
Suasana ruangan yang ditempati Nissa nampak ricuh. Hari tidak ada dosen yang mengajar. Pak Bemby dikabarkan sudah diluar negeri. Dan menurut kabar angin, akan ada dosen pengganti. Katanya sih hari ini datang. Tapi kok masih belum terlihat batang hidungnya.
Intan, Vino dan Nissa sedari tadi sibuk mengobrol. Berbeda dengan yang lain, mulutnya sibuk berbicara dengan temannya. Matanya terus berfokus pada ponsel.
"Ada ya orang-orang kayak gitu?"
Vino sambil memangku dagunya menatap sekeliling sejenak. Lalu berfokus lagi pada lawan bicaranya saat ini. "Iya njir. Tangan sama matanya ke hape, mulutnya wokwokwok ngobrol muluh."
"Ada orang kayak gitu, hahaha." Intan tertawa receh. "Pusing juga lama-lama ribut gini ngada dosen yang ngajar."
Nissa mengangguk. Lalu menjentikkan jarinya, seolah mendapatkan sebuah ide cemerlang. "Kalau kata gue mah ke kantin aja yuk?"
Vino langsung bangkit dari duduknya. "Ide bagus bestie! Ayolah gas kuen!"
Tidak membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sekitar 12 menit, akhirnya mereka sampai di kantin yang lumayan sepi itu. Mereka bertiga mengambil posisi terduduk bertepatan di gerobak mie ayam.
"Mang mie ayam tiga, yang spesial ya Mang. Bawangnya banyakin, sayurnya juga."
"Saya sayurnya dikit aja Pak," teriak Vino.
Berbeda dengan Intan yang ikut pesanan sesuai ucapan Nissa. "Pantas badannya kurus kering, nggak suka makan sayur lo No."
"Nggak sadar diri ya bund," balasnya. "Btw lo kenapa Ntan? Mukanya murung terus."
"Nggak papa, lagi pusing aja gue. Sih Nissa liat No, mukanya lebih sepet bin murung daripada gue."
"Sepet-sepet, lo kira gue mangga mentah apa?"
Suasana di kantin tempat ketiganya makan. Memang sudah biasa ribut. Kerusuhan yang dibawah ketiganya sudah menjadi hal yang biasa bagi penjual di kantin itu. Terutama Mang Batuk, selaku Mamang penjual mie ayam dan bakso.
Berbeda dengan suasana kelas saat ini. yang sedari tadi ribut sekarang menjadi hening. Seketika semua terpaku. Terutama para mahasiswi yang terhipnotis akan ketampanan seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan kelas kejuruan manajemen itu.
__ADS_1
Mata mereka enggan berpaling menatap keindahan Tuhan berikan. Menciptakan makhluk sempurna di hadapannya ini. Hidungnya mancung, kulitnya putih bersih, alisnya yang tebal, bibirnya yang menggoda, badannya yang tinggi tegap, ditambah perawakan yang sangat atletis terlihat jelas. Bahkan sedikit terlihat kalau badan pria itu sixpack. Terlihat dari cela kancing kemeja yang sedikit terbuka dua kancing dari atas itu.
"Omo Omo, ini beneran manusia apa pangeran?"
"Kok ganteng banget."
"Nggak kuat! Ini terlalu sempurna untuk disebut manusia, dia kayak oppa Korea woi! Bahkan kayaknya dia idaman banget."
"Siapakah dia? Apakah pangeran yang tak berkuda nyasar KESINI."
"Persetan dengan itu. Bersyukur kelas kita dimasuki mahluk tampan sepertinya."
"Arghhh! Ganteng banget sih Masya Allah."
Berbagai kalimat pujian keluar dari mulut mahasiswi yang merasa kadar ketampanan seseorang didepan kelas itu tidak manusiawi. yang cowok pun memang mengakui. Kalau seorang pria yang masih berdiri di hadapan mereka ini memang sungguh tampan.
"Permisi semuanya. Mohon bersabar dan tenang, boleh minta waktunya sebentar?"
Semua terdiam hanya salah satu dari mereka yang bernama Amel berseru. "Jangankan sebentar, selamanya juga nggak masalah... hahaha."
