Our Marriage Life

Our Marriage Life
The Main Point


__ADS_3

Satu jam sebelum waktu menunjukkan pukul 10 malam. So Yeon menemui Sae Rin untuk menanyakan kejelasan perihal bantuannya tadi pagi. Ia berpikir, campur tangan Sae Rin akan sangat berpengaruh untuk Dae Han. Terlebih jika suami Sae Rin sudah memberikan lampu hijau. Dae Han pasti akan merubah keputusannya.


Sambil menunggu kedatangan Sae Rin. So Yeon menikmati secangkir coffee latte yang masih hangat. Ia menyesapnya sedikit, lalu kembali mengamati guratan meja yang nampak menyedihkan dimatanya. Pikirannya terbang memikirkan masalah suaminya yang kian pelik. Bagaimana jika nanti orang tuanya mengetahui jika Dae Han sudah tidak bekerja? Dulu, sewaktu Dae Han masih menjadi intern di firma hukum Mister Bob and Partners--sebuah firma hukum ternama di Seoul--saja masih mendapat cibiran tak mengenakkan. Menganggap kinerja Dae Han tak becus, tak bisa memuaskan senior lawyer-nya, dan berbuah pada posisinya yang masih sama hingga di tahun pertama menjadi intern.


Ia masih mengingat benar bagaimana Ayahnya menuntut Dae Han untuk bekerja lebih giat lagi agar posisinya meningkat menjadi Equity Partner yang memiliki penghasilan besar. Tidak seperti posisinya sekarang yang hanya bergaji di bawah rata-rata karyawan swasta.


So Yeon mengusap wajah kuyunya putus asa. Tak dipungkiri, sejak pernyataan Ayahnya saat itu, Dae Han berubah semakin menggila. Etos kerjanya meningkat drastis. Ia sering mengambil lembur dan ikut serta membantu senior lawyer-nya menyelesaikan projek bersama 35 pengacara lain. Saat itu, gajinya memang bertambah, senior lawyer-nya pun memuji kinerja Dae Han yang praktis dan presisi. Dua kasus besar yang saat itu sedang senior lawyer-nya tangani dapat teratasi dengan baik berkat campur tangannya. Kenaikan jabatan menjadi Equity Partner sudah ia genggam kala itu. Tinggal menunggu promosi dan jam terbang yang sedikit lebih banyak lagi, ia sudah mengantongi surat pengangkatan. Namun Dae Han berada pada titik terendahnya kala itu. Lebih tepatnya dua bulan yang lalu, saat ia mengetahui jika So Yeon mulai bekerja di sebuah rumah sakit besar dan memiliki gaji dua kali lipat lebih besar darinya. Dae Han mulai putus asa. Pikiran ambisius-nya mulai bertindak tak terkontrol. Ia memutuskan untuk berhenti menjadi intern di Mr. Bob & Partners dengan alasan gaji yang tidak mencukupi. Begitu pula yang ia lakukan pada dua firma hukum setelahnya. Ia berpikir jika mendapat pekerjaan di sebuah firma hukum yang lebih besar dan prestisius, gaji yang ia dapatkan jauh lebih besar pula.


"Sorry, sudah lama menungguku?" Sapa Sae Rin, bergegas mengambil duduk di depan So Yeon.


"Ah, tidak, aku juga baru datang." Balas So Yeon, ia sedikit mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks.


"Kau..." Sae Rin menatap seragam yang dikenakan So Yeon, lalu menunjuknya. "Bekerja di Asan Medical Hospital?" Pungkasnya, menanyakan satu hal yang tak ia ketahui sebelumnya.


Sontak, So Yeon mengangguk. "Ya, sudah dua bulan ini aku bekerja di sana."

__ADS_1


"Ah, pantas saja, setahuku kau bekerja di klinik swasta kan dulu?" Tambah sae Rin. "Kau hebat sekali, tahu?"


So Yeon tersenyum simpul. "Kau lebih hebat."


"Tentu saja." Keduanya lantas tertawa bersama. Suasana menjadi lebih hangat semenjak kehadiran seorang waiter dengan membawa dua botol soju. Namun sayang, So Yeon tak bisa minum sekarang atau pekerjaannya akan berantakan karena ia mabuk. Alhasil, hanya Sae Rin yang menikmatinya. Seorang best drunker mana bisa mabuk meskipun menghabiskan dua botol soju sekalipun? Ia mulai membuka salah satunya, menuangkan pada gelas yang sudah disiapkan waiter tadi.


