Pasangan Serasi KATANYA

Pasangan Serasi KATANYA
I am back


__ADS_3

Senang rasanya, aku bisa menjalani hari seperti biasanya.


Ingat biasanya.


Sebelum sahabatku meninggalkanku tepatnya. Aku sudah berjanji, aku bisa tanpa dirinya. Memang sulit selama tiga tahun terakhir, namun, semenjak aku duduk di bangku SMA, semuanya terasa lebih mudah.


Berkat bantuan tekad yang kuat. Kupikir tidak akan ada lagi masalah pelik yang menimpa diri ku. Tapi ternyata perkiraanku salah. Perjuanganku yang sebenarnya baru di mulai.


Saat aku, berjalan di koridor menuju kantin, sayup-sayup obrolan dari siswi sepuluh ips tiga. Terdengar olehku. Si ketua geng bilang, ada cowok baru di kelas mereka. Aku sih bodo amat, selama tidak mengganggu kesejahteraan hidupku.


Its ok.


Sampainya di depan kantin, kulihat dari berbagai macam penjual di penuhi kerumunan, dari yang pembelinya cowok semua, cewek semua, sampai campuran.


Eh! Campuran di sini bukan bencong yah.


Maksudnya pembelinya ada yang laki-laki ada juga perempuan. Kaki ku melangkah pada kedai di kantin yang menjual aneka makanan ringan, dan pengganjal perut.


Ku buka tempat pendingin eskrim yang kucari berada. Setelah eskrim di genggaman, tanganku terulur menyerahkan uang lima ribu.


Betapa kagetnya aku, suara yang sangat familiar, meski sedikit agak berbeda di tangkap telingaku.


“Kamu masih suka eskrim itu?”


Deg!


Sebenarnya aku tak ingin menoleh, tapi kepalaku tergerak sendiri, aku ingin memastikan, itu bukan suara dia.


Oh tidak.


Untuk beberapa detik, nafasku ku tahan. Aku terperangah, setelah apa yang dia lakukan, setelah rasa sesak yang dia ciptakan. Sekarang dia muncul di hadapanku.


Seperti ada yang nyeri, itu dimana yah?


Kuteliti dia dari ujung sepatu sampai ujung rambut. Aku tidak salfok dengan postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku, tapi seragamnya.


Dia memakai seragam yang sama denganku. Feelingku mengatakan dia murid baru itu. Apa yang harus ku lakukan.


Pura-pura tidak kenal? Hanya itu yang terlintas di otakku.


“Kamu apa kabar?” katanya sambil tersenyum manis padaku.


Ah, haruskah aku membalas senyumnya?


Inginnya sih begitu, tapi kedua sudut bibirku tidak mau terangkat. Ku abaikan pertanyaannya, dengan wajah datar andalanku, aku berjalan melewatinya, selagi aku berjalan kulihat cewek yang sangat kuhindari, berbisik pada temannya. Meski aku tidak mendengar bisikan mereka, aku tau mereka sedang merencanakan sesuatu.


Semoga saja tidak akan menyulitkanku.


Sampainya di kelas, aku merebahkan kepalaku di atas meja, menghadap pada tembok. Aku jadi tidak selera memakan eskrimku, dari pada meleleh sia-sia, kusedekahkan saja pada teman sebangkuku, dia juga penggemar cokelat kok.


Aku menghela nafas lelah. Perasaanku sedang di uji. Aku tetap pada pendirianku.


Memangnya kenapa kalau dia kembali?


Tidak akan mengubah apa-apa.


Suara bel tanda istirahat berakhir berbunyi, aku mengangkat kepala, duduk tegak, temanku yang lain menghampiriku, dia bilang


“Yu, tadi ada cowok yang nyariin lo, katanya tungguin dia sepulang sekolah.”


Aku mengernyit, cowok?


Perasaan aku gak akrab sama cowok.


“pacar lo?” tanyanya.

__ADS_1


Temanku ini dia masa bodo sama urusan orang, jadi saat ada sesuatu dia hanya jadi pendengar dan pengamat yang baik saja, dia juga bukan orang yang kepoan.


“Nggak! Gue gak punya pacar.” Kulihat dia mengangguk percaya.


Emang bener kok aku gak punya pacar, dan Nggak akan pernah pacaran juga. Suka sama cowok aja nggak.


Eit! Tunggu dulu, aku gak belok ya. Aku seribu persen normal, maksudku suka yang itu tuh, kalian paham lah maksudku, apa lagi yang sedang kasmaran nih yeh, cie.


“Saran gue sih jangan lo temuin, langsung pulang aja.” Katanya lagi.


Kapan lagi aku punya teman pengertian seperti ini. Aku membalasnya dengan acungan jempol dan senyum terbaik ku.


Sepulang sekolah, aku melakukan apa yang di sarankan Lili. Tepat saat guru keluar kelas aku juga ikut keluar, sebenarnya aku malas berdesak-desakkan. Apa lagi saat mendekati gerbang, ampun deh itu sesek nya.


Meski tubuhku yang terbilang tinggi dan langsing juga, tetap saja bersesakkan itu menyebalkan.


Tuh kan, dari selasar loby aja udah keliatan.


Males banget.


Saat aku hampir meninggalkan area loby. Langkahku berhenti. Spontan aku berbalik arah, dengan langkah yang terburu-buru aku kembali ke kelas.


