
Panji mengelus lembut kepala putrinya penuh kasih sayang yang tulus, layaknya seorang ayah ke anak gadisnya. Dalam hatinya juga tidak rela dan belum siap, melepas anak gadisnya dipinang oleh orang lain. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Nissa. anak tunggal yang begitu ia jaga dan sayangi sampai detik ini hingga nanti.
Matanya juga ikut berkaca-kaca, melihat anaknya menangis. Anak gadisnya sudah besar, tentu mengerti apa maksudnya.
"Jangan nangis dong sayanggg. Ayah jadi ikutan sedih," Panji mulai terisak. "Maaf kalau ayah minta ini ke kamu tiba-tiba. Ini demi kebaikan kamu sayanggg."
Nissa meraup wajahnya sendiri, mencoba menyeka air matanya. Tangisnya begitu pilu. "Tapi aku gamau ayah. Bisa minta yang lain aja? Gamau kalau harus nikah! heh, hiks... huh huuwaaa."
Panji menyambut putrinya yang merentangkan tangan padanya. Mengelus lembut punggung Nissa, berharap bisa meredakan tangis anaknya.
Karena tangisan putrinya yang terdengar sampai lantai dasar. Irma berlari kecil menghampiri Nissa yang berada di kamar.
Saat tiba diambang pintu. Irma terpaku sesaat, melihat pemandangan yang mengharukan. Dia juga mendengar sepenggal percakapan dari keduanya. Sejujurnya dia juga belum rela, kalau harus membiarkan putrinya menikah dengan orang yang belum ia kenal seluk-beluknya. Hanya sekedar tahu dari orang dalamnya. yang tentu menjunjung tinggi namanya, tapi belum tentukan sesuai kenyataannya.
"Dia orangnya baik sayang. Nggak mungkin dia galak, dia juga bakal bimbing kamu kok. Insyaallah. Kamu mau ya?"
Nissa masih menggeleng kuat. Kedua pipinya dihapit oleh kedua tangan ayahnya, menghadap langsung ke wajah tegas ayahnya. "Kamu percaya kan sama ayah? Ini yang terbaik. Hanya ini permintaan ayah, ayah harap dan mohooon banget sama kamu Nissa! Turuti kemauan ayah untuk hal ini aja."
"Benar kata ayahmu Nis, mungkin ini yang terbaik." Indri tiba-tiba duduk di sisi kanan Nissa. Dia ikut serta mengelus lembut punggung Nissa. "Udah semestinya kan? Kalau seorang anak nurut apa perkataan orang tuanya. Semua yang namanya orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya, tidak mungkin dia menjerumuskan anaknya ke hal yang nggak benar."
"Kamu mau ya? Nerima perjodohan ini," sambung Panji dengan senyuman hangat menatap putrinya. "Percaya sama ayah. Ini yang terbaik, insyaallah ini jadi perjodohan yang membawa kamu lebih baik lagi hari ini dan untuk hari-hari esok nanti."
"Calon kamu itu pria yng baik, sholeh, gigih, pekerja keras."
Gadis itu mengernyit, menatap sang bunda. "Tapi dia orangnya bertanggungjawab nggak Bun? kan nggak lucu, kalau udah nikah dia malah nggak bertanggungjawab!"
"Tentu dia orang yang seperti itu Ndo."
*****
"Desta."
"Desta!"
__ADS_1
"DESTA!!!"
Pemilik nama itupun buru-buru menghampiri asal suara yang memanggilnya tadi. Dia berlari tergesa dari lorong manajemen, menuju lorong menuju ruangan CEO.
Saking terburu-buru nya. Dia sampai lupa mengetuk pintu. "ADUH! Maaf bos," ujarnya saat bosnya melayangkan pulpen yang tepat mengenai jidatnya.
"Lain kali yang lebih sopan, nggak sekalian kalau masuk dobrak pintunya aja biar nggak nanggung saya liatnya."
Desta mengerjap sejenak, untuk menanggapi omelan dari atasannya. Nampaknya hari ini lagi sensi parah.
"Butuh hot matcha bos?"
"Masih perlu nanya?"
"Oke." Desta membalas dengan mulut yang membentuk huruf 'O'. "Dinar! DINAR!!!"
Rizal mengepalkan tangannya mendengar teriakan Desta yang begitu menggelegar didalam ruangan kedap suara tersebut.
"DINAR...!"
"Ashiap bosss... Ada yang bisa saya bantu?" tanya o.b yang bernama Dinar itu. dengan gaya centil, bibir merah merona dan bedak menor jadi ciri khas penampilannya. "Bos Izal ganteng banget sih, Dinar jadi makin fooling in love liatnya dah, hahaha."
Pria itu merasa risih, setiap o.b satu ini masuk ke ruangannya. Entah mengapa dia sering kesal melihat gaya berlebihan dan tingkah centil Dinar terhadap dirinya. Dia tahu, memang dirinya tampan dan juga rupawan, tubuhnya **** dan semua wanita pasti tergila-gila padanya. Tapi ya nggak selebay Dinar juga kan bisa.
