku bisa membantumu masuk firma hukum itu." Mulainya lagi.
"Benarkah?" Sahut So Yeon dengan mata membulat sempurna. Genggaman tangannya pada Dae Han semakin mengerat. Binar cahaya dari sorot matanya yang semula sirna, kini kembali terpancar di sana. Semoga pertemuannya dengan Sae Rin menjadi keberuntungan yang baik untuk Dae Han.
"Euhm," Sae Rin menatap Dae Han intens. "Suamiku adalah seorang managing partner di sana. Aku bisa meminta bantuannya untuk masalah ini." Sae Rin tersenyum simpul, lalu kembali menambahi kalimatnya saat mendapat tatapan tak percaya dari Dae Han. "Kau ingat aku tadi mengatakan jika aku sudah menikah dengan seseorang berkebangsaan asing, So Yeon-ah?"
"Euhm," So Yeon mengangguk. "Jadi, apakah ia juga seorang pengacara?"
__ADS_1
"Benar sekali, ia juga menjadi pengacara senior di sana."
"Astaga, jadi, Dae Han oppa masih bisa bekerja di sana, kan?" Tanya So Yeon serampangan, membuat Dae Han menatapnya tajam.
"Tentu saja. Aku akan mengusahakannya. Tapi..." Sae Rin sedikit menyesap minumannya, lalu melanjutkan. "Kau harus menerima berapapun gaji yang mereka beri untukmu selama intern."
"Tentu saja." So Yeon berujar antusias. Lantas menatap suaminya yang menatapnya dengan alis menukik tajam seolah berteriak apa yang kau katakan?
Seolah mampu menatap raut tak setuju lelaki di depannya. Sae Rin kembali meyakinkan. "Kau tenang saja, jika kau berhasil membantu pengacara seniormu memenangkan beberapa kasus besar. Kau bisa mendapat gelar pengacara tetap kurang dari dua tahun."
"Sungguh?" Lagi-lagi So Yeon yang menjawab lugas, kontan membuat Dae Han meremas tangan istrinya yang tertaut pada tangannya.
Sae Rin menggeleng heran. "Kenapa hanya kau saja yang menjawab, huh? Bagaimana dengan suamimu?"
"Suamiku tentu saja akan menuruti permintaanku, ya kan, oppa?"
Setelah menghela napas pasrah, akhirnya Dae Han, untuk pertama kalinya menanggapi ucapan So Yeon dengan terpaksa "Baiklah, terima kasih, Sae Rin-ssi."
So Yeon semakin melebarkan senyumannya, jemarinya masih menggenggam tangan Dae Han, balik menggenggamnya lebih erat. Sae Rin benar-benar menjadi oase bagi dirinya dan Dae Han. Entah apa yang terjadi jika hari ini ia tidak bertemu dengan Sae Rin. Bisa jadi Dae Han akan semakin jatuh terpuruk.
Setelah menatap Tiffany and Co. dipergelangan kirinya, Sae Rin kembali angkat bicara. "Bisakah aku meminta nomor ponselmu, Dae Han-ssi? Aku akan menghubungimu jika ada informasi penting."
Dae Han tak menjawab, ia justru menatap istrinya yang masih menampilkan senyum kebahagiaannya. "Kenapa tidak? Aku juga ingin meminta nomor ponselmu, Sae Rin-ah. Bisakah kau mengetikkan nomormu di sini saja?" So Yeon menyodorkan ponsel pintarnya, meminta Sae Rin untuk menuliskan nomor ponselnya di sana.
Sae Rin mengerutkan kening. "Bagaimana jika ada hal penting, tapi kau sedang tidak berada di rumah?"
So Yeon berpikir sejenak. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Sae Rin. Bagaimana jika ada informasi penting saat dirinya sedang berada di rumah sakit?
Tanpa banyak bicara, Dae Han hanya bisa menurut, mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan menyerahkan pada istrinya.
Setelah selesai mencatat nomor Sae Rin, So Yeon segera melakukan panggilan pada nomor itu.
"Baiklah, akan aku simpan," tukas Sae Rin setelah mendapat panggilan dari nomor Dae Han. Lalu kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas dan bersiap untuk pergi setelah mendapat sebuah pesan dari kliennya. "Aku harus pergi dulu, So Yeon-ah. Klienku sudah menungguku di kafe lain. Ish..."
"Kenapa tidak di kafe ini saja?" Balas So Yeon menangkap raut kesal Sae Rin.
"Ia bilang di sini terlalu ramai. Sudah, aku pergi dulu," Sae Rin memeluk tubuh So Yeon erat. "Senang bertemu denganmu." Ucapnya seraya melirik ke arah Dae Han yang sibuk merapikan kemejanya.
