Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!

Pak Galih, Si Dosen Sexy-ku!
PERTAMA KALI MASUK KAMAR PAK, EH MAS GALIH!


__ADS_3

"Duduk, Ran."


Ajak pak Galih untuk duduk di sofa dekat jendela yang menghadap kasur yang tadi aku lihat saat masuk. Sepertinya ini memang kamar, raungannya cukup luas dan dilihat dari ukuran kasur yang sepertinya ukuran King, dilihat dari aroma ruangan yang terasa clean dan nyaman, juga terdapat lemari pakaian, dan beberapa printilan lelaki seperti miniatur anime dan mobil, ada beberapa buku juga yang berserakan, dan terdapat sofa kecil yang membelakangi jendela dan menghap ke arah kasur.


"Ini kamar, pak?". Tanyaku agak ragu dan malu.


"Iya, ini kamar saya."


"Ooooh...". Jawabku setelah tahu, menjadi semakin kikuk karena tahu ini kamar pak Galih.


Pak Galih menangkap sinyal bahwa Rani kurang nyaman, kemudian berusaha menjelaskan.


"Anak-anak juga sering lewat sini" Jelas pak Galih sambil mengarahkan dagunya ke arah lorong


"mereka suka maen di lorong situ. Ada gitar sama piano juga di ruangan sebelah".


"Ooh iya pak". Jawabku sambil cengengesan malu karena pikiran anehku terbaca oleh pak Galih.


sambil senyum jahil, lagi!, pak Galih protes, "Kok masih manggil pak? Panggilnya mas aja lah kalo di sini. Kalo di kampus manggil mas juga gak papa kok. Banyak juga beberapa mahasiswa yang manggil aku mas.".


"Mahasiswa S2 tapi!" tak kusangka, pak Galih punya selera humor receh juga.


"Hahahhaa... Iya mas dosen".


Yesss! Akhirnya aku bisa manggil dia dengan panggilan sayang. Eh... Kejauhan ya? Hahahaha. Ya kan dengan manggil mas, setidaknya one step closer jadi yang terdekat ketimbang yang lain yang masih manggil pak. Iya kan?.


***************************************

__ADS_1


Baru beberapa menit di sini, aku melihat banyak sisi pak Galih yang gak nampak saat hanya sekilas berinteraksi di kampus.


Saat di kampus, pak Galih nampak murung, cuek, dan malah nampak sedikit arogan. Tapi begitu di Perpustakaan, seperti melihat orang lain, pak Galih berubah jadi hangat dan humoris. Jadi nampak lebih mudah digapai.


Di dalam kamar itu mas Galih menjelaskan seluk beluk perpustakaan beserta pengelolaanya. Dia cerita bagaimana awal mula perpustakaan ini dibangun, dan menjelaskan jobdesk dan jadwal yang akan aku lakukan di sini.


Aku harus mencatat alur keluar masuknya buku, dan jadwal jaga bisa disesuaikan dengan jadwal kuliahku. Aku diberi pilihan mau jaga setiap hari di sore hari setelah pulang kuliah, atau full dari pagi sampai siang di weekend. Aku memilih untuk mencoba keduanya. Selain karena aku sendiri belum punya kegiatan lain untuk dikerjakan selepas kuliah, hal itu kulakukan untuk trial and error mencocokan jadwal mana yang sekiranya nanti cocok dengan keseharianku. Plus ada bonusnya juga kan, jadi bisa sering ketemu mas dosen gantengku. Azeek. Hahaha. Tetep ya, ada modus-modusnya!.


Karena kebaikan hatiku untuk mencoba jadwal setiap hari jaga, malah jadi dapet bonus mas Galih mau sesekali antar aku dari kampus ke sini kalo jadwalnya pas dia selesai kegiatan kampus. Hal itu dia lakukan karena tau, aku gak punya kendaraan. Siapa yang gak mau ya khaaan?. Siapa tau juga cinta bisa bersemi karena Tresno Jalaran Seko Ra Ono Sing Liyo. Hahhahaa.


Ditengah penjelasannya aku bertanya ini rumah siapa. Dan mas Galih menjelaskan kalo ini rumah kakeknya. Saat ini kakeknya telah berpulang. Namun saat itu, karena sang kakek sudah sepuh dan mulai sakit-sakitan maka dirinya menemani beliau di rumah ini sambil membantu pengelolaan rumah ini. Bagimanapun rumah sebesar ini pastinya memerlukan maintanance yang gak mudah.


Salah satu hal yang akhirnya menggerakan pak Galih untuk membuat perpustakaan untuk anak-anak adalah saat kakeknya kehilangan cucunya yang telah meninggal dunia karena kecelakaan pesawat.


