
"Plis deh Zal, kamu kapan bawa calon istri sih? Mama bosen kalau mau belanja ini itu sendirian muluh."
"Ganteng-ganteng nggak laku ya kamu, Zal." ledek Ravindra Jain Xavinhet Diningrat— kakak pertama dari Rizaldy Jean Xayran Diningrat dosen muda sekaligus CEO. "Masa kalah sama gue yang udah punya anak perjaka."
Sang empu hanya cuek masih memakan nasi gorengnya. dia sudah muak rasanya jika di tanyai kapan nikah? kapan bawa calon? Dan lain sebagainya. seluruh keluarganya memojokkannya suruh buru-buru nikah. Padahal ia masih nyaman menyendiri hanya ditemani kesibukan bekerjanya dalam sehari-hari.
"Nah, benar kata Mas mu. Dia aja udah hampir launching anak ketiga lho Zal. Kamu kapan?"
"Kapan-kapan," jawabnya enteng.
"Ishh... Rizal! buru cari calon istri, kalau nggak Mama yang cariin!"
"Bagus tuh Ma, mending Mama jodohin aja langsung! biar sat set nikah langsung nyusul Ravin punya anak." Ravin tersenyum mengejek Adeknya yang kini tengah menatapnya tajam atas pendapatnya yang mendukung penuh Rere— sang Mama. "Ini demi kebaikan lo bro, lo udah matang. Udah saatnya berumah tangga, masa mau gini-gini aja. Nggak pengen ada yang ngurusin lo?"
"Kan masih ada Mama, Ngapain nikah?"
Ravin menepuk jidatnya tidak habis pikir. "Lo tanya ngapain nikah?? Nikah ya sebuah kebutuhan pria pas udah berkecukupan segala finansial nya. Lo udah lebih dari kata mapan, mau ngapain lagi? Warisan kita juga banyak, tenang aja bro!" jelasnya panjang lebar.
"Betul kata Mas mu Zal. Mau sampai kapan gini-gini terus. kamu nggak bosen Mama terus yang urusin, siapin segala kebutuhan pakaian kamu pas kerja," Rere menarik nafasnya pelan sebelum kembali berucap, "Mama aja bosen rasanya Zal."
"Arghh Mama...! Kok gitu sih ngomongnya! Rizal gamau nikah dulu... Ribet nantinya," alibinya. Bukan masalah ribetnya, cuman emang dianya aja yang malas berumah tangga. "Kalau udah waktunya juga pasti Rizal langsung nikah kok."
"Tapi ya masalahnya kapan?" desak Rere yang duduk di kursi utama meja makan. "Seumur mu udah cocok jadi ayah... kamu nggak ke pengen punya anak?"
"Nggak!"
"ARGHH! sak--it Ma!" ringis Rizal yang merasakan telinganya begitu panas, mendapat jeweran yang lumayan kencang dari sang Mama. Ravin yang melihatnya nampak tertawa puas. "Ma! sak--it! lepasin ai sih Mama!"
"Terus Ma! kurang kenceng Ma. Lagi Ma!" tawa Ravin mengudara, mengompori Mamanya sambil meraih jas hitam yang di sampirkan di kursi. "Ma... Aku pamit dulu!"
Ravin meraih tangan kanan Rere dan menciumnya. "Hati-hati nyetir mobilnya, Rav!"
"Iya!"
"Jangan ngebut!"
"Siap Ma!"
"Jangan Meleng juga kamu, Rav!"
"Iya Mama! bawel banget sih, ish!"
__ADS_1
Cup
Ravin mencium sekilas pipi Mamanya lalu beralih menatap adeknya yang nampak tertekan menahan sakit di telinganya. "Duluan bro! Gue mau jemput anak gue," pamit Ravin dengan wajah meledeknya.
"Selamat menikmati jeweran ternikmat, Zal!"
Sedari tadi dalam hati Rizal sudah komat-kamit menahan segala unek-unek dan sumpah serapahnya pada sang kakak'. Mana berani dia menyumpah serapahi Mamanya. Dia juga yakin, Mamanya sangat mendesak dia untuk menikah pasti karena ide kakaknya.
Dan benar saja, memang benar usul itu dari Ravindra yang mengingatkan dan menyuruh Rere untuk cepat-cepat mencarikan jodoh kalau menunggu adeknya siap dan dapat sendiri. Rasanya lama dan entah menunggu sampai kapan.
"Makanya nurut apa kata Mama!"
"Iyaaaaa."
"Soal apa?"
"Cepet-cepet cari calon istri kan?"
"Buat??"
