Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!

Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!
2. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Aku selalu percaya gak ada kebetulan di dunia ini. Semua hal terjadi dengan perhitungan dan rencana Tuhan. Dan aku rasa, pagi ini adalah awal bagaimana takdir membawaku pada hal-hal menakjubkan yang merubah hidupku menjadi lebih menggairahkan. 


*******************


THE DAY!


Dipagi yang nampak seperti pagi-pagiku lainnya, aku terburu-buru mengejar bus menuju kampus. Seharusnya aku berangkat jauh lebih pagi lagi karena hari ini adalah hari pertamaku ikut kegiatan Orientasi dan Pengenalan Kampus kepada mahasiswa baru yang biasa disebut OSPEK. Tapi karena tadi di rumah tante Nia banyak yang harus aku bantu urus, membuatku terlambat sekitar 15 menit dari waktu yang sudah direncanakan. Aku harus bergerak lebih cepat supaya tidak terlambat sampai kampus. 


Pada semester awal kuliah ini aku ikut numpang tinggal di rumah tante Nia, adik dari ibuku. Aku sendiri berasal dari kota kecil yang berjarak sekitat 60 KM dari kota Yogyakarta, sebuah desa di kota Purworejo. 


Tante Nia adalah adik terakhir ibuku yang bekerja sebagai guru SD. Hampir sebagian besar keluarga dari ibuku bekerja sebagai guru, ibuku juga seorang guru SMA. Tante Nia punya anak yang masih balita. Entah kenapa sejak semalam anaknya nangis tiada henti, alhasil tante Nia dan suaminya om Iwan bangun kesiangan karena semalam begadang mengurusi si baby Akhda. Karena om Iwan dan tante Nia masih sibuk siap-siap pergi ke kantor sambil mengurus anak balitanya sebelum ARTnya tiba, selain bantu memasak nasi goreng untuk sarapan kami serumah, aku menawarkan diri mengantar Athar anak pertamanya yang sudah duduk di bangku kelas 1 SMP.


Jarak anak pertama dan kedua tante Nia memang tergolong jauh.


"Hasil gol hatricknya mas Iwan!"


Kelakar tante Nia soal anak keduanya sambil tertawa terbahak khas tante Nia yang humoris dan agak sedikit slengean. Tante dan om Iwan memang sebenarnya berencana hanya memiliki satu anak, tapi takdir berkata lain, alhasil di usia mereka yang sudah tidak muda lagi, masih harus mengurusi anak balita. Tapi nampaknya hal itu tidak mengurangi kebahagiaan keluarga kecil itu. Aku melihat antara om Iwan dan tante Nia cukup terjalin kerjasama yang baik.

__ADS_1


Karena harus mengantar Athar aku jadi agak terlambat, karena sebenarnya sekolah Athar berada dijalur yang berlawan dari arahku ke kampus. Tapi namanya juga menumpang, aku harus tau diri untuk sesekali ikut membantu urusan tante Nia. 


Dari sekolah Athar, aku harus dua kali naik kendaraan umum, yang pertama naik bus kecil ke arah perempatan UMG salah satu Universitas terbesar di kota ini, kemudian dilanjut naik angkot ke arah kampusku.


***************************************


Dan inilah moment itu, salah satu moment terindah dihidupku. Moment sederhana, tapi mampu mengubah banyak hal. 


***************************************


Setelah kusadar, dan kembali memandang seisi angkot, aku baru menyadari hampir sebagian besqr penumpang adalah wanita, dan beberapa yang tampak masih muda sesekali mencuri pandang pada sosok diujung belakang.


Sebelum aku duduk dibangku depan pintu angkot , mataku bertemu pandang dengan pria itu namun kemudian ia mengalihkan pandangannya ke jendela belakang angkot yang menampakan pemandangan seputaran bunderan kampus UMG. Aku duduk dibagian depan dekat pintu masuk angkot. Sesekali aku melirik ke arah pria itu, memerhatikan wajah ganteng dan penampilannya yang rapih. 


