
"Baru bangun Mbak?"
"Nggak! Baru bangkit dari kubur," sembur Nissa yang sudah terduduk disalah satu kursi meja makan yang sudah berjejer rapi.
Elsi terlihat mendengus kesal. "Ishh Elsi nanya serius Mbak!"
"Ya lagian. Ngapain tanya kayak gitu? Udah jelas Mbak baru bangun tidur juga..."
"Ya udah sih Mbak. Biasa aja kali," sahut Elsi yang menangkap hawa-hawa kurang enak yang terpancar oleh tantenya itu. "Mbak nggak mau sarapan?"
"Nggak sih. Cuman mau ngitungin berapa biji nasi dalam satu piring," jawabnya asal. Sungguh tertekan dengan pertanyaan dari keponakannya. "Kamu udah makan berapa biji nasi tuh btw?"
Elsi melirik sepiring nasi goreng yang tersaji di hadapannya. Ia menyendok satu sendok nasi lalu ia hadapkan ke mulutnya. "Males ngitung. Mending mangan."
"Pagi semua..." sapa Sulfi yang baru saja turun dari lantai atas. "Wih, enak tuh kayaknya. Minta dong!"
"Ambil sendirilah," tukas Elsi yang tahu jika Sulfi akan mencicipi nasi goreng di piringnya. "Jangan gitu ihh! Ambil sendirilah," kesalnya.
Sulfi bukannya menurut. Malah menyendok kembali sesendok nasi di piring adeknya, lalu dia makan. "Bodoh ah, Gue nggak perduli. Minta dikit doang, lagi diet. Kalau ambil di piring sendiri entar kalap."
"Kalap-kalap. Kalap tuh yang motor suka kalap-kalapan yak?"
"ITU BALAP!" sentak Sulfi dan Elsi yang nampak tertekan. "Capek sama kerandoman Tante Nissa," cetus Sulfi yang langsung ditatap tak suka.
"Ndak mau ndak mau ihh! Masa panggil Tante sih?! Mbak ajakan bisa? Tante tuh terlalu tua buat Mbak Nissa yang kelihatan masih mudah."
"Hilih," keduanya menjulingkan matanya malas. "Karepmu Mbak-mbak wes!"
"Ish. Kak! Ambil sendiri aja sana," sewot Elsi yang jengah dengan kakaknya. "Ngapain sih diet-diet an segala."
"Lagi pengen aja."
"Kalau Mas Ray tahu. Pasti udah dilarang lho," cetusnya. "Mau tak kabarin?"
Gadis itu menatap adeknya galak. "Jangan cepuin dek, ntar dia larang kakak lho."
"Ya emang itu tujuan sayaaa."
"Nggak asik ihh!"
Nissa menggeleng-gelengkan kepalanya, momen seperti ini memang sudah menjadi hal biasa ia lihat hampir setiap pagi. Entah nantinya momen inilah mungkin yang menjadi salah satu kerinduannya, jika suatu saat ia harus ikut bersama calon suaminya.
"Ntar kalau ketemu di sekolah aku cepuin lah," cetus Elsi. "Tapi doi diem-diem aja kalau di sekolah," gumamnya yang dapat didengar Sulfi.
"Gimana?"
"Hah?! Nggak kak. Itu, anu— kalau di sekolah. Nggak jadi deh," gaguhnya, lidahnya nampak keluh, memikirkan jawaban yang pas. "Dah lupain kak."
__ADS_1
Sulfi melirik penuh arti pada adeknya, "gue tau. lu pasti udah pernah sama Rayyan." batinnya.
...******...
"Satu putaran, setengah lingkaran, bersihkan sel mati kulit dan kotoran."
"Putar-putar diwajah...! Bilas!!! hilang mukanya, bwahah..."
Tawa pemuda itu mengudara setelah bernyanyi dengan nada yang ia buat sendiri liriknya ia ganti.
"Temen lu waras nggak sih Ntan?"
Intan menengok kesamping tempat lawan bicaranya. "Lu lupa? Dia mantan pasien RSJ."
