Pasangan Serasi KATANYA

Pasangan Serasi KATANYA
Duka


__ADS_3

Matahari belum menampakkan wujudnya, gadis yang mulai bertenaga terbangun lebih dulu. Ana membuka mata yang masih enggan terbuka perlahan. Yang pertama kali di lihatnya, tangan kirinya yang di genggam erat adiknya yang tertidur nyaman menungguinya. Ivan merebahkan kepalanya pada bagian pinggir kasur Ana, wajah damai Ivan membuat Ana tenang.


Mata lentik itu menyorot pada gadis yang tengah tertidur di atas sofa panjang, terselimuti jaket. Ana mengenali jaket hitam itu. Hadiah yang di berikan Ana pada ulang tahun Lili yang ke enam belas, baru dua bulan yang lalu. Lili sangat senang mendapatkan kado itu, apa lagi jaket yang sudah satu bulan ia tag. Niatnya Lili akan membeli jaket itu nanti, setelah keperluan sekolahnya telah ia beli, maklum lah, uang tabungannya tidak cukup.


Lili sampai loncat- loncat di atas kasurnya saat membuka kado dari Ana. Ia berdoa, semoga Ana menjadi kakaknya.


Ana itu baik banget, ingat pakai banget. Sungguh bahagia Ivan menjadi adiknya, Lili bukannya mau durhaka sama kakaknya, namanya kakak adik, sifat Lili dan Arya gak beda jauh, Lili emang dingin tapi tidak sampai membeku, beda dengan Arya, kedinginannya dari jarak satu km saja sudah terasa.


Ana mempererat genggaman yang menyalurkan kehangatan, ingin sekali Ana memeluk Ivan, adik bandelnya yang selalu ia omeli.


*****


Alarm salat dari ponsel yang terjepit badan gadis, membangunkan pemiliknya. Mata yang berat di paksakan terbuka, Ayu masih linglung, matanya bergerak kanan kiri, mencoba mengenali ia tidur dimana. Ayu duduk, masih dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna, Ayu tersentak, saat kakinya menginjak sesuatu. Ayu menoleh ke bawah, matanya tidak bisa menebak siapa yang tidur di lantai. Ayu bergeser sampai ke ujung sofa, dan beranjak menyalakan lampu.


“Cetta?” ucapnya setelah ruang tengah di penuhi cahaya.


“Sedang apa dia di sini?” Ayu berpikir sebentar, lalu


“Astaga.” Ayu menepuk jidatnya, kemudian meringis. Ia mengelusi jidatnya yang di tepuk hingga menghasilkan bunyi. Ayu baru ingat Bian menginap. Tapi bukannya Bian tidur di kamarnya ya? Kenapa bisa di sini?


Ayu ragu apakah ia harus membangunkan Abian. Di lihatnya Abian sangat nyenyak, takutnya nanti Abian akan marah?


Bangunin, jangan. Bangunin, jangan. Bangunin, jangan.


“Iya deh gak usah di bangunin.” Katanya lantas berlalu meninggalkan Abian yang menggeliat.


Mata Bian memgerjap- ngerjap kesilauan. Ia melirik ke atas sofa, Ayu sudah tidak ada di tempat. Syukurlah, jadi Bian tidak usah membangunkan Ayu. Bian beranjak duduk, lalu menggoyang-goyangkan kakinya yang di perban.


“Seperti sudah bisa?” Abian berniat membasahi kakinya. Ya gak mungkinlah Bian berwudhu tapi kakinya di tinggal, kaki harus basah, kalo nggak ya mana sah wudhunya.


Bian perlahan berdiri, ia lega ternyata tidak terasa sakit lagi, walaupun bakal terasa perih sih saat terkena air nanti. Bian melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Eh Cetta! Hati-hati.” Kaget Ayu mendapati sahabatnya yang memaksakan berjalan normal.


Ayu yang sedang melamun, mendadak khawatir. Ayu melangkah menghampiri sang sahabat yang baru masuk ke kamarnya, tangan Ayu sudah terulur untuk membantu Bian berjalan namun, lekas di tolak Bian.


“gak usah Yara, aku bisa kok.” Ayu hanya menatap Bian yang menunduk tidak nyaman.


“Oh, oke.” Ayu mundur dua langkah sambil tersenyum kikuk.


“Aku wudhu dulu.” Sebelum Bian melangkah lebih jauh, Ayu bersuara.


