Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!

Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!
ANGGAP AJA KENCAN PERTAMA, Ehm...


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu Rani tiba. Minggu pagi, Rani janji temu dengan pak Galih untuk pergi ke perpustakaan.


Pak Galih janji jemput jam 08.00 di rumah tante Nia. Malamnya setelah di telepon pak Galih. Rani mengirimkan lokasi rumah tante Nia lewat chat whatsapp. Dan seperti biasa, pak Galih tidak membalas chatnya. Hmmm... Untung aja besok diajak kencan, eh kencan.... ?. Hahhaha.


***************************************


Pak Galih menepati janjinya, ia datang sebelum jam 08.00. Tanpa ngabarin dia sudah berangkat atau belum, tiba-tiba jam 07.30 ada yang mengetuk pintu, dan betapa terkejutnya tante Nia melihat sosok Angga Yunanda di depan pintunya. Hehhehe, Angga Yunanda KW super alias pak Galih.


Setelah mempersilahkannya masuk, tante Nia langsung memanggil Rani yang ternyata baru selesai mandi. Setelah diberitahu kalo pak Galih sudah sampai, dan sudah duduk manis di ruang tamu, Rani langsung gelagapan karena grogi dan tidak siap. Siapa sangka pak Galih dateng lebih cepat, namun hal itu justru membuat Rani agak sedikit badmood. Karena rencananya untuk belajar dandan tipis-tipis jadi gagal. Dia hanya bisa memakai make up seadanya seperti biasa dia pergi ke luar rumah atau ke kampus, bedak tipis dan lip balm berona pink. Usaha untuk tampil cantik minimalis pagi ini gagal!.


Tak lama setelah pak Galih datang, Rani segera keluar. Saat lihat pak Galih duduk di ruang tamu, mata dan jantung Rani mau copot melihat pemandangan pria seganteng dan se-sexy itu. PakGalih hanya mengenakan pakaian casual, sama seperti Rani. Kaos hitam dengan sedikit hiasan tulisan, dan celana jeans. Tapi begitu nempel dibadan manusia di depannya kenapa jatohnya beda. Pak Galih sungguh bagaikan patung atau model. Setelah basa-basi sebentar, Pak Galih langsung mengajak Rani berpamitan pada tante Nia untuk pergi.


Dan ternyata pak Galih datang membawa motor, itu membuat perasaan Rani campur aduk sedikit girang namun takut. Takut hilang akal terus gak sadar meluk pak Galih dari belakang. Hahahhahah. Sirna sudah rasa kesal akibat gagal dandan cantik tadi, digantikan pikiran-pikiran nakal.


Untungnya perjalanan mereka tidak lama, hanya sekitar 10 menit naik motor. Rani diajak ke sebuah kampung di tengah kota Yogyakarta. Setelah melewati gang-gang kecil yang hanya masuk satu mobil, jika ada mobil papasan, yang satu harus menepi supaya yang lain bisa lewat, akhirnya mereka masuk kedalam gedung yang kontras dari gedung-gedung sekitarnya. Gedung ini terlihat lebih besar dan mewah. Setelah masuk, baru tampak lebih jelas ternyata gedung yang ia maksud adalah rumah. Dari luar tampak seperti gedung semacam pabrik atau perkantoran, karena nampak sangat luas dan dikelilingi tembok tinggi. Ditambah di depan ada pos penjaga, meskipun tidak ada petugas yang menjaga.


Begitu turun dari motor, Rani bertanya,


"Di sini tempatnya pak?"


"Iya, di atas sana." Jawab pak Galih sambil mengarahkan dagunya ke lantai 2 rumah ini. Dan di tempat yang pak Galih tuju ternyata sudah banyak anak-anak dan beberapa remaja yang duduk duduk di balkon.


Pikiran Rani melayang, kenapa harus dijemput segala ya kalo tempatnya deket begini. Aku pikir tempatnya jauh, di luar kota jogja mungkin, makanya pak Galih mau repot-repot jemput.


"Yuk naik!". Lamunan Rani terpaksa terhenti karena suara ajakan pak Galih mengembalikannya ke dunia nyata.


"Pak, saya gak nyangka ternyata tempatnya sedekat ini dari rumah tante saya. Tau gitu saya brangkat sendiri ke sini, bapak gak perlu repot-repot jemput." Tanya Rani sambil berjalan menuju lantai 2. Pak Galih tidak menjawab, hanya menengok sekilas dan tersenyum.


Duh, senyumannya bikin jantung Rani kebat-kebit. Rupanya gak cuman hobi gak bales chating si bapak dosen ganteng satu ini, hobi mengabaikan orang juga sepertinya. Untung ganteng!.

__ADS_1


Untuk menuju lantai 2 yang di maksud, ternyata ada tangga lingkar dari luar gedung. Jadi tidak perlu masuk ke dalam rumah untuk bisa ke ruang perpustakaan.


Sesampainya di lantai 2, begitu melihat pak Galih, anak-anak yang sekiranya berjumlah hingga 15 orang langsung berhamburan mendekatinya.


"Temen barunya udah datang ya, mas?". Pekik salah satu anak laki-laki yang kira-kira berumur 9 tahunan.


Mas?? Duh dek, aku juga mau lho manggil cowok ganteng ini dengan panggilan "mesra" itu. Uhuk.


