
Bian terduduk lesu di ruang tengah, ia baru saja mendirikan sholat isya. Masih mengenakan baju koko putih, beserta sarung.
Matanya menyorot hampa pada tv yang tidak menyala. Pikirannya kosong, persis seperti saat sang mama meninggalkannya. Tidak ada air mata yang keluar. Ingin rasanya Bian menangis, menumpahkan sesak yang selama ini mengukung.
Sudah berapa lama yah Bian tidak menangis?
Sejak mamanya menghembuskan nafas terakhir, itu terakhir kalinya Bian menangis.
Bian beranjak dari duduknya, berjalan menaiki tangga, menuju kamarnya. Saat tangannya ingin membuka pintu, ia ragu. Rasanya malas sekali jika harus ke kamar, hanya malas saja, tidak ada apa-apa kok.
Ia urungkan niatnya. Abian kembali ke ruang tengah, di ambilnya bantal sofa, di letakkannya pada posisi pojok sofa panjang, lantas berbaring di situ.
Pandangannya berkabut, Bian akan menjadi sosok yang berbeda esok hari. Perlahan kelopak Itu menutup manik yang menggelap.
Sungguh, Abian Cetta di saat tidur seperti bayi yang baru lahir, begitu lemah, seperti belum mengenal jahatnya dunia. Mulai sekarang, perjuangannya akan lebih berat, semoga saja Bian kali ini tidak hancur, apa lagi lebur.
Semoga saja, kali ini keberuntungan berpihak padanya.
*****
Saat Ayu berjalan di koridor menuju kelasnya, ia berpapasan dengan Bian, Bian hendak ke kantin membeli beberapa roti, tadi pagi dia lupa sarapan.
Bukannya maksud Ayu menghadang Bian, tapi langkahnya selalu sama dengan Bian, saat Ayu ke kiri, Bian juga Ke kiri, saat Ayu ke kanan, Bian juga ke kanan. Beberapa saat mereka diam, Ayu hanya menatap sepatunya, Bian menatap ke arah lain. Ayu mulai bergerak ke kanan, ternyata Bian juga.
“Cet...” “Bisa minggir gak?!”
Kaget.
Ayu menatap Cowok di hadapannya, ini bukan Cettanya, Tidak ingin di bentak lebih keras lagi, Ayu menyingkir dari jalan cowok dingin. Bian terlihat seperti kehilangan sisi hangatnya.
Ayu hanya menatap punggung sahabatnya yang kian menjauh. Ayu membuat kesalahan. Tidak seharusnya ia bersikap kurang ajar seperti kemarin.
Bagaimana ini?
Cettanya membencinya. Sebelum air di pelupuk mata tumpah, Ayu lebih dulu melarikan diri ke toilet terdekat, ia menangis di sana, dengan isak yang di tahan, suaranya begitu lirih, namun mampu membuat yang mendengar kasihan.
*****
Lili tercengang saat melihat mata sembab milik Ayu. Ayu melewati Lili begitu saja masuk kedalam kelasnya. Lily yang duduk di selasar kelasnya segera berdiri, dan berjalan mengikuti Ayu. Hari ini teman sebangku Ayu tidak hadir karena sakit.
Lili duduk di samping Ayu yang telengkup. Ayu ingin menghentikan tangisnya, namun air terus merembes keluar. Ia menyesali perbuatannya, tidak seharusnya, Ayu bersikap sangat tidak sopan pada sahabat yang telah lama di tunggunya. Saat Cettanya kembali, ia malah melakukan hal bodoh. Nasi sudah jadi bubur, apakah segini saja persahabatan mereka?
Ayu tidak mau melepas Cettanya, ia tidak akan pernah rela.
Lili setia menunggu temannya tenang. Lili tau ini pasti ada hubungannya dengan sahabat Ayu yang pernah Ayu ceritakan padanya, sewaktu mereka semester satu. Sebenarnya bagi Lili bukanlah hal yang sulit untuk berbaur dan bergaul dengan orang baru, namun dengan Ayu dia perlu waktu tiga bulan untuk bisa lebih dekat.