"Baiklah, ceritakan padaku, kenapa kau memintaku kemari?" Sae Rin memulai. Dapat ia lihat raut sedih wanita itu dari tatapannya yang sayu, tidak bersinar seperti biasanya. Ratusan klien dengan berbagai macam watak sudah pernah ia temui, tentu saja menjadi hal mudah baginya membaca mimik muka seseorang.


"Sae Rin-ah, apa kau bisa membujuk Dae Han oppa? Ia menolak tawaranmu..." So Yeon menunduk hanya untuk menghapus cairan bening di sudut matanya dengan sehelai tisu yang sedari tadi ia bawa, lalu melanjutkan kalimatnya. "Ia ingin mendapat gaji lebih besar dariku." Ia akhirnya mengungkapkan kegelisahannya. Entah pada siapa lagi ia harus bercerita. Rasanya tak mungkin sekali jika ia harus menceritakan masalahnya pada sang sahabat, Ba Ram, yang tengah menyelesaikan disertasi untuk gelar doktoralnya. Akan sangat egois jika ia melakukan hal itu. Maka, satu-satunya tempat yang nyaman untuk ia jadikan teman curhat hanyalah Sae Rin. Toh wanita itu juga memiliki andil yang besar untuk kelangsungan karir suaminya. Tak ada yang salah.


"Berapa gajimu, So Yeon-ah?"


"7.500.000 Won." Jawab So Yeon apa adanya. Nominal itu masih bisa berubah berdasarkan masa kerja.


"Ya, gaji dokter di Korea memang menggiurkan, pantas saja suamimu merasa minder." Sae Rin tertawa kecil. Ia kembali menuang soju. Lalu menenggaknya dengan sekali teguk.

__ADS_1


"Tapi omong-omong," Sae Rin kembali angkat bicara. "Kenapa kau tak menunggu suamimu mendapat pekerjaannya sendiri dengan gaji yang ia harapkan?"


So Yeon sedikit menyesap coffee latte yang sedikit tersisa. Setelah itu, tanpa pikir panjang, ia menceritakan perihal kekhawatirannya. Barangkali dengan menceritakan semua ketakutannya, Sae Rin bisa membantunya dengan opsi lain. "Aku takut orang tuaku akan semakin merendahkan Dae Han oppa. Aku tidak ingin hal itu terjadi," suara So Yeon terhenti di kerongkongan. Ia meraup napas dalam-dalam selagi mencoba untuk melanjutkan kalimatnya. "Orang tuaku pasti berpikir kalau Dae Han oppa tidak becus menjadi suamiku, mereka pasti berpikir... kalau... Dae Han oppa tidak pantas menjadi suamiku. Oleh karena itu, ku mohon, bantu ia menjadi intern di Hannam Law Firm. Meskipun gajinya mungkin belum sebesar diriku. Setidaknya, ia tidak menganggur, dan... yang paling penting, orang tuaku tidak akan merendahkannya lagi." Kedua bahu So Yeon melemas. Wajahnya tertunduk lesu. Mata bengkaknya semakin memerah seiring desakan air mata yang terus merangsek turun.


Sae Rin tertegun sejenak. Satu hal yang ia simpulkan dari Dae Han adalah sifatnya yang idealis dan berharga diri tinggi. Ia tak ingin terlihat lemah dimata orang lain. Seorang high achiever dan success oriented yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh seseorang yang bekerja dibidang hukum. Tapi Dae Han terlalu kaku dan memaksakan kehendak. Akan sulit jika ia menawarkan untuk bergabung dengan Hannam Law Firm. Lelaki itu pasti akan menolak mentah-mentah. Gaji sebagai intern bahkan tidak mencapai seperempat gaji So Yeon.


Sae Rin mulai memutar otak. Memikirkan pekerjaan lain yang tepat untuk Dae Han. Dahinya berkerut dalam, berpikir keras. Hingga pada akhirnya, ia mengingat salah satu rekannya yang bekerja di kepolisian pusat, Seoul.


Ya, benar. Pria itu bahkan bisa mendapat nilai lebih dari 97.500.000 KRW jika ia berhasil menuntaskan satu kasus.


"Tapi, Sae Rin-ah..." So Yeon dengan masih menangis sesenggukan mencoba kembali berkata. "Tolong jangan katakan hal ini pada Dae Han."


Kedua alis Sae Rin saling bertaut. "Tapi kenapa?" Ia menangkup kedua tangan So Yeon yang tengah memohon padanya.


So Yeon menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin ia membenci orang tuaku dan membuat keadaan semakin kacau."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2