
Langkah Dae Han tertahan saat seseorang menarik tangannya, menahannya untuk tetap tinggal. Sedikit merutuk, ia akhirnya menoleh dengan raut kesal. Alisnya sedikit mengkerut saat mengetahui siapa yang melakukan penarikan paksa itu. "Apa yang kau lakukan?" Suaranya terdengar dingin saat kedua mata mereka saling beradu pandang. Ia mencoba melepaskan, tapi wanita itu menolak. Ia justru menarik dan memaksanya duduk.
"Aku tahu kau mengikuti istrimu." Ucap wanita itu saat ia sudah kembali duduk. Sementara Dae Han memiloh tetap berdiri, enggan menuruti permintaan wanita yang adalah Sae Rin itu.
"Duduklah," titah Sae Rin lagi, seraya menuang segelas soju untuk lelaki itu.
Dae Han hanya membuang napas keras-keras, tanda ia tak menyukai pertemuannya dengan Sae Rin malam ini. Tak ingin meladeni basa-basi itu lebih lama, ia berbalik, berniat untuk pergi sebelum lagi-lagi Sae Rin menahannya, tidak dengan penarikan lagi, melainkan dengan sebuah seruan yang mampu membuatnya menghentikan langkah seketika. "Aku punya tawaran pekerjaan yang bagus." Seru Sae Rin, lalu menambahi saat Dae Han akan kembali melangkah. "Bukan sebagai intern." Kali ini seruannya benar-benar mampu membuat Dae Han membeku di tempat.
Bukan sebagai intern?
"Duduklah dulu, kita akan membicarakan hal itu," pinta Sae Rin, ia membenahi posisi duduknya saat Dae Han mulai membalik tubuhnya, menatapnya dengan senyuman mengejek, seolah tak mempercayai iming-iming Sae Rin barusan. "Aku tidak bohong. Kau boleh menolaknya jika kau tidak menyukainya juga. Duduklah..." Sae Rin menunjuk kursi kosong di depannya.
Pada akhirnya Dae Han menyerah, ia memutuskan untuk mendengarkan tawaran Sae Rin kali ini. Mungkin saja tawaran itu memang bagus untuknya. Ia juga merasa harus segera mendapat pekerjaan sebelum tabungannya habis untuk biaya bulanan rumah tangganya.
"Pekerjaan apa yang kau tawarkan padaku?" Tanya Dae Han, langsung pada intinya.
Sae Rin tersenyum simpul, ia menyodorkan segelas soju untuk lelaki itu. Menikmati malam ini dengan rileks tak masalah, kan?
Namun Dae Han menolak, ia menjauhkan gelas itu dari hadapannya, membuat Sae Rin tertawa kecil. "Kau tak bisa minum?"
__ADS_1
Dae Han menggeleng. "Tidak untuk saat ini."
Sae Rin memberengut. "Kenapa?" Ia kembali melontarkan pertanyaan. Ingin tahu.
"Bisakah kita membicarakan inti pertemuan kita saja?" Pinta Dae Han, ia melipat kedua tangannya di atas meja. Sebenarnya, ini bukanlah pertemuan yang mereka rencanakan. Pukul 9 tadi, Dae Han memang sengaja mengikuti So Yeon yang masih marah padanya untuk pergi bekerja. Ia tak tega melihat So Yeon pergi dengan mata sembab. Pikiran wanita itu sedang kacau, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya tentu saja. Atau ia akan merasa bersalah seumur hidup.
"Apa kau mau melanjutkan penguntitanmu?" terdengar tawa mengejek setelah itu. "Buru-buru sekali." Lanjut Sae Rin.
Dae Han mendengus, memilih meneguk segelas soju yang tadi ditawarkan Sae Rin. "Pekerjaan apa yang kau maksud?" Desaknya sekali lagi, ia tak memiliki cukup waktu untuk meladeni basa-basi seperti ini. Sae Rin menghentikan tawanya, lalu berdehem sejenak, sebelum menimpali dengan sebuah jawaban. "Aku memiliki rekan kerja di kepolisian Seoul. Ia temanku semasa kuliah dulu. Apa kau mau bekerja dengannya?"
Kedua alis Dae Han mengkerut. Bibirnya mengatup rapat. Memikirkan pekerjaan macam apa yang dimaksud.
