
Setibanya Ayu di dapur, ia segera menyiapkan semua yang akan di suguhkan, untuk tamunya. Berbagai camilan telah tertata rapi di atas piring.
Ayu melangkah memgambil gelas di dalam lemari, lalu beralih mengambil air dingin di dalam kulkas, lalu ia tuangkan air itu ke dalam gelas yang di taruh di atas meja, Ayu kekurangan satu gelas lagi, ia kembali mengambil gelas lainnya di dalam lemari saat ia berbalik dan melangkah menuju meja tempat nampan yang ia siapkan berada, Ayu tersentak, Bian berada di depannya, membuat gelas yang berada di genggamannya terjatuh tanpa sadar. Membuat puing-puing gelas berserakan.
Setelah itu muncul lah Lili yang kebingungan.
Ayu tersadar dari keterkejutannya, ia segera berjalan ingin membereskan kekacauan yang tidak sengaja di buatnya, namun
“Akhh!”
Belum sempat Ayu melangkah lebih jauh mengambil sapu di dekat Bian, Bian meringis.
Ayu melupakan pecahan kaca yang tersebar di hadapannya, dia ingin melaluinya begitu saja, Bian yang melihat itu tentu saja tidak tinggal diam. Ia ingin mencegah Ayu dengan suaranya tapi keduluan kakinya, kaki kanan Bian melangkah sendiri, membuat beling berukuran agak besar menancap kakinya.
Kaki Ayu terselamatkan.
“Au!”
Sepertinya tidak.
Kini kaki Ayu yang terluka.
Ayu spontan melangkah, membantu sahabatnya yang meringis, tapi ternyata ada beling nakal yang menunggunya. Hanya Lili yang sehat walafiat di sini.
Lili setengah berlari mengambil sapu dan alat lainnya, yang di lihatnya di teras rumah.
Mama Ayu lupa membawa masuk peralatan bebersihnya sebelum pergi keluar. Lili kembali dengan sapu, serok, dan ember di kedua tangannya. Ia berjalan mendekat pada pasangan yang kompak sekali.
“Kalian diam di tempat. Jangan ada yang bergerak sedikit pun. Ya kalau mau nambah luka sih silahkan.” Ucap Lili, setengah bercanda.
Ayu dan Abian menuruti titah Lili. Lili dengan hati-hati membersihkan beling yang tersisa, ia juga waspada jangan sampai, kakinya yang terselimuti kaos kaki putih tidak sengaja menginjak beling, yang besarnya seperti pasir.
“Selesai.” Ucap Lili setelah kembali dari pembuangan sampah, beling- beling nakal itu telah beristirahat dengan tenang. Ia terkekeh melihat kedua insan yang masih diam di tempat, tidak bergeser sedikitpun.
Tapi, seperti ada yang aneh, bukannya mereka sahabat ya?
Lalu kenapa terlihat canggung begitu?
Lili berjalan mendekati meja, mengambil nampan yang berisikan camilan dan minuman, Lili tersenyum jahil pada keduanya.
“Yu nampannya gue bawa yah, Duluan.”
Tanpa rasa bersalah, Lili meninggalkan sepasang sahabat yang bingung harus melakukan apa. Lili mengambil kesimpulan, mereka berdua sedang bertengkar. Bukannya ia langsung mengira begitu, ia hanya mengamati dari gerak gerik keduanya yang terlihat sangat canggung, apalagi Ayu yang menangis di sekolah tadi, Lili kan jadi semakin yakin, dan akhirnya ia memilih menjauh saja dari mereka.
Lili baik kan?
Bukannya apa-apa, Lili hanya memberikan privasi untuk keduanya.
“Luka mu...di bersihkan dulu.” Kata Ayu agak gimana gitu.
“Luka mu juga.”
Oh iya.
Mereka berdua kan kakinya terluka.
Ayu meringis melihat Bian yang kesakitan, menggerakkan kakinya yang Luka, bagaimana cara Bian membersihkannya?
Di gerakan sedikit saja, rasa nyeri membuatnya menusuk.
“Tunggu! Biar aku saja yang bersihkan.” Ucap Ayu menahan Bian bergerak lebih jauh lagi.
Ya mau gimana lagi pecahan gelas yang agak besar mendarat tepat di dekat kaki Bian, saat Bian melangkah, kena deh. Bian menahan mulutnya agar berhenti meringis. Kalian yang kakinya pernah di lukai beling, pasti tau deh rasanya kaya gimana.
