Pasangan Serasi KATANYA

Pasangan Serasi KATANYA
Menginap


__ADS_3

Sudah lama sekali, saat Bian menginap di rumah sahabatnya, sekitar enam tahun yang lalu.


Bian yang telah mengganti seragamnya dengan pakaian yang dulu pernah di belikan mama Ayu untuk dirinya, baru bisa di pakai sekarang, karna memang baru muat sekarang, bajunya masih baru.


Alasan yang sama, membuat dirinya menginap lagi di rumah ini, untuk kedua kalinya.


Waktu Bian pertama kali menginap karna sebuah insiden yang membuat kaki kirinya robek, parah sekali. Saat itu Abian dan Ayu memutuskan bermain sebentar setelah pulang sekolah, mereka masih mengenakan pakaian putih-merah, terdapat halaman yang cukup luas di belakang rumah Ayu, mereka sepakat bermain di sana.


Saat Abian berlari mengejar Ayu yang mendahuluinya, Abian tidak sengaja, menendang botol kaca yang pecah, Bian tidak merasakan sakit di kakinya, tidak membuat laju larinya berkurang, seketika Abian memekik nyaring, saat kakinya menginjak botol kaca yang tertendang sebelumnya. Membuat Bian tidak bisa berjalan normal sepekan.


“Masih sakit?” tanya Ayu di ambang pintu, gadis itu masih mengenakan mukenanya. Bian hanya tersenyum tidak ingin menjawab.


Sebenarnya Bian agak trauma, saat melihat pecahan kaca. Bulu kuduknya berdiri. Meskipun begitu dia masih bisa mengendalikan rasa takutnya. Sekarang Bian trauma, ia tidak ingin berurusan dengan pecahan kaca lagi. Pecahan kaca ya, bukan benda yang terbuat dari kaca, selagi benda itu tidak pecah, its ok.


Ayu berjalan mendekat. Abian yang duduk di atas kasur tersenyum canggung. Ayu berjongkok, mengamati kaki sang sahabat.


“Perbannya mau di ganti?” tanyanya memastikan, perban yang putih terlihat sedikit kotor, karna luka Bian cukup dalam, masih ada sedikit-banyak darah yang menyusup keluar.


“Kamu yang gantikan ya?”


Ayu tidak menjawab, Bian tidak bisa membaca ekspresi Ayu. Ayu keluar dari kamarnya, lima menit kemudian ia kembali dengan kotak p3k di tangannya. Rambut panjangnya ia cepol rapi. Ayu berjongkok, mendongak, melihat sang sahabat, yang sejak tadi memandangnya.


“Sakit bilang yah?”


Bian itu lebih memilih menahan meski sakit sekali, Ayu tidak ingin mengobati jika hanya menambah rasa sakit. Ia ingin mengobati tanpa menambah sakitnya.


“Hmm”


“Bener ya?”


“Iya Yara”


Dengan sangat hati- hati, Ayu melepaskan perban yang melilit telapak kaki Bian. Syukur lah, ‘pendarahan’nya telah berhenti. Ayu meringis dalam hati, terlihat dari wajahnya, Ayu menahan nyeri.


Untuk kedua kalinya, ia mendapati kaki sahabatnya terluka parah, dari objek yang tak pernah di sangka, hanya pecahan kaca loh, terlihat tidak berguna namun mampu menjadi senjata ampuh.


“Di kasih obat lagi? Atau nggak nih?” Ayu telah siap dengan obat di tangannya.


Hampir saja Ayu meneteskannya, jika ia tidak mengingat begitu perih rasa yang akan di timbulkan. Abian menggeleng cepat. Ayu terkekeh, Bian lucu sekali.


“Selesai.” Ucap Ayu merasa puas dengan hasil kerjanya


Ayu berdiri, ia menatap Bian yang terus menunduk, Bian mengamati lukanya yang teetutup rapi, ia tidak ingin mendongak. Ayu melangkah keluar, meletakkan kotak p3k pada tempatnya.


Bian berbaring, kedua tangannya ia rentangkan, Bian menghela nafas lega, lalu memejamkan mata, senyum tak dapat di bendung.