Lili pikir Ayu tidak akan pernah menceritakan hal pribadinya pada seorang yang baru di kenal. Lili pun bukan tipe orang yang suka ikut campur. Saat ke empat bulan mereka lebih dekat, Lili melihat temannya begitu muram, seperti mentari yang sinarnya tertutup oleh awan hitam yang siap membasahi bumi.
Lili pikir Ayu membutuhkan teman curhat, jadi ia menawarkan diri, tidak di sangka Ayu bersedia, saat selama empat bulan mereka berteman, baru kali ini Lili melihat Ayudia Yara begitu rapuh, satu kesalahan saja, mampu membuat Ayu lebur
“Lo kalo mau nangis, nangis aja. Kelas lumayan sepi kok. Hari ini kita juga pulang lebih awal, guru ada rapat katanya.”
Seketika bahu Ayu berguncang, isak kecil tertangkap pendengaran, Ayu masih sekuat tenaga menahan agar tidak meraung. Sakit sekali.
Terserah jika kalian berpikir Ayu berlebihan.
Kalian tidak akan mengerti jika kalian belum mengalami.
Bisa saja kalian lebih parah dari Ayu.
Saat Ayu merasa lebih baikkan, ia mengangkat kepalanya, Lili masih setia menunggunya. Ayu menerima tisu yang di berikan Lili. Untunglah mereka masuk di kelas yang notaben penghuninya masa bodo dengan urusan orang. Urusan sendiri aja udah riweh, mau ngurusin urusan orang lagi?
Kurang kerjaan emang.
Lily memberikan senyumannya, berharap Ayu merasa ia tidak sendiri, ada Lili di sisinya, yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya. Ayu mewek lagi, tapi kali ia bisa mengontolnya.
__ADS_1
“Lo mau cerita?”
Ayu menggeleng. Ayu tidak ingin mempermalukan dirinya. Walaupun ia tau Lili bukan tipe orang yang suka mencari kesalahan orang lain, tapi tetap saja, Ayu yang malu.
Lili mengerti, ini pasti karena sahabatnya. Hanya dia lah yang mampu membuat Ayu seperti ini, Ayu itu begitu keras kepala, saat ia bilang A ya A tidak bisa jadi B.
Setengah jam berlalu. Hening melingkupi kelas. Semua siswa telah berkumpul di dalam kelas. Karena para dewan guru rapat. Hampir semua kelas mengalami jam kosong. Kelas mereka hening, bukan karena sibuk mengerjakan tugas yang baru saja di berikan.
Karena wali kelas mereka berpesan tugas yang di berikan boleh di kerjakan di rumah. Mereka asyik sendiri, ada yang lebih memilih mabar dengan sesama jenis. Ada yang hanyut terbawa mimpi, ada juga tipikal siswa rajin, kalian paham lah maksud saya.
Teng... teng... teng... teng
Lily beranjak berjalan ke bangkunya, meninggalkan Ayu yang sudah membaik. Ayu harus minta maaf. Gengsi jangan di pelihara. Ini semua juga salahnya, andai saja Ayu tidak berulah. Bian tidak akan marah padanya. Namanya juga andai. Hanya ada dalam khayalan.
“yu, mau bareng?” tawar Lili.
Bukan hanya bareng ke depan yah, Lili juga akan mengantarkan Ayu sampai ke rumah, seringlah Lili mengantarkan Ayu pulang, terlebih saat semester satu dulu.
“Nggak deh, gue ada urusan.”
Ayu harus menemui Bian. Tidak boleh menunggu besok, takutnya Cettanya akan semakin sulit di gapai.
“Oh iya yu, kemarin yang minta di tungguin itu sahabat lo kan?”
Hah.
Belum sempat Ayu membuka suara. Lili lebih dulu berpamitan.
“Gue duluan yah yu, dah.”
Sahabat?
Maksud Lili apa?
*****
Bian tidak menanggapi, setelah selesai menyimpan buku-bukunya di dalam tas, ia beranjak lalu berjalan meninggalkan Dewi yang mencak-mencak, tidak di gubris.
Dewi mengintili Bian saja di belakang, Bian tidak peduli, bahkan Ia tidak menganggap Dewi orang. Moodnya sangat jelek, jangan memancing emosinya, jika tidak mau kena amuk.
