
Di pagi yang cerah. Raka dengan semangat mengganti pakaiannya untuk sekolah. Hari ini dia sangat bersemangat untuk bertemu Erina.
Saat sedang asik mengenakan sepatu. Tiba-tiba terjadi adu mulut antara ibu dan ayahnya.
"Punya anak tidak berguna. Yang satu mempermalukan keluarga dengan hamil diluar nikah. Yang satu sangat bodoh dan tidak berguna." Ujar sang ayah marah-marah.
"Apa yang kamu katakan. Seharusnya kamu tidak mengatakan itu. Aku yakin putri kita sedang setress dan menderita. Tidak bisakah kamu mendukungnya. Putra kita, jangan merendahkan dirinya begitu. Semua orang punya tingkat kecerdasan masing-masing. Dia hanya kurang cerdas dan masih sedikit kekanak-kanakan." Ujar sang ibu tidak terima.
"Kekanak-kanakan? lihatlah umurnya. Dia sudah berumur 20 tahun!! Dia sudah melewatkan masa sekolah 2 tahun dengan memalukan!! Apa gunanya menghidupi anak yang tidak berguna dan tidak tahu malu sepertinya." Ujar sang ayah makin marah.
" Ayah!! jangan mengatakan itu tentang putra kita!!." Ujar Sang ibu tidak terima.
"Ayah!! aku juga tidak mau hidup. Aku tidak mau hidup dalam keluarga yang seperti ini. Tak bisakah kalian membiarkanku tenang?? tak bisakah sekali saja kau bersyukur sudah punya anak??!" Ujar Raka tak tahan lagi. Wajahnya memerah karena sedih dan marah.
"Beraninya kau. Buat apa aku bersyukur punya anak sepertimu. Lihatlah Keluarga Lain. Anak mereka berbudi luhur dan baik bahkan cerdas. Tidak seperti anakku yang tidak tahu diuntungkan dan tidak berguna." Ujar sang ayah marah.
Raka sangat terpukul. Sungguh sangat perih hatinya mendengar itu.
"Bukan aku yang ingin dilahirkan. Aku tidak melakukan apapun mengapa aku selalu disalahkan. Jika ayah sangat mengagumi mereka jadikan saja mereka anakmu dan keluarkan aku dari keluarga ini!!!" Bentak Raka tak tahan lagi.
Lalu "Plakkkk"
Terdengar suara tamparan keras. Ayah Raka menamparnya dengan keras.
"Yahh!!!" Teriak ibunya terkejut.
"Dasar anak durhaka. Beraninya kau berbicara begitu padaku yang sudah memberimu hidup layak." Ujar sang ayah dengan nafas memburu.
Raka hanya dia dengan wajah merah dan pipinya yang kesemutan. Lidahnya kelu tak bisa berkata-kata.
Dia melirik tajam ayahnya lalu segera keluar dari rumah dengan membanting pintu rumah.
"Anakk itu!" Ujar sang ayah marah besar dengan sang ibu yang memegangi tangannya.
Di luar, Raka langsung mengemudi mobilnya. Dengan perasaan yang campur aduk.
__ADS_1
Di sisi lain di tempat Erina.
"Ayah, ibu, Erina sekolah dulu ya." Ujar Erina sambil mengenakan jasnya.
"Iya nak.. sudah bawa bekalnya kah?." Ujar sang ibu dari dapur.
"Sudah buuu," Sahut Erina cepat.
"Hati-hati di jalan ya nak..." Pesan ayahnya dari ruang tamu.
"Iyaaa ayahhhh." Sahut Erina menengok dari pintu lagi. Lalu ia pun segera memasuki mobil yang sudah menunggunya sejak tadi.
Saat tiba di depan sekolah. Erina turun dari mobil dan langsung memasuki area sekolah. Saat sedang berjalan ada sebuah mobil Hummer yang lewat disampingnya cukup cepat.
"Oh astaga!" Kejutnya.
"Siapa itu. Mengapa begitu tidak tau keamanan sekali membawa mobil secepat itu di dalam sekolah." Gumam Erina tak habis pikir.
Disisi lain di parkiran khusus mobil. Raka keluar dari mobil Hummer itu. Dengan wajah yang datar. Dia masih marah dengan apa yang terjadi dirumahnya.