“Kaki mu,”


Ayu melirik pada kaki sahabatnya yang masih terbalut perban. Bian lupa membukanya. Tanpa di minta Ayu mengambil gunting yang tergeletak di atas meja riasnya. Di ambilnya bangku meja belajarnya, lalu di letakkannya di belakang Bian.


“Duduk.” Suruh Ayu, Abian menurut.


Ayu berjongkok, melepaskan perban yang membalut kaki Bian.


“Sudah kering.”


Ayu berdiri di ikuti oleh Bian.


“Kamu yakin, perih loh?”

__ADS_1


Abian mengangguk mantap. Setelah menyimpan gunting, Ayu kembali duduk di kasurnya, kakinya yang menjuntai di goyang-goyangkannya. Bian keluar dari kamar mandi dengan air yang menetes di ujung poninya bahkan air di wajahnya pun tidak di seka.


Ayu membuang muka, ia menelan ludah.


Setan menggoda mesra agar Ayu menatap Bian lebih lama. Tidak ingin terhasut, Ayu segera melangkah meninggalkan kamar, sebelum mencapai pintu langkah Ayu terhenti.


“Yara gak salat?” Ayu menoleh pada yang bertanya.


“Lagi halangan.” Tangan Ayu meraih gagang pintu di tariknya, ingin menutup, sebelum tertutup kepala Ayu menyembul memberitau.


“Sajadah sama sarung ada di lemari, ambil aja.” Seketika pintu tertutup rapat. Bian Tersenyum, semoga saja mereka tetap seperti ini, jangan ada lagi pertengkaran yang akan merusak hubungan harmonis mereka.


*****


“Cetta sarapan.”


Bian yang sedang melamun di atas sajadah tersadarkan. Bian menoleh, ia mengangguk, gadis itu telah mengganti bajunya. Ayu mandi di kamar mamanya, beberapa pakaian Ayu juga terselip di dalam lemari Dini.


Ayu berjalan ke meja makan, meninggalkan Bian yang membereskan peralatan salatnya. Sebelum keluar kamar, Bian menyempatkan diri berkaca.


“Menyedihkan.” Ucapnya sambil mengusap mata, mengusir genangan yang hadir. Bian tersenyum di depan cermin, ia tersenyum lebar, tidak ingin terlihat murung, setelah siap Bian berlalu menghampiri Ayu dan Dini di meja makan.


*****


“Sudah?” tanya Dini pada putrinya yang baru tiba.


“Sudah ma, bentar lagi Cetta ke sini.” Mereka menunggu Bian untuk memulai sarapan. Sarapan di pagi suntuk, sudah menjadi kebiasaan Dini, ya mau gimana lagi demi bisa sarapan dengan putrinya sebelum putrinya itu berangkat sekolah. Hari libur pun, sarapan tetap di laksanakan pukul setengah enam pagi.


Tidak lama kemudian yang di tunggu menghampiri. Bian tersenyum ramah pada Dini.


“Pagi tante.”


Ayu menyodorkan piring yang berisi dua centong nasi.


“Cukup?” tanya Ayu. Kali aja kebanyakan. Dari pada nanti gak habis, lebih baik di tanya dulu kan?


“Cukup.” Bian hanya makan secukupnya, untuknya dua centong nasi, mampu membuatnya puasa seharian. Ayu sudah bergerak mengambilkan Lauk pauk untuk sahabatnya, namun cepat di cegah Bian.


“Biar aku saja.”


Bian tidak enak di perlakukan seperti ini, ia sudah numpang tidur, terus numpang makan, eh malah mau di layani layaknya tuan rumah. Tidak. Bian menolak. Ayu meletakkan piring yang sudah terkuahi sayur di depan Bian. Dini yang melihat fenomena langka di rumahnya senyum-senyum sendiri.


“Ayu mama sekarang mau ke rumah om mu, kamu jaga rumah yah”


“Eh sekarang ma?”


“Mama tadi bilang apa?”


“Sekarang?”


“Nah tu tau.”


Kebiasaan warga +62 sudah tau, malah baru aja di sebutin, nanya lagi. Sabar.


“Bian tante tinggal ya, baik-baik di rumah, jangan berantem.” Ucap dini penuh penekanan di dua kata terakhir.

__ADS_1


“Iya tante.” Jawab Bian kikuk.