"Apa yang kau katakan? I'm glad to meet you more. Terima kasih atas bantuanmu, Sae Rin-ah."
"Euhm. Sampai Jumpa."
So Yeon melambai, menatap punggung Sae Rin sampai ia menghilang dibalik pintu kafe.
Selepas kepergian Sae Rin. Dae Han memulai pembicaraan serius dengan istrinya. "Apa maksudmu menyetujui bantuan wanita itu?"
So Yeon bergeming. Ia yakin suaminya akan memprotes hal itu. So Yeon hanya bergedik, lalu melambai pada seorang waiter.
"Silahkan memilih pesanan anda." Ucap seorang waiter tersebut.
So Yeon tersenyum, lalu mulai memilih menu yang ia inginkan. "Raspberry smoothie dan... eumm... kau ingin makan apa, oppa?"
__ADS_1
"Aku tidak lapar."
"Ayolah..." So Yeon memohon dengan menampilkan puppy eyes-nya yang tak pernah gagal menaklukkan Dae Han.
"Ish..." gerutu lelaki itu sembari memutar bola matanya malas, tapi ia tetap menuruti keinginan istrinya. "Sliced pork belly."
"Aniya," So Yeon menginterupsi cepat. "Cranberry cheese salad saja." Ralat So Yeon yang dibalas sebuah tatapan tajam dari Dae Han.
"Baiklah. Pesanan akan segera kami antar, Nona." Tukas waiter dengan seragam berwarna putihnya.
"Terima kasih." Balas So Yeon dengan sangat manis.
"Lalu kenapa kau memintaku memilih makanan sendiri jika tetap kau yang menentukan?" Protes Dae Han setelah waiter tersebut enyah dari sana, menatap So Yeon tak terima.
"Pork belly mengandung banyak kolestrol dan lemak jahat, tidak baik untuk kesehatanmu, oppa."
"Oke, baiklah." Dae Han mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah untuk berdebat dengan sang istri perihal makanan. So Yeon hanya tergelak melihat suaminya yang nampak pasrah.
"Tapi kenapa kau menerima tawaran wanita itu? Kau meremehkan kemampuanku untuk mendapatkan firma hukum yang lebih baik, huh?" Timpal Dae Han lagi. Mengungkit satu hal yang belum terjawab.
So Yeon menghela napas dalam-dalam. "Oppa, please, jangan bahas hal itu di sini, hum?"
Sebal, Dae Han memilih membuang muka. Ia bahkan menampik tangan istrinya yang berusaha melingkar dilengan kanannya.
So Yeon memberengut. Apa Dae Han menampik tangannya tadi? Satu hal yang akan lelaki itu lakukan jika ia marah padanya. So Yeon mulai meradang, mencoba menggapai suaminya lagi takut-takut. "Oppa, kau marah padaku?"
Dae Han meraup wajahnya, nampak sangat mengenal suara itu. Suara manja istrinya yang akan menangis setelah mendapat sinyal marah darinya. Maka tak ada pilihan lain selain melunak, mencoba berdamai dengan keadaan. Ia menatap So Yeon intens, lalu kembali menanyakan hal yang sama. "Kenapa kau menerima tawaran itu, chagi-ya? Apa aku sebegitu buruknya, hingga kau memutuskan menerima tawaran itu?" Kali ini suaranya berubah lebih lembut.
"Aku ingin kau segera mendapat pekerjaan, itu saja." Jawab So Yeon seadanya. Suaranya masih semanja tadi, betingkah memelas mungkin akan membuat suaminya luluh.
"Mereka tidak akan menggajiku selama masa magang, kau tahu itu kan, chagi-ya?"
"Aku tahu."
"Lalu kenapa..."
So Yeon menggeleng. "Bisakah kita tidak membicarakan hal itu sekarang, oppa? Aku tidak ingin merusak quality time kita dengan perdebatan tentang itu."
Dae Han menunduk. Matanya terpejam, berupaya memahami istrinya. Lalu kembali menatap mata teduh So Yeon setelah berhasil meredam emosinya. "Baiklah, maafkan aku."
"Aku akan menjelaskan alasanku nanti malam, oke?" Ucap So Yeon antusias.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Lagipula..." So Yeon menggantung kalimatnya, mengerling ke arah Dae Han yang kontan disambut kernyitan dari lelaki itu.
"Waeyo?" Tanya Dae Han tak mengerti makna kerlingan itu.
"Bukanlah oppa ingin mengecek pantatku, huh?"
To be continued
__ADS_1