Setelah selesai membersihkan kakinya, kaki Ayu hanya terkena serpihannya saja, hanya sedikit darah yang keluar, dan sakitnya bisa di tahan. Segera Ayu menghampiri Bian. Ayu menuntun Bian agar duduk, kedua tangan Bian bertumpu pada kedua tangan Ayu.
Ayu memegangi tangan sahabatnya agar tetap seimbang. Kan double sakitnya udah kaki yang kena, masa harus jatuh lagi karna gak seimbang. Bian berhasil duduk dengan selamat.
Segera Ayu membersihkan Luka Bian. Dengan perlahan, Ayu menarik beling yang membuat luka menganga, di kaki sahabatnya. Bian meringis tertahan. Bian bernafas lega, pecahan gelas, berhasil di amankan.
Sekarang, dengan telaten Ayu membereskan darah yang mengalir. Kaki Bian selesai di perban, darah yang menetes di lantai juga telah di bersihkan.
Waktu seolah berhenti, Bian Atau pun Ayu hanyut dalam tatapan masing-masing, melupakan insiden, pertengkaran mereka kemarin.
“Kalian sedang apa?”
Suara Dini mengacaukan suasana, mereka tersadarkan, Bian yang bersandar pada lemari yang di atasnya wastafel mengalihkan pandangan, Ayu terentak berdiri, berbalik menghadap pada sang mama.
“Ngapain?” tanya dini lagi, Ayu nyengir canggung, gimana jelasinnya ya?
Dini yang baru saja pulang dari supermarket, membeli persediaan bahan makanan. Tersenyum jahil pada putrinya.
“Ma...”
“Bian kenapa nak?”
Dini baru sadar, ada yang terluka di rumahnya. Ayu berbalik, membantu Bian berdiri, sepertinya kesusahan berjalan juga?
“Kaki mu?”
Eh, benar juga, Ayu baru ingat kakinya kan juga terluka.
“Nggak papa, kaki ku Cuma luka sedikit, udah kering kok.”
Iya, luka di kaki Ayu sudah mengering, tidak terasa sakit juga. Yang terpenting sekarang kaki Bian. Lukanya terbilang parah, karna robek.
“Ayu, bantu Bian berjalan ke ruang tengah, mama siapin makanan buat kalian.”
Titah Dini pada putrinya. Dini tidak terlalu khawatir, karna Bian baik-baik saja kok. Lagi pula Bian itu tipe cowok yang tidak suka di kasihani. Jadi lebih baik Dini bersikap seperti ini. Bian juga tidak keberatan.
“Ayo, pegang lenganku.” Bian menurut, lengan kiri Ayu di pegang eret Bian. Dengan sedikit terpincang Bian menyelaraskan langkahnya. Ayu sangat hati-hati menuntun sahabatnya.
Dini tersenyum kecil, teringat kenangan.
*****
Lili yang sedang asik melahap cake, teralihkan dengan pasangan yang menurutnya serasi, ia tersenyum manis saat sahabatnya melirik ke arahnya.
Ayu terlihat marah. Berharap Lili yang membantunya, tepi, Lili tetap lah Lili, Ayu juga juga sudah menduga sahabatnya itu, akan membuatnya menyelesaikan ‘masalah’nya sendiri.
Bian telah duduk nyaman di sofa single, Ayu duduk di sofa panjang di samping Lili.
“Enak kuenya Li?”
dijawab Lili dengan Anggukan antusis, Lili tak bisa menahan tawanya, sahabatnya ini sangat lucu, Ayu berdecak.
“Maaf, Maaf.” Ucap Lili akhirnya, tawanya di hentikan, tangan kirinya memegangi perutnya yang mendadak mules.
“Yu numpang ke wc boleh?”
“Silahkan.”
Segera Lili berdiri, Ayu hendak berdiri namun di tahan Lili.
__ADS_1
“Eh! Gue tau kok wc nya dimana, lo di sini aja.”
Lili berterima kasih pada rasa mulesnya.
Terima kasih telah hadir tepat waktu, jadinya Lili bisa meninggalkan Ayu dengan Bian.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Ayu kembali duduk.
Mata bulat Ayu menatap punggung Sahabatnya yang kian menjauh, lalu menghilang berbelok ke dapur.
Sekarang apa yang harus Ayu lakukan. Pandangannya masih terfokus pada objek kosong di depannya, tidak berniat mengalihkan pandangan juga.
“Khemm” dehem Bian, mencoba melegakan tenggorokannya dari lendir yang menyumbat.