*****


Ivan terduduk lesu, menatap sang kakak di atas pembaringan, kulit Ana yang putih terlihat semakin pucat, kondisinya masih lemah, Ivan datang tepat waktu, terlambat sedikit saja, Ana meregang nyawa. Pelan tapi pasti mata sayu itu terbuka, menatap sang adik yang buram di penglihatan.

__ADS_1


“Ivan?” panggil ana tangannya yang lemah mencoba menggapai tangan adiknya, Ivan segera menggenggam tangan kakaknya. Menyalurkan suhu hangat ke tangan yang dingin.


“Ivan?” ulang ana, Ivan membawa tangan Ana menyentuh wajahnya.


“Ini Ivan kak.” Ana tersenyum, meski samar, Ana tau adiknya sedang menangis. Ivan tidak tega, dan tidak akan kuat, jangan sampai Ana meninggalkannya. Ana yang selalu ada untuknya, Anak sangat berharga untuk dirinya, tanpa Ana Ivan tidak berdaya. Ana menepuk-nepuk pipi sang adik.


“Sudah-sudah. Kakak gak papa. Besok juga sembuh kok.” Ucapnya Lirih.


Ivan menggenggam tangan Ana semakin kuat.


“Van, kakak mau tidur.”


Mata Ana memberat, ia ingin tidur, tidak lama kok.


“Kak...”


“Sebentar saja Van. Nanti kita ketemu lagi ya?”


Ivan menggangguk, kakaknya tidak pernah berbohong padanya, jika Ana bilang sebentar, maka hanya sebentar. Ivan mengecup kening sang kakak, air menetes di sudut mata Ana yang terpejam. Tidak lupa Ivan mengelus surai indah Ana.


“Mimpi indah.”


Lalu berlalu meninggalkan kamar rawat Ana. Sebenarnya Ivan berat ingin meninggalkan kakaknya sendiri. Kakaknya berpesan, jika Ana sedang tidur, Ivan boleh keluar, Ana memikirkan perasaan adiknya, jika Ivan terus menemani dirinya, perasaan Ivan semakin tidak menentu, ia akan berpikir macam- macam. Lagi pula ada perawat yang selalu berjaga dan siaga di saat darurat. Ana baik- baik saja.


*****


“Ivan?” Lirih gadis hampir tidak terdengar, ia memandang prihatin pada sosok yang tengah tertidur menunduk, bersandar pada kursi, kedua tangan cowok itu di lipat di depan dada.


“Lili?”


*****


Setelah mendirikan salat isya, Lili menyelinap ke kamar Arya, kebetulan Arya lagi nonton tv dengan sang ayah, niatnya sih ingin mengobrak-abrik koper Arya yang belum sempat di bongkar, eh aksinya malah kepergok saat resleting koper pertama belum selesai di buka.


Arya merasa tidak ada acara yang menarik, lalu ia pergi ke kamar untuk membereskan kopernya. Saat tiba di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka, ia berkata,


“Pencuri kecil beraksi.”


Bukannya Arya menuduh, ia ingat betul pintu kamarnya tertutup rapat. Arya membuka pintu, benar kan dugaannya memang sedang ada pencuri.


“Cari apa?”


Lili membeku, lalu berbalik kaku. Lili nyengir, ketahuan mencari sesuatu. Arya melangkah mendekati adiknya yang mendadak gagu. Dengan tangan bersedekap Arya memberikan sorot tanya pada Lili, tau adiknya itu takut di marahi, segera Arya mengalihkan topik.


“Ivan sekarang di rumah sakit.” Pernyataan Arya sontak membuat Lili hampir jantungan. Lili melotot pada Arya.


“Kakak gak bohong.” Tegas Arya. Walaupun dirinya tidak terlalu suka Ivan, bukan berarti Arya mengada-ngada.


“Yang sakit kakaknya, Ana.” Ralat Arya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan informasi itu Lili langsung otw menuju lokasi, dan Arya yang menjadi ojeknya. Arya hanya mengantar, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


*****


Lili tersenyum, lalu berdiri, menepuk kedua pundak sahabatnya, memberikan semangat.