"Iya Boy, ini namanya mbak Rani. Kita kenalan dulu ya."


"Okee" jawab anak-anak kompak.


"Sini Ran!". Panggil pak Galih sambil menarik tanganku agar lebih dekat dengannya. Ditambah, saat mau mengenalkanku ke anak-anak, dia pakai pegang pundakku. Astaga, bisa gak sih mas? Eh pak! Kasih aba-aba dulu, kan jantung saya berasa mau pindah tempat kalo kaya gini caranya. Ini nanti saya bukannya kenalan sama anak-anak anggota perpustakaan, malah pingsan karena kegiarangan. Gak sopan emang si dosen ganteng ini. Mentang-mentang ganteng!!.


"Ini namanya mbak Rani, dia temen mas di kampus. Mulai hari ini mbak Rani bakal bantuin di sini untuk jaga perpustakaan. Karena mbak Tyas dan mbak Lana udah masuk kelas 3 SMP, jadi harus fokus buat belajar dan bimbel. Makanya sementara gak punya banyak waktu buat bantu-bantu disini. Jadi kita butuh bantuan mbak Rani di sini. Mbak Rani cantik kan? Pasti nanti banyak yang nambah betah baca buku disini."


Pak Galih mulai mengenalkanku pasa anak-anak anggota perpustakaan sambil berkelakar. Duh bisa aja nih candaanya pake nyebut aku cantik. Kan jadi kepengen jedotin kepala di tembok saking senengnya.


Agak gugup karena habis dipuji cantik sama pak dosen ganteng, Rani jadi agak terbata-bata saat mulai mengenalkan dirinya sendiri.


"Halo adek-adek dan temen-temen. Kenalkan ya saya Rani."


"Udah? Gitu doang kenalannya?. Tanya mas, eh pak Galih.


"Iya, apalagi ya? Abis diliatin adek-adek cantik dan ganteng, jadi grogi. Hehhehe". Jawabku cengengesan.


"Ya... Ini mbak Rani, dia mahasiswa di kampus mas." Baru semester pertama, tapi mbak Rani ini pinter lho. Dia jago matematikanya. Jadi kalo nanti butuh bantuan ngerjain PR, bisa juga ya tanya-tanya ke mbak Rani."


"Okeeee". Jawab anak-anak selalu kompak.

__ADS_1


Duuuh apalagi sih ini? Pak Galih kenapa muji-muji mulu dari tadi. Kan kasian jantungku bisa penuaan dini kalo banyak lompat gini.


"Ada yang mau ditanyain gak nih ke mbak Rani?" Tanya mas Galih.


"Boy mau tanya mas!".


"Iya Boy, mau tanya apa?".


"Mbak Rani pacarnya mas Galih ya?".


Hah?? Apa? Gimana? Pacar? pacarnya mas Galih?? Iyaaaa iyaa aku ngarep jadi pacaranya. Hahah.


"Hahaha...bisa aja kamu Boy. Gimana Ran?".


Eh, bentar kok gitu? Pekikku dalam hati. "Gimana apanya ya pak?". Tanyaku polos ke pak Galih.


"Kalo di sini manggilnya mas aja Ran. Itu lho ditanyain sama Boy, kamu udah punya pacar belum?". Mas Galih menjelaskan.


"Oooh... Iya belum". Jawabku.


"Kok iya tapi belum, mbak? Jadi udah punya pacar apa belum?Hehhee." Goda si Tyas salah satu pengurus perpustakaan.


"Hehehe...beluum, belum laku nih jadi belum.pernah pacaran." sedetik kemudian Rani menyesal menjawab terlalu polos. Duh, apa kata pak Galih nanti, aku dikira gak laku dong? Masa semasa sekolah sampe SMA gak pernah pacaran. Padahal kan banyak yang nembak aku, tapi akunya yang gak sreg. Saat Rani melihat ke arah pak Galih, dia malah sedang tersenyum jahil sambil menatapku. Hmmm... Bener kan, itu senyum mengejek kan?.


Sejurus kemudian, pak Galih menggandeng tangaku sambil berkata, "Yaudah, kalian lanjut baca bukunya ya. Mas mau ajarin mbak Rani bikin pengelolaan perpustakaan ini dulu. Nanti kalo ada yang mau ditanya-tanya bisa tanya sendiri ke mbak Rani kalo lagi selo."


"Okeeee" setelah menjawab kompak, mereka langsung bubar menuju tempat kesukaan masing-masing. Kalo diliat-liat ruangan perpustakaan ini memang luas. Koleksi bukunya juga cukup banyak kalo diliat dari banyaknya rak yang ada. Pikiranku teralihkan, ketika menyadari ada yang menarik tanganku pelan.


"Sini, Ran!". Mas Galih mengajaku pindah keruangan yang terletak di sebelah perpustakaan, setelah sedikit melewati lorong kecil, kira-kira jarak lorong sekitar 5 meter dari pintu perpustakaan, sepanjang lorong berjejer jendela besar, begitu pintu ruangan dibuka ada bau wangi yang menenangkan, sepertinya bau lavender. Dan begitu masuk, lagi-lagi aku dibuat kaget, kenapa ada kasur di ruangan ini?.

__ADS_1


__ADS_2