
Kemarin selepas kegiatanku di perpustakaan, aku belum bertemu tante Nia lagi karena dia dan keluarganya pergi jalan-jalan dan pulang malam. Keesokan harinya saat kita bersama-sama di dapur, tante Nia mengintrogasi.
"Ran, gimana kemaren jalan sama mas Angga Yunanda? Seru gak?!." tante Nia bertanya dengan nada jahil dan penuh rasa ingin tau, alias kepo. Hahaha.
"Iiih apa sih tante, kepo banget ah." jawabku sok misterius.
"Dari tampangmu sejak keluar kamar dari subuh tadi tante udah bisa nebak lah. Pasti seru. Wong wajahmu cengengesan gitu."
"Emang keliatan banget ya?"
"Iya, eh emang kalian ngapain aja? Dia nembak kamu?"
"Hah?? Kok jauh banget sih pikiran tante, sampe kepikiran aku langsung ditembak aja. Lah baru juga kenal di kampus, diajak jalan sekali, itu juga gara-gara dia butuh orang bantuin di perpus yang dia kelola. Masa tau-tau nembak. Suka aja belum tentu." celotehku panjang lebar mengomeli tante Nia yang suka sotoy.
"Ya, Kan sapa tau dia tipikal yang sat set. Kaya kalo orang-orang yang taaruf itu lho. Kan ketemu sekali, kalo sreg langsung nikah."
__ADS_1
"Hmmm.... Taaruf opo tho tante... Wong bentukku aja begini, gak pake hijab. Lagian kalo taaruf mana mungkin mas Galih ngajak ngajak boncengan."
"Idiiiih... Udah ganti nih nama panggilannya. Baru kemaren masih manggil pak Galih. Lah kok pagi ini udah ganti panggilan jadi 'mas'." Tante Nia semakin semangat menggodaiku.
"Itu karena dia yang minta tante, anak-anak di perpustakaan yang tempo hari dia ajak aku kesana, ternyata perpus punya dia sendiri, di sediakan buat anak-anak sekitaran kampungnya gitu. Nah, kan anak-anak lain manggil dia mas. Mosok aku sendiri manggil dia Pak."
"Gimana? Gimana? Jadi perpus itu punya dia pribadi yang dibuka buat umum?"
"Iya, tante. Perpusnya ada di dalem rumah dia. Karena anak-anak yang biasa ngurus pembukuan perpus udh pada naik kelas tiga, jadi mereka mau fokus belajar dulu. Makanya mas Galih butuh bantuan buat ngurusin sementara anak-anak persiapan ujian nasional."
Aku cuman menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan tante Nia tanda gak tahu menahu soal itu.
"Jangan-jangan karena si mas Galih mu itu memang mau pedekate sama kamu."
"Iiih tante jangan bikin orang GeEr ah. Mana mungkin. Palingan juga karna mas Galih sering liat aku baca buku makanya dia pikir aku kutu buku dan mudah diprospek untuk bantuin dia."
__ADS_1
Sebelum tante Nia nyerocos kembali, aku langsung melarikan diri ke kamar mandi,
"Udah ah tante, perutku mules nih."
...***********************************...
...Meskipun di depan tante Nia aku berlagak cuek dan gak kepikiran apapun. Tapi diam-diam dalam hatiku pun merasakan hal yang sama. Sejak kemarin aku bertanya-tanya kok mas Galih yang biasanya cuman jadi sosok impian tak tergapai, tiba-tiba hadir dikehidupan nyataku dengan cara gak terduga....
...Dia seakan hadir tanpa diundang, tiba-tiba memanggilku dengan tujuan yang sama sekali gak pernah ada dibayanganku, lalu dalam sehari jarak kami jadi semakin nyata dan dekat....
...Apa ini bakalan kaya cerita di dongeng-dongeng? Apakah mas Galih adalah seorang pangeran berkuda putih datang menyelamatkan hidupku yang suram ini?....
...Duh, mikir apa sih aku? Udah ah, yuk ngampus!...
...***********************************...
__ADS_1