Pacar Famous

Pacar Famous
Malam pilu david


__ADS_3

Pagi harinya di sekolah. Seperti biasa setiap pagi seluruh siswa dikumpulkan untuk diberi edukasi mengenai banyak hal.


Dan saat itulah Erina terkejut melihat Raka mengenakan sebuah jaket berwarna biru Dongker.


"what!? kenapa dia memakai itu... tapi...keren juga." Batin Erina lumayan tertarik pada outfit Raka.


Namun tak lama pandangannya beralih pada pemuda yang ada tak jauh dari Raka. Nampaknya pemuda itu satu kelas dengan Raka.


Erina menyukai penampilannya. Rambutnya yang agak panjang dan disisir rapi. Pandangan Wajahnya yang datar seolah tidak tertarik dengan apapun. Bahkan beberapa waktu Erina melihatnya ia hanya tersenyum kecil.


Erina sungguh penasaran dengan pemuda itu. Disamping itu, Raka pun asik melirik-lirik Erina yang berbaris di sebelahnya.


Raka bercanda ria dengan David dan Adion hingga Raka pun menabrak Erina karena didorong oleh Adion.


"ah maaf." Ujar Raka sambil tersenyum.


"HM." Erina membalasnya dengan deheman.


"HM... bagaimana penampilanku?." Ujar Raka berbisik mendekat ke Erina.


"Terlihat sangat cocok." Bisik Erina ikut-ikutan. Tanpa keduanya sadari mereka telah menjadi pusat perhatian.


Di kelas Seperti biasa Erina hanya duduk malas dengan jam kosong sepanjang waktu.


"hei... jangan-jangan Raka menyukaimu." Ujar Rika dengan wajah berbinar.


"ah Mana mungkin." Ujar Erina tak percaya.


"hihi awas saja nanti kalian jadian ya." Ujar Sara nyelonong dari meja sebelah Erina. Lalu keduanya pun cekikikan menatap Erina.


Sampai di rumah, malam harinya. Erina tak bisa tidur. Ia memikirkan kembali perkataan Rika.


"kenapa yah? apa jangan-jangan dia benar-benar menyukaiku? ah mana mungkin...tapi...HM...bikin berdebar saja. Ada orang yang langsung suka padaku apalagi dia orang yang terkenal. Tapi...nampaknya ini akan merepotkan. Haruskah aku menjauhinya." Gumam Erina sambil membayangkan kenangan yang manis bersama Raka.


Keesokan harinya, Di sekolah Erina masih belum bisa melupakan perkataan Rika. Namun ia bisa mengolah ekspresinya. Nampak seperti seorang yang tidak peduli apapun walau hatinya sedang berdebat dengan otaknya.

__ADS_1


Saat sedang duduk di meja taman tak jauh dari kelasnya. Ia melihat Raka yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Kemudian Raka memegang kepala seorang gadis dengan Lembut. Dan bercanda ria dengan gadis lainnya.


Entah kenapa ada perasaan mengganjal di hatinya. Meski ia tidak memiliki hubungan dengan Raka tapi ia sudah benci melihat Raka bersama gadis lain.


"hah... sepertinya omongan Rika hanya omong kosong. Orang seperti itu? kenapa aku sempat berharap yah. Hah...lebih baik aku melupakan dan menjauhinya."Batin Erina sambil menghela nafas.


Sejak saat itu, Erina berusaha menghindari Raka. Ketika melihatnya di kantin. Erina pura-pura tidak lihat dan pergi dengan santainya. Di perpustakaan, di parkir, di depan kelas, di ruang guru, di taman. Erina bertingkah seperti tidak peduli pada orang lain termasuk Raka.


Di tempat Raka.


"A-ada apa ini. Bukankah Erina seperti menghindariku? apa hanya perasaanku ya." Ujar Raka dengan wajah cemas.


"ah mana mungkin, Tapi sejak awal dia kan bukan kenalanmu. Mungkin saja dia sudah lupa padamu. Sudah lama pula kan kau tidak berinteraksi dengannya." Ujar David menenangkan Raka.


"apa!!! lupa??! tidakkk...aku harus menemuinya." Ujar Raka tak terima.


"Hei hei, apa kau tidak waras. Tak bisakah engkau melupakannya saja? mungkin dia tidak ditakdirkan untuk pacaran denganmu." Ujar Adion dengan santai.