"Buat Mama.... ehhh... maksud Rizal buat Izal Ma...!" rengeknya saat sang Mama malah semakin mengencangkan jewerannya. "Aduh sih Mama, masa tega Mama jew—"
"Dieeem!" sentak Rere, "kamu janjikan bawa calon istri kamu secepatnya?!"
"Rizalll...!!!"
"Mamaaaa!"
"Apa?" tanya sang Mama begitu lembut melihat raut teduh dari putranya. yang biasanya memancarkan raut dingin di wajahnya. "Kamu normal kan Zal??"
"Maksud Mama?"
*****
Pusing dengan desakan Mamanya yang terus menyuruhnya menikah. Rizal memutuskan untuk ke kantor menyelesaikan pekerjaannya. Bukannya di kantor bisa membuatnya tenang. ehhh malah makin menjadi.
Saat Desta— asisten pribadinya yang mungkin juga sekongkol dengan Mamanya. Masa iya, dia ikut-ikutan mau cariin jodoh buat dia. Mana udah mau booking WO lagi. kan belum pasti nikahnya. Sama siapa juga, udah pesen aja nih Desta.
Rizal mendengus dan mendumel tak karuan di dalam ruangannya. Suasana hatinya nampak memburuk, hari ini juga tidak ada gairah sama sekali baginya. Pekerjaan kantor bejibun, klien padat jadwal pertemuannya. "Pusing hih! Gue males banget nikah. Apasih, nikah-nikah. kalau gue bosen gimana?"
"Gue juga males punya istri."
__ADS_1
"Terus maunya punya suami bos?"
"Hih! Apasih?!" kaget Rizal dengan kedatangan tiba-tiba Desta yang malah nyengir kuda. "Gila ya lo! ngagetin aja sih!"
"Gitu doang kaget. Jompo banget sih jantung bapak," cibir Desta dengan kekehan nya sambil menyodorkan berkas yang tadi ia bawa. "Nih bapak bos, mohon segera di tanda tangani."
"Hm. Gimana? udah cari pengganti kamu belum?"
"Maksudnya?"
Desta memegang dadanya, degdegan. Apa coba maksud perkataan bosnya? "Kamu kan bentar lagi—"
"Di pecat ya bos?" potongnya, "yaaa... Jangan dong bos! Saya butuh buat modal nikah kerja tuh! masa tiba-tiba gini. Bos nggak serius kan? Bosss..." Desta mode lebay dan dramatis. Maksud Rizal kan belum kesitu. Tapi nih orang udah mempraduga kearah sana.
"Bukan itu maksud saya," ujarnya datar, "kamu kan udah profesional. Jadi kamu saya percaya kan untuk kelola perusahaan cabang."
Desta mengatupkan bibirnya, tidak percaya.
Dia nggak salah dengarkan? Dia juga nggak budak seingatnya. Ia juga nggak mimpikan? kalau bosnya mau menempatkan dia... "Arghh! yang bener bos?!"
"Nggak boong!"
Perubahan raut wajah Desta begitu drastis. yang tadinya senang, kini berubah datar. "Bos! yang bener dong. Jangan memberi harapan, kalau ujung-ujungnya cuman di PHP-in gini," cibirnya.
"Baperan! saya serius orangnya. Mulai senin, kamu nggak usah berangkat ke kantor ini. kamu langsung ke kantor cabang aja."
"Terus yang gantiin saya jadi asisten Pak bos?"
Rizal menyipitkan matanya menatap asistennya itu. lalu berucap, "ya mangkanya saya tadi bilang. kamu cari pengganti kamu secepatnya! Ngerti?!"
"Ngerti bos! cuman masalahnya, cari yang cocok sama bos tuh susah!"
"Cari dulu. belum dicari, udah bilang susah. gimana sih kamu," dengus Rizal sambil membuka laporan gmail dari beberapa rekan kerjanya. "Sebelum kamu pindah, tata dengan baik berkas tentang jadwal pertemuan penting yang bersifat privat."
"Siap bos!" Desta berucap dengan semangat 45 nya. dia benar-benar bahagia, lama bekerja dengan Rizal ternyata membuahkan hasil. selain sudah berpengalaman menjadi asisten, kinerja dirinya juga tidak usah diragukan lagi. cukup profesional dan gercep kalau dikasih tugas.
"Mau request asistennya cowok apa cewek bos?"
Rizal mengalihkan pandangannya sejenak dari laptop. "Terserah. yang penting sudah berpengalaman."
"Janda dong bos, berpengalaman tuh... bos mau?"
__ADS_1
"Nggak doyan! buruan sana laksanakan tugasmu!"