
Semenjak mengetahui kalo Pak Galih adalah dosennya. Rani sangat bersemangat setiap kali jadwal pak Galih mengajar tiba. Jumat siang adalah jam favorite Rani. Sepanjang mata kuliah berjalan, Rani bukannya menyimak mata kuliah, dia malah semangat menyimak wajah ganteng pak Galih. Tapi sepertinya bukan hanya Rani yang seperti itu. Beberapa teman lainnya juga bahkan ada yang berani memuji pak Galih ganteng di depan umum. Melihat hal itu, jiwa kompetitif Rani meronta.
"Kalo begini terus, aku gak akan dilihat sama pak Galih. Terlalu banyak saingan, mana temen sekelasku yang genit-genit itu cantik cantik pula. Aku harus cari cara bagaimana supaya pak Galih menyadari keberadaanku." suara hati Rani berkata.
Secara fisik, sebenarnya Rani tak kalah dengan temen-temannya yang dia bilang cantik itu. Hanya saja sepertinya Rani kalah penampilan. Mereka bisa berdandan dan memakai pakaian bagus-bagus. Sedangkan Rani, hanya bisa memakai barang-barang standart. Dan mungkin juga Rani tidak terlalu melek fashion. Sehari-hari Rani hanya pakai kemeja dan jeans. Membiarkan rambut ikal panjangnya terurai atau sesekali di ikat. Dibandingkan temen-temennya yang pandai bermake up dan pakai baju bermerk, Rani memang kalah. Ia harus punya keunggulan lain yang bisa menarik perhatian pak Galih. Rani memilih jalur yang lebih elegan, yaitu dengan belajar lebih rajin dan menguasai mata kuliah statistik yang diampu pak Galih. Hal itu dia lakukan agak bisa diskusi dengan pak Galih.
Pada jawal mata kuliah berikutnya, Rani mempersiapkan diri lebih matang, dia membaca semua materi yang akan dibahas hari ini, dan mencatat beberapa pertanyaan. Dan hal itu pun terjadi beberapa minggu selanjutnya, dan sepertinya niat Rani tercapai. Suatu ketika, setelah selesai mengajar di kelasnya, pak Galih menyapa Rani.
"Ran!". Seru pak Galih. Seketika jantung Rani seakan mau loncat.
"Iya pak?." jawab Rani dengan wajah kaget.
"Kamu udah ikut eskul di kampus?".
"Belum pak, kenapa ya pak?".
"Saya perhatikan kayaknya kamu suka baca buku?".
Hah???? Apa kata pak Galih barusan??? saya perhatikan??? Aku gak salah denger kan?. Dia merhatiin aku dong? Seorang Rani?. Pikiran Rani sudah diselimuti hayalan yang aneh-aneh karena rasa kaget bercampur senang.
" Saya ada club non formal di luar kampus yang mengurusi perpustakaan desa, kami lagi butuh pengurus baru. Ayok gabung kalo mau." Ajak pak Galih.
Melihat kesempatan besar menyapa, Rani tak menyia-nyiakannya."Oh iya pak siap, saya mau, gimana cara gabungnya pak?".
__ADS_1
Sambil senyum pak Galih menjawab, "Catet ya nomor HP saya".Sambil membelalakan mata Rani gelagapan membuka kontak HP, dan menyimpan nomor pak Galih. "Nanti kamu hubungi saya aja ya, saya kasih detailnya lewat whatsapp".
Sepeninggalan pak Galih, Rani bersorak-sorak kegirangan. Tak menyangka pak Galihlah yang menyapanya duluan dan memberikan nomornya. Akkkkh... Mimpi apa aku semalam. Inikah jawaban atas kesolehahanku karena gak pernah minta uang tambahan ya Allah?. Hahhaha.
***************************************
Tak lama setelah pak Galih pergi, Rani ingin segera menghubungi pak Galih. Tapi Rani gugup bercampur gengsi. Meskipun kesempatan ini langka tapi Rani ingin tetap mempertahankan ego kewanitaanya. Tarik ulur. Rani memutuskan menghubungi pak Gali setelah selesai jam kuliah sore. Sekitar pukul 15.30 Rani menghubungi nya by chat Wahatsapp. Tapi ternyata tidak ada jawaban dari pak Galih.
