
So Yeon menikmati suasana di daerah perbukitan Hannam yang memukau. Udara di dalam kafe berubah sejuk seketika saat AC dengan lembut menyentuh kulitnya yang kemerahan setelah kurang lebih 15 menit terpanggang sinar matahari.
Ia kembali mengaduk segelas lemonade pesanannya sembari mengamati arus lalu lintas yang cukup padat dijam-jam menjelang makan siang seperti ini. Beberapa orang dengan outfit khas karyawan kantoran ramai berlalu lalang. Kaki jenjang mereka menyusuri jalan dengan langkah cepat dan tergesa.
Sudah setengah jam Dae Han meninggalkannya di kafe itu seorang diri, meninggalkannya dengan sepiring macaroon dan segelas lemonade yang telah benar-benar membuatnya kenyang. Lelaki itu memutuskan untuk pergi ke firma hukum yang masih berjarak kurang lebih 500 meter itu seorang diri, dengan berjalan kaki. Ia tak ingin membuat So Yeon lelah karena menempuh perjalanan kaki kurang lebih 15 menit lamanya. Maka ia memutuskan untuk membawa istrinya ke sebuah kafe terdekat. Bagi So Yeon itu tidak menjadi masalah selama waktu quality time-nya dan Dae Han nanti tidak akan terganggu. Sudah lama sekali ia menantikan saat-saat pergi belanja bersama, jalan-jalan bersama, atau sekedar duduk bersama seperti ini. Kebersamaan mereka seolah benar-benar terenggut karena kesibukan keduanya. Atau bisa disebut karena kesibukan So Yeon saja.
Wanita itu kembali menghela napas lelah. Tangannya mengaduk-aduk lemonade yang tinggal sedikit, lalu menyesapnya pelan. Disatu sisi ia tak ingin menjadi saingan suaminya sendiri dalam hal pekerjaan. Namun disisi lain, ia juga tak ingin melepaskan pekerjaan impiannya --bekerja di sebuah rumah sakit besar, terlebih setelah mendapati suaminya seringkali bermasalah dalam tempatnya bekerja. Siapa yang akan membiayai hidup mereka jika Dae Han tak kunjung mendapat pekerjaan?
"So Yeon-ah?" sapa seseorang ragu-ragu, sambil berjalan perlahan, ia memandangi wajah So Yeon intens. "Kau benar So Yeon?" Tanyanya lagi, memastikan. Wanita cantik dengan setelan blazer peach dan dandanan super elegan telah mengambil duduk di depan So Yeon.
So Yeon mengangguk, air mukanya berubah ceria. "Ya..." Ia nampak berpikir. "Im Sae Rin?" Tanyanya ragu, turut memastikan. Tak salah lagi, meski sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu, mereka masih mengenali teman Sekolah Tingkat Pertama mereka dengan sangat baik. Wajah cantik Sae Rin tak banyak berubah.
Sae Rin meletakkan tote bag miliknya, dan segera menyambar tubuh teman lamanya ke dalam pelukan. "Astaga, primadona di kelas kami sekarang semakin cantik, huh? Senangnya bertemu lagi denganmu, si kutu buku." Canda Sae Rin. Ia lantas melepaskan pelukannya dan kembali mengambil duduk. So Yeon hanya tertawa mendengar candaan temannya ini. Sae Rin, gadis ceria yang gemar berbicara, pernah memenangkan lomba debat Bahasa Inggris dengannya. Jurus 1001 katanya membuatnya dikenal sebagai gadis penakluk meja kompetisi debat. Tak heran jika gadis itu kini menjadi seorang pengacara, seperti yang terlihat dari name tag yang dikenakannya --Im Sae Rin, Pengacara, Hannam Law Firm.
Untuk sesaat, So Yeon tercekat membaca nama firma hukum itu. Bukankah Dae Han sekarang sedang melakukan interview di sana?
"Jauh sekali tempat hang out-mu, So Yeon ssi." Ujar Sae Rin seraya mengerling.
"Ah." So Yeon tertawa kecil. "Tidak, aku sedang menemani suamiku." Tambah So Yeon, sepertinya mengatakan yang sebenarnya akan memudahkannya untuk mengetahui bagaimana sistem kerja di firma hukum itu. Atau lebih tepatnya, mengetahui besaran gaji yang firma hukum itu berikan.
"Benarkah?" Sae Rin celingukan, menoleh ke kanan dan ke kiri, entah apa yang dicarinya. "Apa itu suamimu?"
__ADS_1
Sontak, So Yeon turut menoleh ke arah jari telunjuk Sae Rin. Sedetik kemudian ia tergelak, lalu menggeleng berkali-kali. "Bukan, itu bukan suamiku," Jawabnya, masih dengan tertawa geli. Selera humor temannya ini rupanya belum luntur.