“Khemm” kali ini sambil melihat Ayu yang mengaku, Ayu masih di posisi sebelumnya, duduk menyamping membelakangi Bian.
“khukkhuk” tiba- tiba Tenggorokan Bian gatal dan terbatuk begitu saja.
Ini murni yah, bukan rekayasa.
Ayu yang tidak ingin menampilkan wajahnya pada Bian, terpaksa berbalik, melihat Kondisi sahabatnya. Tanpa di minta, Ayu menyodorkan gelas berisi air putih pada sahabatnya. Bian menerimanya, lantas di minumnya, hingga setengah. Batuk Bian mereda.
Diam lagi.
Keduanya tidak tau, apa yang harus di katakan. Ingatan Ayu terlempar pada kejadian kemarin sore.
“Maaf.” Ucap Ayu tanpa memandang yang bersangkutan, ia hanya menunduk sambil meremas jarinya, berharap kecanggungan ini segera sirna.
Bian beralih menatap sahabatnya, gadis itu terlihat cemas. Sebuah lengkungan terbentuk indah. Sebelum Abian bersuara, Lili telah menampakkan diri kembali. Lili mengambil tasnya dan di gendongnya.
“Yu gue pulang sekarang ya.”
“Oh iya.”
Lili hanya tersenyum. Abian hendak berdiri, bermaksud mengantarkan Lili hingga ke depan.
“Eh! Lo duduk aja, gak papa kok.” Lili mengerti kaki Abian terluka, akan sulit berjalan untuk beberapa hari kedepan.
Bian menurut.
“Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”
Bian mengangguk, Ayu menyusul Lili kedepan.
Lili telah siap di atas motornya. Lili tersenyum penuh makna. Ayu mengernyit, sepertinya Lili akan berulah lagi.
“Ganteng yah?”
“Siapa?”
“Cettanya kamu.”
Sebelum Ayu mengamuk, Lili lebih dulu melajukan motornya. Lili-Lili, ia punya seribu satu cara, membuat Ayu menunjukkan sinarnya.
Ada rasa yang cukup asing menyusup. Ayu diam sejenak, memeganggi dadanya yang berdetak cepat.
“Apa sih?” katanya tidak sadar, pipinya bersemu.
*****
Dini menghampiri Bian yang duduk sendiri.
“Ayu mana?”
Oh. Nganterin Lili, tadi Dini sudah ketemu Lili di dapur gadis itu sering mengantarkan putrinya pulang. Ini kali pertamanya mampir. Niatnya tadi ingin menyuguhkan gado-gado yang ia buat, untuk di makan bersama. Tapi Lili sudah mau pulang, tentu saja Lili sudah berpamitan dengannya di dapur tadi. Dari pada mubazir, ia bungkuskan beberapa makanan untuk di bawa Lili pulang.
Gadis itu sepertinya lupa membawa plastik yang sudah di siapkan. Bukan rezeki Lili. Lagi pula Lili juga sudah kenyang, memakan tiga Cake dengan potongan besar. Makanya setelah itu Lili izin ke wc.
“Bian mau makan nak?”
Dini melirik kaki Bian yang terbalut perban, sedikit merasa bersalah.
Saat di jalan ke supermarket Dini yang menghentikan motornya, melihat Abian yang menghentikan motornya, menyapa dini sebentar.
Bian sudah pulang, berarti putrinya juga sudah pulang, kunci rumah ada padanya, tidak ingin sang anak menunggu kama di luar rumah, Dini minta tolong saja pada Bian untuk membukakan pintu rumahnya, Dini percaya dengan Bian. Dini yakin Bian pemuda yang sangat baik, tidak ada keraguan sedikit pun yang membuatnya mencurigai Bian.
Bian menyanggupi, saat tiba di rumah Ayu, Bian kebelet pipis, sekalian aja numpang ke toilet, setelah selesai, Bian yang hendak berjalan meninggalkan dapur, tersentak kaget, mendengar sesuatu pecah, di lihatnya Ayu sudah berdiri di depannya dengan ekspresi kaget luar biasa.
Bian lapar, tapi sungkan mengangguk.
“Ma Ayu lapar, Makan yu Cetta.”
Ayu datang di saat yang tepat. Bian menoleh pada Ayu yang berdiri di belakangnya.
Ayu tersenyum. Bian membalas senyumannya. Mereka baikkan, udah gitu doang kok, gak ribet kan buat mereka baikkan. Dini bernafas lega. Anak-anaknya sudah ‘kembali’.
