Pak Dosen Mas R

Pak Dosen Mas R
chapter lima


__ADS_3

📍 Kantor Diningrat Marga


Pukul setengah sepuluh malam. Rizal masih sibuk berkutat dengan berkasnya. Dia hari-hari pun seperti itu, selalu ambil lembur kerja. Meskipun pekerjaan itu bisa dibawah kerumah. Tapi dia malah lebih memilih bekerja di kantor saja.


Dia beralasan karena di kantor jauh bikin lebih fokus. Padahal mah akal-akalan dia aja, mau menghindar dari omelan Mamanya yang selalu saja menanyakan kapan dia nikah?


Ayolah. kalau sudah saatnya juga dia bakal menikah, dia belum siap dengan tanggungjawab pernikahan seumur hidup. Rizal masih ingin bersenang-senang dengan kesendiriannya.


"Bro! Jam segini belum pulang, rajin amat. Istri di rumah nggak nungguin?"


"Sialan lu! Nggak usah bikin gue kesel dah," sinis Rizal yang menatap sengit kearah Jerome. "Lo juga ngapa belum pulang?"


"Kan pekerjaan yang lu kasih belum kelar."


Rizal hanya mengangguk. Berlalu menatap Jerome yang berjalan kearah lorong. "Kalau mau bikin kopi nitip Jerome!"


Tidak membutuhkan waktu yang lama. Jerome kembali dengan dua gelas kopi hitam di tangannya, satunya ia letakkan dihadapan Rizal. Dan satunya ia letakkan tepat dihadapan ia terduduk. Dia duduk di antara dua kursi yang tersedia dihadapan Rizal, hanya dibatasi meja kerja saja.


"Makasih...!! sama-sama...!" sindir Jerome.


Rizal menjuling kan matanya malas. "Nggak ikhlas?"


"Ikhlas kok," sahutnya sembari bermain dengan ponselnya. "Mau ngomong serius gue."


Setelah mengecek sebentar ponselnya. Kini Jerome tengah menunggu respon dari Rizal yang ingin ia ajak bicara. Pria itu tak mengalihkan perhatiannya sedikitpun, masih tetap sama. Fokus dengan laptop dan jarinya yang terus menari di keyboard. Tengah memantau kinerja kerjanya para karyawan dan mengecek data-data penting.


"Gue bolehkan? Pake gue-lu? Lagian para karyawan udah pada pulang juga."


"Hm."


Jerome menggeleng dengan sikap kakak sepupunya ini. yang ternyata tidak pernah berubah. Dia sulit diajak bicara serius. Pengecualian dalam urusan kantor, dia bakal gercep dengerin dan ya begitulah. "Tante Rere nyuruh—....."


"Buat bantu bujuk nerima perjodohan itu?"


Jerome mengangguk. Masih mencoba sabar, dia ngomong berasa ngomong sama body belakang laptop. Orang yang diajak ngomong ya sibuk.  "Lu nggak mau nurutin permintaan nyokap tuh? Itu juga buat kebaikan lu."


"Kebaikan-kebaikan! kalau di dasari rasa nggak ikhlas nerima nya gimana? dan letak kebaikannya gimana?! Lu ajalah sana kalau mau," balas Rizal udah mulai agak terganggu konsennya. "Kalau ngajak ngomong soal ini lagi. Mending lu nggak usah ngajak gue ngomong dah."

__ADS_1


Pria itu malah terkekeh santai menanggapi respon terang-terangan tidak suka dari Rizal. "Meskipun kalau nanti kantor ini di ganti atas nama gue?"


Rizal melirik sinis sejenak, lagi dan lagi fokus pada laptopnya kembali. Memang dia adalah sosok penggila kerja. "Ambil aja kalau lu mau."


"Yakin?"


"Kalau lu nggak tahu malu. Ambil browww," Rizal mencoba untuk sabar. Yang benar saja? Mamanya memberi peringatan. Kalau dia menolak perjodohan ini, maka perusahaan yang ia kelola dari nol diambil kembali dan suruh di kelola oleh Jerome?  "Gue bisa ambil magang jadi dosen."


"Oke."


*****


"Intan Rahayu Purwaningsih," jerit Nissa saat telpon nya dijawab oleh sahabatnya. "Gue mau ngomong..."


"APASIH??!"


