Pelabuhan Hati Kaisar

Pelabuhan Hati Kaisar
Episode 1 Kedatangan Tamu


__ADS_3

Di akhir pekan sekolah, Kai tengah mengurung dirinya di dalam kamar, berkutat dengan berbagai materi sekolah. Disaat kebanyakan temannya aktif di media sosial, Kai justru tak memiliki nya. Karena sejak kejadian dimana kedua orang tuanya bercerai, Kai tak lagi menjadi anak yang ceria.


Saat kejadian itu Kai yang tengah berusia delapan tahun mengalami trauma karena selalu melihat pertengkaran diantara kedua orang tuanya. Ia mendengar dan juga memahami semua hal yang terjadi pada kedua orang tuanya hingga memutuskan untuk bercerai.


Tak ingin berlarut dengan kesedihan, Kai mulai menyukai kesendirian. Berdiam diri di dalam kamar seolah pergi ke tempat hiburan. Nyaman dan menenangkan, namun tak luput dari rasa hampa. Kai juga hanya manusia biasa yang senang menyendiri, namun dari lubuk hatinya yang paling dalam membenci arti kesepian. Ia butuh seseorang, namun tak suka juga ditemani. Membingungkan bukan? Sama. Kai juga bingung dengan hidupnya sendiri, padahal ia sudah memiliki banyak kemewahan. Apalagi? Kenapa tidak dinikmati saja untuk menyenangkan diri sendiri. Menarik perhatian banyak orang untuk mendekat dan membuat mereka semua iri. Iri karena melihat kehidupannya yang serba berlebihan dan tercukupi.


Semudah itu sebenarnya untuk Kai memiliki teman, modal tampang nya yang mempesona saja sudah menjadi jaminan. Namun lagi-lagi bukan hal itu yang Kai inginkan. Ia butuh sesuatu, namun belum menemukan nya saja. Atau Kai hanya terlalu banyak menunda hati dan mencari-cari yang tak pasti. Entahlah.


Di dalam kamarnya kini berada. Di atas meja belajarnya berserakan berbagai buku dari beberapa mata pelajaran. Kai tengah belajar untuk mengisi waktu kosong nya dan membuang rasa kesepiannya setiap hari dengan membaca dan latihan soal.


Tok tok tok..


"Tuan Muda, ini Bi Hani. Maaf menganggu waktu Tuan Muda. Bibi hanya ingin menyampaikan pesan dari Tuan Utama untuk Tuan Muda segera mengangkat panggilan teleponnya. Ada hal penting yang akan Tuan Utama bicarakan." Ucap Bi Hani dibalik pintu kamar Kaisar.


"Ck. Hal penting apa yang mau Ayah katakan selain memintaku untuk keluar rumah!" Ucap Kaisar pada dirinya sendiri. Ia sudah bisa menebaknya jika hal itulah yang terpenting yang akan Ayahnya katakan seperti yang sudah-sudah. Meminta nya untuk keluar rumah dan menghabiskan banyak uang. Karena selama ini yang selalu berinisiatif membelikan barang-barang mewah untuk Kai hanyalah Ayahnya.


Kai yang sejak tadi pagi tidak memainkan ponselnya kini mulai meraih ponsel miliknya yang tersimpan di atas nakas itu untuk kemudian melihat riwayat panggilan dari Ayahnya yang sudah menghubungi nya sebanyak sepuluh kali.


Kai menghela nafasnya kasar saat kembali mendapati panggilan telepon dari Ayahnya. Lalu mengangkat nya dengan ekspresi kesal.


"Dimana kamu sekarang?" Tanya Dharmendra Utama, Ayah Kaisar yang biasa dipanggil dengan sebutan Tuan Utama.


"Seperti yang selalu Ayah ketahui. Aku tidak kemana-mana." Ucap Kai dengan santainya, padahal di sana Ayahnya tengah menahan emosi. Jika di hari-hari biasa Kai pergi ke sekolah, maka di hari libur ia hanya akan mengurung diri di dalam kamar dan keluar ketika ingin makan saja.

__ADS_1


Tak ingin bertengkar dengan Kaisar untuk kesekian kalinya, Tuan Utama pun memilih untuk mengalah saja dan berharap kehidupan dari anak satu-satunya itu akan berubah. Memiliki banyak teman dan hidup dengan bahagia, do'anya. "Baiklah. Ayah hanya ingin mengatakan padamu, kalau Ayah akan pulang bulan depan. Ada banyak pekerjaan yang harus Ayah selesaikan di luar kota."


"Hem." Jawab Kai singkat.


"Ayah tutup telepon nya ya. Kamu baik-baik di rumah."


"Hem. Ayah juga." Jawab Kai langsung mematikan sambungan teleponnya bahkan sebelum Ayahnya melakukan.