Dari penampilannya, sepertinya dia adalah pria tipe idamanku. Aku mulai penasaran, siapakah dia? Tujuannya kemana? Jiwa kepoku meronta. Kalo bukan karena mengejar waktu buru-buru untuk ikut kegiatan OSPEK aku pasti sudah berencana untuk mengikuti kemana dia akan turun. Hahahha.


"Gila ya aku ini, kaya penguntit aja!!". Runtukku dalam hati.

__ADS_1


Memikirkan hal itu, secara tak sadar aku mengeluarkan suara tawa geli, dan disaat itu pria itu menengok kearahku, pandangan kami kembali bertemu, kali ini agak lama dia menatapku sekitar 5 detik sebelum akhirnya ia mengalihkan pandanganya ke arah jendela belakang lagi.


Akupun ikut mengalihkan pandangan ke arah jendela, gerbang kampusku sudah nampak aku jadi deg-degan antara karena takut terlambat dan penasaran si ganteng bakalan turun di mana, sampai akhirnya angkot ini sampai di pintu gerbang kampusku.


"Kiri, pak!" teriakku.


Dan angkotpun berhenti didepan gerbang Kampus C. Tempatku akan menimba ilmu mengejar gelar sarjana hingga beberapa tahun kedepan. Setelah membayar ongkos angkot ke sopir, aku pun mulai menuruni tangga pintu angkot, bersamaan dengan itu melalui ekor mata aku melihat sekelebatan si pria ganteng. Hatiku bersorak sepertinya si ganteng ikut turun juga. Cihuuuuy. Pucuk dicinta ulam pun tiba.


Dan saat aku sudah berada di luar angkot, benar saja si ganteng ada dibelakangku baru turun juga dari angkot. Akkkkhhh senangnya hatiku.


Pikiranku mulai berkelana bertanya tanya, apakah dia mahasiswa baru juga sepertiku? Ah tidak mungkin, meskipun tampak muda, tapi sepertinya umurnya sudah tidak semuda anak-anak ingusan yang baru akan masuk kuliah sepertiku. Atau mungkin kakak tingkat? Jangan-jangan dia senior yang akan mengospek mahasiwa baru hari ini?. Tapi dari segi penampilan, sepertinya bukan juga. Penampilahnnya terlalu rapih. Ah entahlah.


Sambil memikirkan berbagai kemungkinan tentang siapakah identitas si pria ganteng, aku mencuri kesempatan untuk jalan perlahan dan membiarkan dia jalan di depanku. Tubuhnya ternyata lebih tinggi dari dugaanku. Saat dia melewatiku aku bisa merasakan perbedaan tinggi badan kita. Tinggi badaku 162 cm, dan tinggi badannya sekitar 175 atau malah 180 cm. Yang jelas tinggi badannya membuatku semakin terkagum dan mulai membayangkan betapa indahnya kalo bisa dipeluk dengan tubuh seideal itu ditambah wajah seganteng itu. Akkkkkkh... Apaan sih Rani!. Bisa-bisanya pagi-pagi, mana udah terancam terlambat OSPEK, sempet-sempetnya berfikiran yang tidak senonoh begitu. Lagi-lagi aku tertawa kecil memikirkan isi otakku yang aneh ini.


Setelah tersadar dari pikiran aneh-anehku, aku mulai memperhatikan sekitar, mencari dimana letak auditorium tempatku akan berkegiatan. Sekilas aku melihat ada spanduk Ucapan selamat datang pada mahasiswa baru dan plang arah yang menunjukan letak auditorium.


Kembali aku memperhatikan si ganteng, aku kembali bertanya kira-kira dia akan ke arah mana. Tapi sepertinya arah kami berbeda, di ujung jalan kami berpisah, karena aku harus belok ke kanan menuju auditorium sedangkan si pria ganteng sepertinya masih lurus, kalo tidak salah ingat ke arah itu adalah ke arah Fakultas MIPA dan Ekonomi. Aku agak sedikit sedih, karena harapan bahwa dia adalah senior panitia pelaksaan OSPEK ternyata pupus. Tapi setidaknya kami adalah penghuni kampus yang sama, ada harapan bakal untuk bertemu lagi suatu saat.

__ADS_1


__ADS_2