Spontan Nissa menjauh kan telponnya, saat Intan menjerit dengan volume full power. "Lho lu kok ngegas sih?!"


"Lu juga sama anjir!" balas Intan sambil memegangi kepalanya yang pening. "Gue udah tidur anjwingg! Lu ngapain nelpon terus. Ganggu!"


"Ada hal penting!"


"Nggak!"


"Ya udah apa?" Intan masih sabar, meladeni Nissa yang emang suka ganggu ketenangan seseorang seperti ini.


"Kecap asin kenapa rasanya asin yak?"


Oke. Intan masih berusaha sabar dan berpikir positif, nggak boleh marah dulu. Nggak boleh ngumpat dulu. Harus tetap sabar dan terlihat happy kiyowok. "Serius nih. Lu nelpon gue bukan cuman mau nanyain ini doang kan?!!"


"Nggak lah. Masa itu doang, sama mau nanya ini. kenapa cicak di dinding?!!"


"Kalau di rawa-rawa namanya buaya!"


"Owwh ya udah."


"Ya udah apa?"

__ADS_1


"Ya udah nanyanya. Makasih ya atas waktunya, udah mau menjawab ke overthinking gue yang mikirin tentang tadi. oke good night!"


"Anj—"


Belum juga Intan menyelesaikan umpatannya. Dia sudah mematikan sambungan telponnya. Emang agak menganggu sih, telpon malam-malam. cuman buat nanya hal unfaedah kayak barusan ke Intan.


Ya lagian. Daritadi mata Nissa tidak bisa terpejam. Masih kepikiran tentang permintaan ayahnya. yang mau tidak mau dia terima. Nolak kemauan ortu tuh nggak baik. Jadi dia ya nurut. Tapi berujung overthinking. Memikirkan bagaimana nanti dia kedepannya? Apakah dia akan bahagia dengan perjodohan ini? Muka calon yang akan menjadi suaminya saja dia belum tahu. Sifat dan sikapnya juga dia belum tahu.


"Kata bunda sih baik, Soleh dan bertanggungjawab. Gue agak meragu... di perasaan gue ada yang ngerenjel gitu sama sih casu gueee."


Nissa tiduran terlentang sambil melihat langit-langit kamarnya. Matanya sulit terpejam dari sore sampai jam menunjukkan dua pagi dini hari. "Gue kok gini sih? Nggak bisa tidur, ngapain kepikiran terusss? belum tentu juga kan jadi. Lagian pria mana jaman sekarang yang mau di jodohin?"


"Tapi kalau semisalnya jadi. Gue kentar-kentir, gue belum siap asw!"


"Nissa..."


"Bunda!"


Nissa terperanjak kaget dengan kehadiran bunda yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Sungguh membuat jantungnya tidak aman. Apalagi beliau masuk ke kamar Nissa masih memakai mukena putih. "Bunda kok belum tidur?"


Bunda malah mengajak Nissa untuk terduduk kembali di ranjang. sebelum menjawab pertanyaan dari anaknya. "Bun...!"


"Nissa sendiri kenapa belum tidur...?"


"Nggak bisa tidurrr...!" rengeknya sambil merentang kan tangan memeluk bundanya dari samping. "Bunda abis sholat?"


"Abis benerin genteng."


"Ihh bunda. Nissa tanya serius lho."


Irma hanya bisa terkekeh menanggapi rengekan sang putrinya. Dia juga balas pelukannya dengan mengelus lembut puncuk kepala Nissa. "Ya kamu ini, Ngapain malam-malam bunda pake mukena kalau nggak sholat."


"Ya siapa tahu bunda mau belajar terbang pake mukena."


"Huh! Pemikiran darimana itu? kok bisa-bisanya bunda lakuin hal bodoh kayak gitu," kekehnya menangapi ke random anaknya. "Nggak akan mungkin lah manusia terbang."


"Iya juga ya Bun. Kok Nissa pemikirannya aneh ya?"

__ADS_1


Irma menghela nafas pelan. "Ya udah. Daripada ndak berguna mikirin yang aneh-aneh. Mending kamu sholat tahajud. Sepertiga terakhir lho ini. Sekalian minta petunjuk kedamaian buat pikiran kamu. Biar nggak berpikiran aneh-aneh dan negatif dari hal-hal baik yang udah bunda dan ayah rencanakan. Bila perlu sholat istikharah ya?"


__ADS_2