Di parkiran, Bian melihat Ayu yang sedang menunggu seseorang, dengan mudahnya Bian mengambil kesimpulan, Ayu sedang menunggu pacarnya, hatinya terasa nyeri.
Si ular berbisa ngitilin Bian sampai parkiran, situ gak tau malu yah.
“Ngapain lo?” tanya Bian judes
“Ya mau pulang sama pacar lah.”
“Udah gih sana ke pacar lo, ngapain masih di sini?” usir Bian tidak suka dengan makhluk yang terus mengekorinya.
Sepertinya Bian lupa dengan permainan yang baru ia mulai.
“Loh pacar gue kan elo?”
Bian tersedak air ludahnya sendiri. Ia terbatuk-batuk, membuat Ayu sedikit khawatir.
Ayu yang berada tidak jauh dari pasangan abal-abal itu, ingin menghampiri Bian tapi tidak nyaman dengan ratu ular.
Ivan mendekat dengan motornya, menghampiri Ayu yang sedang menunggu.
Bian yang menyaksikan itu buru-buru menunggangi motornya, dan menyalakan mesin. Meninggalkan Dewi yang di buat jengkel.
Ayu melihat Bian yang melewatinya, Ayu tidak melihat wajahnya, karena Bian sengaja memakai helm fulface.
Abian salah paham.
__ADS_1
“Gak tau diri emang!” ucap Dewi saat melewati kedua teman satu kelompoknya dulu waktu mos.
“Kenapa dia?” Bingung Ivan.
Ayu mengedikkan bahu, tidak mau tau juga.
Motor matic merah mendekat, menghampiri penumpangnya yang sudah menunggu.
“Yuk berangkat.” Seru Lili pada Ayu.
Ayu segera naik ke atas motor Lili. Ia akan di antarkan pulang oleh sahabat barunya. Ya, dari teman kini naik menjadi sahabat, Ayu kini percaya penuh dengan Lili, sahabat keduanya setelah Abian. Ayu bukan orang yang sembarang memilih teman, apalagi yang di jadikan sahabat.
Kualitas itu penting.
“Duluan Van!” pamit Lili pada teman masa kecilnya.
“Iya, sudah sana.”
Dua gadis itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area parkir.
Kenapa Ayu pulang dengan Lili?
Ayu mengurungkan niatnya menemui Bian dan lebih memilih pulang bersama sahabat perempuannya, karena Ayu melihat Dewi yang mengintili Bian, Ayu pikir Bian akan pulang bersama Dewi, Ayu tidak sanggup harus melihat interaksi keduanya.
Padahal mah Dewi nggak di anggap ada.
*****
“Makasih Li, mau mampir gak?”
Lili telah sampai di rumah sahabatnya.
“Boleh deh.”
Sekali-sekali mampir.
Emang harus kan?
Ini kali pertamanya Lili mampir ke rumah Ayu. Ayu menuntun Lili masuk ke rumahnya.
“Lo duduk aja dulu.” Suruh Ayu, menunjuk sofa dengan dagunya. Lili mengangguk mengiyakan. Selagi Ayu mengambil camilan dan air dingin di dapur, Lili melihat ke sekeliling rumah Ayu, yang dapat di jangkau pandangannya.
Ada satu foto berukuran sedang terbingkai, di letakkan di dalam lemari kaca, menarik perhatian Lili.
Lili beranjak, menghampiri foto itu.
“Ini Ayu kan ya?”
Di lihatnya gadis kecil dengan pipi lebih berisi memeluk boneka beruang, yang lebih besar dari ukuran tubuh gadis itu, dan pemuda seumuran dengan gadis itu, duduk di sampingnya, tersenyum lebar ke arah kamera.
“Ini bukannya cowok tempo hari?”
wajah cowok itu mirip dengan cowok yang...
Prang!
Lili tersentak, segera ia berjalan menuju sumber suara.
Wah, seperti masuk kedalam drakor, Lili terperangah.
Lily seperti melihat Pemuda kecil di foto yang baru saja ia lihat Berdiri nyata di depan matanya, hanya saja versi remajanya.
Pandangannya beralih pada pecahan kaca yang berhambur di bawah kaki Ayu.
Ada apa ini?
__ADS_1
*****