“Lo kuat.” Ivan tergelak. Ia terkekeh sebentar. Lili beranjak duduk.


“Tau dimana aku disini?”


heran Ivan, Ivan tidak mengatakan pada Lili jika Ana di rawat, dan rumah sakit ini, ia tidak memberitahukannya pada siapa pun kecuali pada seorang pria tadi sore.


“Kak Arya yang kasih tau?” tebakan Ivan di angguki cepat Lili.


“Kamu gak pulang?” tanya Ivan setelah melirik jam tangannya, Lili menggeleng.


“Hampir jam sembilan loh ini?” Ivan mencoba meyakinkan Lili agar pulang saja. Ia bisa sendiri di sini. Menjaga Ana sepanjang malam.


“Gue mau temenin lo di sini.” Kata Lili yakin. Tentu saja Lili akan tetap di sini, Ivan sahabatnya, dan Ana sudah seperti kakak kedua untuknya. Ana sering mengajak Lili mengobrol selagi Ivan sibuk dengan game. Dari Ana juga lah Lili jadi tau seluk beluk kehidupan Ivan. Maklumlah Ivan kan cowok jutek yang gak banyak ngomong. Sebelas dua belas lah dengan Lili.


*****


Bian membuka mata, sejak kapan dia tertidur? Bian beranjak duduk.


“Mana Yara?”


Bian tertidur di kamar Ayu. Bian berdiri, mencoba berjalan, perlahan ia langkahkan kakinya, bisa. Meski tertatih, setidaknya ia sudah bisa berjalan ‘normal’.


Bian termenung, Ayu tertidur pulas di sofa dengan selimut tipis namun cukup hangat, menutupi paha sampai lehernya. Wajahnya terlihat begitu damai. Seperti bayi yang baru saja terlelap. Fokus Bian teralih pada buku yang berhambur di bawahnya, Bian duduk di bawah sofa yang di jadikan Ayu kasur.


Tangannya meraih buku catatan Ayu di atas tumpukan buku paket. Di bukanya buku itu, suara lembaran kertas yang di buka terdengar merdu. Setelah kenyang melihat-lihat tulisan tangan Ayu. Tangannya terjulur mengambil novel fantasi yang tertindih buku fisika. Bibir Bian menipis,


“Kamu masih suka vampir?”


Ayu sangat suka cerita berbau mitos, ia penasaran seberapa imajinatif penulis yang berhasil menciptakan karya yang membius pembacanya. Apa lagi novel fantasi, yang di tuntut berimajinasi luas. Tidak heran novel dengan tema vampir dan kawan-kawannya menjadi salah satu yang di gemari Ayu. Cover yang menarik, serta sinopsis yang memikat, berhasil membuat Bian tertarik. Bab pertama telah tuntas di bacanya.


“Ternyata seru juga.”


Bian mengubah posisinya, dari duduk menjadi berbaring, ia berbaring di samping Ayu lebih tepatnya di bawah sofa yang Ayu rebahi, Bian meletakkan kepalanya di atas bantal yang Ayu pakai sebelum Ayu tertidur di sofa. Abian tidak kedinginan kok. Lantai yang dingin terhalau dengan karpet yang terhampar sepanjang Area tv. Merasa terhibur Abian melanjutkan kegiatan membacanya, entah sudah sampai di bab berapa, ia tertidur, dengan novel yang terbuka menutupi wajahnya.


Dini yang keluar dari kamarnya melihat kedua anaknya tertidur pulas, melengkungkan bibirnya. Dini kembali ke kamar, mengambil dua selimut. Satu untuk Bian dan Satu untuk Ayu. Malam semakin larut, udara yang sejuk berubah dingin. Tidak mungkin kan Dini membiarkan kedua anaknya tidur kedinginan di luar sementara ia tidur dengan nyaman di kamar?


Untung saja tidak ada nyamuk. Setelah selesai menyelimuti keduanya, Dini mengambil novel yang menutupi wajah Bian.


Bian ataupun Ayu tertidur pulas.


“Sepertinya mereka kelelahan sekali?”


Dini tidak tau saja apa yang putri dan calon menantunya alami.

__ADS_1


*****


__ADS_2