Pasangan Serasi KATANYA

Pasangan Serasi KATANYA
Awal pertengkaran


__ADS_3

Ayu sangat menikmati eskrim di hadapannya. Eskrim cokelat yang sangat enak. Ia diam sejenak,


Cetta pasti juga suka eskrim ini.


Tanpa di ketahui Bian. Yaranya masih sangat peduli padanya. Sikap Ayu yang sekarang, tidak sesuai dengan hatinya. Ayu melirik eskrim dengan campuran keju di depan Ivan. Ayu meneguk ludahnya, sepertinya enak?


Ayu tentu saja berpikir dua kali. Ia tidak suka keju. Mengingat Bian sangat menyukai keju, membuat Ayu berpikir dua kali. Apa keju seenak itu yah?


Saat Ivan menyendokkan eskrim keju kerah mulut Ayu, Ayu ingin menolak. Tapi, eskrim itu terlihat sangat menggugah, ayu spontan membuka mulut, Ivan juga tidak akan salah paham.


Benar ternyata,


Maaf ya Cetta, dulu aku sering menolak berbagai makanan mengandung keju dari mu. Tidak kusangka. Ternyata keju seenak ini.


Telinga Ayu dan ivan mendengar langkah kaki kasar mendekat, mereka sontak kaget.


Sejak kapan Cetta ada di sini?


Ayu sontak berdiri, dari wajahnya terlihat khawatir.


Apa yang di pikirkan Cetta?


Ayu pasrah saja, saat dirinya di seret keluar dari resto agak kasar. Ayu melihat raut kekesalan yang berbeda dari wajah sahabatnya.


Sepertinya akan terjadi bencana?


Ayu menghempaskan tangannya kasar dari genggaman Bian. Ayu memang di seret, dengan tanggannya yang di genggam. Bukannya di seret seperti penjahat.


Bian memang kesal, tapi perlu di ingat, dia tidak akan melampiaskan ‘kekesalannya’ pada gadis yang di cintainya. Bian tidak akan pernah bisa menyakiti fisik Ayu, tapi bagaimana dengan hati Ayu?


“Apa sih mau lo?!” tanya Ayu tak santai, ayu tidak terima di perlakukan seperti ini. Ia seperti terciduk berselingkuh. Bian memijit pelipisnya, kepalanya mendadak pening.


“Pulang.” Ucap bian lembut. Ini perintah muntlak, tangan ayu kembali di raih Bian, namun hanya bertahan satu detik, ayu menarik tangannya.


“Lo duluan aja.” Ayu hendak berbalik tapi tidak jadi, pertanyaan Bian membuatnya jengah.


“Pulang sama pacar lo?” ayu berjalan mendekati Bian, tangannya terkepal kuat, menahan emosi yang akan meledak. Mata Ayu memincing.


“IYA!” ucap Ayu keras, tidak peduli banyak pasang mata yang menonton. Bian suka seenak jidatnya, mengatur Ayu sesuka hati.


Dia baru kembali, sekarang ingin menunjukkan kekuasaannya lagi?


Ayu kehabisan akal menghadapi manusia egois ini.


Bian mendecih, senyumnya mengejek, tatapannya mengintimidasi, kedua tangganya ia lipat di depan dada.


“Lo gak akan bisa tanpa gue.”


Dengan tingkat ke-pede-an di atas rata-rata dengan entengnya Bian mengatakan itu, ia tidak tau saja, sikapnya seperti itu membuat Ayu semakin muak.


Ingin sekali Ayu mencakar wajah sok gantengnya Bian, walaupun ia tidak akan pernah bisa melakukannya.


“TERSERAH!”


Ayu muak sekali, lebih baik tidak usah kembali, jika hanya memperburuk keadaan.


Ayu kembali masuk kedalam resto. Ia meminta maaf atas apa yang terjadi pada Ivan.


Ivan memakluminya, orang yang cemburu memang seperti itu.


Setelah membayar semua eskrim yang mereka makan, Ayu dan Ivan berjalan menuju motor yang akan mengantar mereka pulang.


Tuhan punya rencana lain.