"Aduh Pakboossss yang tamvan, mau Dinar buatkan apa untukmu my my darling." heboh Dinar dengan ke lebayan yang melekat dalam dirinya. Sampai suara pun ia imut-imut kan yang jatohnya alay kalau ngomong. "Diem aja Pakboossss, Dinar capek nunggu lama-lama tanpa sebuah kepastian gini."
Desta yang peka akan ketidak nyamanan dari Rizal pun buru-buru berucap, "ehh... Gini Dinar, kamu buat kan hot matcha buruan! Nggak usah banyak tingkah, sih Pakboossss lagi banyak pikiran itu. Mau lu di pecat hah?!"
Dinar mengerjap polos sambil sesekali mencuri pandang pada Rizal yang kini tengah berekspresi maung dan kayaknya lagi mode senggol bacok. kayak cewek pms nih jatohnya.
"Lu disini dulu satu bulan atau beberapa lah, ajarin sih Jerome buat kendaliin perusahaan cabang. Kita lagi butuh tenaga kerja yang patut di percaya." jelas Rizal. Jarinya terus mengetik di keyboard dan matanya yang terus fokus di layar laptop. "Lu urus semua kebutuhan dia juga kalau bisa. Dia tinggal di apart gue."
"Dia udah gede, Ngapain gue urusin sih?" sinisnya yang nampak kurang suka dengan Jerome. "Gue kesel ah sama dia. Gara-gara dia, gue kagak jadi CEO di perusahaan cabang lu."
__ADS_1
"Semua itu kemauan Mama. kalau Mama nggak maksa jodohin gue. Dia juga nggak bakal kayak gini."
Desta terduduk disalah satu kursi depan di hadapan Rizal. Kayaknya, acara ngobrolnya bakal lama nih. "Heem... Harusnya terima ajalah bos, kasian juga gue liat lu. Kesepian muluh kayaknya, berkas muluh yang lu pegang. Kali-kali pegang tangan cewek lah."
"Tiap hari juga gue salaman sama Mama, itu termasuk pegang tangan cewek kan?"
Desta menggeleng frustasi, dengan ke lemotan Rizal yang dibuat-buat padahal sebenarnya dia paham. Obrolannya sedang mengarah kemana. "Bukan gitu konsepnya Rizaludin! Lu jadi orang lempeng amat sih, lu tuh udah mapan dan juga tamvan. Semua cewek antri buat jadi istri lu. Kenapa mesti bodoh amat lu sama mereka?!"
"Bukan tipe gue."
"Tipe lu yang kek mana?" geram Desta, "nunggu yang modelan Jisso apa gimana sih? orang yang ngejar lu oke-oke kok. Cantik, bertalenta, wanita karier idaman juga kan kebanyakan."
"Mau lu cari yang tinggi, kurus, berisi, pendek, putih, eksotis, gemesin, ngangenin sampai montok, tua, muda, janda. Semua antri buat lu!! Lu ngada mau satu gitu?!!"
Rizal menggeleng dengan cepat. "BWANGSAT!!!"
"Lu normal kagak sih? Jadi curiga gue," cerocosnya. yang lama-lama membuat Rizal jengah juga. "Kalau gue jadi lu, gue sih mending tinggal milih sambil merem. atau pilih perjodohan itu beserta aset yang bakal lu terima utuh kalau lu mau nurut nyokap lu itu."
"Ya udah, lu aja sana yang di jodohin tiba-tiba. Mau nggak?"
"Mau lah. Tapi gue harus liat dulu. sesuai tipe gue nggak?? yang kayak Jennie atau nggak Jihyo, gue mau tuh. tapi kalau nyerempet ke Jisso, Lisa, Irene atau Solar nggak papa juga. Gue terima."
"Dianya yang nggak nerima lu dongoo!"
Rizal sudah bersiap membalas ucapan Desta lagi, dirinya sudah cukup mendengar celotehan dari Desta yang sungguh membuatnya tambah pening.
"Nggak waras! Idaman lu nggak ngotak, nggak ngaca lu sebelum ke kantor?!!"
"Ya daripada lu! Kayak cowok nggak normal."
"Gue normal ya BWANGSAT!" geram Rizal, "jangan bikin gue marah ya njing! Gue JOROGIN lu dari gedung ini. Mampus-mampus lu nggak nafas, tidur di tanah."
Bukannya takut. Desta malah tertawa puas melihat ekspresi sahabat sekaligus atasannya itu marah. "Bwahah hahaha... Anjwingg! Ngabrut gue Prend!"
__ADS_1
"Lu lucu juga kalau marah-marah gitu. Sabar prend sabar, gue juga tahu. Udah ahh ahh ahahha bwahah."