Nissa mengangguk sambil mulutnya membentuk huruf 'O'. "Oh pantes. Daritadi tingkahnya kayak nggak normal. Gue jadi takut ketularan."
"Udah nular njir," cetusnya. "Tadi malam lu bikin gue kesel anjir."
"Kesel kenapa?"
Intan mendengus kasar. "Pake ditanya lagi. Semalam lu nanya nggak berfaedah ke gue gunanya apa? bikin gue darting aja lu semalam."
"Ya maaf," entengnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari temannya. "Ya ampun segitunya, ya maaf kali. Gue juga bingung semalam mau nelpon siapa. Untuk menanyakan hal penting itu!"
"Muatamu penting!"
"HEY BESTIE!!!"
"Bisakan nggak usah teriak-teriak? kaget anjir," omel Nissa yang nampak kurang mood dihari ini. "Pusing gue."
"Kenapa?"
...*****...
"He'eh."
"Ini beneran hari ini saya disuruh ke kampus?"
Desta yang menjadi lawan bicaranya. Mengangguk mengiyakan pertanyaan atasannya. "Nanti saya harus ngajar apa coba."
"Nggak tahu saya Pak. Nggak berpengalaman juga jadi dosen."
Rizal menatap datar Desta. "Lempeng banget nih orang."
"Bapak lebih lempeng Pak. Ngapain nanya saya yang awam gini," balasnya tidak mau kalah. "Udah Pak nggak usah dipikirin. Mending bapak ke kampusnya langsung."
"Naik apa ya yang enak?"
__ADS_1
"Naik haji sih Pak. Habis itu naik keranda, insyaallah lila hitaalah."
Untuk kesekian kalinya Rizal menatap datar yang menjadi lawan bicaranya. Lelah dengan jawaban kurang ajar dari bawahannya ini. Menggeleng menatapnya heran. "Mimpi apa saya punya asisten kayak kamu."
"Mantan Pak," selanya membenarkan. "Mantan asisten bapak maksudnya."
"Capek."
"Emang bapak lari-lari?"
"Terserah."
"Bapak kerasukan jin cewek ya Pak?"
Rizal memicingkan matanya, dengan kesabaran yang mulai menipis. "Kok jin cewek?"
"Ya tadi... Bapak jawabnya 'terserah' udah kayak cewek aja," jawabnya enteng. "Apa jangan-jangan bapak...?"
"Bencong?!!"
"Saya cowok asli anjing! jangan bikin kesel deh."
"Kenapa nggak mau nikah Pak?"
"Urusan sayalah. Orang saya belum siap," balasnya dengan apa adanya. "Kenapa? Meragukan kenormalan saya?"
"Iyalah. kalau saya jadi bapak sih gas Pak, ngapain pake di tunda-tunda."
"Hufft...!" Rizal menghela nafas panjangnya. "Jangan buat saya lupa ini di kantor ya, DESTA! kamu bikin emosi saya aja."
"Orang emosian jodohnya jauh lebih emosian lho Pak."
"Kata siapa?"
"Kata saya lah," kekehnya saat melihat raut tertekan dari atasannya itu sungguh membuatnya tergelitik. Untuk menertawakan raut wajahnya. "Mau ketawa saya Pak."
"Perlu izinkah?"
"Heem. bwahah hahaha bwahah."
"Strong! stress tak tertolong," cetus Rizal sudah di tingkat tertinggi kesabarannya. "Daripada kamu ketawa nggak jelas kek bekantan. Mending ambil kunci mobil saya di Jerome. Sekalian minta perkembangan kasus soal cewek yang nabrak mobil saya."
"Sekarang?"
"Nggak. Taun depan, sekarang mah saya mau mutilasi kamu."
Desta yang mendengarnya langsung bergidik ngeri. "Nggak deh Pak. saya mau melarikan diri saja, mau ambil kunci dulu."
__ADS_1
"Byee," pamitnya. Sesegera mungkin melarikan diri dari ruangan mencekam tadi. "Ngeri lur, tatapannya tajam. Mukanya udah datar gitu serem uyyy..."