Pelabuhan Hati Kaisar

Pelabuhan Hati Kaisar
Episode 8 Akan Memulai Pertandingan


__ADS_3

Ibu guru tersebut bernama Talita, biasa dipanggil dengan sapaan Bu Lita. Setelah mendapatkan informasi dari Syifa tentang bagaimana keadaan Ibu Xaxa sebelum masuk ke dalam kelas, Ibu Lita sudah memutuskan untuk tidak memberikan pelajaran hari ini. Dan keputusan nya tersebut telah disetujui oleh para dewan guru yang lain terkhusus sang kepala sekolah.


"Karena Ibu bangga sama Xaxa. Apa Ibu boleh memeluk Xaxa sekarang?" Ucap Ibu Lita sembari tersenyum menatap Xaxa, namun kedua matanya yang saat ini berkaca-kaca tertangkap jelas oleh Xaxa yang merasa bingung melihat nya.


Tak ingin bertanya apa yang terjadi, Xaxa pun langsung beranjak dari tempat duduknya untuk kemudian lebih dulu memeluk Ibu Lita. Xaxa bersikap demikian karena berpikir Ibu Lita sedang memiliki masalah yang berat, dan ia tidak tega melihatnya hingga langsung berinisiatif memeluk Ibu Lita lebih dulu.


Seperti yang sudah diketahui. Hanya Syifa yang tahu tentang kabar meninggalnya Ibu Xaxa, dan yang selanjutnya mengetahui ialah Ibu Lita berserta para guru yang lain. Sementara semua teman-teman di kelasnya termasuk Xaxa sendiri belum mengetahuinya. Mereka saling berbisik satu sama lain, merasa aneh dengan sikap Ibu Lita yang tiba-tiba saja ingin memeluk Xaxa. Matanya yang berkaca-kaca itu pun tak luput dari perhatian.


Syifa berusaha menahan air matanya dengan menundukkan kepalanya, berpaling dari bersitatap dengan siapapun apalagi Xaxa. Namun sayang, usahanya untuk tidak menangis itu akhirnya malah pecah. Syifa tak kuasa lagi untuk menahan hingga suara tangisannya terdengar oleh Xaxa yang kini tengah berdiri di sampingnya sembari memeluk Ibu Lita.


Mendengar itu pun membuat Xaxa langsung mengurai pelukan. Menatap ke arah Syifa penuh tanya. Bayangan kejadian saat Syifa menerima panggilan telepon saat di luar kelas bersamanya, menimbulkan rasa kecurigaan Xaxa jika sesuatu sedang terjadi. Hatinya menjadi resah, dadanya terasa sesak, lututnya lemas, Xaxa mulai membayangkan dugaannya yang mati-matian berusaha ia tepis dalam hati.


"Ada apa sebenarnya ini. Kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Apa yang aku pikirkan pasti salah." Batin Xaxa terdiam membeku di tempatnya berdiri. Ibu Lita yang tak tega melihat Xaxa langsung memeluknya erat.


"Xaxa anak yang baik dan juga pintar. Ibu sangat yakin kalau kedua orang tua Xaxa terutama Ibu Xaxa pasti bangga sekali dengan Xaxa. Teruslah menjadi anak yang baik dan juga kuat. Ibu percaya Xaxa adalah anak yang selalu ceria. Bahagia lah, Xa. Dimana pun dan kapan pun kamu berada." Ucap Ibu Lita sembari mengelus punggung Xaxa dengan lembut.


Perkataan Ibu Lita semakin menguatkan keresahan Xaxa saat ini.


"Ada apa ini sebenarnya, Bu? Jujur saja. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi? Kenapa Ibu dan juga Syifa bahkan sampai menangis seperti ini." Ucap Xaxa yang masih berada dalam pelukan Ibu Lita.


Semua teman-teman sekelas Syifa dan juga Xaxa tengah terdiam sembari memperhatikan apa yang terjadi.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Apa kalian tahu kenapa Ibu Lita sama Syifa sampai menangis begitu?" Bisik seorang siswa perempuan yang duduk paling belakang kepada teman di sampingnya dan juga kedua teman di depannya yang kini tengah menghadap ke arahnya.