"Tidak. Takdir itu aku yang pegang kendali." Aku akan menemui Erina."Ujar ya dengan semangat.


"Hei... apa yang terjadi padamu katanya ingin menemui Erina. Apa yang kau lakukan sekarang bersembunyi begini." Tanya Adion yang berdiri di belakang David saat mereka bersembunyi di balik tembok.


"Jangan berisik. Aku belum siap." Ujar Raka dengan wajah kesal.


"Ah hai." Ujar Adion melambai ke arah belakang Raka.


Raka berdecak dan berbalik. Lalu ia langsung terkejut saat melihat ada Erina, Rika dan Sara memandang mereka dengan aneh.


Erina hendak berjalan lagi. Kemudian ia melihat Adion dan Rika saling tatap.


"heh... mereka lagi kasmaran kah."Batinnya dengan sedikit seringai diwajahnya.


Menurut sudut pandang Raka. Erina tersenyum sangat manis membuat hatinya berdebar-debar.


"hei... ayo cepat. Nanti pak guru marah." Ujar Sara menarik kedua temannya itu.

__ADS_1


"ah.." Rika terkejut dan lanjut berjalan.


David yang melihat kedua temannya sedang dimabuk cinta pun menggeleng.


"CK CK. sepertinya mereka akan buta cinta lagi." Gumamnya. Lalu ia pun berjalan mendahului keduanya.


Malam hari, David sedang dengan asik berjalan membawa sebuah kue karena hari ini adalah ulang tahun kekasihnya.


Karena kekasihnya tinggal di apartemen bersama orang tuanya. Diapun berjalan melewati lorong menuju ruangan kekasihnya.


Dia pun masuk dengan hati-hati. Dia membawa kunci cadangan rumah kekasihnya yang diberikan padanya. Dengan senyum bahagia ia menghampiri kamar tidur kekasihnya. Saat ia memegang gagang pintunya.


Ia mendengar suara yang membuatnya terhenti.


"hemm..ahh..ahh..."Desah seorang gadis didalam ruangan. Nafas David mulai memburu matanya terbelalak. Di berusaha untuk tenang.


"Sayang.. ahh... kamu yakin. HM.... melakukan ini denganku?.." Ujar seorang pemuda dengan suara setengah mendesah.


"Hem... ahh... ahh...bodo amat. Dia sangat kaku dan kampungan. Ahh... aku berencana untuk putus dengannya... ahh.. Lagipula dia tidak bisa ku ajak bermain sepertimu.ahhh..." Ujar gadis itu dengan ******* manjanya.


Tanpa terasa air mata menetes dari mata David. Ia tak kuat menahan air matanya.


"Kalau begitu.. hem... ahh .. mari bersenang-senang." Ujar pemuda itu.


"Ahh... sayang... ahhh." Desah gadis itu.


David tak kuas lagi mendengar hal itu. Ia lantas berjalan keluar dari rumah itu membawa kue yang dibelinya tadi.


Setelah menutup pintunya, David berlari dengan kencang ke arah jalan raya. Lalu ia pun mulai menangis di pojokan sebuah rumah.


Hatinya sakit. Kekasih yang sangat di sayanginya mengkhianatinya. Dia teringat kembali kenangan indah dulu bersama kekasihnya. Sudah lebih dari 2 tahun mereka pacaran.


"kenapa...hiks... kenapa dia begitu. Kenapa berkhianat. Apa kurangnya perhatianku. Apa yang dia minta ku kabulkan, aku selalu meluangkan waktu untuknya...Selalu memberinya hadiah, me-mengajaknya makan di luar. Ke-kenapa dia mengkhianati aku.hiks.. hua...." David menangis dengan pilu yang entah bagaimana seolah alam ikut bersedih hujan pun turun menyamarkan air mata David.


Saat ia menangis dengan pilu. Datanglah seorang yang memberinya sebuah payung. Tanpa pikir panjang David menerima payung itu dan menatap siapa yang memberinya. Namun karena matanya sembab dan perih. Ia pun tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas.

__ADS_1


Selama beberapa saat David terus memandangi gadis itu yang berjalan semakin menjauh hingga hilang di telan gelapnya malam.


__ADS_2