Pelabuhan Hati Kaisar

Pelabuhan Hati Kaisar
Kemenangan Yang Tidak Terduga


__ADS_3

"Aku akan menghubungi Ayahku." Ucap Xaxa setelah lama menangis dalam pelukan Syifa. Syifa yang mengerti langsung mengurai pelukan dan memberi ruang pada Xaxa untuk melakukan keinginan nya itu.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif


Tak ingin menyerah begitu saja, Xaxa pun kembali menghubungi Ayahnya. Namun setelah melakukan panggilan telepon yang kesekian kalinya, nomor Ayahnya itu masih saja belum aktif.


"Kenapa nomor Ayah tidak aktif. Yang menghubungimu tadi benar Ayahku, kan?" Tanya Xaxa pada Syifa yang langsung menganggukkan kepalanya. "Aku memang berbincang dengan Ayahmu tadi. Mungkin ponsel Ayahmu dalam keadaan baterai lemah lalu mati, makanya jadi tidak aktif." Ucap Syifa menerka kemungkinan.


"Mungkin memang begitu." Xaxa menegakkan tubuhnya untuk bersiap. "Xaxa boleh izin pulang kan, Bu?" Tanya Xaxa dengan kedua matanya yang sembab.


"Tentu saja boleh. Ibu dan juga anak-anak yang lain akan ikut menemani kamu." Ucap Ibu Talita.


"Terima kasih banyak, Bu." Ucap Xaxa dengan bibir yang bergetar, tak kuasa menahan tangisnya hingga kembali berurai.


• • •


Pertandingan basket satu lawan satu di antara Kai dan juga Kevin pun tengah dimulai. Kevin yang penuh percaya diri terus saja menampilkan ekspresi angkuhnya di hadapan Kaisar yang justru terlihat tenang, dingin seperti biasanya.


Beberapa menit awal Kevin terlihat begitu menguasai pertandingan, namun ia belum juga berhasil memasukkan bola ke dalam ring karena kalah cepat dengan tangan Kai yang langsung sigap menghalaunya. Kai sendiri terlihat bermain santai dengan tidak melakukan penyerangan, namun terus menghalau bola basket yang berusaha Kevin masukkan ke dalam ring.


"Ya! Apa kamu begitu bodoh melakukan permainan ini? Sampai kapan kamu terus melakukan dribble tanpa ingin mengarahkan bola ke dalam ring? Dasar benar-benar payah! Siapkan saja uang 100 juta itu karena aku akan memilikinya hari ini." Ucap Kevin penuh percaya diri menatap rendah Kaisar. Ia pun sebenarnya dibuat kesal dengan permainan konyol yang dilakukan Kaisar yang seolah tak ingin meraih poin.


Mendengar ucapan Kevin, Kai menertawakan nya tipis-tipis. Menampilkan ekspresi wajahnya yang tersenyum menyeringai ke arah Kevin yang kini tengah puas menertawakan nya.


"Ekspresi macam apa itu?" Kevin semakin tertawa lepas melihat ekspresi aneh yang tak pernah Kai tunjukkan selain raut wajah dingin, datar dan sorot mata tajamnya.


"Lakukanlah permainanmu sendiri dengan benar. Jangan katakan dirimu hebat jika sudah beberapa menit ini kamu bahkan belum bisa mencetak poin. Jadi menurutmu siapakah yang payah di sini. Kamu yang sudah terpandang lihai? Atau aku yang baru melakukan pertandingan hari ini?" Ucap Kai hingga membuat Kevin malu dan tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Kurang ajar. Dia berani juga menghinaku di depan semua orang seperti ini. Aku tidak terima. Aku pastikan kali ini kamu akan langsung kalah dan uang 100 juta harus benar-benar ada di tanganku!" Gumam Kevin dalam hatinya. Merasa permainan yang dilakukan nya tadi belum sepenuhnya serius, itulah mengapa dirinya belum dapat menghandle dengan baik permainan Kai yang terus berusaha menghalau bolanya.


"Aku tidak ingin perjanjian yang kamu buat hanya sebatas omong kosong! Tidak ada kata nanti, aku ingin uang 100 juta itu ada hari ini." Ucap Kevin yang semakin bersemangat untuk melakukan pertandingan dengan cepat dan mengalahkan Kaisar yang menurutnya payah itu.


Tanpa berlama-lama dan menjawab ucapan dari Kevin, Kai pun memilih untuk langsung memulai pertandingan.


Amanda, Tania, Baby dan juga Laura yang tengah fokus memperhatikan jalannya pertandingan ini merasa khawatir dengan hasilnya nanti.


"Bagaimana kalau Kai benar-benar kalah." Amanda.


"Tapi sepertinya dia memang akan kalah. Melempar bola ke arah ring saja Kai tidak bisa." Timpal Laura.


