
Hujan tak kunjung berhenti sejak siang tadi. Baru saat menjelang maghrib sedikit mereda berubah menjadi gerimis. Nampak dari lantai dua rumah ini lampu-lampu taman mulai dinyalakan, dan gak lama kemudian aku lihat kelebatan bu Ratna dan Tika keluar gerbang membawa payung pink besar yang terlalu mencolok di senja yang sendu itu, jam kerjanya sudah selesai.
"Mas, bu Ratna udah pulang tuh kayaknya kok gak pamitan ke mas dulu ya? Biasanya dia pamit kalo mau pulang." tanyaku pada mas Galih sambil melongok lebih dekat ke kaca jendela, memastikan bahwa itu memang bu Ratna.
Bu Ratna dan Tika keponakannya adalah Asisten Rumah Tangga keluarga mas Galih, bu Ratna sendiri sudah 28 tahun bekerja mengurusi rumah dan keperluan keluarga mas Galih di rumah ini. Bu Ratna sudah bekerja sejak mas Galih berusia 7 tahun. Dia mengalami mengurus rumah ini sejak nyonya rumah masih ada, yaitu neneknya mas Galih. Hingga sepeninggal nenek, bu Ratna dibantu oleh satu orang ART lainnya yang tidak tetap, berganti-ganti dan saat ini dia dibantu Tika, keponakannya. Meskipun seorang ART namun peran bu Ratna dalam kehidupan mas Galih sangat penting. Mengingat mas Galih tidak diasuh oleh ibu bapaknya secara langsung. Bu Ratna sudah seperti ibu bagi mas Galih.
"Ooh kayaknya bu Ratna pamit lewat whatsapp. Takut ganggu katanya, dikira mas lagi tidur karena dari tadi kita sepi-sepi aja di atas sini." Jawab mas Galih.
"Oooh..." Sahutku.
Mendengar jawaban mas Galih, rasa penasaranku soal bu Ratna sudah terpuaskan, aku kembali pada aktifitasku sebelumnya yaitu membaca novel.
Sepeninggal bu Ratna, hanya tinggal aku dan mas Galih berdua di rumah besar ini.
Mas Galih tiba-tiba mendekatiku ke sofa dan memelukku dari belakang.
__ADS_1
"Udah kerjanya?" tanyaku pada mas Galih soal pekerjaanya membuat presentasi mengajar besok.
"Udah, tinggal kesimpulan aja tapi udah gak konsen". Jawab mas Galih masih sambil memelukku.
Mungkin karena hujan deras, udara dingin, setelah selesai dengan pekerjaanya mas Galih maunya nempel terus sama aku yang lagi asik baca novel di atas sofa yang terletak ditengah ruangan dekat jendela. Mungkin juga karena suasana sudah mulai redup menjelang senja. Atau mungkin efek habis makan sate dan tongseng kambing siang tadi, jadi perut mas Galih kepanasan. Menjadikannya sedikit agresif.
Mas Galih masih ada disampingku, menggangguku yang lagi asik sendiri tiduran di sofa sambil baca Bab Akhir Divortiarenya Ika Natasha. Awalnya mas Galih cuma basa–basi tanya aku lagi baca apa sih serius banget. Aku jawab sekenanya. Dia semakin mendekat sambil peluk-peluk, dan menciumi tengkukku, cari perhatian.
"Sayang...." Bisik mas Galih ditelingaku.
"Mas.... Aku lagi konsen baca lho. Tanggung nih udah bab akhir. Aku penasaran endingnya." Aku protes manja nyuruh dia pergi, dan kembali kupunggungi.
Bukannya berhenti tapi malah makin menjadi, mas Galih semakin agresif membalik tubuhku supaya menghadap dia, melepas kacamatanya dan kemudian mulai ******* bibirku, awalnya pelan namun dalam. Aku sampai kehabisan nafas. Aku sedikit meronta halus minta dilepaskan, mas Galih menurut, dia melepaskan ciumannya kemudian menatapku dengan senyuman jahil. Ku balas dengan memelototkan mata dengan wajah garang yang manja.
