Pak Dosen Mas R

Pak Dosen Mas R
chapter delapan


__ADS_3

Akibat ketingilan kedua temannya. Intan juga kena imbas, dihukum membersihkan halaman depan kampus bersama dengan Vino. Kalau Nissa disuruh membersihkan ruang baru bagi dosen barunya itu.


Sepanjang mengikuti langkah panjang pria jakun didepannya. Nissa tidak henti-hentinya menggerutu. Bisa-bisanya dia ditertawakan satu ruangan tadi. Gara-gara dosen barunya, yang nampak memiliki dendam kusumat padanya.


"Pak! Kita keruangan mana sihhhhhh?"


"Ckck, gue nggak di tanggapi. Emang paling bener minta tanggapan Lesti sajalah."


Pria itu berjalan begitu cepat didepan Nissa yang coba mensejajarkan jalannya. Rizal menuju ruang dekan, yang akan menjadi ruangannya. Nissa yang kenal akan jalan tersebut mengerutkan keningnya heran.


"Dosen baru bisa-bisanya keruang dekan. Ckck, Gue kenapa harus suruh ngikutin dia sih? kayak ngada pekerjaan lain aja."

__ADS_1


"Bereskan semuanya," ujarnya santai sambil memajukan dagunya menunjuk setumpuk buku-buku yang berhamburan dilemari dan juga lantainya. Ruangan itu sudah lumayan lama tidak ditinggali jadi wajar kalau berantakan, kalau masalah berdebu. Itu semua sudah dibersihkan, tinggal bereskan kertas, buku, maps, berkas yang masih merusak pemandangan ini. "Tunggu apalagi, ayok bereskan."


Gadis itu melongo, menatap tidak percaya akan dosennya yang menyuruhnya membereskan ini semua. yang benar saja coba? Masa gitu si, sangat tidak adil! Intan, dan Vino suruh membersihkan halaman. Masa dia?..... "Nggak bisa gitu dong, Pak! Saya mahasiswa, bukan babunya bapak."


"Siapa yang nyuruh ketingilan di jam kelas saya?"


Pria itu terduduk di kursinya. Berlalu membuka laptopnya, dan fokus dengan layar menunjukkan beberapa laporan dari perusahaan. Nissa yang merasa terabaikan dan dihadapkan dengan situasi tidak jelas seperti ini. Memutuskan menarik kursi yang tersedia dihadapan Rizal, yang menjadi kursi untuk bertatap muka dengannya. Satu detik, dua detik, berlalu menjadi menit.


Ia juga tak kalah terkaget, kaki yang tadi nangkring turun saat tatapan Rizal menatap tajam Nissa yang kikuk ditatap seperti itu. Apalagi saat  Rizal kini berdiri mendekat dan mendongakkan wajahnya tepat dihadapannya. Dengan susah payah meneguk ludah, Nissa memejamkan mata saat Rizal yang berstatus sebagai dosennya itu semakin mendekat kan posisi keduanya. Kursi yang diduduki Nissa ditarik maju olehnya. Tatapan pria itu terkunci menatap lekat manik indah Nissa yang sudah membuka lagi matanya. Rasa gugup kini menggerogoti perasaan gadis itu.


Tidak pernah sekalipun ia merasakan getaran yang begitu hebat dihati. Saat bertatapan dengan lawan jenis, baru kali ini. Gadis sebarbar dia dibuat tidak berkutik dihadapan dosen barunya. Rizal menatap seksama wajahnya, lamat-lamat ia mengenali muka gadis itu dan segera menjauhkan wajahnya saat Nissa kembali terpejam. berharap hal-hal yang biasa terjadi di novel, film dan kisah romantis lainnya jika berada diposisi seperti tadi. Tapi ekpektasi gadis itu terjatuh kan oleh kenyataan. Rizal justru mendorong kursi itu sampai menggelincir sampai membentur tembok ujung.

__ADS_1


Dakh!


Suara benturan kursi itu begitu kencang saat berbenturan lumayan keras dengan tembok. "Anjing! sakit!"


Gadis itu mengatupkan bibirnya dengan umpatan dalam hati yang tertahan, lagi-lagi ia dibuat kesal oleh dosen yang benar-benar membuatnya jengkel.


"Omongan mu, tidak di jaga! Mau hukuman di tambah, hah?! Kamu ini benar-benar ya! Pulang ngampus ikut saya. Kesalahan kamu sulit untuk di tolerir," cerocosnya terjeda. "Bisa-bisanya, nabrak mobil nggak tanggungjawab kamu?!!"


"Hah?"


...******...

__ADS_1


__ADS_2