"Kamu benar-benar dingin, Kai. Sama seperti apa yang sudah Ayah lakukan dahulu pada Ibumu." Batin Tuan Utama sembari menundukkan pandangannya. Menyesali perbuatannya di masa lalu.


Setelah memutus sambungan teleponnya dengan sang Ayah, Kai kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengisi soal-soal latihan. Sementara Bi Hani yang sudah ditugaskan untuk menyampaikan pesan dari Tuan Dharmendra kembali melanjutkan aktivitas pekerjaan nya. Namun disela-sela dirinya tengah membersihkan debu-debu yang ada di ruangan lantai dua, kabar kedatangan tamu membuat nya tergesa-gesa untuk segera menemuinya. Karena pasalnya, Tuan Utama tidak mengatakan apapun perihal kedatangan seseorang hari ini. Sementara Tuan Muda Kaisar, sejak dulu tidak pernah membawa temannya ke rumah. Lalu tamu siapakah itu? Jika memang benar tamu dari Tuan Muda Kaisar, maka hari ini akan menjadi sejarah baru Tuan Muda. Pikir Bi Hani dan seluruh pekerja lainnya yang juga ikut bertanya-tanya dalam hati.


Pak Hasan yang bertugas di depan gerbang utama mempersilahkan tamu yang mengenakan mobil sport ternama itu untuk masuk setelah mendapat izin dari Tuan Dharmendra Utama.


Pak Hasan tentu menghampiri tamu tersebut sebelum kedatangan Bi Hani.


"Maaf Nona. Apa Nona sebelumnya sudah membuat janji temu dengan Tuan Muda?" Tanya Pak Hasan memastikan. Ia tahu bahwa gadis ini merupakan tamu yang dikirim Tuan Utama untuk menemui Tuan Muda. Tapi seperti yang sudah semua pegawai ketahui, Tuan Muda Kai tidak senang dikunjungi oleh siapapun. Karena Tuan Muda sendiri tidak pernah membawa siapapun ke dalam rumah nya.


"Saya sudah mendapatkan izin dari Ayahnya untuk menemui Kai hari ini. Jadi bisakah Anda langsung saja pertemukan saya dengan Kai? Karena saya tidak tahan berdiri di luar seperti ini." Ucap gadis tersebut dengan sinis. Menatap tidak suka pada Pak Hasan.


"Tapi Nona--"


"Saya bisa saja mengadukan sikap Anda ini pada Tuan Utama karena sudah membuat saya kesal dan merasa tidak nyaman. Dan mungkin itu juga sudah cukup menjadi alasan Anda harus dipecat!" Sela gadis tersebut memberikan ancaman karena muak harus berhadapan dengan orang miskin, pikirnya.

__ADS_1


Pak Hasan yang tak ingin bermasalah dengan siapapun memilih untuk meminta maaf, "Mohon maafkan kelancangan saya, Nona. Untuk kedepannya saya akan lebih berhati-hati." Ucapnya sembari menundukkan kepala. Tak ingin berurusan dengan orang kaya yang terlihat sombong di depannya saat ini. Tak berlangsung lama Bi Hani pun datang menghampiri dengan langkah cepat.


"Selamat siang dan selamat datang Nona." Ucap Bi Hani menyapa ramah sembari melirik ke arah Pak Hasan yang langsung mengerti arti lirikan itu.


"Nona ini ingin bertemu dengan Tuan Muda, Bi. Tuan Utama sudah mengetahui dan mengijinkan nya." Ucap Pak Hasan menjelaskan.


"Bagaimana dengan Tuan Muda sendiri?" Bi Hani.


"Hey kalian! Apa seperti ini pekerjaan kalian? Membuang-buang waktu dengan percakapan yang tidak berguna!" Ucap gadis itu mendesah kesal.


"Maaf, Nona. Tapi Tuan Muda--"


"Dimana Kai? Aku ingin bertemu dengan nya. Bukan bertemu dengan kalian berdua yang miskin!" Gadis itu tak kuasa lagi meninggikan suaranya hingga terdengar lantang.


Pak Hasan dan juga Bi Hani tentu terperangah melihat tingkah gadis di hadapan mereka yang terlihat sangat angkuh.


Tak ingin berlama-lama lagi berdekatan dengan gadis sombong itu. Pak Hasan meminta Bi Hani untuk segera mengantarkan gadis itu bertemu dengan Tuan Muda.


"Tapi, Pak.." Bisik Bi Hani.


"Sudahlah. Kita tidak punya pilihan lain. Lagipula Tuan Utama yang sudah mengijinkan nya. Katakan saja begitu pada Tuan Muda."


"Baiklah, Pak" Akhirnya Bi Hani pun membawa gadis itu untuk bertemu dengan Tuan Muda Kaisar.

__ADS_1


__ADS_2