"My Kai memang seharusnya tidak melakukan pertandingan ini karena jelas tidak adil. Dia tidak pernah bermain basket tapi ditantang untuk memainkan nya sebagai taruhan dimana Kevin jago dalam hal ini, bukankah ini bisa dinamakan dengan kecurangan?" Ucap Baby tidak suka dengan perkataan Laura.


"Sudahlah semuanya sedang terjadi. Bagaimana kalau sekarang kita pikirkan saja cara mendapatkan uang 100 juta." Ucap Amanda.


"Iya benar apa kata Amanda. Kita harus memikirkan hal ini." Ucap Baby serius.


"Tentu jelas membawa namamu Laura. Kita kan sahabat, dan uang 100 juta itu sama sekali bukan uang yang sedikit." Ucap Baby.


"Memangnya siapa yang mengatakan uang 100 juta itu sedikit? Tentu jelas itu uang yang besar nominalnya." Ucap Laura sembari menggelengkan kepalanya pusing memikirkan jumlah uang tersebut. "Aku tidak ingin ya mengikuti keinginan kalian untuk membantu Kaisar. Biarkan saja dia mengurusi masalahnya sendiri. Bukankah memang dia yang mengajukannya penuh percaya diri?"


"Iya sudah kalau kamu tidak ingin. Jangan menganggap aku sebagai sahabatmu lagi." Ucap Baby dengan ekspresi merajuk.


"Kenapa harus berkata seperti itu sih. Memangnya persahabatan kita dengan Kaisar lebih penting Kaisar ya." Ucap Laura tak kalah merajuk.


"Aduh kalian berdua bisa diam tidak?" Ucap Tania yang pusing mendengar pertengkaran Laura dan juga Baby.

__ADS_1


"Tidak!!!" Ucap Baby dan juga Laura secara bersamaan.


Melihat reaksi dari kedua temannya itu membuat Tania lelah sendiri. "Kita bisa bicarakan tentang hal itu setelah pertandingan ini selesai. Jadi kalian berdua tunda saja dulu pertengkaran kalian yang tidak berguna itu."


"What? Apa yang kamu katakan? Tidak berguna?" Ucap Baby membulatkan kedua matanya menatap Tania dengan tatapan kesal. Sementara Laura terlihat tengah tersenyum penuh kemenangan.


"Untuk membantu Kaisar aku tidak mengatakan nya begitu. Semua hal tentang Kaisar adalah hal yang terpenting untukku. Tapi untuk pertengkaran kalian rasanya terlalu berlebihan!" Ucap Tania menjelaskan.


"Ck. Seperti yang tidak pernah bertengkar saja. Aku dan Laura itu masih dibatas normal. Sementara kamu? Kapan saling bertanya dengan Amanda?" Timpal Baby.


Mendengar hal itu Tania pun memutar bola matanya malas ke arah Baby, "Aku tidak sedang membahasnya!"


"Iya tapi--"


"Baby!" Laura yang ingin membuat Baby berhenti saling adu mulut dengan Tania dikejutkan dengan sesuatu hal yang terjadi di lapangan.


Yeay!!!!!!!! AAAAAAAAAA!!!!


Teriakan euforia yang menggema di setiap sudut lapangan mengagetkan Tania, Laura dan juga Baby yang tengah saling adu mulut. Sementara Amanda menatap penuh kekaguman dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"I-ini tidak salah bukan? Kai mengalahkan Kevin?" Baik Baby, Amanda dan juga Tania terus menatap kekaguman pada Kaisar. Mengabaikan pertanyaan Laura.


"Aku tidak bisa mempercayai nya. Bagaimana bisa? Bukankah dia belum pernah bermain sebelum nya?" Laura menggelengkan kepalanya tidak percaya. Namun di detik kemudian ia berpikir tentang sesuatu hal. "Pantas saja dia berani mengajukan syarat gila itu. Karena diam-diam dia seorang pemain handal."


"Aku semakin menyukainya." Amanda.


"Aku juga." Baby.

__ADS_1


"Aku jauh lebih lebih menyukainya. Kalian mundur saja perlahan dari sekarang, sebelum aku memilikinya." Ucap Tania penuh percaya diri.


Mendengar perkataan Tania. Baby, Amanda, dan juga Laura pun saling menatap satu sama lain untuk kemudian berucap bersamaan. "Tidak mungkin!" Mereka bertiga berucap dengan berteriak ingin menyadarkan Tania bahwa Kai bukanlah laki-laki yang mudah ditembus begitu saja. Kehebohan mereka ini pun menjadi pusat perhatian dari Kakak kelas mereka yang terlihat jengah dengan tingkah adik kelasnya itu yang terkenal populer dengan kecantikan mereka.


__ADS_2