Pak Dosen Mas R

Pak Dosen Mas R
chapter tiga


__ADS_3

"Assalamu'alaikum bunda...!"


"Anakmu yang cantik ini pulang!"


"BUNDA."


Teriakan dari anak gadis satu-satunya itu membuat seisi rumah bergetar dibuatnya. Memang itulah kebiasaan Nissa, pulang-pulang selalu membawa kehebohan.


Dari arah dapur, datanglah wanita parubaya dengan pakaian abaya lengkap dengan hijab instan nya menyambut kedatangan putrinya dengan menjewer telinganya.


"Nissa! kamu itu udah gede lho Ndo, jangan kayak anak kecil. Pulang kerumah teriak-teriak gitu. Ndak sopan lho kamu," omel Irma — Ibunda dari Nissa.


Nissa meringis menahan sakit sekaligus perih di telinganya. Akibat jeweran sang Bunda yang lumayan kencang. "Maaf bun. Abisnya, kalau aku pulang ndak ada yang nyambut."


"Mau tak sambut sekalian tak sambit pake pisau mau mbak?" celetuk Elsi— anak dari pamannya Nissa yang tinggal satu rumah dengannya.


Memang, rumahnya itu lumayan ramai. Ada Paman, bibi, Sulfi, Elsi, Zidan, Irma, Panji dan dirinya. Tinggal satu rumah dengan dua tingkat itu. Rumah yang tidak terlalu besar dan mewah, tapi yang terpenting adalah keharmonisan yang tercipta.


"Cangkemmu. Pengen tak hem! Lho Si." Nissa menghampiri Elsi setelah bersalaman dengan bundanya. "Salaman lho kamu," protes Nissa saat melihat Elsi yang enggan mencium tangannya.


"Emmoh! Tangan mbak bau," sahutnya yang langsung mendapat cubitan dari Nissa. "Akkhh! sakit lho mbak, main cubit-cubit aja sih."


"Kamu ini, ngarang! Mana ada tangan mbak bau. Orang harum kemenyan gini kok," balasnya tidak terima sambil mencium tangannya sendiri. "Huh! ini baunya wangi semerbak lho, telinga mu bermasalah ndak bisa cium dengan benar."


Elsi menghela nafas lelah, "yang buat indra pencium itu hidung mbak. Bukan telinga! ketauan nih sering bolos waktu sekolah."


"Hih sembarangan! emang mbak kamu."


"Aku apa toh? Orang rajin tiap hari berangkat. OSIS itu harus rajin mbak, apalagi Elsi kan peringkat satu di sekolah. Sangat tidak mungkin kalau Elsi sering bolos."


"Yah! yah! Iyain biar cepet, susah debat sama bocil." Nissa menggerutu sambil menaiki tangga, "Elsi, ambilin mbak minum! sekalian cemilan, mager ke bawah lagi!"


"Ndak mau!" balas Elsi tak kalah berteriak.


"Nilai penjas mu tak kurangin nanti."

__ADS_1


"Iya-iya!"


****


"Rizaldy!"


"Iya Ma."


"Duduk!"


Rizal menurut, duduk di kursi sebelah kiri Mamanya. Dia sudah was-was dalam hati, meskipun dia harus tetap terlihat cool. "Udah dapat?"


"Apanya Ma?"


"Calon istri."


Pria itu berpura-pura kaget dengan menangkup wajahnya nampak frustasi. "Astaghfirullahhallazim, aku lupa Ma. Tadi sibuk di kantor, nggak sempet nyari."


"Ahhh boongggggg..."


"Gatau Ma. Aku juga belum mikir buat nikah."


"Astaghfirullah Rizal! kamu itu udah cukup usia Nak. Masa gamau sih, nikah itu ibadah paling mulia lho... kamu gamau?"


"Mulia kalau di lakuin nya ikhlas kan Ma? dan udah siap, sedangkan Rizal belum."


"Nunggu siap, kapan siapnya toh Zal." Rere kini sudah terlihat lelah, sekaligus menahan kesal dengan anak bungsunya. sehingga tanpa sadar bulir bening jatuh tanpa diminta. "Kalau kamu gini terus. kamu mau? memenuhi nazar Papamu?"


"Soal?"


"Dijodohin?!!"