Sampai keesokan harinya Rani dibuat tak karuan, karena perihal pak Galih tak membalas Wa nya. Antara penasaran dan kesal. Akhirnya Rani pun menghabiskan seharian dengan badmood. Hari ini adalah hari sabtu, hari libur, seharusnya Rani bisa menikmatinya dengan beres-beres cuci setrika baju, dan streaming netflix. Tapi semuanya berasa hambar karena pikirannya tertuju pada kenyataan ternyata pak Galih gak membalas chat nya.
Sampai tiba pukul 18.30, saat Rani sedang makan malam bersama keluarga di rumah, HP Rani berdering. Rani terkesiap mendengar suara HPnya, ditambah kaget lagi saat membaca nama penelepon di layar HP nya. Di situ tertulis, Pak Galih Ganteng. Sambil gelagapan Rani menjawab telepon tersebut. Rani makin tergagap dan tak percaya saat pak Galih mengajaknya ke perpustakaan yang dia maksud kemarin, dan berencana akan menjemput Rani di rumah tante Nia besok. Rani mengiyakan dengan hati riang namun tubuhnya menjadi lemas. Mimpi apa aku semalam, kenapa doa doaku soal pak Galih dibalas secepat ini sama Tuhan?. Hampir setiap hari selesai sholat, Rani berdoa, semoga semakin di dekatkan dengan Pak Galih. Namun, dalam hati kecil, tentu Rani tau diri. Mengingat dirinya yang masih mahasiswi ingusan, dan berpenampilan biasa saja, di tambah dirinya bukan dari keluarga terpandang. Usaha mendekati pak Galih tentu tidak akan semudah itu. Atau sebenarnya bisa dibilang, mustahil. Yah, tapi kita gak tau rencana Tuhan.
Pikiran Rani kembali kealam nyata setelah ia mendengar suara tante Nia memanggilnya.
"Oh iya tan, gak papa."
"Telepon dari siapa sih? Sampe bengong bego gitu? Hahhahaha."
"Hahahhaha dari dosen ganteng tante, ngajakin kencan besok. Makanya sampe bengong."
"Idiiih laris ponakan tante, sampe-sampe bisa bikin dosen kepincut. Dosennya masih muda kan? Jangan2 udh umur 75 tahun lagi" Hahahhaha."
"Iiih enak aja, masih muda tau, ganteng pula." Rani tak mau kalah dari tantenya, dan menunjukan poto profil pak Galih yang menujukan dirinya sedang berpose seperti dilaut dan memegang alat pancing.
__ADS_1
"Wah ganteng banget ini mah, Ran. Mirip Angga Yunanda versi lebih tinggi dan lebih dewasa."
"Nah, ya kan tan. Apa kubilang, ganteng!"
"Tapi ngomong-ngomong, ngapain dia telpon kamu malem-malem gini, mana ngajak ketemuan pula besok".
"Itu tan, pak Galih punya program mengelola perpustakaan di kampungnya. Dia butuh foulentir, jadi aku ikut mau bantuin."
"Oooh, tapi hari-hati ya, kalo dia genit, jangan diladenin".
"Iiih apa sih tan, pak Galih gak genit kok."
"Yah, jaga-jaga aja. Namanya juga anak perempuan, harus pinter jaga diri."
"Iya tante...udah ah aku mau cuci piring dulu."
Rani kabur dari wejangan tante Nia yang pasti bakalan panjang lebar. Dia gak mau mood malam ini rusak gara-gara kecurigaan tante Nia. Rani kembali fokus pertemuan besok, dan mulai memikirkan sebaiknya pakai baju apa.
Setelah mengaduk ngaduk lemari selama sejam, Rani tidak menemukan pakaian yang menurutnya cocok untuk besok, Rani ingin tampil cantik namun tetap simpel dan tidak terlalu mencolok. Dan akhirnya Rani memutuskan memakai jeans dan tshirt sepeti biasanya. Bedanya, kali ini dia pakai tshirt warna pink. Supaya terlihat lebih feminim.
Karena capek berkali-kali ganti baju, demi mencari pakaian yang pas untuk acara besok, akhirnya Rani kecaprkan dan tertidur dengan wajah tersenyum membayangkan besok.
***************************************
__ADS_1