Pak Dosen Mas R

Pak Dosen Mas R
chapter sembilan


__ADS_3

"Hah! Hah! Ganti rugi dong!"


"Saya enggak ngerti, saya enggak paham. Coba tolong jelaskan, apa maksudnya?? Jangan bikin saya mikir keras, Pak! Otak saya udah ngebul."


"Ngebul gimana?"


"Lagi banyak beban pikiran, Pak, masa saya mau di jo—"


"JOROGIN?"


Nissa menggeleng.


"JONGKOK?"


Gadis itu menggeleng lagi, menyisakan teka-teki dan rasa penasaran bagi Rizal. Ia berpikir keras, menebak-nebak asal siapa tahu berhadiah. "Di jodohin??"


Meskipun pelan, Nissa dapat mendengar penuturan dari dosennya dan mengangguk pasrah. "Iya Pak, mana saya enggak bisa nolak lagi."


"Sama dong."


"Hah?!"


"Jangan-jangan!"

__ADS_1


"Enggak, enggak mungkin!"


Dramatis gadis itu memegangi kepalanya frustasi, ngereog tidak jelas dihadapan dosennya yang kebingungan. Ini mahasiswanya masih waras kan? Masih sekilo dong otaknya, enggak kurang se-on dong? Bisa-bisanya terlalu dramatis.


*****


"Ibu... Ibuuu......!!


"Nissa datang!!"


"Ibu! kaulah wanita yang melahirkan..... kyuuuu!!"


Tak!


Satu sentilan mendarat di kening gadis itu yang meringis kecil karenanya. Sang ibu ini benar-benar heran, padahal waktu ngidam Nissa enggak pernah aneh-aneh. Normal. Palingan ngidam sate torpedo sama bissa ular cobra, belum terlalu parah kan? Masih wajar, tapi tingkah laku gadis itu saja yang di luar nalar. Masuk rumah bukannya salam malah teriak.


"Ngada yang ngajarin, Nissa belajar sendiri hehe," kekeh dengan polos. Saking polosnya sampe tidak menyadari kalau sang ibu menjentikkan jarinya kearah telinga gadis itu. "Akkhh! Sakit Bu!!"


"Biarin lah, biar enggak bandel lagi."


"Ibu... Tega banget kasar sama anak gadismu ini."


Tangan sang ibu diraih dan ia digelayuti dengan manja olehnya. Sambil cengar-cengir mengundang kecurigaan sang ibu. "Kamu enggak aneh-aneh lagi kan, Nis?"

__ADS_1


Gadis itu mendongak menatap ibunya, "ibu kok ngomong gitu? Kenapa?"


"Aneh aja gitu lho, kalau kamu kayak gini biasanya ada apa-apa atau ada maunya. Mana pake cengar-cengir gitu lagi, ibu jadi merinding liatnya."


"Ihh ibu..... Dikira Nissa Kunti apa, pake di merindingin segala," cetusnya dengan bibir yang mencibik kedepan.


Sedangkan disisi lain.


"Ma! Mama! Cepet bilang ke Rizal, kalau mama enggak mungkin kan jodohin Rizal sama gadis yang lebih muda dari aku."


Rosa malah mengangguk dengan entengnya. Sambil menyeruput santai segelas teh hangat, mengabaikan anaknya yang terus merengek.


"Hah? yang bener aja dong Ma, tujuan Mama nyuruh aku cari istri kan buat ngurusin aku. Kalo nanti malah sebaliknya gimana??" desaknya sambil menukikkan alisnya. Saking kesalnya karena keputusan sepihak dari sang Mama.


"Ihhhh, males banget Ma! Nggak seru dong masa istri Rizal nanti nyusahin...!"


Menghela nafas lelah, Rosa meletakkan secangkir teh hangat tersebut. Sebelum berbicara sembari menatap mata anaknya. "Dengerin Mama dulu! Kamu belum tau dia, udah menyimpulkan dia gimana. Dia itu tipe cewek mandiri, Zal! Yakali Mama jodohin kamu sama cewek manja. Tapi ya ada bagusnya juga si kalo cewek itu manja, biar hidup kamu tuh ga kaku kaku amat. Nggak lempeng aja gitu loh..."


"Yaudah lah. Terserah Mama," dengus Rizal. Memilih meninggalkan sang Mama. "Tauah aku ngambek, Mau nongkrong di cafe!"


"Ehhhh tunggu dulu, salam sama Mama!"


Cup!

__ADS_1


Rizal yang tadinya berniat naik keatas tangga menuju kamar, ceritanya ngambek. Tapi doi lupa salim ke Mama. Jadi balik lagi sambil mencibikkan bibir, lucu banget ya Rizal. Bayangin deh dia ngambeknya sambil cibikin bibir gitu. "Dadah Mama, aku ngambek dulu yaaaaa."


"Dasar! Udah dewasa juga masih tetep gemesin, istrimu pasti gemes banget."


__ADS_2