
Jantung So Yeon berdegub lebih kencang saat kakinya menapak di lantai basement. Ia mengedarkan pandangannya. Menatap deretan mobil-mobil khusud dokter dan staf yang nampak gelap dan hening. Hanya lampu pada spotnya berdiri saja yang menyala. Juga... pada spot tempat ia memarkir mobil tadi.
Jadi benar? Dae Han menungguiku di sana?
Perlahan, ia mulai melangkah ditemani lampu otomatis yang menyala sepanjang kakinya melangkah. Hanya membutuhkan dua menit untuk menjangkau tempat itu dengan langkah pelan, sebelum akhirnya ia berdiri di samping Mercedes Benz E-Class-nya yang terparkir sempurna. So Yeon mengedarkan pandangannya ke sekeliling city car itu, ke satu sisi, lalu ke sisi lainnya. Tapi aneh, tak ada siapapun di sana. Air muka So Yeon berubah memberengut. Dae Han tidak disini?
Dengan perasaan kesal, ia akhirnya melangkah mengelilingi mobilnya. Dan benar-benar mulai mendengus sebal saat tak mendapati siapapun di sana. "Ish, eonnie!" Geram So Yeon, sedikit menghentak-hentakkan kakinya ke lantai basement.
Sungguh, jika dipikir, konyol sekali memang kalau Dae Han benar-benar mengikuti dan menungguinya di basement semalaman suntuk. Apa yang ada dipikiran pria itu sampai-sampai melakukan hal sebodoh itu? Bisa-bisanya ia berpikir bahwa lelaki itu akan menungguinya di sana semalaman untuk meminta maaf atas sikap buruknya, lalu sebagau permintaan maafnya ia akan menerima tawaran Sae Rin. Sungguh, pikiran klise semacam itu harus ia enyahkan mulai sekarang. Lagipula, Dae Han adalah orang paling keras kepala yang pernah ia temui. Bagaimana mungkin ia melakukan hal serendah itu!?
"Maafkan aku."
So Yeon yang hampir pergi, mengurungkan niatnya mendengar suara itu. Ia menajamkan pendengarannya. Suara berat itu... bukankah milik Dae Han?
Serta merta ia menoleh, dan benar-benar membulatkan mata sempurna mendapati Dae Han dengan hooded denim jacket berwarna biru navy tengah berdiri di belakangnya dengan kepala menunduk.
"Oppa?" sejenak ia membeku, seolah tak memercayai sosok yang tengah berdiri dihadapannya kini adalah suaminya. Perlahan, ia mulai melangkah mendekat. "Apa yang kau lakukan disini, oppa? Kau pikir ini jam berapa?"
Bukannya menjawab, Dae Han kembali melontarkan kalimat yang sama. "Apa kau mau memaafkanku, chagi-ya?" Ulang Dae Han dengan suara paraunya. Mata mereka saling beradu pandang. Terdapat gurat penyesalan di hati Dae Han maupun So Yeon. Mereka memang seringkali bertengkar, tapi tak pernah berlangsung lama. Baik So Yeon ataupun Dae Han tak sungkan untuk mengutarakan kata maaf jika merasa bersalah. Sama halnya seperti apa yang sudah mereka ikrarkan di atas altar.
Si wanita mengangguk. Ia mengangkat tangan kanannya, memberikan paper cup berisi teh yang masih hangat. "Bukankah udara di sini dingin sekali?"
Dae Han menerima pemberian So Yeon, meminumnya sedikit lalu menjawab seadanya. "Eum, dingin sekali." Ucapnya sembari membuat bibirnya seolah bergemelatuk kedinginan.
So Yeon tertawa kecil. Suasana kembali mencair hanya dalam hitungan detik. Onix mereka saling menatap satu sama lain, membuat darah mereka seolah mendidih, menyalurkan sensasi hangat di sekujur tubuh mereka. So Yeon buru-buru membuang pandang. Enggan menatap si suami atau getaran dihatinya semakin bergolak tak karuan. "Oppa pulang saja dulu, nanti jemput aku pukul enam pagi, ya." Ia mengalihkan tatapannya pada lantai basement selagi tangannya sibuk mencari-cari kunci mobil dari dalam sakunya.
__ADS_1
"Tidak, aku akan menungguimu di sini saja, chagi-ya, sebagai permintaan maafku."
Tak ada jawaban. Wanita itu menghentikan ajang mencari kuncinya, beralih menatap sang suami yang lebih melankolis darinya. Keningnya mulai mengkerut, menerka-nerka maksud Dae Han menjadi mellow seperti ini. "Oppa, kau bersikap semanis ini, apa karena kau tetap pada pendirianmu?"
Dae Han mengerti maksud So Yeon, ia menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Tidak," ia menatap onix istrinya yang jernih dengan tatapan penuh keyakinan. "Aku akan menerima tawaran Sae Rin." Jawab Dae Han lugas yang nyaris membuat So Yeon berteriak kegirangan.
"Sungguh!? Oppa tidak bercanda, kan?" Dae Han menjawab dengan sebuah gelengan. "Tentu saja tidak."