"Mana aku tahu. Aku tidak berbicara dengan Syifa hari ini."


"Aku juga."


"Apalagi aku yang memang tidak pernah berbincang dengan mereka berdua."


"Iya kira-kira menurut kalian ada apa? Bukankah aneh jika hanya karena persoalan Xaxa akan pindah dari sekolah ini."

__ADS_1


"Sudahlah kita diam saja dulu. Aku rasa ini masalah yang cukup serius. Xaxa juga terlihat tegang sekarang." Mereka pun kembali menatap fokus ke arah Xaxa, Ibu Lita dan juga Syifa.


Dengan tangisnya yang tak lagi ditahan, Ibu Lita pun mengatakan yang sebenarnya.


"Ibu kamu sudah meninggal dunia, Xa. Ia sudah tidak akan merasakan sakit lagi. Ibu percaya, Ibu kamu--"


"Maksud Ibu apa? Maaf ya, Bu. Xaxa tidak suka dengan perkataan Ibu ini." Sela Xaxa tidak terima. Ia sontak mengurai pelukan dengan tatapan mata yang langsung bersitatap dengan Ibu Lita.


"Xa.." Syifa.


"Apa, Syif? Apa kamu juga akan mengatakan hal yang sama? Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Dua hari yang lalu dokter katakan pada Ayahku kalau kondisi Ibuku semakin baik. Jadi jangan asal berbicara karena aku sangat tidak suka mendengarnya." Ucap Xaxa lagi-lagi dengan perkataan nya yang menggebu-gebu. Meski ia meyakini perkataan nya, tapi tetap saja hatinya tidak bisa berbohong.


Semua teman-teman Xaxa sontak menatap tak percaya, saling berbisik satu sama lain. Bahkan beberapa mulai berdiri dari tempat duduknya masing-masing dan mulai mendekat ke arah Xaxa dan juga Ibu Lita.


"Maaf, Bu. Apa berita itu memang benar, kalau Ibu Xaxa--" Salah seorang teman Xaxa yang kini tengah berdiri mendekat ikut berbicara, namun Xaxa langsung menimpali ucapannya.


"Aku kan sudah katakan itu tidak benar. Kenapa kamu masih bertanya pada Ibu Lita? Apa kamu senang jika Ibuku benar-benar meninggal dunia? Iya?!" Ucap Xaxa meninggikan suaranya tidak terima.


"Xaxa tenanglah." Syifa hendak meraih tangan Xaxa, namun langsung ditepisnya begitu saja.


Xaxa yang sudah tidak kuat lagi mendengar nya sontak menangis histeris. Hatinya sungguh belum siap untuk kehilangan Ibu yang sangat disayanginya. Syifa yang teramat dekat dengan Xaxa langsung meraih tubuh Xaxa ke dalam pelukannya.


"Ini tidak benar kan, Syif. Aku pasti sedang dalam mimpiku. Ibuku tidak mungkin meninggalkan ku secepat ini." Syifa semakin mempererat pelukannya pada Xaxa. Begitupun dengan teman-teman Xaxa yang lain yang juga ikut mendekat dan memeluk Xaxa, mereka sama-sama mengeluarkan air mata kesedihan. Membayangkan kembali kejadian saat masa orientasi siswa, dimana saat itu Xaxa selalu diantar oleh Ibunya sampai depan gerbang sekolah.


"Apa yang menghubungimu tadi sebenarnya adalah Ayahku?" Tanya Xaxa memastikan. Syifa pun menganggukkan kepalanya dengan perasaan bersalah karena tidak langsung mengatakan nya pada Xaxa.


• • •


Sepulang sekolah hari ini. Kevin dan juga Kai benar-benar melakukan pertandingan dengan taruhan uang 100 juta. Meski Kevin bukanlah seseorang yang mampu membayar uang sebanyak itu, tapi ia memiliki kepercayaan diri sangat tinggi mampu mengalahkan Kai dengan telak. Ia begitu optimis akan mendapatkan uang yang banyak dari Kai meski ia sadar jikapun terjadi caranya akan dicicil dalam waktu yang tak terbatas, pikir Kevin menghina kemiskinan Kai.