Saat itu terjadi jiwa kakeknya sangat terguncang, karena menurut penjelasan pak Galih kondisi kesehatan sang kakek semakin menunun namun semenjak pak Galih membuka perpustakaan dan banyak anak-anak yang sering main ke rumah ini, kondisi ksehatan sang kakek mulai membaik. Meskipun tak lama kemudian sang kakek berpulang, dikarenakan juga memang sang kakek sudah cukup berumur, diperkirakan umurnya mencapai 95 tahun saat meninggal. Umur pastinya tidak dapat diketahui, karena pada jaman kakeknya lahir, belum ada pencatatan sipil yang mumpuni. Penghitungan umur anak pada saat itu mengandalkan ingatan orang tua dan menyandingkan dengan peristiwa apa yang saat itu sedang terjadi.


"Kok bisa ada biaya operasional segala, mas? Memangnya anak-anak mbayar kalo pinjem buku di sini?".


"Oh nggak, bukan dari situ biayanya. Kita ada donatur tetap dan ada dana CSR dari beberapa perusahaan UMKM sekitar sini. Makanya kita bisa nambah terus koleksi buku-bukunya. Dan kita juga sering kasih donasi ke perpus-perpus lain di dalam dan diluar Jogja."


"Kamu liat kan tadi banyak foto-foto dipajang di beberapa titik perpus? Itu foto-foto kita ngadain lomba. Ada lomba baca puisi, lomba telling story, bahkan lomba senam dan lomba-lomba 17 an pun ada."


"Dari dana CSR itu kita buat kegiatan-kegiatan itu. Kita buat untuk ajang anak-anak latihan mengasah public speaking dan k3percayaan diri".


"Banyak juga ya pak... Eh mas.... Kegiatannya di sini. Kayaknya seru."


"Jadi, saya gak salah kan ajak kamu ke sini? Saya tau kamu pasti suka." celoteh mas Galih.

__ADS_1


"Kok bisa tau mas?". Tanyaku menyelidik.


Mas Galih tidak menjawab, hanya sekilas melirikku dan lagi, senyum misterius. Hmmm... Aku mulai sebal sama kebiasanya itu.


Alih-alih menjawab pertanyaanku, mas Galih malah mengajakku keluar menuju pantry yang terletak di salah satu pojokan ruang perpus untuk ambil camilan. Sekilas saat jalan menuju lorong yang ternyata ke arah kamar mas Galih, aku sempat sekilas melihat ada semacam dapur kecil di pojokan. Ternyata ruangan itulah yang mas Galih sebut sebagai pantry perpus. Di pantry tersebut semua orang bebas mengambil makanan apapun yang disediakan. Kulihat persediaanya makananya juga cukup lengkap. Ada banyak buah-buahan di dalam kulkas yang pintunya transparant, tau kan kulkas display merk minuman terkenal berwarna merah? you know if you know lah ya.


Selain kulkas, tersedia microwave juga. Tersedia berbagai macam makanan di sini ada beberapa macam biah seperti pepaya, salak, dan kulihat ada jagung juga sepertinya, dan ada coklat, serta kacang-kacangan dan camilan makanan ringan juga tersedia di toples-toples yang ditaruh di island yang sepertinya berfungsi menjadi penyekat juga antara pantry dan ruang perpus. Tapi minumannya hanya tersedia air mineral yang disimpan di dalam dispenser yang terdapat pilihan hot, and cold.


"Kami cuman sediain makanan yang gak mengandung banyak gula dan micin. Saya pengen supaya anak-anak terbiasa makan camilan sehat."


"Makanya minuman juga hanya saya sediakan air mineral aja di dispenser".


"Tapi sesekali kita makan makanan lainnya juga kok. Gak terbatas jenisnya. Siapapun bebas bawa makanan juga kesini untuk dimakan bersama."


Mas galih menjelaskan dengan seksama.


"Wah keren juga konsepnya mas. Tau gitu tadi saya bawa camilan juga kesini biar rame. Okelah next time." Sahutku.


Mas Galih mengangguk menyetujui ideku.


**************************************


Gak berasa, waktu sudah menujukan pukul 11.00 WIB. Karena dari pagi agak buru-buru karena si mas dosen ganteng yang ternyata sok misterius ini dateng terlalu cepat dari dugaan, Rani jadi gak sempat sarapan. Alhasil jam segini perutnya sudah mulai keroncongan. Dan dia berbunyi disaat yang gak tepat sama sekali. Di depan pantry, di mana di depanku ada si pak dosen ganteng bin jahil itu, dan ada beberapa anak juga yang lagi asik duduk membaca di kursi dan sofa sekitaran pantry. Mana suara perutku ini kayak orang tawuran sekampung, keras banget. Ya allah... Maluuuu banget, pengen tiba-tiba ada kolam di depanku biar bisa nyemplung nyembunyiin wajahku.


"Wah, kayaknya ada yang kelaperan nih. Kalo di deteksi dari bunyinya, coklat sama jagung mah lewat, gak akan bisa nahan. Harus tongseng atau gudeg yu Djum kalo bunyinya udah begitu. Hahahhaa". Seloroh pak Galih di depanku dan anak-anak lain membuat mereka tertawa. Aku yang jadi korban pun terpaksa ikut ketawa. Anak baru gak belum boleh ningkah ya kan??.


Mas Galih akhirnya mengajaku keluar untuk makan siang.

__ADS_1


__ADS_2