*****
Lili memarkirkan motornya di teras rumah, di lihatnya motor yang ia kenali.
“Tumben mampir.”
Lili melenggang masuk kedalam rumah, sambil menenteng helm di tangannya. Di salaminya Ayahnya yang sedang duduk sambil menonton berita.
“Di depan motor siapa pak?”
“Masa kamu lupa motor teman sendiri.” Jawab Ayahnya sambil menatap putri bungsunya.
Sudah Lili duga. Ayahnya tidak heran putri bungsunya pulang jam segini, lagi pula Lili sudah memberitau ayahnya akan pulang telat, ayah Lili pun tau Ayu, Lili pernah membawa Ayu mampir ke rumah, dari situlah, ia tau bahwa Lilinya sudah mau berteman selain dengan Ivan. Ivan dan Lili itu seperti perangko percayalah.
“Lili ke kamar dulu pak.” Pamitnya
Saat Lili memasuki kamarnya, ia di sambut dengan pemandangan yang sangat jarang ia temui.
“Ada angin apa?” katanya sambil berjalan menghampiri pemuda yang membelakanginya, pemuda itu duduk di pinggir kasur, sedang membaca novel yang lagi booming di kalangan remaja. Itu novel Lili. Pemuda itu mengalihkan atensi menatap gadis di hadapannya.
Lili berkacak pinggang, dengan sorot menantang. Pemuda berkemeja putih, berdiri, membuat gadis di hadapannya mundur selangkah. Pemuda itu tersenyum sinis.
“Baru pulang?”
Lili tertawa mengejek,
“Baru pulang?” beo Lili.
Lili tersentak, saat badannya di tarik, kedua tangan kekar memeluk posesif, tidak ingin berpisah.
“Kakak kangen.” Ucap Arya pada adiknya yang mulai menitikkan air mata.
Lili mulai sesegukan di pelukan kakaknya. Tangisnya mengeras, saat tangan sang kakak mengelus rambutnya menenangkan. Cukup lama mereka di seperti ini, hingga tangis Lili pun mereda.
“Kakak cari istri sana.”
Arya segera melepas pelukannya, di dorongnya sengaja, badan sang adik yang sempat di rengkuh.
__ADS_1
“Kamu ini apa-apa-an?” tanyanya agak panik
“Kakak yang apa-apa-an? Gak sopan tau! Main peluk aja.”
Arya segera angkat kaki dari kamar adik kesayangannya. Lili cekikikan. Kakaknya itu sudah matang dan mapan, plus tampan. Banyak wanita berpendidikan yang menginginkannya, namun ada saja alasannya menolak.
Salah satunya Lili, selalu Lili yang jadi korban alasan konyol kakaknya. Kakaknya itu baru pulang, setelah dua kali lebaran tidak menampakkan diri, Lili sangat rindu kakaknya, kakaknya sibuk bekerja. Bukan maksud Arya tidak pulang, tapi memang keadaan saat itu yang mencegahnya. Arya juga sudah meminta maaf pada sang ayah serta kerabat yang di kecewakan.
“Ngapain di situ!” pekik Lili
Ketahuan deh, Ivan nyengir, lemari yang di jadikan tempat persembunyiannya, terbuka sendiri, salah sendiri kenapa gak di kunci?
Tunggu, kalo di kunci gimana Ivan keluarnya? Kan kuncinya di luar?
Setelah mengganti seragamnya Ivan bergegas, pergi ke rumah yang sudah lama tidak dia sambangi. Ivan memang jarang mampir ke rumah sahabatnya, semenjak ia SMP, mungkin hanya dua kali dalam setahun ia berkunjung. Itu pun waktu lebaran.
Ivan keluar dari lemari pakaian Lili, merapikan pakaiannya yang agak kusut, lalu bersikap cool, seolah bukan hal memalukan yang ia lakukan barusan.
“Jalan yuk?”
Hah.
Lili bengong. Ini bener Ivan? kesambet apa-an ni anak? Ivan yang gak beda jauh sifatnya dengan Lili, sama-sama es, tiba-tiba ngajakin jalan?
“Lo sehat?” sebuah jitakan kasar mendarat di jidat mulusnya Lili, di balas dengan hantaman kuat di lengan Ivan. Ayah Lili yang mendengar kegaduhan di kamar putrinya memutuskan menjenguk.