Saat di tengah perjalanan, ponsel ivan berbunyi. Ivan terpaksa menepikan motor, ia mengangkat telpon dari kakaknya. Wajah Ivan terlihat panik. Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ivan dengan berat hati mengatakan


“Sorry nih yu, gue gak bisa anter lo pulang, gue harus ke rumah sakit, kakak gue butuh darah gue.”


Ucapnya tidak tega masa iya, ivan meninggalkan Ayu. Rumah Ayu masih jauh. Sedangkan kakaknya mengalami kecelakaan, yang membuatnya kehilangan banyak darah, orang tuanya tidak sedang bersama mereka.


Ivan tinggal berdua saja di rumah dengan kakak perempuannya.


Ayu mengerti.


“Iya gak papa kok, gue bisa minta jemput sama orang rumah, udah sana, kakak lo lebih penting.”


Ayu memang pengertian.


“makasih yah yu!”


Ivan sangat berterima kasih. Motor ivan menghilang dari pandangan Ayu, rumah sakit dan rumahnya berlawanan arah, keputusan yang tepat meninggalkannya di sini. Jika Ivan mengantarkan Ayu sampai rumah, sudah di pastikan, Ivan akan terlambat menyelamatkan kakaknya.


Ayu menghela nafas panjang, sambil menyusuri jalanan yang ramai. Ayu berbohong, ia tidak membawa ponsel.


Bagaimana caranya meminta jemput?


Ya sudahlah ayu juga tidak masalah. Ayu memang baik hati. Ia senang membantu. Tanpa Ayu ketahui sahabatnya dari jauh menjaganya.


*****


Ayu berjalan sampai ke rumahnya. Hari sudah sangat sore. Ibunya pasti mengomelinya. Tepat akan membuka pintu, mamanya Ayu membuka pintu lebih dulu.


Ayu menunduk tidak berani menatap mamanya. Sulit Ayu percaya, mamanya tidak mengomelinya, malah usapan di puncak kepalanya yang Ayu rasakan. Di liriknya mamanya, wajah teduh itu membuat Ayu tenang.


“Masuk Bian, tante masak banyak hari ini.”


Eh!


Ayu menoleh, tepat di belakangnya Bian berdiri satu langkah di belakang Ayu.


Pantesan, mama Ayu tidak marah. Di kiranya Putrinya di anterin calon menantunya.


Ayu mendelik, masih belum selesai ternyata.


Ayu masuk begitu saja ke dalam rumah.


Sebenarnya Bian tidak meninggalkan Ayu. Bian tidak akan tenang, jika belum memastikan Yaranya pulang dengan selamat.


Di tengah perjalanan, di lihatnya motor Ivan berhenti, Ayu turun. Bian tidak ingin berprasangka buruk. Ivan pasti punya alasan kenapa menurunkan Ayu di tengah jalan.

__ADS_1


Bian ingin menghampiri Ayu. Bukannya ia gengsi hanya saja, setelah apa yang terjadi di resto, Bian rasa lebih baik seperti ini.


Menjaganya dari jauh saja itu sudah cukup.


“Masuk nak!”


“Iya tante.”


Sudah lama sekali iya tidak ke rumah ini. Di lihatnya rumah yang menjadi rumah keduanya. Masih sama. Tidak ada yang berubah sama sekali.


*****


Ayu masuk ke dalam kamarnya, setengah tubuhnya di rebahkan di atas kasur, masih mengenakan seragam lengkap, ia malas berganti baju. Baru sedetik ayu menutup mata.


Terjingkat.


Segera Ayu bangkit menjauh dari ranjang.


“Ngapain lo?!” kaget Ayu,


Bian dengan nyamannya berbaring di atas kasur Ayu.


Bian mengikuti Ayu sampai ke kamarnya, di lihatnya Ayu yang merebahkan diri, jiwa iseng nya terpanggil.


Bian merebahkan diri kasar di kasur yang sama, membuat ‘gempa’ kecil. Tentu saja Ayu akan marah padanya.


Bian sangat menantikan dirinya di omeli Ayu.


Aneh ya, di omelin kok suka?


Begitulah Bian semua yang ada pada diri Ayu, ia menyukainya.


Bucin memang.


