Pasangan Serasi KATANYA

Pasangan Serasi KATANYA
Play the games


__ADS_3

Semua pertanyaan yang ku lontarkan pada Yara tidak satu pun di jawabnya. Aku hanya ingin tau kabarnya.


Yara aku tanpa mu, seperti kehilangan duniaku. Kamu teman pertama ku. Dan cinta terakhirku.


Aku tau ini terlalu cepat, mengklaim bahwa ini cinta. Tapi aku tau apa yang kurasakan. Aku tau bedanya, suka, kagum, sayang, dan cinta.


Kalian boleh bilang aku terlalu cepat dewasa. Tapi keadaan lah yang mengajariku. Aku tersiksa saat harus meninggalkanmu waktu itu. Aku ingin tetap tinggal, mama juga mengizinkanku tinggal dengan tante, dan mama ikut papa.


Tapi aku tidak bisa meninggalkan mama. Aku anak satu satunya, jika aku tetap di sini, mama akan sendirian disana, menunggu papa selesai bekerja. Aku tidak mau menyakiti mama, lalu lebih memilih menyakiti diriku.


Aku pikir aku mampu, tapi ternyata tidak. Aku di sana selalu teringat kamu. Terkadang aku melihatmu ada di hadapanku tersenyum manis padaku. Saat itu aku juga ikut tersenyum, tapi saat aku sadar. Kamu jauh dari ku. Hatiku mencelos begitu saja.


Aku sadar apa yang kulakukan. Bibirmu terkatup tapi matamu yang berbicara. Saat di kantin, kamu memandangku sekilas, walaupun sekilas mataku berhasil menangkap kekecewaan.


“Maaf Yara.” Ucapku sebelum Yara meninggalkanku masuk ke rumahnya. Kulihat rumah Yara dan sekelilingnya, aku tersenyum simpul, tidak berubah.


Semuanya tetap sama.


Saat aku hendak memalingkan motor. Mama Yara berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum pada ku. Seolah mengerti apa yang kurasakan saat ini.


Aku jadi kangen mama.


*****


Di perjalanan pikiranku mendadak kalut, hampir saja aku menabrak orang. Kuputuskan untuk menepi sebentar.


Berusaha kembali fokus.


“Ayo tenang, tenang, tenang Cetta.” Ucapku pada diriku. Kalau bukan aku lalu siapa lagi.


Setelah pikiranku mulai jernih kembali. Aku kembali melajukan motorku.


*****


Saat kaki ku menginjak ruang tengah, aku tersenyum miris, terlalu banyak kenangan di rumah ini.


Apa aku beritau papa, rumah ini di jual saja ya?


Aku yakin papa juga sedang mati matian bertahan. Rumah besar yang semakin sunyi. Aku menghempaskan diri di atas sofa. Tas ku sudah ku taruh di sofa yang lain.


Mata ku menutup, perlahan tapi pasti, aku terlelap. Hanya sebentar, karna setelah itu alarm sholat dari ponselku berbunyi, membuatku terjaga.


Sudah ashar ya. Aku beranjak ke kamar lantas memantaskan diri memenuhi seruannya.


*****


Alarm sholat subuh membangunkanku. Aku mengusap wajahku gusar, malam yang buruk, lebih baik aku sholat dulu.


Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, aku keluar kamar, menuruni tangga, mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja semalaman.


Aku membuka pintu. Ternyata tanteku sudah berada di depan. Dengan kedua anak kembar di gandengannya. Aku menyalami adik mama ku.


“Bian berangkat dulu tante.” Pamit ku tanteku menepuk pundakku pelan, seolah menguatkan, aku paham.


Aku berjalan menghampiri motorku yang semalaman di luar. Sengaja aku tidak memasukkannya, biarkan saja, jika memang ada yang mau, ambil saja.


Aku juga tidak mengunci leher motorku. Jika motorku hilang, berarti itu rezeki mereka.


