Pasangan Serasi KATANYA

Pasangan Serasi KATANYA
prolog


__ADS_3

Sahabat jadi cinta.


Istilah lumrah yang sering di dengar. Rasanya mustahil jika persahabatan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada terselip cinta.


Pasti ada lah salah satu dari mereka yang menyimpan rasa.


Apa akhir dari kisah ini?


Happy ending?


Yang di cinta membalas cinta yang mencinta?


Atau bertepuk sebelah tangan?


Kedua kemungkinan itu lah yang akan terpikir.


Tapi, bagaimana jika yang mencinta tetap memperjuangkan cintanya?


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Ada banyak kemungkinan yang bisa kamu pilih.


Salah satunya, merelakan dia untuk dirinya.


“Kak Cetta jangan lari lari dong!”


Gadis itu berhenti, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Pemuda yang mendahuluinya berbalik arah, mendekat pada gadis yang terlihat kesal.


“Aku menang” kata pemuda yang lebih tua satu tahun. Gadis itu bersedekap, wajahnya memerah menahan marah


“Kakak curang” ucap gadis itu hampir menangis. Pemuda itu menghela nafas,


“Iya, iya kakak minta maaf” tangannya terulur mengusap puncak kepala ‘adiknya’


“Udah dong, mukamu jadi makin imut.” Ucapnya jujur. Gadis itu mengusap wajahnya kasar.


“Kakak nyebelin!” tanpa aba-aba ia berlari meninggalkan ‘Kakaknya. Pemuda yang di panggil Cetta hanya mengangkat kedua sudut bibirnya, sembari melangkah.


Dinginnya eskrim, yang masih terbungkus rapi, menyentuh kulit pipinya, membuyarkan lamunan gadis bersurai panjang.


“Bukain” pintanya pada cowok yang kini duduk di hadapannya.


Mereka berada di taman belakang rumah, duduk lesehan di atas rumput yang tertutupi tikar. Payung besar menjaga mereka dari teriknya matahari sore, hanya taman kecil- kecilan.


Cowok itu membuka bungkus eskrim, lalu diserahkannya pada gadisnya. Senyum di wajah cowok itu terbit, ia masih tak percaya, dengan penampakkan di hadapannya.


Gadis yang tengah melahap eskrim, Namanya Ayudia Yara, putri cengeng, yang membuat pangeran jahil bertekuk lutut demi dirinya.


Ayu saja tidak tau jika ia, telah menebar benih di dalam hati cowok ternyebelin sepanjang masa.


Yang pastinya untuk Ayu.


Benih apakah itu?

__ADS_1


Benih yang berkembang dan semakin hari, semakin subur.


*****


Cowok tampan, menyimbak gorden jendelanya, membiarkan cahaya mentari menerobos masuk, mempersilahkan sinarnya membangunkan sang putri.


Cewek yang baru tertidur tiga puluh menit, menggeliat terganggu. Matanya mengerjap-ngerjap.


Tak habis akal,


Cewek itu menyembunyikan diri di balik selimut birunya. Hawa sejuk membuatnya semakin malas bangun.


Ayu tidak bermaksud tidur lagi setelah sholat subuh, hanya saja kantuk tak dapat di tahan, semua ini gara-gara sahabatnya.


Ayu begadang karna harus menemani cowok itu nonton bola. Inginnya sih tidur lagi, tapi, matanya tak mau terpejam. Akhirnya ia baru tertidur sekitar pukul dua dini hari.


“Ishh” desisnya saat selimutnya di singkap paksa. Di tatapnya sahabatnya murka.


“Apa?” ucap Bian datar. Merasa tak bersalah, karna menganggu kenyamanan sang sahabat.


Padahalkan gara-gara dia juga.


Bian berbalik melangkah menuju pintu. Saat selangkah lagi keluar dari kamar mereka, Bian menhentikan langkah, tanpa berbalik, ia berujar.


“Lo tidur lagi gue cium.” Terdengar seperti ancaman, Ayu yang sudah menarik kembali selimutnya dan bersiap kembali ke alam mimpi. Menyimbak selimutmya kasar.


“Cetta!” ia melangkah cepat, hendak mengamuk pada suaminya. Dengan sigap Bian berbalik dan menahan tangan sang istri yang hendak memukulnya.


“Apa sayang?” mungkin jika itu Cewek lain, mereka akan senang bukan main.


Ayu memberontak, mencoba melepaskan kedua lengannya dari genggaman Bian. Yang di lakukan Bian selanjutnya membuat mata bulatnya, semakin bulat.