"Sini, manjain mas dulu, baru lanjut baca novel!" kata mas Galih sambil mengarahkan dagunya untuk menyuruhku datang mendekat kepelukannya.
__ADS_1
Aku gak tau persis apa artinya "manjain" mas dulu, tapi aku ngerti gak mungkin aku bisa lanjut baca kalo vibesnya sudah begini. Mas Galih bakal lebih agresif kalo gak aku penuhi kemauannya. Jadi aku menurut, mendekat ke pangkuannya, tak lama mas Galih langsung menarikku lebih dekat dan kembali memagut bibirku, pelan namun menuntut, lidahnya memaksaku membuka mulut dan ikut bermain.
Tak cukup sampai disitu, saat dia menerima sinyal aku mulai membuka diri, satu tangannya memegangi tengkuk, satunya lagi perlahan bergerilya dari bawah blouse meraba bagian perut, terus naik ke atas, ke arah bagian sensitifku.
"Emh...." aku tak bisa menahanya. Satu erangan lolos dari mulutku saat mas Galih mulai meremas dadaku. Dan sepertinya itu menjadi trigger suasana menjadi makin panas.
Rabaan tangan mas Galih di gunung kembarku mulai berubah jadi remasan-remasan lembut. Ciumannya berpindah dari bibir ke leher lalu balik lagi ke bibir. “Ahhh… mas!” satu lagi erangan lolos dari mulutku. Aku benar-benar hilang akal. Konsentrasiku sudah hilang karena memikirkan kenikmatan yang aku rasakan akibat dari remasan mas Galih. Mas Galih gak biasanya seagresif ini. Biasanya cuma cium-cium mesra yang berakhir pelukan hangat, tapi kali ini sepertinya bakal berakhir dengan cara yang jauh berbeda dari biasanya.
Tanpa ku ingat lebih jauh lagi, tiba-tiba blouseku sudah terlepas, dan bagian atas tubuhku sudah polos dihadapan mas Galih. Dia memandangku sejenak dan memanggilku dengan suara lirih sexynya, "Sayangku...Rani".
Pandanganya penuh makna seperti memastikan apa dia boleh lanjut lebih jauh?. Tanpa ragu aku bangun untuk duduk dipangkuan mas Galih dan langsung memagut bibirnya dengan semangat memberinya tanda tersirat untuk lanjut. Kalo kamu tau, udah ratusan bahkan mungkin ribuan kali aku membayangkan ini mas. Bisa bercumbu rayu sama kamu. Bahkan di mimpiku gak seindah dan sepanas ini.
Mengingat 5 bulan lalu kita masih bukan siapa-siapa, aku bahkan masih mahasiswi ingusan yang mengagumimu dari jauh, siapa sangka adegan ini bisa terjadi.
Akkkkh... Memikirkannya membuatku semakin gila. Ini bener mas Galih? Mas Galih si dosen sexy pujaan hatiku? Yang biasanya hanya bisa ku tatap dari jauh dengan penuh kekaguman. Mas Galih yang bikin aku lemes cuma dengan mendengar suara dan melihat gerakan tangannya saat menerangkan materi kuliah. Mas Galih yang bikin jantungku mau meledak cuma karena muncul tak terduga di kantin, di lorong jalan antar kelas, di loby kampus, atau diparkiran. Mas Galih yang hampir setiap hari jadi bahan rumpianku dengan teman-teman. Mas Galih yang.... Ehm... Jadi tokoh pria protagonis dalam mimpi-mimpi panasku. Aaaakhhwww.... Aku berteriak girang dalam hati. Siapa sangka saat ini aku ada dipangkuannya, dicumbuinya, diinginkan seperti aku adalah makhluk paling cantik dan berharga di dunia.
__ADS_1