"Kau bisa mempertimbangkannya lebih dulu," Sae Rin membuka tote bag miliknya, mengambil beberapa helai uang dari dalam dompet, meletakkannya di atas meja. Ia tak ingin gegabah menuntut Dae Han untuk menerima tawarannya. Ia tahu, mangsanya sudah mulai tertarik untuk memakan umpannya. Hanya menunggu waktu dan sedikit bujukan lagi. "Lagipula, ini rahasia kita berdua." Dae Han menatap Sae Rin tak mengerti, matanya menyipit, dahinya berkerut dalam. Sedang wanita itu hanya mengangkat bahu. "Why not? Aku akan tutup mulut pada So Yeon jika kau menginginkannya." Pungkasnya, lalu beranjak berdiri. Lantas pergi begitu saja setelah meminta Dae Han untuk menghubunginya jika sudah membuat keputusan.
Dae Han meraup wajahnya. Tawaran yang sangat menarik. Tapi, apa bisa ia mengatakan hal bohong pada istrinya?
***
So Yeon membungkuk beberapa kali saat berpapasan dengan pasien atau sesama rekan dokter. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat ia baru menapak pada lobi rumah sakit. Beruntung, matanya sudah tidak terlihat bengkak. Make up tebal yang ia sapukan tadi sangat membantu. Hanya saja, ia merasa sedikit mengantuk sekarang. Sial!
__ADS_1
Sebelum beranjak ke ruangannya. Ia memutuskan untuk pergi ke pantry lebih dulu. Segelas kopi akan sangat membantu untuk tetap terjaga sepertinya.
Setibanya di depan mesin pembuat kopi otomatis, ia segera memencet tombol pilihan untuk Black Coffee. Lalu kembali berjalan gontai menuju ruangannya.
"Baru datang?" Sapa seseorang yang tiba-tiba merangkul pundaknya. So Yeon menoleh, menatap salah satu rekannya dengan kesal.
"Ish." Rutuk So Yeon, lalu menyeruput sedikit kopi hitamnya selagi berjalan santai.
Ji Won mengernyit melihat kopi hitam ditangan So Yeon, lalu tergelak, menertawakan. Tak biasanya So Yeon memilih kopi hitam, wanita itu selalu memilih Creamy Coffee dalam keadaan normal. Ia menduga malam ini So Yeon sedang tidak normal. "Astaga... kau kenapa?" Ucapnya masih dengan ajang menertawainya.
So Yeon mendengus. "Berhenti mengejekku." Ucapnya, seraya membuka pintu ruangannya, meletakkan tas dan segelas kopi-nya di atas meja. Lantas segera memakai jas putih berlengan pendek, membalut kemeja merah marun yang dipadankan dengan celana bahan berwarna hitam. Ia masih terlihat sempurna seperti biasa. Hanya saja, riasannya malam ini jauh lebih tebal, membuat Ji Won semakin yakin jika So Yeon sedang memiliki masalah. "Tebal sekali." Guraunya, ia menarik kursi di depan meja So Yeon, mendudukinya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. Menanti jawaban salah satu rekan terdekatnya.
"Kenapa eonni belum pulang?" So Yeon balik bertanya. Ia mengangkat sebelah alisnya curiga. "Sengaja menungguiku datang lebih dulu, eoh?" Ia balas menertawai, dan berhasil membuat Ji Won memberengut kesal.
"Apa aku sudah gila, huh?" Dengus Ji Won. Ia meletakkan tas yang sejak tadi dipegangnya, lalu mencondongkan tubuhnya, berniat mengatakan satu hal serius. So Yeon paham gelagat itu. Ia segera berdehem untuk meredam tawanya sendiri.
"Eonni benar menungguiku, kan!? Memangnya ada apa?" Tanya So Yeon, penasaran. Ji Won meremas-remas jemarinya sendiri. Entah keputusannya ini benar atau salah. Yang jelas untuk saat ini hanya So Yeon-lah satu-satunya orang yang bisa menolongnya.
"Apa kau bisa membantuku?" Ji Won menggantung kalimatnya. Ia menatap So Yeon yang mengangguk lamat-lamat, masih mendengarkan. "Suamiku sedang dalam masalah. Apa... Dae Han bisa menjadi penasehat hukumnya?"
__ADS_1
To be continued