Jangan di contoh ya.


Aku hanya sedang menguji diriku saja.


Aku sudah siap berangkat, mesin juga sudah kunyalakan. Ku lihat sepupu-sepupu kecilku, melambai ke arah ku. Aku juga melambai pada mereka. Setelah itu barulah aku berangkat.


*****


Sampainya aku di sekolah, aku melihat Yara berjalan di depanku menyusuri koridor. Dia hendak ke kelasnya. Kelasku melewati kelasnya, aku melangkah cepat, hendak mengimbangi jalan Yara.


Saat aku sudah di sampingnya, Yara tersentak. Kaget akan kehadiran diriku. Ada banyak pertanyaan di otakku, untuk sekarang aku belum bisa menanyakannya. Takutnya persahabatan kami semakin memburuk. Begini saja sudah cukup buruk.


Kulihat tulisan yang menggantung di atas pintu, yang terbuka lebar.


Sepuluh ipa satu.


Aku cukup heran, bukannya Yara lebih suka ips yah, kenapa dia ambil ipa?


Justru aku yang ingin masuk ipa malah di terima di ips, meski untuk sementara sih, kata kepala sekolah, di jurusan ipa sudah kehabisan bangku.


Yara masuk begitu saja kedalam kelasnya, mengabaikan keberadaanku, nyesek sih. Tak kusangka cewek setidak bisa diamnya Yara dulu, bisa menjadi pendiam seperti ini.


Apa karena aku yah?

__ADS_1


Maaf ya Yara, aku salah.


*****


Aku mengernyit saat kudapati sebuah kado di atas meja ku. Ku amati kotak persegi itu.


Punya siapa?


“Punya siapa?” tanya ku pada cowok yang duduk di depanku, pas sekali saat itu dia melirik ke arahku.


“Lo ulang tahun?” dia malah balik bertanya.


“Nggak.”


Sahutan seorang cewek membuatku semakin bingung.


“Itu punya lo, ambil aja.” Tentu saja aku tidak akan menerimanya, punya aku dari mana?


“Lo yang kasih?” tanya ku pada Dewi. Dia menunduk, wajahnya terlihat malu, dan mengangguk cepat.


Astaga, jujur aku tidak suka permainan ini.


Mungkin karena wajahku menunjukkan ketidak sukaan, dia menghampiriku.


“Lo gak suka ya?” tanya nya lirih. Aku tak enak hati untuk menolak, tapi aku tidak ingin Membuat siapa pun baper.


“Gue gak suka, jangan lakuin hal ini lagi.”


Oke aku kasar, kalo gak di gituin takutnya dia gak nyerah. Kulihat dia mengangguk pelan, lantas mengambil kado berukuran sedang di hadapanku.


“Maaf.” Ucapnya hampir menangis, dia berlari kecil keluar kelas sambil membawa kadonya.


Entah kenapa melihatnya yang hampir menangis, membuatku merasa bersalah, Yara apa kabar ya?


*****


Jam istirahat.


Aku duduk di teras kelas ku, di setiap kelas memang di buatkan tempat duduk. Aku hanya duduk sendiri. Menatap lalu lalang murid. Saat aku berdiri hendak masuk ke kelasku, Dewi memanggil.


“Bian!” panggilnya dari belakangku. Langsung saja aku berbalik menghadapnya. Kulihat dia memampang kertas hvs putih di depan dadanya, bertuliskan ‘kamu mau gak jadi pacar ku’ maksudnya?


Dia menatapku lalu berkata.


Ah, aku mengerti sekarang dia ingin menjebakku yah. Modelan cewek begini nih yang membuatku mual.


Baiklah.


Mau bermain-main dengan ku yah?


Ku ladeni permainanmu.


“Kamu mau gak jadi pacar ku.” Ucap ku lantang.


Dia belum tau saja, siapa Abian Cetta sebenarnya.