Hampir seluruh siswa SMA Mutiara Cinta lebih memilih untuk berkumpul di lapangan menyaksikan pertandingan daripada langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Berita tentang pertandingan basket diantara Kevin dan juga Kai dengan taruhan uang 100 juta itu sudah tersebar di setiap kelas. Mereka begitu antusias untuk menonton pertandingan dan melihat hasilnya.

__ADS_1


"Apa kalian semua tahu. Kevin dan juga Kai bertanding karena memperebutkan aku. Perempuan paling cantik dan juga populer di sekolah ini." Ucap Cinta dengan gaya centilnya. Ia memang perempuan yang disukai oleh Kevin. Namun mengada-ngada kan cerita untuk membuat heboh teman-temannya.


"Apa iya ini semua terjadi karena mu? Rasanya tidak mungkin seorang Kaisar membuang-buang waktu nya hanya untuk mendapatkan perempuan sepertimu." Sahut teman sekelas Cinta.


"Apa yang kamu katakan? Beraninya meremehkan ku. Apa kamu tidak tahu bagaimana Kevin selalu mengejar-ngejar aku selama ini?" Ucap Cinta penuh emosi.


"Aku tidak sedang membicarakan Kevin. Sebaiknya simaklah dulu perkataan siapapun yang berbicara padamu agar kamu tidak terlihat bodoh!" Cinta pun semakin mendapat ledekan dari teman-temannya. Namun lagi-lagi dengan rasa percaya diri, Cinta tak mengenal kata malu. Ia tidak perduli dengan tanggapan orang-orang tentang dirinya, karena yang terpenting di hatinya saat ini ialah mencintai Kaisar dengan terang-terangan.


"Bagaimana ini. Uang 100 juta bukan perkara main-main. Apa Kai sanggup memberikan nya pada Kevin." Laras.


Tania begitu kesal mendengar perkataan Laras yang sama dengan pikirannya. Ia juga tidak yakin Kai akan menang. Namun tidak tega juga jika harus melihat Kai menanggung beban uang sebanyak 100 juta rupiah, meski itu pun terjadi karena ulah Kai sendiri.


"Meski aku tidak yakin seratus persen. Tapi aku akan berusaha melambungkan do'a sebanyak mungkin untuk kemenangan Kaisar." Baby.


"Aku juga sama dengan Baby. Memihak Kai. Meskipun nantinya kalah tidak masalah. Aku akan tetap--" Amanda tidak jadi meneruskan perkataannya.


"Aku akan tetap apa?" Tanya Tania dengan tatapan sengit. "Kenapa tidak diteruskan? Apa kamu juga diam-diam menyukai Kaisar?"


"Kalau memang iya kenapa? Jatuh cinta itu hak semua orang. Jadi tidak ada salahnya jika kita mencintai orang yang sama." Ucap Amanda.


"Aku setuju dengan perkataan mu, Amanda." Baby.


"Kamu setuju karena sama-sama menyukai Kaisar. Dasar kalian berdua itu munafik. Diam-diam menyimpan bau busuk." Tania.


"Yang busuk itu pemikiran mu, Tan. Belum jadi apa-apa nya Kaisar sudah bersikap tidak tahu malu. Mengaku-ngaku yang bukan miliknya sendiri." Ucap Amanda begitu puas setelah melihat ekspresi menahan kesal dari Tania.


Laras yang tengah berada di samping Tania berusaha menenangkan.


"Sudahlah jangan dianggap serius. Lagipula siapa yang tidak suka dengan pesona Kaisar. Pasti ada banyak perempuan di sekolah ini yang sama-sama menyukai Kaisar. Jadi berjuanglah masing-masing untuk mendapatkan nya."


"Apa kamu juga sama?" Tanya Tania pada Laras.

__ADS_1


"Tentu saja. Tapi aku sudah terlanjur menerima perasaan cintanya Dino. Jadi mau tidak mau aku harus berusaha setia bukan?" Ucap Laras tersenyum manis.


"Dih, baguslah. Awas saja kalau sampai kamu berubah pikiran. Aku tidak akan tinggal diam dan takut meski harus menghadapi kalian bertiga!" Ucap Tania dengan tatapan sinisnya yang berulangkali sengaja ia tampilkan.


__ADS_2