
sepuluh tahun yang lalu...
“Ih kak Cetta!” ucap gadis dengan rambut di kepang tak terima. Ia menatap es krim cokelat, di tangan kanannya, yang tinggal setengah. Mata bulatnya menatap pemuda di depannya jengkel.
Bian berjanji akan mentraktir Ayu eskrim, setelah lomba jalan cepat yang mereka mainkan kemarin. Ayu menangis, karna Bian curang, katanya jalan cepat, tapi kok Bian malah lari.
Itu pendapat ayu, sebenarnya, Bian tidak curang kok.
Hanya saja Ayu jalannya lambat, lantas Bian lah yang menjadi sasaran empuk.
“Es kirim kak Cetta kan ada, kenapa eskrim Yara yang di makan?!” ucapnya tak terima,
eskrim cokelat berbalut cokelat renyah di luar, di lahab Bian di saat yang punya lengah.
“Loh! Ini es krim aku, aku pikir eskrim kamu?”
Tak merasa bersalah, Bian memakan habis eskrim cokelat, yang juga milik Ayu, di tangannya, menyisakan Stiknya saja.
Mata Ayu menyipit, bibirnya berkerut, bulir bening di matanya mengalir.
Ayu menangis.
“Eh, kok nangis?”
Bian gelagapan.
Bisa di marahi mamanya ia, jika Ayu sampai mengadu.
“Maaf deh, aku minta maaf ya Yara. Ku ganti deh. Kamu mau berapa banyak?” ucapnya membujuk.
Tapi yang di bujuk tak kunjung menghentikan tangis.
“Ayudia, Abinaya Cetta di maafin yah?” mohonnya.
Bian tak mau, jika ibunya tau, Ayu menangis karna ulah nakalnya. Bisa-bisa ia di larang menemui Ayu.
Tangis ayu mereda.
Sebelum Ayu, menghapus jejak basah di pipinya. Mamanya Bian tiba tiba muncul, menghampiri anak-anak di teras rumah, mamanya lebih dulu melihat mata sembab Ayu. Dan tentu saja Bian di omeli habis-habisan.
“Maaf ma.” Ucap Bian kecil tulus.
“Yasudah. Jangan di ulangi lagi” ucap mamanya lembut, pada anak usia delapan tahun.
Tangannya mengusap puncak kepala putra tunggalnya. Bian mengangguk mengerti. Ia tak akan nakal lagi. Sedangkan Ayu tersenyum puas.
*****
“Ayu kenapa tante?” ucapnya panik. Sepulang sekolah. Bian bergegas ke rumah Ayu karena gadis itu tidak masuk sekolah seminggu ini.
Bian dan Ayu berbeda sekolah. Bian sangat khawatir. Di lihatnya, temannya terbaring lemas di atas ranjang, wajahnya yang putih terlihat semakin pucat. Terdapat bulir keringat di pelipisnya. Ayu tertidur setelah meminum obatnya.
“Ayudia, Aku janji akan jagain kamu.”
*****
saat hari kelulusan...
“Cetta kita satu Smp yah?” pinta Ayu, mereka berdua masih mengenakan seragam putih merahnya.
Setelah acara pembagian rapor selesai Bian bergegas pergi ke rumah sahabatnya. Ia ingin berpamitan.
Ayu yang terlihat antusias akan kedatangan Bian. Ia tidak jadi mengganti seragamnya.
Di ruang tengah Ayu dan Bian duduk berhadapan di atas karpet.
“Maaf Yara.”
Tentu saja Ayu bingung.
Kenapa Bian meminta maaf?
Melihat kesulitan putranya, mamanya membantu mengatakan.
“Yara sayang. Kami harus ikut Ayahnya Cetta keluar kota, Ayahnya Cetta di pindah tugaskan di sana.”
“Maksudnya?”
Ayu tidak mengerti.
Mama Ayu menghampiri putri tunggalnya yang kebingungan.
__ADS_1
“Mereka harus ikut, pindah keluar kota.” Ucap mamanya Ayu memperjelas.
“Cetta juga?” tanya Ayu menahan tangis.
Di tatapnya sahabatnya yang menunduk, lalu mengangguk perlahan.
