
"Saya pulang dulu ya pak." ujar Kia kepada pak Ahmad,karena pekerjaan Kia sudah selesai.
"Hati-hati Kia." ucap pak Ahmad.
Kia pun menganggukan kepalanya,berjalan keluar rumah mengambil motornya di parkiran yang ada di rumah Bos nya.
"Pulang neng ??"tanya pak satpam
"Iya pak,permisi." ucap Kia sopan.Perlahan-lahan motor pun melaju meninggalkan rumah bos nya.
Sepanjang perjalanan pikiran Kia melayang kemana-mana.Sampai kapan dia akan hidup seperti ini terus.
"Mending aku ke rumah ayah saja." gumamnya,langsung dia pun tancap gas menuju rumah ayah nya.
45 menit kemudian Kia pun sampai di depan rumah ayahnya,rumah yang cukup sederhana.
Lalu dia turun dari motornya dan berjalan mendekati rumahnya.Sejenak dia pun memandang rumahnya,rumah yang penuh dengan kenangan,penuh canda tawa saat ibu nya masih ada dan semua nya berubah saat ibu nya meninggal.Sejak ibu nya meninggal ayah nya tidak terlalu peduli lagi terhadap Kia dan adiknya.
Kia pun menghela napas,mengeluarkan secara pelan.
"Assalamu'alaikum." teriak Kia
Tak berselang lama pintu pun terbuka...
"Kaka.....aku rindu sekali!!" Ucap seseorang yang tak lain adalah adiknya.Dia langsung memeluk erat sang kaka.
"Kaka juga,maaf ya baru jenguk kamu dan ayah sekarang." ujar Kia mengelus kepala adiknya.
"Aku pikir kaka melupakan aku,karena sudah punya suami." canda Erin sang adik
"Mana mungkin kaka lupa sama kalian,apalagi adik kaka yang satu ini." ujar Kia mencubit hidung adiknya.
"Yasudah kita masuk yuk!!" Ajak Kia
"Ayah kemana.??" tanya Kia melihat sekeliling rumahnya.
"Kaka tau sendirikan,sejak ibu meninggal ayah selalu saja menyibukan dirinya di toko." jelas sang adik sendu.Ya keluarga Kia memiliki toko kelontong yang tidak terlalu besar,namun lumayan laris oleh pembeli.
__ADS_1
"Hmmmm..."Kia hanya bisa membuang napasnya pelan.Inilah kenapa dia tidak bisa menceritakan masalah rumah tangganya kepada sang ayah.Sang ayah selalu saja sibuk sendiri tak peduli lagi dengan anak-anaknya.
"Kamu yang sabar ya,ayahkan sibuk kerja juga buat kamu,buat biaya sekolah kamu." ujar Kia mencoba memberikan pengertian kepada adiknya.
"Iya ka,tapi Erin sedih.Erin rindu ayah yang dulu." ujar sang adik meneteskan air matanya.
"Kaka juga sayang." ucap Kia langsung memeluk adiknya dan dia pun ikut menangis.Apalagi saat mengingat rumah tangga nya yang bagaikan di neraka,hati Kia begitu menjerit.Ingin rasanya dia berbagi cerita dengan sang adik,namun niatnya dia urungkan karena Kia tidak mau membebani adiknya.
"Sudah,ada kaka disini."ujar Kia mengelus-ngelus punggung adiknya yang sedang menangis.Kia berusaha kuat,dia tidak boleh terlihat lemah di depan adiknya.
"Maafkan aku kak,aku begitu cengeng.Aku selalu saja menyusahkan kaka." ucap Erin memeluk Kia erat.
"Ssssttt.....kamu adalah adik kaka.Apapun akan kaka lakukan untukmu." ujar Kia,karena kebetulan sebagian biaya sekolah Erin Kia yang nanggung.
"Aku bangga memiliki kaka seperti ka Kia." ucap Erin
"Kaka juga bangga memiliki adik seperti kamu." jawab Kia tersenyum
"Ka..." panggil Erin
"Ya dek.?"jawab Kia
"Apakah kaka bahagia menikah dengan ka Aram.??" tanya Erin dan itu membuat tubuh Kia tersentak saat mendengar pertanyaan sang adik.
