Pak Dosen Mas R

Pak Dosen Mas R
chapter dua


__ADS_3

Di suasana siang yang lagi terik-teriknya, seorang gadis tengah mengendarai motornya dengan ugal-ugalan. kejar waktu, hari ini dia telat matkul. Melintasi genangan air yang berada di lubang jalan. Hampir menerobos lampu merah.


Namun sialnya, dewa natuna tidak berpihak padanya. Motor beatnya tak sengaja menyerempet mobil hitam Pajero sport. Bukannya berhenti, dia malah terus melaju tidak bertanggungjawab.


"Sial!"


"ANJWINGG!" kagetnya, "kok tuh mobil ngintil gue sih?!" dengusnya. Malah mempercepat kecepatan motornya. Mobil itupun tidak mau kalah, menginjak gasnya dalam-dalam. Sampai hampir menyusul gadis yang menabrak mobil nya barusan. "Ya Allah... serem banget kayaknya. Gue nggak sengaja dah suer! Ntar dulu, gue takut kena hukum Pak Bemby."


Gadis itu juga tidak mau kalah, melesat bebas melenggak-lenggok kecela antara pengendara lain. Membuat sang pemilik mobil mengeram frustasi tidak bisa mengikutinya. Gadis yang sungguh menyulitkan, batin pria itu.


Pria itu hampir kehilangan jejak. Tapi otaknya itu bekerja dengan genius, dia memutar otak untuk berbelok ke gang yang lumayan sempit.


Mau tidak mau dia harus meminta pertanggung jawaban dari pengendara tadi. Enak saja, mobil nya baru saja keluar dari bengkel andalannya. Baru dibersihkan dan servis, ini malah jadi lecet. Dengan berhati-hati, Pria itu melewati gang sempit dan berhasil menemukan jalan menuju jalan raya lagi. Kebetulan didepan nanti ada lampu merah. Ia berpikir, kalau gadis itu pasti belum terlalu jauh.


"Awas saja kau! bisa-bisanya, buat mobilku sampe lecet." Hanya melihat dari spionnya saja sudah terlihat baretan yang lumayan jelas di pintu dan body samping mobilnya. "25 juta saja rasanya kurang. Itu cuman buat biaya cuci VVIP dan perawatan eksklusif biasa. Belum nanti kalau harus perbaikan untuk yang lecet."


"35 juta?!"


Tin... Tin... Tin.....


Pria itu berklakson dengan tidak sabarannya, membuat mengendara lain mencibik. Dirinya melihat motor beat putih biru yang di kendarai gadis tak bertanggungjawab tadi.


"Sial! Posisinya sulit untuk di hampiri," celetuk pria itu sambil memukul kemudinya. Dengan memicing ia mencatat plat nomor dari gadis itu di tab nya. "Oke! Cari masalah dengan saya rupanya."


"Aduh njir! Tuh mobil udah kagak ikutin gue lagi kan?! Pas di pengkolan dia udah ngilang gitu. Gatau kemana? Sorry, gue buru-buru woi!"


...*****...


"Khairunnisa Ayu Lestari Albarn! sudah sekian kali kamu telat?! Kamu ini kenapa sih? Hobi kok telat," cibir Pak Bemby dengan muka garang dan perawakan seperti om-om dosen pada umumnya. Kepalanya tidak botak sepenuhnya, hanya botak tengah. "Saya bosan ngehukum kamu!"


"Ya udah jangan diberi hukuman Pak! cukup maklumi saja, jalan tadi macet."

__ADS_1


"Halah alesan! akal-akalan kamu aja itu, masa tiap hari macet."


"Namanya juga Jakarta Pak," sahut Vino teman seperjuangan Nissa. "Bapak kayak gatau aja."


"Diam kamu! yang ditanya itu Nissa. Bukan Nisson," sembur Pak Bemby galak. Seisi ruangan menahan tawa, humor mereka yang receh. Atau emang Pak Bemby itu orangnya lucu. "Saya tau, saya kiyowok! Nggak usah di tahan-tahan kalau mau ketawa."


"Ahaha bwahah," bukannya menurut apa kata Pak Bemby. Mereka malah tertawa semakin kencang. Membuat telinga Pak Bemby panas.


"DIEM! Memangnya ada yang lucu?"