“Nah!” seruku, saat kutemukan kotak pensilku, masih dalam keadaan terbuka di bawah kolong meja, bener gak sih kolong? Itu loh yang biasanya untuk nyimpan barang-barang kalian di bawah meja.


Segera ku masukkan kedalam tas gendong warna pink kesukaanku. Setelah merasa tidak ada yang tertinggal lagi, aku berjalan meninggalkan kelas yang sunyi itu.


Baru lima langkah menjauhi kelas, aku tersentak, saat suara yang tidak asing menyapa pendengaranku.


“Yara!” aku mematung sebentar. Berbalik, jangan. Berbalik, jangan. Aku menimbang-nimbang keputusan mana yang harus ku pilih.


Akhirnya aku berbalik saja.


Dia tidak memakanku kan?


Tingginya, sekarang aku baru salfok.


Tinggiku yang seratus enam puluh lima hanya sebatas lehernya.


Lagi, dia tersenyum manis padaku. Kali ini aku membalasnya meski kaku.


Tunggu sebentar, jangan bilang dia yang minta di tungguin?


“Bian!” panggil seorang cewek setengah berlari, menghampiri Cetta.


“Maaf ya lama, yuk pulang!” saat kalimat itu di ucapkan seperti ada yang tergores.


Dari arah belakang mereka kulihat seorang cowok yang tidak ku kenali berjalan terburu-buru, seperti tidak ingin di tinggalkan.


Aku berbalik. Aku yang kegeeran, cetta tidak sedang menungguku.


“Ayu!” panggil seseorang. Belum sempat aku berbalik, cowok itu sudah tiba di hadapanku, ia terengah.


“Sukur deh lo belum pulang, gue mau ngomong sama lo.” Ucap cowok yang tidak ku ketahui namanya. Aku memasang wajah bingung.


“Gue udah titip pesan sama temen lo, di sampeinkan?”


oh.


Dia toh, orangnya.


Kenapa dia minta di tungguin? Kenal aja nggak. Malah ini pertama kalinya aku melihatnya.


Aku hanya mengangguk. Aku memang seperti ini tak banyak bersuara saat di hadapkan pada lawan jenis.


“Bisa kita cari tempat?” tanyanya padaku, emang mau ngomong apa sih?

__ADS_1


“Nggak! Kalo mau ngomong di sini aja.”


Tolakku agak kasar.


Aku tidak suka ini.


Sekilas kulirik wajahnya yang terlihat ragu. Pandanganku beralih fokus pada bibir yang hendak mengatakan sesuatu, namun seperti tertahan. Aku menunduk, kenapa aku gugup yah?


“ Ayudia gue...” katanya menggantung.


“Gue...”


“Gue su...”


saat dia hampir menuntaskan kalimatnya, aku terperanjat, tanganku di sambar oleh tangan orang yang telah melepaskan ku tiga setengah tahun yang lalu.


“Abian!” teriak Dewi ketika Cetta meninggalkannya dan menggandeng tanganku menjauh dari mereka.


Kulihat wajah Cetta dari samping menahan kesal. Aku tidak bisa berkutik saat tangannya menggenggam tanganku.


Setibanya kami di parkiran, Cetta melepaskan tanganku. Kulihat parkiran telah sepi, hanya ada beberapa motor murid yang tersisa. Dia menyerahkan helm nya padaku. Aku diam, mengamati helm di kedua tanganku.


“Pakai!” suruhnya, aku mendongak, kulihat helm merah telah bertengger nyaman di kepalanya. Kulihat motor yang pernah di pakai papanya, sekarang di pakai olehnya.


Maksudnya apanih?


Pulang bareng gitu?


Aku gak mau?


Aku menyerahkan helm pada Cetta dia pun menerimanya. Aku berlari meninggalkan parkiran.


Gengsi aja di gedein.


Dasar aku.


Sekarang kamu pulangnya gimana?


Jalan kaki?


Kalo gitu ceritanya baru sore aku sampai rumah.


Langkahku terhenti saat motor gede menghalau jalanku. Cetta membuka kaca helmnya.


“Naik, Gue tau gak ada yang bisa jemput lo.” Ucapnya begitu saja.


Aku tidak peduli, biarkan saja besok kaki ku sakit. Aku kembali berjalan. Tapi saat dia berkata lagi. Kali ini aku tidak bisa menolak.


“Mamamu yang nyuruh, pulang sama aku.”


Ah, mama.


Waktu itu sebelum aku berangkat sekolah, mama bilang sahabat kecilku lusa kemarin kembali, dan satu sekolah denganku. Tentu saja aku tau siapa yang di maksud. Tapi aku tidak percaya.


Yang sudah pergi ya pergi saja, ngapain datang lagi?


Cetta menghampiriku dengan motornya, aku diam mematung, tidak berani menatapnya. Di serahkannya helm yang tadi kutolak. Ku sambut helm itu dan memakainya.


“Bisa naik?” katanya memastikan ku, apa aku bisa naik di atas motornya dengan rok semata kaki.


“hmm” itu saja jawab ku. Aku tidak perlu khawatir, betisku akan terlihat. Karna aku selalu memakai celana panjang di balik rok ku.


Jadi beginilah awal duniaku kembali. Sulit kupercaya. Satu yang kutekankan di dalam hatiku. Yang sudah pergi, ya pergi saja.


*****

__ADS_1


__ADS_2