Ayu bangkit, berlari masuk ke kamarnya. Pintu kamarnya ia tutup cepat, menimbulkan bunyi yang mengganggu, ia menangis sejadi jadinya.
Bantal yang ayu peluk, untuk menahan agar isak tangisnya tak terlalu nyaring, basah karna air yang merembes luar biasa, Mamanya pun tak bisa menenangkan.
Akhirnya Ayu tertidur dengan masih mengenakan seragam lengkap, di lantai yang dingin, meringkuk, memeluk bantal. Tanpa ia ketahui bahwa beberapa jam lalu sang penyemangat, ingin melihat wajah tuan putrinya untuk terakhir kali.
*****
Keesokan harinya. Ayu bergegas pergi ke rumah Cetta, baginya kejadian kemarin hanya mimpi buruk. Tak mungkin Cetta akan meninggalkannya.
Larinya memelan saat mendekati rumah yang di tuju.
Saat sampai di pelataran rumah. Ayu memanggil Cetta, berharap ada sahutan.
Tapi nihil.
Tidak ada seorangpun yang menyahut, pintu rumahnya pun di gembok.
Tangis Ayu pecah, sahabatnya benar benar meninggalkannya.
Ayu luruh, ia meraung, sakit sekali, hatinya benar benar sakit.
Ayu tersentak.
Matanya menatap sepasang kaki, tertutup sepatu, di depannya. Cetta berjongkok, lalu tersenyum manis padanya, dan mengatakan,
“Aku tidak jadi pergi.”
Ayu kembali terisak, kenangan saat Bian ingin meninggalkannya dulu berputar di otaknya. Tapi sekarang berbeda, Bian benar-benar pergi.
Dia tidak akan bersedia tinggal demi gadis Cengeng. Bhatinnya
*****
Gadis berseragam putih biru, berjalan santai menuju sekolahnya. Sekolahnya yang sekarang lebih dekat dengan rumah, tidak seperti masa SD nya dulu yang harus menumpang dengan Abian.
Ayu tersentak.
Seperti ada yang tersentil.
“Mau bareng gak?” Ajak teman sekelasnya.
Cowok yang selalu memakai jaket denim, menawarkan agar Ayu menjadi penumpangnya. Dia cowok yang biasa-biasa saja. Tapi jangan salah walaupun terlihat biasa, sepertinya dia punya rahasia.
Ya iyalah semua orang punya rahasia, termasuk Ayu, tapi tidak untuk Abian semua rahasianya ia ceritakan pada sahabatnya.
“Enggak deh lo duluan aja, gue mau jalan kaki, bentar lagi sampai.” Tolaknya halus
Merasa tak tersinggung, Cowok itu mengangguk, lantas melajukan motor gedenya.
Ayu kembali berjalan, susah payah ia menahan genangan yang sedikit lagi lolos.
Ayu kangen dengan sosok ‘kakaknya’ hanya Bian yang memanggilnya Yara. Sudah dua tahun Bian meninggalkannya sendiri.
Dua tahun cahaya Ayu meredup, Ayu jadi cewek pendiam, dan sering terlihat murung. Begitu besar efek seorang Abian Cetta bagi hidupnya.
*****
Sepulang sekolah, Ayu mampir ke minimarket terdekat, ingin membeli eskrim cokelat kesukaannya.
Saat hampir sampai di minimarket tujuan, manik hitam kecokelatannya menangkap dua anak kecil, sekitar usia tujuh atau delapan tahun-nan. Bercanda ria di seberang minimarket, gadis kecil sedang memakai Eskrimnya yang meleleh, sedangkan pemuda kecil memegang satu eskrim di tangan kiri dan satu di tangan kanannya.
Seperti ada yang menahan Ayu, untuk menjauhi interaksi yang tertangkap indera penglihatnya.
Ayu memperhatikan interaksi anak-anak itu.
Matanya menghangat, pandangannya mengabur, dan saat air itu tumpah, Ayu berlari pulang Ke rumahnya, melewati minimarket.
Meninggalkan eskrim yang sejak tadi menunggu di beli.
Ayu berlari sambil mengusap pipinya,
Cetta kamu harus pulang, aku kaya gini gara-gara kamu! Tanggung jawab!
Kenangan sederhana saja sudah mampu membuat Ayudia tak berdaya.