Bian sangat menyukai detik-detik ini. Ayu menutup matanya, dadanya naik turun, ayu berusaha menahan emosi yang membuncah dada. Kedua tangannya mengepal kuat, jika Bian berulah lagi, Ayu tidak segan menonjok wajah, sok tampannya itu.


“Yara sayang.”


Hebat ya Bian. Ayu yang siap menghantamnya, berhasil di buatnya, apa ya?


Seperti melihat hantu.


Ayu bergedik ngeri, ia merinding.


Bian sedang dalam mode jahil.


Wah bisa muntah Ayu kalau begini.


Bian terus mengencarkan serangannya, ia bangkit berjalan mendekat pada gadis, yang menahan jijik.


Iuh.


Ayu tidak suka ini.


Cetta kamu kenapa bisa jadi semen-jijikan ini sih.


Habis Ayu.


Bian berhenti saat jarak di antara mereka, tersisa selangkah. Punggung Ayu menyentuh tembok, wajah Bian menyendu, kenapa lagi ni anak?


“Yara.” Panggil Bian lirih. Kenapa Ayu sekarang jadi tidak tega. Hanya Bian yang mampu membuat perasaan Ayu jungkir balik.


Ayu menghela nafas panjang. Hari ini banyak sekali yang terjadi. Ayu mendengar saat Cettanya, ‘menembak’ Dewi.


Kenapa harus Dewi coba? Kaya nggak ada cewek lain aja.


Dewi itu licik.


“Cetta...” “Yara...”


Panggil mereka bersamaan.


“Lo duluan.” “Lo duluan.”


Lagi.


Kali ini Bian yang membuka suara.


“Lo beneran pacaran?” Bian hanya ingin memastikan, walaupun ia sudah tau jawabannya.


“Kalau iya kenapa?” jawab Ayu enteng.


Memangnya kenapa kalau Ayu pacaran?


Ada masalah?


memangnya akan merugikan Bian?


Sepertinya tidak tuh?


“Lo juga pacaran kan?” tanya Ayu balik, dengan nada mengejek.


Bian blank sesaat.


“Iya!”


Bian pikir Ayu balas dendam padanya. Karena Bian pacaran tanpa memberitaunya jadilah Ayu juga pacaran di belakangnya.


“HAHAHAHAHA.”


Bian tertawa kencang. Membuat Ayu kebingungan.


Sepertinya Bian tidak meminum obat nya?


“Lo cemburu sama gue?” tanya Bian di sela tawanya.


“NGGAK!”


Ayu tidak sadar suara yang ia keluarkan seperti membentak, terdengar tidak bersahabat.

__ADS_1


Bukan ini yang Ayu harapkan.


Ayu menatap wajah Bian yang memerah, Bian naik pitam.


Sorot hangat yang selalu Abian berikan pada Ayu, berubah. Ayu tidak suka sorot itu. Bian marah.


Ayu membuat Bian marah.


Untuk pertama kalinya, Ayu melihat sisi menyeramkan sahabatnya. Ayu menunduk ketakutan.


“Muak gue sama lo!” ucap Bian lantas berlalu meninggalkan Ayu yang sangat shok.


Bulir bening jatuh, hatinya berdenyut nyeri. Tungkai nya melemas, Ayu luruh ke lantai.


“Lo bukan sahabat gue.”


*****


Ayu telah mengganti seragamnya, pakaian sehari-hari melekat nyaman di tubuhnya.


Kenapa jadi begini?


Hubungannya dengan Abian semakin buruk. Keduanya terbawa emosi, tidak ada yang mau mengalah, sama-sama egois, lebih mengikuti gengsi yang selama ini mengekang. Keduanya tersiksa, baik Abian atau pun Ayudia tidak ada yang mau mengaku.


Kalau terus begini persahabatan mereka bisa hancur, di tambah permainan yang baru mereka mulai. Menambah keruh hubungan ini.


Ayu membeku saat di lihatnya Bian sedang melahap soto, yang di siapkan mama Ayu, di meja makan. Sedari tadi perut Ayu berbunyi, meminta makanan masuk. Di lihatnya jam yang tertempel di dinding, Pukul setengah enam sore.


Kenapa Abian belum pulang?


Bukannya mereka baru saja bertengkar yah?