"Ada yang cemburu sepertinya ya ges ya."
"Sabar Rick, kalau cinta pepet terus."
"Heh? Bisa tolong perhatikan saya sebentar? saya dosen disini —"
HAH?!! semua terkaget-kaget sekaligus syok dengan pernyataan dari pria tadi. Apa katanya tadi? Saya dosen! Woi! Ini mah suatu keberuntungan sepanjang masa dan sejarah, di kampus CG ada dosen setampan orang ini.
"Izinkan saya memperkenalkan diri sebentar, habis itu terserah kalian mau ribut atau gimana."
Semua berhasil terdiam. Terhipnotis dengan tatapan teduh dari dosen muda ini. "Nama saya Rizaldy Jean Xayran Diningrat dosen pengganti kalian, saya yang bakal ngajar selanjutnya disini. Di fakultas kejuruan manajemen. Apakah ada yang keberatan?"
__ADS_1
"Oh jelas tidak lah Pak. Masa ada dosen ganteng kayak bapak ditolak," Risma berujar dengan malu.
"Bisa jangan panggil saya bapak. Rasanya terlalu tua, panggil saya kakak aja kan bisa?"
"Siap kak!" jawab seisi ruangan itu. yang kurang lengkap dengan tiga orang yang masih sibuk makan dan bersenang-senang di kantin. "Kak boleh memperkenalkan diri lebih lengkap? saya butuh ke jelasan yang mendetail."
"Iya kak. Umurnya berapa?"
"Umur saya 27 tahun, kalau selamanya..." ucapnya mengantung sambil menatap mahasiswi yang bertanya tadi. "Kan seumur hidup sama kamu."
"Arghhh! Paksu bisa aja sih," balas Nella begitu salting brutal di gombalin dosen gantengnya. "Pak. khusus buat saya. saya mau manggil bapak, Paksu aja ya?"
"Maksudnya Paksu apaan?" pertanyaan dari Dino sepupunya T-rex sudah mewakili pertanyaan yang ingin dilontarkan Rizal. "Hati gue siap potek kayaknya."
"Sabar ya No."
"Bapak gatau artinya Paksu?" Rizal mengangguk. Mengiyakan, tidak tahu maksud dari Paksu itu apa? "Paksu tuh, Pak suami Pak! Jadi ahakkk!"
Nella bergoyang ringan merasa salting. Dia yang ngomong, ehh dia juga yang salting. Dasar Nella.
"Punten gapud!"
Ketiga orang yang baru saja mengisi perutnya di kantin. Masuk begitu saja, tidak menyadari kalau ada seseorang yang tengah bersedakep dada mengintai mereka. Alisnya terangkat, memicingkan mata melihat tingkah ketiganya. Mereka bertiga mengajak mereka bertos ria, dan membagikan donat buatan bibi dari Intan. Intan udah pasrah, padahal ia menyuruh kedua temannya untuk membantu untuk menjualkannya. Ehh malah di bagiin gitu aja. Dari ujung kanan yang membagikan donat adalah Nissa, dan disisi lainnya Vino.
"Hayo guys, cobain donatnya."
"Hayo, hayo cobain kuy." Gadis itu heboh sendiri dengan menepuk-nepuk kedua tangannya. Belum menyadari kalau ada Pak dosen yang menatapnya keheranan. "Kalau enak bayar dua kali lipat yak?"
"Yoi! Harus bayar donat spesial, bahan premium, dan tentu rasanya ajib!"
Keduanya berjalan mundur maju ke depan ruangan. Masih belum nyadar juga, kalau Intan sih udah nyadar. Dia sampai melongo keheranan melihat makhluk setampan itu. tengah berdiri mengawasi ketingilan Vino, dan Nissa.
__ADS_1
Semua sudah mencoba donatnya, lagian mereka lapar. Ini bentar lagi udah masuk jam makan siang. Jadi mau tak mau mereka memakan donatnya. rasanya emang engga boong, enak pake banget.
Mengebrak meja, dan sesekali menepuk bahu para teman-temannya. "Ayo bayarlah."