__ADS_1
*****
Ayu masuk kedalam rumahnya begitu saja, langkahnya tidak memelan, membuat sang mama cemas.
Mamanya tak bisa melakukan apa-apa, Ia hanya membantu dengan doa, hanya sahabat putrinya lah yang mampu membuat putri semata wayangnya seperti itu.
Pasti ada yang membuatnya teringat Abian
Ayu membuka pintu, melemparkan tasnya ke atas ranjang, menyambar sebuah bantal bersarung hitam, dan menyembunyikan diri di balik ranjangnya.
Ayu memang seperti ini, dia akan menumpahkan air matanya di balik ranjang, serta sebuah bantal di pelukannya.
*****
Tinggal menghitung hari, Ayu akan menapakki babak baru.
Kenapa babak baru?
Karena mulai lusa seragam putih birunya tergantikan dengan seragam putih abu-abunya.
Masa SMP nya tidak buruk, ya, memang tidak buruk. Tapi hari-hari yang Ayu lalui begitu buruk. Kalian pasti tau penyebabnya apa.
Iya Cetta.
Ayu telah berkomitmen, masa SMA nya harus berbeda. Ia tidak boleh berlarut-larut dalam keterpurukan. Masa SMA nya harus indah, seperti yang kebanyakan orang bilang, kamu akan menemukan sesuatu, yang belum pernah kamu temukan sebelumnya.
Ayu percaya itu. Ia juga mau membuka hati. Membiarkan cinta lain bertamu.
Ayu bisa.
Ayu menatap rintik-rintik hujan dari balik jendela kamarnya. Hujan yah, Ayu jadi teringat masa lalu.
“*Auu!” ringis Ayu.
Kakinya terpeleset, pantatnya mendarat sempurna di atas tanah, yang basah.
“Ck ck ck ck.” Decak bian, dari belakang Ayu*.
*Bian melangkah hati-hati mendekat pada sahabat yang kesakitan. Hujan mengguyur semakin deras, tanah semakin becek,dan licin tentunya.
“Auu!” sekarang giliran Ayu yang berdecak*.
“*Auu!” ringis bian kedua kalinya.
“Sakit Yara!” Ayu mendelik,lalu bangkit berdiri.
Abian juga melakukan hal yang sama*.
Kedua saling menatap lalu tersenyum, senyum yang penuh makna, tidak ada yang tau apa arti senyum Bian untuk Ayu, dan Ayu untuk Bian.
“Auu!” ringis Ayu saat kepalanya di jitak.
*Saat Ayu ingin memukul, Bian sudah berlari menjauh darinya. Ayu tidak tinggal diam, ia mengejar Bian. Mereka akhirnya kejar-kejar-an. Sampai suara melengking mama Ayu masuk ke gendang telinga.
“AYUDIA! SUDAH CUKUP, NANTI ABIAN SAKIT*.”
Ayu terkekeh geli mengingat kenangan terakhir mereka, sebelum besoknya Bian berpamitan meninggalkannya. Ayu menghela nafas panjang,
“Kak Cetta apa kabar?”
“Yara kangen.” Ucapnya sebelum bulir bening jatuh.
*****
Masa MOS telah terlewati dengan baik, sekarang Ayu resmi menjadi murid SMA. Hari demi hari ia lewati dengan suka cita. Ayu serius dengan komitmennya, ia tidak ingin terus di hantui bayang-bayang sahabatnya.
Ayu pikir buat apa di sini ia sulit menjalani hari, sedangkan di sana dia yang di rindu, sedang bersenang-senang.
Semester ganjil telah usai, dan Hari ini menjadi awal semester genap. Tahun baru, semangat baru.
Istirahat. Ayu berjalan sendiri menuju kantin. Obrolan unfaedah dari siswi kelas IPS 3 terdengar olehnya. Kata mereka ada siswa baru di kelas mereka. Ayu tidak peduli. Selama itu tidak mengganggu kenyamanan hidupnya, no problem.
Kaki jenjangnya melangkah ke tempat yang menjual eskrim kesukaannya. Saat Ayu membayar, ia di kejutkan dengan suara yang sangat ia kenali.
“Kamu masih suka eskrim itu?”
Deg!
Ayu menoleh, dunia yang pergi darinya, mendadak menampakkan wajudnya.
*****
__ADS_1