"Akkhh! yang bener aja ayah'. Ayah pasti bohong kan?"


Panji menggeleng, sambil mencoba menenangkan putrinya yang tadi berteriak heboh dan berceloteh begitu berisik menurutnya. "Udah Ndo. Ayah mau ngomong dulu sama kamu."

__ADS_1


"Perasaan udah ngomong deh daritadi."


"Ngomong serius Ndo."


Nissa mengangguk polos, "jadi kalau tadi yang di jodohin itu bercanda kan? ya kan? ya? Masa iya sih Yah, jaman sekarang masih ada perjodohan gitu. kolot banget sih Yah."


Panji mengelus punggung putrinya lembut, setelah tadi ia memberi isyarat agar anaknya duduk. Itulah adab sopan santun yang coba ia ajarkan, kalau ada orang tua mau ngomong serius ataupun sekedar ngomong biasa. Sebaiknya perhatikan. Beretika yang sopan dan bertingkah yang benar.


"Kamu itu anak baik. Udah besar, anak ayah satu-satunya. Harus nurut dong apa kemauan orang tua?" Panji harap-harap cemas memulai pembicaraan ini, "semua orang tua itu mau yang terbaik untuk anaknya. Ayah nggak bisa boong, kalau kamu semakin tumbuh dewasa. Ayah makin takut."


Nissa balas menatap tatapan hangat dari sang ayah dengan tatapan polosnya, masih coba mencerna perkataan ayahnya. "Takut kenapa?"


"Semakin tumbuh dewasa anak, semakin tua juga umur orang tuanya. Jadi—"


"Ayah udah nggak bisa jagain Nissa lagi?" tanyanya memotong pembicaraan, "ya udah Yah... aku mah kan udah dewasa, bisa juga jaga diri aku sendiri."


"Ngapain sih jadi kayak gini," sambungnya memilik perasaan dan feeling nya yang tak enak.


"Tunggu dulu Ndo, ayah belum selesai ngomong lho." tegur Panji begitu lembut, tidak pernah berkata kasar pada putrinya. Sekalipun dia marah, hanya saja dibeberapa kesempatan dia mungkin harus tegas menjadi seorang ayah bagi satu-satunya anak yang sangat ia kasihi itu. ''Yang namanya hidup itu ada matinya. Semua ngada yang tahu rencana yang di atas. Jadi kamu mau kan Ndo? Nurutin permintaan Ayah sebelum nanti ayah waf—"


"AYAH!" sentak Nissa dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "ayah masih sehat gini kok. Ngomongin gitu terus... Lagian kenapa sih? Dari jaman Nissa SMA, ayah udah ngebet banget jodohin Nissa. Ayah nggak sayang ya sama Nissa? Ayah ngerasa beban ya ngurus Nissa? Nissa bandel dari kecil sampai sekarang, sering banget bikin ayah malu. Nissa minta maaf ayah...! Tapi ayah nggak gini juga caranya benci Nissa."


Pertahanannya luruh juga. Air mata yang ia tahan-tahan sudah tidak lagi terbendung. Gadis itu sudah meraung menangis, setelah mengatakan kalimat-kalimat yang menyesakkan relungnya.


"Nissa nggak mau nikah dulu. Nissa belum lulus kuliah hiks...! Nissa juga masih nyaman jadi guru magang di Casanova. Nissa belum siap punya suami, ntar kalau suaminya galak gimana? hiks... huuwaaa... huh hiks."


Gadis itu menangis tersedu, air matanya berlinang. dia memang belum siap sama sekali kalau harus di suruh menikah. usianya yang masih 22 tahun. masih sangat mudah jika harus membina rumah tangga. tanpa bimbingan dan pengalaman, sangat susah rasanya.


"Gamauuu ayah... gamauuu...! Nissa belum siap, kalau suami Nissa jahat harus gimana? kalau dia nggak kuat sama tingkah dan kelakuan Nissa, hiks... terus dia ngebentak gimana?"


"Gamauuu! gamauuu jauh dari ayah bunda hiks..."


"Ayah nggak boleh! nggak boleh biarin ini terjadi, bundaaaa..... Nissa gamauuu di jodohin!"


"Nissa janji bakal berubah lebih baik, tapi gamau kalau harus gini."

__ADS_1


__ADS_2