"Maaf jika Erin ikut campur rumah tangga kaka,tapi Erin liat kaka tidak bahagia hidup dengan ka Aram." ujar Elin memandang wajah sang kaka yang terlihat sendu.
Tiba-tiba kristal bening keluar dari mata Kia tanpa komando,buru-buru Kia pun menghapus air matanya.
"Kaka kenapa menangis.? jika kaka punya masalah dengan ka Aram kaka bisa cerita sama Erin." ucap sang adik.
"Kaka tidak apa-apa dek." jawab Kia menampilkan senyum paksanya
"Kaka pulang dulu ya,ini sudah sore.Salam sama ayah." ucap Kia
____________
Sepanjang perjalanan Kia memikirkan ucapan adiknya,bagaimana bisa adiknya tau bahwa rumah tangganya tidak bahagia.
__ADS_1
[Tuhan....jika memang mas Aram kebahagiaanku,aku mohon berikanlah hidayah kepadanya." batin Kia berlinang air mata.]
35 menit kemudian akhirnya Kia pun sampai rumah,saat ini jam sudah menunjukan pukul 05:30.Dia memarkirkan motornya dia cukup heran saat melihat pintu rumahnya terbuka lebar begitu saja.
"Mengapa pintunya terbuka,? atau jangan-jangan ada rampok.?" gumam Kia pikirannya campur aduk dan was-was.
Dengan langkah pelan dia pun masuk ke dalam rumahnya,matanya meneliti setiap sudut takutnya si rampoknya ngumpet wkwkwkwk.
Namun semuanya tidak ada yang berubah,keadaan rumahnya tidak acak-acakan layaknya rumah yang di rampok.
"Barang-barang masih utuh dan berada di tempatnya,lalu jika tidak ada rampok kenapa pintunya terbuka." pikir Kia namun telinganya tiba-tiba mendengar suara wanita,ah bukan lebih tepatnya suara rintihan wanita dari dalam kamar dan itu adalah kamar Kia dan Aram suaminya.
Perlahan-lahan Kia mendekati kamar tersebut,kebetulan pintu kamar tidak tertutup rapat dan benar saja apa yang Kia pikirkan suaminya sedang bercumbu dengan wanita lain.Hatinya sungguh sakit melihat kejadian itu meskipun itu bukan pemandangan yang pertama baginya.
Tak ingin berlama-lama melihat kelakuan bejat suaminya Kia pun segera lari dari rumahnya,buru-buru dia pun menyeret motornya agar tidak ketahuan suaminya.
Hatinya sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan suami bajingannya.Namun baru saja Kia akan menaiki motornya suara seorang pria menghentikan langkahnya.
"Darimana saja kamu.??" tanya Aram,sebenarnya dia melihat Kia saat mengintip dari balik pintu kamarnya.
"JAWAB AKU."teriak Aram menghampiri Kia lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah.
"Lepaskan aku,aku tidak sudi di pegang oleh tangan kotormu." teriak Kia berontak berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Cih...kau bilang apa.? tangan kotor.?" cebik Aram sembari melempar tubuh Kia arah sofa.
"Lalu bagaimana denganmu.? kau wanita pembawa sial." teriak Aram menjambak rambut Kia dengan kuat.
"Hiks...hiks....lepaskan!!" ucap Kia berlinang air mata.
"Jika aku pembawa sial bagimu,maka ceraikan aku sekarang juga." teriak Kia menahan sakit karena rambutnya masih di tarik oleh Aram.
"Ck...tidak semudah itu.Kau harus menebus semuanya,semuanya." teriak Aram sembari tangan satunya mencengkarm pipi Kia dengan kuat.
"Aku begini karenamu,maka kamu harus membayar semuanya." ucapnya lagi dan Kia hanya bisa menangis menerima perlakuan suaminya.
"Aku sangat membencimu." ucap Kia menatap tajam Aram saat Aram melepaskan tangannya dari pipi juga rambut Kia.
__ADS_1
"Hahaha aku tidak peduli,yang pasti kamu tidak bisa lepas dariku.Bahkan ayahmu pun tidak bisa menolongmu." ucap Aram dengan nada kepuasan.Lalu dia pun meninggalkan Kia yang bersimpuh di lantai,dia hanya bisa menangis dan menjerit menerima perlakuan suaminya.