Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!

Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!
ONE STEP CLOSER


__ADS_3

Mas Galih mengajak aku makan siang keluar ke warung sate langgananya. Warung Sate Pak Minto, letaknya tidak jauh dari rumah mas Galih, dengan sepeda motor hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga menit untuk sampai ke warung itu.


Kata mas Galih, sebenarnya kita bisa saja jalan kaki dari rumahnya ke warung ini. Itu kebiasaan dia jika malam-malam lapar, dia pergi ke warung sate pak Minto jalan kaki, begitupun sebaliknya pulang ke rumah jalan kaki, sambil menurunkan makanan ke perut. Istilah yang banyak dipake orang jawa. Biasanya karena makan terlalu banyak, perut jadi penuh, berasa sampai tenggorokan, jadi ketika sudah berasa lega, dibilang makannya sudah sampai perut. Padahal memang dari awal masuk ya di perut.


Sambil makan siang, mas Galih banyak bertanya perihal kehidupanku. Dia menanyakan latar belakang orang tuaku, terutama soal tante Nia, mengapa aku bisa tinggal dengannya dan sebagainya. Mas Galih juga menanyai beberapa hal soal pandanganku mengenai hidup, rencanaku semasa kuliah, dan jika lulus nanti. Apakah aku sudah punya cita-cita atau punya rencana mau apa setelah selesai kuliah. Topik makan siang yang agak berat ya. Apa karena dia dosen, jadi obrolannya harus berat gini? Mana ini kencan pertama, eh, ngarep. Hehehe.


Sebenarnya selama ngobrol, aku dilanda sedikit kebingungan. Kenapa juga mas Galih pengen tau banget kehidupan pribadiku. Tapi sepertinya hal itu dia lakukan untuk mengisi waktu selama kita makan, supaya gak bosen kali ya daripada diem-diem aja.


Tapi semakin kenal, mas Galih semakin menarik. Ternyata bukan hanya ganteng dan pintar, dia juga peduli dengan lingkungannya, ditambah selama kita ngobrol, aku merasa sangat dipahami, mas Galih ini tipe pendengar yang baik. Dia banyak bertanya, dan benar-benar menyimak apa yang aku bicarakan. Hal itu nampak karena mas Galih bisa memberi feedback pada setiap obrolan kita dan ceritaku.


Duh, kan jadi makin gimana gitu ya.


Selesai makan siang, kami kembali ke perpustakaan untuk melanjutkan belajar pengelolaan buku perpustakaan. Sekitar pukul tiga sore perpustakaan mulai sepi hanya tinggal beberapa anak yang memang termasuk sebagai pengurus perpus. Sedari selesai makan, mas Galih menghilang ke kamarnya untuk bekerja. Sepertinya ada deadline membuat materi untuk kuliah besok. Sebenarnya gak benar-benar menghilang, karena pintu kamarnya terbuka, jadi kalo aku mau sedikit centil, ya bisa aja pura-pura lewat dan ngintipin si ganteng kalo lagi serius kerja kayak mana wajahnya, masih sexy apa enggak? Hahahhaha. Tapi untungnya aku masih sedikit waras, jadi tidak ku laksanakan pikiran kotorku. Hohohoho.

__ADS_1


"Ran, ayok saya antar pulang. Udah sore, lagian udah sepi juga anak-anak udah pada pulang." Tiba-tiba terdengar suara mas Galih dari arah lorong. Letak meja resepsionis perpustakaan berhadapan dengan pantry yang membelakangi lorong ke arah kamar mas Galih, seharusnya saat mas Galih muncul dari lorong kamarnya aku bisa melihat kelebatannya. Tapi dasar aku tukang nglamun, jadi agak sedikit kaget waktu mas Galih tiba-tiba muncul. Dan malah bengong melihat sosok mas Galih.


"Ayok, mau mas anter pulang gak?".


Gimana? Gimana? kalo tadi emang aku yang salah karena kebanyakan bengong mikirin yang iya iya. Hehehe. Tapi kali ini aku bukan salah denger kan? Tadi dia bilang apa??.


"Mau 'mas' anterin pulang gak?".


Dia menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'mas' dihadapanku. Duuuuh jadi pengen lompat kepelukannya sambil bilang "Iya mas, adek mau pulang dianterin 'mas'". Hahahhahaa.


"Ran, kok masih bengong?" tanya mas Galih sekali lagi.


"Oh iya mas, ayok, udah sore mana mendung juga."

__ADS_1


Akhirnya saat mas Galih mengantarku pulang kembali ke rumah tante Nia naik motor, gerimis pun turun. Mas Galih menawariku untuk pakai jas hujan, tapi kutolak.


"Cuman gerimis aja kok mas, lagian rumahku juga gak jauh. Insya allah aman sampe rumah.


Padahal di otakku, pikiran pikiran aneh bersliweran. Daripada nawarin pake jas hujan, gimana kalo 'mas' nawarin pelukan aja?. Punggungmu lho mas, pelukable banget. Tanganku gatel dari tadi menahan diri.


****************************************


...Begitu sampai rumah, aku langsung lari ke dalam kamar dan menutupi mulutku yang tak tahan lagi ingin teriak kegirangan. ...


...One step closer to mas Galih. Mulai besok, kira-kira kejutan apalagi yang akan terjadi?. ...


*****************************************

__ADS_1


__ADS_2