Ayu pasrah, membiarkan sahabatnya memeluk erat dirinya.


Ayu juga tak punya cukup tenaga untuk melawan Cowok ini. Tentu saja Ia akan kalah. Tenaga Cewek tak sebanding dengan tenaga Cowok.


“Mau sampai kapan?” tanya Ayu hampir lima menit mereka di posisi ini.


Bian bergeming, ia malah mempererat pelukannya. Bian tidak ingin kehilangan dunianya lagi. Ia sudah cukup tersiksa.


Ayu tak membalas pelukan suaminya. Ia pasrah saja, membiarkan sang suami merengkuh dirinya.


Ayu tak bisa bohong, ia sangat rindu cowok ini, Abian juga begitu, bahkan rindunya bisa menggerogotinya.


Pelukan melonggar, sepertinya Bian sudah puas memeluk bonekanya.


Di tatapnya sang istri dengan sorot teduh. Kedua tangannya bertengger pada pundak gadisnya. Di lihatnya wajah yang kini menyendu.


“Aku cinta kamu.”


*****


“Cetta!”

__ADS_1


“Iya sayang?”


Ayu gemas dengan cowok yang tengah melahap rotinya. Tadi segelas susu yang cowok itu habiskan, kini roti yang sudah siap masuk kemulut Ayu pula di sambarnya.


Dengan sekali gigitan, setengah roti masuk kedalam mulutnya. Bukannya Ayu tidak mau menyiapkannya untuk Bian. Hanya saja cowok itu menolak ketika di tawari.


Jadi siapa yang salah?


Dengan wajah cemberut, Ayu bangkit dari kursinya, menjauh dari meja makan, berjalan meninggalkan dapur, dan mendudukkan diri di atas sofa, ruang tengah.


Sambil mengunyah Bian mengikuti langkah istrinya.


Pasangan lama, pengantin baru. Terhitung seminggu sudah pernikahan mereka. Dan besok menjadi hari pertama mereka kembali ke sekolah sebagai pasangan sebenarnya.


Entah reaksi macam apa yang di berikan teman-teman mereka.


Baik Abian atau pun Ayudia, tidak pernah terpikirkan oleh keduanya, mereka akan menikah, tidur dalam satu atap, bahkan satu kamar. Meski cintanya sangat besar untuk Ayu, cukup berada di sisi Ayu saja Bian sangat bersyukur. Tuhan sangat baik padanya, sekarang rasa yang selama ini menetap, bisa ia nikmati sepuas hati.


“Yara...” panggil Bian, yang kini duduk bersimpuh di bawah kakinya.


Tak ada sahutan.


“Maaf.” Bian memang suka iseng pada gadisnya. Ia sangat suka saat Ayu mulai gemas padanya. Namun, ia tak bisa jika gadisnya mendiamkannya. Sungguh ini menyiksa.


“Aaaaaa” ucapnya sambil menyodorkan sisa roti berselai cokelat ke mulut Ayu. Ayu hanya melirik sekilas. Ia tetap pada mode ngambek.


“Ayudia.” Runtuh sudah pertahanannya, jika Bian memanggilnya dengan nama depan semanis ini, berarti ia sangat bersungguh sungguh.


“Aaaaaa” Ayu membuka mulut. Membiarkan lidahnya menikmati roti yang baru sempat di cicipi. Selagi Ayu mengunyah. Bian mencubit hidung gadisnya gemas.


Teringat kenangan.


Bian tertawa renyah, di ikuti Ayu yang mengerti, kenapa sahabat yang merangkap menjadi suaminya tertawa.


Pasangan serasi?


Iya mereka memang serasi, serasi sekali.


Perjuangan dan pengorbanan, dua kata yang tidak bisa di pisahkan.


Kamu berjuang, itu artinya kamu siap berkorban. Saat kamu berkorban, itu karna perjuanganmu.


Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.


Tidak ada pengorbanan tanpa perjuangan.


Dua insan yang saling mencintai, memilih untuk saling melepaskan. Meski sulit, mereka yakin hanya dengan membuat dia yang di cinta bahagia, walau dengan orang lain. Sudah cukup membuat yang mencinta bahagia.


Cinta, membuatmu rela berkorban untuknya, rela bahagia untuknya, meski bukan dengan dirinya.


Cinta itu indah, cinta itu menenangkan, cinta itu membahagiakan.


Cinta tidak akan pernah menyakiti.

__ADS_1


Jadi tanyakan pada dirimu, yang kamu rasakan apa benar cinta? Atau hanya perasaan yang ‘mengaku’ cinta, tapi terus ‘menyesatkan’.


__ADS_2