Dini sudah siap dari tadi, ia hanya ingin melihat kedua anaknya makan di depan matanya itu saja. Dengan tas yang tersampir di bahunya, Dini mendekati kedua anaknya, berdiri di antara mereka. Abian yang sedang melahap makanannya di kejutkan dengan usapan di puncak kepalanya, lebih mirip mengacak dari pada mengusap sih. Ayu menyalami mamanya, lalu Dini berlalu dari pandangan Bian.


“Kenapa?” tanya Ayu setelah menelan nasi di mulutnya.


“Gak papa.” Sahut Bian terdengar sedih. Wajahnya terlihat sedikit murung, sedikit. Ayu bisa mengenali ekspresi itu meski orang lain tidak menyadari.


Mereka selesai sarapan, Ayu membereskan semua piring dan gelas kotor, sedangkan Bian menyimpan makanan yang tersisa ke dalam lemari.


“Mau di bantuin Ra?” tanya Bian ingin membantu mencuci piring


“Nggak usah kamu duduk aja.”


Selagi Ayu menyelesaikan cuciannya, Bian lagi-lagi melamun entah apa yang di pikirkannya. Ayu yang telah selesai Mencuci, ia menatap Bian yang murung, kali ini kesedihan sangat kentara di wajahnya. Bian tidak menyadari saat Ayu mendekat padanya.


“Ada apa?” tanya Ayu khawatir, jujur ini kali pertamanya melihat seorang Abian Cetta sesuram ini. Bian sosok yang ceria, selalu berhasil memberi warna untuknya, dan untuk orang sekitarnya. Itu yang Ayu ketahui sebelum mereka berpisah. Bian yang ikut tuanya ke luar kota, dan Ayu tetap di sini. Pasti terjadi sesuatu tidak mungkin sosok yang selalu menciptakan kegembiraan, bisa terlihat sesedih ini.


“Cetta?” setelah di panggil barulah Bian tersadar, ia terlalu menghayati lamunann.


“Iya?”


Oh tidak. Sebenarnya apa yang terjadi, Ayu ingin tau. Saat Bian mendongak pada gadis yang berdiri di sampingnya. Bian tidak tau apa yang terjadi hingga membuat sahabatnya itu menangis. Ayu tidak mampu menahan air matanya, Cettanya terlihat akan pecah. Seperti mengerti apa yang terjadi, Mata Bian ikut berair, tidak ingin menahan, air menetes begitu saja. Kedua telapak tangannya Ayu gunakan menutupi wajahnya yang kelewat basah, ia semakin terisak.


Bian terus memandangi sahabatnya, ada rasa lega di hati menyaksikan Yaranya menangis untuknya. Masih dengan air yang meleleh, senyum Cetta terbit.


*****


Setelah puas dengan adegan nangis- nangisan, kini keduanya terlihat lebih lega, seolah baru saja melepaskan sesak yang selama ini menawan. Ayu berdiri menghadap Bian yang telah siap di atas motornya, hari beranjak siang, Bian harus pulang hari ini, lagi pula besok mereka kembali sekolah.


“Kamu yakin? Kakinya gak sakit lagi kan?”


“Iya Yara aku bisa.”


Untuk kesekian kalinya Ayu terus menanyakan pertanyaan yang sama. Ayu hanya cemas, motor Bian berat, ya walaupun badan Bian juga tinggi, tidak membuatnya kesulitan mengendarai tapi badannya agak kurus, Ayu jadi khawatir Bian tidak sanggup menopang berat motornya sekarang.


“Kamu kenapa pakai motor gede sih? Emangnya gak ada motor matic yah?” tanya Ayu sekarang terlihat kesal.


Bian terkekeh


“Nggak ada, ini motor satu- satunya di rumah.”


“Yasudah sana pulang.” Usir Ayu


“Astaga aku di usir nih.”


“Udah cepetan sana.” Ucap Ayu sambil kedua tangannya bergerak mengusir. Mesin di nyalakan.


“Aku pulang yah, hati-hati di rumah. Assalamualaikum.” Motor melaju, meninggalkan Ayu yang terus memandang sampai sosok Bian menghilang dari pandangannya.


“Waalaikumussalam.”


Ayu melangkah masuk ke dalam rumahnya, menyenderkan penggung dan kepalanya di penyangga sofa.


“Aku udah lama gak ke rumah Cetta ya.” Ayu beranjak berdiri, berjalan menuju kamar. Ia rebahkan badannya nyaman di atas kasurnya.

__ADS_1


“Mama Cetta apa kabar ya?”


*****


__ADS_2