“Eh! Eh! Eh! Apa nih main pukul-pukulan.” Lerai ayah Lili. Ivan terkekeh, Lili tidak tahan ingin menghajar cowok menyebalkan ini. Di ambilnya bantal terdekat, lalu di pukulkannya ke badan Ivan. Ivan mencoba menahan, tapi tidak menghindar.
“Ck! Kalian ini belum nikah udah KDRT aja!”
“Bapak!”
Dimas berlalu pergi, meninggalkan putrinya yang di buat kesal. Lili menyorot sahabatnya jengkel
“Apa ketawa-ketawa!”
“Galak banget sih, nanti gak ada yang mau sama kamu loh.”
“Biarin!”
Ivan duduk di atas ranjang kasur sahabatnya tanpa permisi, Lili diam saja, ia menebak-nebak apa yang akan di lakukan sahabat konyolnya ini. Ah, sepertinya Ivan hanya akan bengong saja. Lili berlalu mengambil bajunya dan mengganti seragamnya di kamar mandi, ya kali dia ganti baju di kamar?
Lili keluar dari kamar mandi, ia mengenakan, baju kaos lengan panjang, beserta rok hitam semata kaki. Di lihatnya Ivan sudah minggat dari kamarnya. Lili merebahkan badannya di atas kasur, memejamkan matanya sebentar.
“Li jalan yuk?”
Matanya yang mengantuk, sekejap kembali segar, Ivan kenapa sih? Lili merinding di buatnya. Tanpa berbangun, Lili menatap sang sahabat di ambang pintu, bahunya ia sandarkan pada pembatas kamar, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana.
Rapi bener?
“Kemana?”
“Terserah.”
“Yaudah gue mau di rumah aja.”
Ivan mendengus, lalu berjalan duduk di samping gadis yang belum merubah posisi. Lili kembali memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan matanya yang perih.
“Li.”
“hmm”
“Kalau gue pacaran gimana?” Lili beringsut duduk.
“Maksud lo?”
“Lupain, gue becanda.”
Tapi yang terlihat seperti bukan becanda, Lili tidak percaya, apa yang sahabatnya sembunyikan?
Tok tok tok
Arya mengetuk pintu, pintu itu memang sejak tadi terbuka,
“Boleh saya pinjam Ivannya?”
Lili mendorong Ivan kasar sampai Ivan terjatuh dari ranjang
“Bawa aja kak, sekalian gak usah di balikin gak papa.”
Arya terkekeh,
“Ke kamar ku.” Titah Arya, Ivan segera berdiri, menatap sengit sahabat yang tega mendorongnya, Lili membuang muka. Mereka ini memang selalu seperti ini. Kemanisannya di tutupi dengan kejudesannya, Lili maupun Ivan tau jika mereka saling sayang, tapi, sebagai apa?
*****
Ayu dan Bian telah kenyang menyantap gado-gado buatan Dini. Mereka masih mengenakan seragam.
“Aku harus pulang.”
Benar juga, Bian tidak bisa berdiam diri di sini, tante dan sepupu-sepupu nya menunggu di rumah. Tapi, gimana cara pulangnya yah? Kaki Bian kan sakit. Gimana caranya ia mengendarai motor tanpa memperparah luka di kakinya? Ayu bingung harus mengizinkan atau tidak.
“Kamu yakin?”
Abian pun ragu. Tapi ia harus pulang?
“Iya. Bantu aku berjalan?”
Tanpa banyak tanya, Ayu menuruti saja permintaan Bian. Saat mereka sudah di teras rumah, Dini kembali dari warung.
“Bian mau pulang nak?”
“Iya tante.”
Bian tidak enak dengan mamanya Ayu sudah banyak merepotkan, mamanya Ayu nalah tidak nerasa di repotkan sama sekali, malah dia senang calon menantu mengunjunginya.
“Kamu yakin?” pertanyaan yang sama dengan anaknya.
“yakin tante.”
“Kenapa gak menginap aja?”
Menginap?
“Iya kenapa tidak menginap di sini saja?” kini Ayu yang menawarkan. Bian dilema, keputusan apa yang harus dia buat? Kalo ia pulang resiko, kakinya lambat pulih, jika ia tetap di sini, mondisi kakinya tidak akan memburuk.
“kalau aku menginap di sini, besok Bagaimana?” tanyanya pada Ayu yang masih setia memapah
“Besok tanggal merah.”
Tanpa ragu lagi Bian mengiyakan, malam ini ia akan menginap di rumah sahabat kecilnya.
*****
__ADS_1