"Ada apa denganmu? masalah di rumah lagi kah?" tanya David dengan pelan. Raka hanya menghela nafas tak senang.
"Yah sepertinya memang masalah di rumah." Sahut Adion dan diangguki oleh David.
Tiba-tiba seluruh siswa kelas XI di minta untuk kumpul di lapangan dengan alasan pendataan siswa yang sudah tuntas mengikuti ujian laporan praktek langsung sesuai program studynya.
Semuanya berkumpul dengan cepat. Karena berdesakan tak sengaja Raka bersenggolan dengan Erina yang terdorong ke belakang.
"ah.. maaf maaf." Ujar Erina lalu menyeimbangkan tubuhnya.
Raka yang awalnya sedang bersedih pun jadi seketika melupakan kesedihannya.
Setelah kumpul ternyata mereka diminta untuk menjawab evaluasi pembelajaran setelah menjalani pembelajaran selama ini. Biasanya hal ini dilakukan setiap tahunnya.
"Hah... evaluasi pembelajaran? aku baru 1 Minggu sekolah disini." Batin Erina sambil menghela nafas. Tapi bodo amatlah.
__ADS_1
Kemudian ketua kelas masing-masing membagikan sebuah kertas yang sudah berisi beberapa pertanyaan yang tinggal di centang sesuai yang dirasakan sesuai dengan pemikiran sendiri.
Semua siswa pun riuh sambil membaca isi dari kertas itu. Mereka diminta untuk mencari tempat nyaman untuk mengisi kertas tebal itu.
Tak lama kemudian sekitar 5 menit berlalu dan Erina sudah selesai mengisi evaluasinya. Bagaimanapun juga isi dari evaluasinya sangat mudah dan tidak perlu berpikir lama untuk menjawabnya.
Kemudian tiba-tiba Raka menghampirinya.
"Permisi.. boleh pinjam pulpennya sebentar." Ujar Raka pada Erina.
Erina pun memberikannya begitu saja. Kemudian Raka pun pergi dari sana bersama teman-temannya.
"wah wah... Erina... bisa-bisanya kamu mendapatkan kesempatan itu untuk bicara pada Raka. haha... dialah Raka yang kita bicarakan waktu itu." Ujar Sara sambil menyenggol Erina.
"Ohhh iya." Sahut Erina. Padahal dia tidak ingat dengan wajah Raka. Saat itu pula tanpa disadarinya dia mendapat banyak pandangan dari para gadis disana.
Di tempat Raka.
"wahh... wahh..." Gumamnya dengan mata berbinar memandangi pulpen yang diberikan Erina.
"Hei... kau benar-benar dibutakan oleh cinta ya. Ini kedua kalinya kamu bertingkah begini. Awas nanti kamu terluka lagi seperti dulu. Aku saranin kalau kamu sesuka itu pada Erina. Lupakan masa lalu kamu. Jangan sampai itu menganggu hubungan kalian berdua." Ucap Adion Bijak.
"Tenang saja." Ucap Raka dengan nada lemah. Melihat itu Adion dan David saling pandang. Mereka yakin Raka belum bisa melepas seutuhnya masa lalu yang pernah membuatnya jatuh cinta seperti orang gila.
"Sudah jangan banyak bicara. Cepat isi evaluasinya. Aku malas." Ujar Raka sambil terus memandangi pulpen itu.
Kembali ke Erina. Setelah semuanya selesai, seluruh siswa dipersilakan kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pembelajaran. Erina pun duduk di meja legendaris dengan santai.
"HM... pulpenku. Kenapa belum dikembalikan ya. Aku punya pulpen aja. hah..." Gumamnya dengan sedih. Lalu ia pun memanggil Rika.
"Rika, boleh pinjam pulpennya satu. Aku tidak bawa pulpen lagi." Ujarnya dengan wajah cemberut.
"ohoo ini... nanti juga dikembalikan pulpenmu." Ujar Rika sambil mengambilkan pulpen.
"ini." Ujar Rika menyerahkan sebuah pulpen.
__ADS_1
"Iya, terima kasih." Ujar Erina menerimanya dengan senang. Lalu mereka pun mulai belajar.