"Gumawoyo." So Yeon segera menubruk tubuh lelaki itu. Menautkan kedua lengannya pada leher Dae Han, lalu mencium singkat pipi kanannya. "Melegakan sekali..." Tambahnya, masih dengan posisi yang sama. "Tapi, apa oppa sudah mengatakan hal ini pada Sae Rin?" Dae Han spontan menggeleng. "Tidak. Belum."
"Biar aku saja yang mengatakannya nanti." Ujar So Yeon ringan. Dae Han hanya mengangguk setuju, lantas membalas ciuman singkat sang istri dengan hal yang sama.
Tanpa mereka sadari, terdapat seseorang yang sedari tadi memandangi keromantisan itu dengan seulas senyuman samar. Setidaknya, orang yang selama ini ia sukai dapat hidup bahagia, meski tidak dengan dirinya.
***
"Dae Han masih menunggumu di basement?" So Yeon menoleh, mendapati Jae Hyun yang berjalan menyejajarkan langkah dengannya. Ia lantas tersenyum lebar, menampilkan eye-smile-nya yang menggemaskan, lalu mengangguk.
"Ya, ia tidak ingin pulang lebih dulu, konyol sekali." Jawab So Yeon sambil tertawa geli.
"Itu berarti, ia sangat menyayangimu." Tukas Jae Hyun sambil menahan pintu lift agar tidak menutup. Setelah keduanya berhasil masuk dan berdiri bersisihan. Pintu lift kembali menutup, membawa enam tubuh yang ada di dalamnya menuju lantai lima.
"Ia suamiku, wajar jika menyayangiku, kan? Omong-omong, kapan kau akan menikah?" Seloroh So Yeon, mengganti topik pembicaraan. Sebagai teman semasa Sekolah Menengah Atas, Jae Hyun sudah dikenal dengan ketampanan dan kepandaiannya. Tak terhitung berapa banyak gadis yang menyukainya. Bahkan hampir tiap hari ia mendapati lokernya terisi berbagai hadiah. Mulai dari cokelat seharga kaos kakinya, hingga ponsel keluaran terbaru Apple Inc. Tapi entah kenapa hingga saat ini Jae Hyun belum pernah sekali pun menggandeng gadis yang menjadi kekasihnya?
Jae Hyun menggeser tubuhnya ke samping, memberi jalan pada beberapa staf untuk turun. Setelah itu, ia kembali menekan tombol lift menuju lantai dasar. "Gadis yang kusukai sudah menikah." Gumam Jae Hyun sekedarnya, nyaris membuat So Yeon menjerit tak percaya. Ia menutup mulutnya, antara tidak percaya Jae Hyun bisa menaruh perasaan pada seorang gadis, atau mengasihi kisah sedih temannya itu.
__ADS_1
"Kau sungguh-sungguh mengatakan itu? Siapa gadis beruntung yang kau maksud? Apa ia teman semasa sekolah kita?" Cetus So Yeon serampangan.
Pintu lift terbuka. Mereka segera beranjak dari sana sebelum beberapa pasang kaki melangkah masuk.
"Tidak. Kau tidak akan mengenalnya, lagipula, aku sedang berusaha melupakannya." Terang Jae Hyun. Membuat So Yeon mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"By the way, jangan terlalu lama terpuruk dimasa lalu, bisa jadi kau melewatkan banyak gadis yang mencintaimu dengan tulus hanya karena satu gadis yang sudah melukaimu." Tutur So Yeon, menasehati.
Jae Hyun mencibir.
"Atau kau akan kembali tidak normal lagi." Benar dugaan Jae Hyun. Kalimat itu tak akan So Yeon biarkan telanjang bulat sebagai nasehat semata. Pasti terdapat kalimat ejekan setelahnya.
Jae Hyun hanya bisa tersenyum saat So Yeon menertawainya hingga mililit. Satu hal yang tak pernah berubah dari Jae Hyun adalah sifatnya yang penyabar. Lelaki itu bahkan tak pernah marah sekalipun So Yeon sudah keterlaluan mengerjainya.
So Yeon memegangi perutnya yang terasa kaku karena terlalu banyak tertawa. "Maafkan aku, tapi kau harus segera mencari kekasih, Jae Hyun-ah, atau seluruh rumah sakit tau jika kau..." So Yeon menutup mulutnya, bersiap jika sebentar lagi tawanya akan meledak. "Kau... penyuka sesama jenis." Tawanya benar-benar meledak setelah mengatakan kalimat ejekan itu. Sementara Jae Hyun hanya menanggapinya dengan senyuman simpul.
"Sudah puas menertawaiku, So Yeon-ssi?"
"Tunggu... tunggu sebentar," So Yeon memegang lengan Jae Hyun, mengatur napas, berusaha meredam gelak tawanya sendiri. "Baiklah-baiklah, maafkan aku. Tapi, apa kau mau berjanji padaku?"
Jae Hyun mengernyit. "Berjanji?"
Wanita itu mengangguk. "Eum, berjanji untuk segera mendapat pengganti wanita itu, eoh?"
Jae Hyun menggedikkan bahu seraya tertawa kecil. "Entahlah, sepertinya akan sulit." Ia menatap So Yeon. Kaki mereka melangkah lebih pelan sekarang. "Kita masih sering bertemu."
__ADS_1
To be continued