Kalimatku membuat beberapa murid melirik kami. Ku dengar derap kaki seseorang, aku menoleh Kebelakang ku, ku lihat Yara ku berlari menjauh.


Tidak.


Katakan padaku Yaraku tidak mendengar yang ku katakan kan?


Kulirik cewek yang berani bermain api, dia menunduk, senyumnya menandakan hal buruk. Dia merencanakan sesuatu.


Kamu sungguh mau terbakar ya?


*****


Aku izin ke toilet saat jam pelajaran terakhir, aku reflek bersembunyi saat kulihat salah satu murid di kelasku, menghadang langkah Yara.


Apa yang akan cowok itu lakukan?


Melanjutkan pernyataan yang kubatalkan?


Mari kita dengar sama-sama.


“Ayu Gue tau, gue Cuma modal nekat, dan gue yakin lo juga gak kenal gue. Maaf kalau gue lancang. Gue suka sama lo.”


Deg!


Aku jadi gugup, jawaban apa yang Yara berikan?

__ADS_1


Aku mengintip, ku kepal kedua tangan ku kuat.


Sebelum aku lepas kendali, aku lebih dulu berjalan pergi, entah apa yang Yara pikirkan saat aku melewatinya.


Jangan begini!


Aku tidak percaya.


Yaraku mengangguk.


*****


Sepulang sekolah, kulihat dirinya yang berjalan kaki. Tidak di jemput lagi yah. Aku ingin menghampirinya, mengajaknya pulang bersama.


Aku keduluan motor gede warna hitam sudah lebih dulu menghampirinya.


Aku tidak suka pemandangan ini.


Dasar pasangan baru!


Tentu saja Yara akan pulang bersama pacarnya.


Aku di buang nih ceritanya.


Aku menghela nafas berat. Kuputuskan mengikuti mereka berdua saja, mereka akan kemana?


Aku terkejut saat motor ivan melaju berlawanan arah dari rumah Yara.


Yaraku mau di bawa kemana?


Awas saja jika dia macam-macam, kupastikan wajahnya tidak akan berbentuk lagi.


Ku lihat motornya berhenti tepat di sebuah restoran yang menjual aneka rasa dari berbagai macam eskrim.


Mereka berdua masuk kedalam resto itu.


Sekarang aku harus apa?


Ikut masuk?


Bagaimana caraku masuk tanpa ketahuan?


Aku nanti di kira menguntit?


Sudah ku putuskan aku di sini saja, menunggu mereka keluar.


Niatnya sih begitu, kali ini hatiku yang mengambil alih, aku masuk saja tanpa peduli jika nanti ketahuan?


Aku tinggal membuat alasan saja kan?


Aku duduk agak jauh dari mereka, agar aku lebih tenang mengintai.


Tapi aku tidak bisa tenang saat adegan suap suapan terjadi nyata di depan mataku.


Di pikir kalian suami istri apa?!


Ivan dengan wajah senangnya menyuapi Yara sesendok eskrim dari mangkoknya.


Yara juga kenapa menerima suapannya?!


Memangnya semangkok eskrim cokelat punyamu belum cukup?


Kamu malah menerima eskrim keju dari cowok yang belum kamu kenal.


Yang ku tau bukannya kamu tidak suka sesuatu yang ada kejunya yah. Dulu saat aku memberimu eskrim keju kesukaanku, kamu menolaknya mentah-mentah.


Sekarang apa?


Kenapa panas sekali yah padahal sore ini terlihat mendung.


Aku tidak tahan lagi, kuhampiri Yara.


Mereka sontak kaget.


Yara langsung berdiri, sedangkan aku menyambar tangannya, kuseret dia ke luar dari resto ini.


Tak ku hiraukan pandangan dan bisikan pengunjung resto.


Kepo amat urusan orang.


Biarkan saja apa yang kulakukan mendapatkan amukan Yara.

__ADS_1


Aku terima.


*****


__ADS_2