"Bapak yang lucu Pak. Kalau marah-marah perut testpack bapak mbul-mbul," ledek Nissa yang melihat perut buncitnya Pak Bemby yang kembang kempis. "Udah jadi roti sobek berapa Pak?"


Pak Bemby memijat pangkal hidungnya pusing. "Nissa. Nissa. Saya pusing punya mahasiswi kayak kamu. Hoby telat, mulutnya rombeng, suka ngajak yang lainnya jajan. Jarang piket, apalagi Nissa?! Apalagi?!!" Pak Bemby ngegas sambil memutari Nissa yang terkaget. "Awas nanti kalau kamu kangen saya nggak ngehukum kamu."


Nissa terkekeh dibarengi cengiran seisi kelas yang lainnya. Pak Bemby lagi ngelawak atau bagaimana mana ini? Nissa nggak salah denger kan? kalau Pak Bemby berucap seperti tadi.


"Aduh... Bapak-bapak,... lagian siapa juga yang nanti kangen sama bapak. Bapak ini mau ngelawak atau bagaimana??" Nissa terheran menggeleng tidak habis pikir, "emang bapak mau kemana?"


"Ke Korea. Mau nemuin kembaran saya Kim Jong In."


"Bwahah hahaha, Sih bapak. Ngelawak nya nggak lucu Pak!" sarkas Vino yang dihadiahi tabokan keras dari Intan yang masih tertawa bengek. "Sakit Intan Rahayu ehh!"


"Tujuh jempol buat kamu Intan! udah wakilin saya buat nabok Pino," damprat Pak Bemby yang menatap sanggar ke Vino. "Alpino Adijaya, kamu juga awas kalau kangen sama saya."


"Dih, Ngapain saya kangen sama bapak. emangnya bapak mau kemana?"


"Rahasia ah, entar kamu mau ikut lagi."


"ehh."


Vino cengo. "Tiket ke Korea mahal No," sambung Bemby yang masih membuat penasaran semua mahasiswanya. "Kalian kenapa bengong??"

__ADS_1


"Sedang mengagumi ke gantengan saya?!"


"Aduh! Sih bapak, narsis amat ya udah tua juga." Nissa yang besic nya ceplas-ceplos tidak ada beban berucap seperti itu pada dosennya. "Inget Bu Set Pak! Dia janda, siap menanti bapak yang perjaka tua."


Lagi dan lagi, seisi ruangan itu di buat tertawa oleh celetukan Nissa yang suka ngeroasting Pak Bemby yang doyan ngasih hukuman.


"Temen lo nggak ada takut-takutnya dah Ntan," seloroh Vino dengan kekehan nya.


"Temen lo juga njir."


"Khairunnisa! Pokoknya saya nggak mau tahu, selsai jam pelajaran saya. Kamu bersihin kan ruangan ini," tegas Pak Bemby, "buat yang piket hari ini, nggak usah piket. Karena udah ada Nissa."


"Yes!" girang Maudy yang memang hari ini jadwalnya piket, "makasih ya Nissa. sering-sering bikin masalah."


Gadis itu langsung bermuka masam. Mau protes, dia juga bakal tahu akibatnya gimana. "Nasib orang cantik gini amat."


...*****...


"JEROME!"


"JEROME...!"


"Iya Pak! Kenapa??"


Pria dengan stelan jas berwarna navy blue itu datang ke ruangan bosnya dengan tergesa.


Bosnya menatapnya garang, entah masalah apa lagi yang ia perbuat hari ini. "Mobil saya? Anda apa kan?!!"


Jerome Valcke Fransiskus Xaverius Prawiro— adek sepupunya yang baru saja datang ke Indonesia tiga jam yang lalu. Dan sudah membuat mobilnya kesayangannya lecet. "Anda baru diterima kerja beberapa detik sama saya. Bisa-bisanya anda udah buat lecet mobil yang saya percayakan ke anda."


"Saya bisa jelaskan Kak. Ini itu nggak sengaja, tadi siang di lampu merah perempatan mobil Kak Izal keserempet motor," jelasnya yang langsung mendapat gelengan kuat dari Rizal.

__ADS_1


"Ini di kantor. nggak ada hubungan darah kita," sunggut Rizal membuat rahang tegas Jerome terjatuh. "Pastiin orang tahu kita cuman sekedar atasan dan bawahan."


"Siap Pak!"


__ADS_2