Pacar Famous

Pacar Famous
cinta lama dan cinta baru


__ADS_3

Malam hari, Erina sedang belanja ke mini market. Ia sangat suka belanja kesana pada waktu tersebut adalah karena kasirnya seorang pemuda tampan. Begitulah selera Erina sang pecinta pria tampan, keren, dsb lah.


Tak lama Erina selesai membeli roti dan minuman. Lalu ia duduk di kursi yang disediakan di depan minimarket. Pastinya banyak pemuda pemudi yang nongkrong disana.


Erina menjadi salah satunya.


"ha... Kenapa hidup ini makin lama makin rumit saja. Aku yang penuh logika ini malah dijatuhkan oleh perasaan. Melihat banyak pasangan bahagia diluar sana membuatku ingin seperti itu juga. Tapi mengingat aku yang loncat sana loncat sini tanpa niat pacaran pastinya bakal sulit. Bisa-bisanya aku di buat lelah oleh pikiran soal pacaran. Ku harap nanti aku bertemu dengan orang yang bisa membuatku bahagia. Oh tuhan... Mengapa aku masih memikirkannya padahal aku tahu dia sudah punya kekasih..Aiss dimana lagi aku bisa menemukan seseorang yang sepertinya, seseorang yang bisa menggerakkan hatiku."Batin Erina sambil memakan rotinya..Ia sedang dalam dilema sekarang ini.


Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda menghampirinya.


"Yo Erina..Seperti biasa kamu kesini yah." Ujar pemuda itu santai sambil duduk di depan Erina.


"iya begitulah. Dan kamu kenapa keluar malam-malam begini..Awas saja nanti orang tuamu datang ke rumahku lagi." Ujar Erina sambil menghela nafas.


"Hei ayolah. Aku keluar sebentar saja. Mereka tidak akan menyadarinya." Ujar pemuda itu. Namanya adalah Ryan. Dia adalah anak teman ayah Erina. Mereka sama sama di pindah kerjakan. Tapi Ryan sekolah di sekolah lain.


Jika dilihat dari segi penampilan, Ryan nampak seperti idol Korea. Perfect. Akan tetapi Erina tidak minat menjadikannya pacar. Dia lebih menganggapnya seperti saudara sendiri. Walau begitu Erina selalu senang melihat wajah good looking Ryan.


"Terserah kamu saja."Sahut Erina menggeleng.


"HM... Erina...boleh minta tolong gak?."Tanya Ryan dengan wajah penuh harap.


Melihat itu Erina langsung menyipitkan matanya tanda curiga.

__ADS_1


"ada apa lagi, kalau hal sulit aku gak mau."Ujar Erina sambil memalingkan wajah.


Mendengar itu Ryan pun tersenyum riang.


"haha... Mudah kok mudah~ sekali. Kamu hanya perlu ikut pemotretan denganku. Dengan penampilan garangmu ini pasti jadi Badas fotoku." Ujar Ryan dengan bangga. Satu hal lagi. Ibu Ryan adalah seorang model. Jadi, sejak kecil Ryan sering melakukan pemotretan untuk keperluan bisnis. Dia juga sudah menjadi model sejak kecil.


"Jangan mengejekku, aku tidak cantik, tidak cocok dengan begituan. Cari gadis lain saja." Ucap Erina menggeleng.


"Hei ayolah. Mungkin tanpa make up kamu memang kurang cantik. Tapi dengan make up ku yakin kamu akan berubah menjadi bidadari." Ujar Ryan dengan mata berbinar.


"Hah... bilang aja aku gak cantik, bukannya kurang cantik." Ujar Erina sambil memalingkan wajahnya.


"heii ayolah. Kamu emang gak cantik, tapi sesuai untuk tema pemotretanku kali ini." Ujar Ryan dengan pasti.


"Kamu sudah mengatakan itu sejak dulu." Ujar Erina dengan wajah datar tak percaya.


"Hoho begitu dong, asal ada yang aku terima. Baiklah, kapan pemotretannya?." Tanya Erina.


"Itu besok." Sahut Ryan santai.


"****," Erina sontak mengumpat karena itu terlalu mendadak.


"haha kamu terima kan. Makasi yaa... Aku tunggu kamu besok di rumah. Nanti berangkat bersama. Daaa..." Ujar Ryan berdiri dan segera berlalu tanpa memberi kesempatan bagi Erina untuk bicara.

__ADS_1


"Dasar bocah itu." Gumam Erina menarik nafas panjang. Lalu ia pun berdiri dan beranjak dari sana.


Saat sedang asik berjalan menuju rumahnya tak jauh dari sana. Erina melihat tiga orang pria berdiri mengepung seorang gadis muda.


Awalnya Erina tak peduli, tapi saat melihat gadis itu sedang hamil. Ia pun segera menghampirinya takut-takut mereka menggodanya berlebihan hingga membahayakan bayinya.


"Hei, apa yang kalian lakukan." Ujar Erina berjalan mendekat.


"ohoo gadis manis lainnya. Mari main sama kakak." Ujar seorang pria dengan senyum dan ekspresi mesum di wajahnya. Erina langsung jijik dan segera menendang pria itu. Pria itu tersungkur dan membuat dua pria lainnya terkejut.


Lalu keduanya pun berusaha meringkus Erina. Namun dengan gesit Erina mengelak. Ia memukul perut mereka, lalu menendang mereka dengan tendangan berputar yang keras. saat salah satunya tumbang, yang lainnya bangkit kembali.


Erina menghela nafas kesal.Lalu dengan ekspresi marah Erina memukul pelipis dan tengkuk mereka masing-masing. Akhirnya ketiga pria itupun tumbang.


"Pergilah." Ujar Erina menatap gadis itu yang nampak seumuran dengannya. Gadis itu pun berlari dengan pelan mengingat perutnya cukup besar.


Setelah itu Erina memakai topinya dan melanjutkan perjalanannya.


"wah... sebagai gadis, suatu hari nanti aku pasti bakal hamil seperti gadis tadi. Aduh kira-kira nanti aku hamil sama siapa yah? Haha... Ais bodoh lah. Aku gak mau hamil dulu. Aku mau jadi miliarder dulu baru nikah. Wkwk. Batinnya dengan riang.


Disisi lain.


Raka sedang asik memeluk bantal gulingnya.

__ADS_1


Ia membayangkan dirinya dan Erina berpacaran. Bergandengan tangan di tengah lapangan, makan bersama, foto bersama, jalan bersama, senyum bersama, berpelukan, berciuman dan lainnya..


Ia sungguh tergila-gila dengan Erina. Walau sesungguhnya masih ada sedikit tempat untuk masa lalu di hatinya. Dia belum melupakannya. Masih ada sedikit rasa di hatinya.


__ADS_2