"Ku kira kau menyukai tipe pria seperti itu." Timpal Sae Rin, turut tertawa geli.
"Tidak. Bukan. Ehm, maksudku, itu bukan suamiku." Balas So Yeon, kembali menyesap lemodane-nya yang sedikit tersisa. Lantas kembali melirik ke arah pria berbadan besar, kulitnya hitam, kumis dan jambangnya tebal, khas pria Timur Tengah dengan mata besar dan cekung.
"Lalu mana suamimu? Kau payah, tidak mengundang partner debatmu, eoh?" Gerutu Sae Rin seraya menyerahkan pesanannya pada seorang pelayan.
"Bukankah kau tengah berada di luar negeri waktu itu?"
Sae Rin mengangguk lemas. "Euhm, aku sedang berada di Boston waktu itu. Perusahaan multinasional Boston Inc. memintaku mengawal kasus mereka." Ucapnya dengan bibir melengkung sedih. Terlihat begitu menyesal.
So Yeon mengangguk. Entah kenapa, fokusnya menjadi terpecah kini, perusahaan multinasional? Mengawal kasus mereka? Tak salah lagi, Sae Rin pasti seorang pengacara profesional. Jabatannya pasti tak main-main di firma hukum itu. Kepandaiannya tak perlu diragukan lagi. Semasa menjadi teman satu sekolahnya dulu, Sae Rin sudah dikenal sebagai salah satu murid teladan. Nilainya selalu baik. Ia juga pandai berbahasa Inggris. Pantas jika ia didaulat untuk mengawal kasus perusahaan berskala besar seperti itu.
"Omong-omong," Sae Rin menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Aku juga sudah menikah, dua bulan yang lalu."
"OMO! Benarkah? Kenapa kau tak mengundangku?" So Yeon memberengut. Air mukanya berubah sedih. Untuk sesaat, pengakuan mengejutkan Sae Rin mampu membuatnya melupakan masalahnya sejenak. Ketakutannya belum tentu terwujud. Ia tak seharusnya meragukan kemampuan suaminya untuk dapat bersaing di firma hukum itu. Dae Han adalah lulusan terbaik Harvard University. Ia bahkan mampu menyelesaikan pendidikan sarjananya hanya dalam rentang waktu tiga setengah tahun. Ia juga mendapat beasiswa penuh untuk biaya riset dan pascasarjananya. Dae Han pasti bisa menaklukkan Hannam Law Firm dengan kemampuan berpikir kritisnya.
"Maafkan aku, tapi acara pernikahan kami dilakukan di New York. Kebetulan suamiku menetas disana."
"Menetas?" gelak tawa kembali terdengar dari bibir So Yeon. "Astaga, kau tak berubah sama sekali, tahu?"
__ADS_1
"Kau juga tak berubah sama sekali." Sae Rin mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik. "Apa kau masih suka mengupil dan meletakkannya di bawah meja, huh?"
So Yeon melotot. "YA! Bukankah itu kau?" Terdengar gelak tawa setelah itu. So Yeon, si ceria yang mudah bergaul dan Sae Rin, si ceria yang memiliki sense of humor yang tinggi memang menjadi perpaduan yang tepat. Meski So Yeon seringkali tak bisa mengimbangi candaan Sae Rin, tapi paling tidak, ia tak pernah memasukkan candaan --yang terkadang keterlaluan Sae Rin, ke dalam hati.
"Sudah-sudah, memangnya kemana suamimu?" Sae Rin kembali membuka topik pembicaraan serius.
"Ia sedang melakukan interview di Hannam Law Firm."
"Hannam Law Firm?" ulang Sae Rin seolah tak percaya. "Hebat sekali, apa suamimu lulusan universitas luar negeri?"
"Euhm."
Sae Rin mencondongkan tubuhnya. Tangannya terlipat di depan dada. "Pantas saja. Tapi di mana?" Tanyanya dengan mata memicing.
"Harvard."
Sae Rin manggut-manggut. Ia menatap berkeliling sebelum berbisik tentang suatu hal, seolah pembahasannya kali ini adalah suatu hal yang sangat rahasia. "Kau tahu? Firma hukum itu hanya akan merekrut calon pengacara lulusan universitas luar negeri dengan GPA yang bagus." Tukas Sae Rin. Dan tentu saja, So Yeon sudah menduga hal itu. Sepengetahuannya, Sae Rin juga lulusan Colombia University dengan beasiswa penuh pula.
"Ah... begitukah?" Tanya So Yeon balik. Ia menatap Sae Rin yang tengah menerima pesanannya dari seorang waitress, lalu menambahkan pertanyaan baru. "Apa sulit sekali bekerja di sana?"
"Ya," Sae Rin menjeda kalimatnya, menyesap latte pesanannya, lalu melanjutkan. "Kau harus rela tidak dibayar selama masa magang."
__ADS_1
To be continued