Hey Ayolah mereka bukan anak-anak lagi. Pikiran mereka lebih dewasa, walaupun masih menyisakan banyak sifat childish nya.


Ayu berjalan menghampiri meja makan, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Bian. Bian melirik sebentar, Ayu memang ratu acting. Pandai sekali ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Jika ada ratu, pasti ada raja. Bian lah rajanya. Ayu belum mengetahui semuanya, wajah dari Abian Cetta.


Mereka saling melirik, saat tangan Ayu menimpa tangan Bian.


“Itu air Bian nak.” Kata mamanya, terlihat salah tingkah.


Bukannya kebalik ya?


Yang harusnya salting itu mereka berdua, kenapa jadi mamanya?


Wanita berjilbab hitam merasa situasi tidak kondusif, di rasanya, ada Aura membunuh di antara kedua anaknya.


Ayu menarik tangannya cepat, setelah tersadarkan.


Bian mengambil alih gelas berisikan air putih, lalu di teguknya air itu sampai tandas. Bian telah selesai makan. Bukannya bersiap untuk pulang, seperti niat awalnya, selesaikan dulu makan, baru setelah itu pulang.


Ah, benar juga. Maksudnya selesaikan dulu makan itu untuk Ayu, setelah Ayu selesai makan baru Abian pulang.


Emang yah buat orang yang terlalu cinta tuh, susah banget berpisah dengan dia untuk sementara. Padahalkan besok ketemu lagi.


“Ngapain masih di sini? Nggak pulang?”


Si Ayu mengusir halus atau kasar ya?


Bian diam saja, ia menatap Ayu dengan sorot yang tidak bisa Ayu artikan. Bian sebenarnya masih marah atau tidak sih sama Ayu. Kalau Ayu sih udah nggak, toh itu juga salah ia.


“Ayu nggak boleh gitu sama menantu mama!” tegur mamanya yang duduk agak jauh, sengaja ingin menonton interaksi kedua anaknya.


“Mama!”


Ayu tidak terima, menantu katanya, siapa?


Bian?


Tidak.


“Yara! Gak boleh gitu sama mama.” Tegur Bian. Ia tidak suka Yara seperti membentak mamanya. Bian juga tau, mama Ayu juga Cuma bercanda.


“Tuh dengerin kata suami kamu.” Kata mamanya lagi membuat situasi semakin panas.


“MAMA!”


“YARA!” tegur Bian tak kalah nyaring.


“Apansih lo! Pulang sana! Ngapain masih di sini?!” usir Ayu sambil berdiri. Ayu terbawa emosi lagi,


Ayu lagi dapet ya?


Bian berusaha menahan emosinya, jangan meledak. Tidak, jangan sampai dia kelepasan, Bian tidak mau membuat Ayu membencinya.


“Ayudia!” mamanya menegur, anaknya kenapa seperti ini?


Ayu bukan gadis yang suka membentak, terlebih suara Ayu juga meninggi. Ada yang tidak beres.


“Maaf tante, Bian pulang dulu.” Pamit Bian sopan, sebelum Ayu semakin tidak terkontrol, lebih baik ia pergi saja, Ayu tidak mau melihat dirinya sekarang.


Mama Ayu mengangguk, segera Bian berlalu.


Mama Ayu tidak enak, Bian pemuda yang baik, ia sangat menyayangi mamanya, mama Ayu pun tau, Alasan sebenarnya, kenapa Bian sekarang kembali ke sini.


Yang mama Ayu tau, saat sahabatnya berpamitan, akan ikut suaminya keluar kota, itu untuk selamanya, mereka tidak akan kembali lagi kesini.


Kondisi Bian sekarang belum sepenuhnya pulih, dan mama Ayu tau itu. Sekarang putrinya malah menambah beban Abian.


ada apa dengan putrinya?


Dini mendekat pada putrinya, Ayu yang masih berdiri berangsur duduk. Tangan kanannya mengepal di atas meja. Matanya menghangat, pandangannya mengabur, dadanya menyesak.


Tangan Ayu segera bergerak memeluk pinggang mamanya. Dini mengelus rambut anaknya perhatian. Ayu seketika meraung, sadar apa yang baru saja ia lakukan.


“Maaf mama.”


*****

__ADS_1


__ADS_2