Pelabuhan Hati Kaisar

Pelabuhan Hati Kaisar
Episode 7 100 Juta Rupiah


__ADS_3

Di saat jam istirahat, Tania dan juga teman-teman satu geng nya langsung menyerbu ke arah kantin. Rasa sesak karena malu yang dirasakan Tania seolah berhasil dihembuskannya setelah keluar dari ruang kelas.


"Aku benar-benar menyesal. Andai saja tadi pagi aku tidak mendengar perkataan kalian, pasti hal itu juga tidak akan terjadi." Protes Tania karena tidak ingin terlihat sangat malu.


"Kita hanya mendukung keputusan kamu, Tan. Kalau pada akhirnya kamu sudah memilih, berarti bukan urusan kita." Ucap Amanda hingga membuat Tania sangat kesal mendengar nya.


"Apa? Selalu saja bersikap santai seolah tidak pernah melakukan apapun!" Timpal Tania tak terima. Reputasi nya sebagai perempuan tercantik satu sekolah SMA Mutiara Cinta seolah tercemar oleh tindakannya tadi pagi.


"Aduh kalian berdua bisa tidak sehari saja tidak saling bertengkar seperti ini. Orang-orang bisa berpikir bahwa persahabatan kita itu hanya pencitraan." Ucap Baby yang langsung mendapat anggukan kepala dari Laras. Keduanya saling mengedarkan pandangan untuk melihat bagaimana reaksi siswa lain yang mendengar pembicaraan Tania dan juga Amanda tadi.


"Bukannya memang pencitraan ya? Kalian berdua tidak sadar, apa pura-pura bodoh?" Ucap Amanda dengan tatapan sinisnya ke arah Tania yang langsung membalasnya dengan tatapan mata yang tak kalah sinis.


"Maksud kamu apa Amanda? Jangan terus memancing pertengkaran, bisa kan?! Ingat. Kita ini sahabat." Ucap Laras dengan ekspresi kesalnya. Ia tidak suka keributan, apalagi menjadi pusat perhatian.


Amanda pun tertawa mendengarnya, "Hei, memancing pertengkaran itu memang kesukaan ku. Bukankah tadi kamu katakan kita bersahabat. Masa iya hanya untuk mengingat kesukaan ku saja kalian tidak bisa." Ucap Amanda sembari melangkah pergi meninggalkan teman-temannya untuk lebih dulu menuju kantin.


Karena kejadian itu, Tania dan juga Amanda tidak saling bertanya hingga pelajaran terakhir. Keduanya pun bahkan tidak duduk dalam meja yang sama, melainkan Tania sengaja bertukar tempat dengan Laras.


Di dalam pelajaran terakhir, guru yang ditugaskan untuk mengajar sedang berhalangan hadir. Untuk itu lah, tugas mengerjakan soal latihan di buku paket yang dimiliki oleh masing-masing siswa tengah dikerjakan.


"Mau sampai kapan kalian bermusuhan seperti ini?" Bisik Baby pada Tania.


"Baru juga tiga jam." Jawab Tania dengan cuek sembari mengerjakan soal nya.


"Ya ampun, Tan. Memangnya harus berapa jam?" Ucap Baby sembari menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


"Iya bebas lah. Selama dia bersikap angkuh di depanku, aku tidak akan memaafkannya."


Baby hanya bisa menghela nafasnya perlahan. Pasalnya kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kalinya. Tania dan juga Amanda memang senang beradu mulut, lalu bermusuhan dan kemudian saling menyapa kembali bagaikan lingkaran setan. Baby sendiri tidak bisa asal menyerang Tania meski hatinya begitu menginginkan. Meski ia juga muak dengan sikap Tania yang selalu ingin dimengerti, Baby tetap tidak ingin pertemanannya dengan Tania berakhir saling menjauh apalagi bermusuhan.

__ADS_1


Di tengah kerenggangan yang terjadi di antara Amanda dan juga Tania, beberapa siswa laki-laki yang merupakan Kakak kelas datang memasuki kelas dan langsung berjalan ke arah Kaisar. Salah seorang di antara mereka bahkan tiba-tiba saja menyerang Kaisar dengan menarik kerah bajunya hingga membuat Kaisar sontak tertarik berdiri dari tempat duduknya.


Semua teman-teman satu kelas Kai tentu terkejut melihatnya. Dan tidak menyangka ada seseorang yang berani mengusik ketenangan Kaisar.


"Guna-guna apa yang kamu lakukan hingga membuat perempuan yang sangat aku sukai begitu mengagumimu, sialan?!" Teriak laki-laki yang sudah menarik kerah baju Kaisar dengan sangat kasar.


Kai dengan tatapan dinginnya, menghempaskan cengkraman tangan laki-laki itu dari kerah bajunya dengan tenaga kuat hingga membuat laki-laki yang tengah mengusiknya saat ini mengaduh kesakitan.


"Hei.. Ka-kamu pikir saya takut apa dengan tatapan mu itu." Ucap laki-laki itu sembari mengusap lengannya yang kesakitan. Dalam hati ia berpikir tentang siapa sebenarnya laki-laki di hadapannya saat ini. Mengapa sikap nya terlihat misterius dan menakutkan. Namun ia harus berpura-pura berani untuk mempertahankan harga dirinya sebagai Kakak kelas.


Kai terus menatap ke arah laki-laki yang tiba-tiba saja menyerang nya saat ini dengan tatapan dinginnya yang menggila. Ia terlihat sangat menyeramkan.


"Ti-tidak perlu ada basa basi lagi. A-aku tekankan padamu untuk tidak bersikap berlebihan, apalagi sampai mem-membuat banyak siswa perempuan di sekolah ini me-menyukaimu." Ucapnya terbata-bata karena terus mendapat tatapan mengintimidasi dari Kaisar.


"Memangnya kenapa jika kami menyukai Kaisar? Kakak tidak berhak ya untuk mengatur sikap Kaisar, apalagi membuat kami tidak menyukainya." Ucap Baby dengan lantang. Tania yang tengah duduk di sampingnya tentu tidak menyangka kalau Baby akan bersikap seberani itu.


"Apa Baby juga sebenarnya menyukai Kai." Batin Tania melirik-lirik ke arah Baby.


Tak perduli dengan perkataan Baby dan sejumlah siswa perempuan lain yang ikut menyerang nya dengan banyak kata-kata, Kakak kelas yang akrab disapa dengan panggilan Kevin itu tengah berpikir cara untuk menumbangkan popularitas seorang Kaisar yang diamnya saja sudah menjadi pusat perhatian.


"Kamu laki-laki, kan?" Ucap Kevin tepat di depan wajah Kai.


"Ini Kak Kevin kenapa sih. Pertanyaan nya tidak jelas. Memangnya Kai itu transgender apa." Ucap Baby mendapat respon jengah dari Tania. Bisa-bisanya Baby berpikir sampai sana tentang maksud perkataan Kevin yang bahkan baru memulai pembicaraan.


"Aku tantang kamu bermain basket sepulang sekolah nanti. Dan yang menang, akan meminta sesuatu untuk dikabulkan oleh yang kalah." Ucap Kevin dengan tatapan merendahkan Kaisar. "Bagaimana? Apa kamu berani?"


Kai terdiam. Kali ini Kai menundukkan pandangannya. Beralih dari memberi tatapan mata tajam nya pada Kevin.


"Ck, belum pernah bermain basket ya? Biasa main barbie bareng anak perempuan tetangga di sebelah rumah mu." Ucap Kevin kali ini dengan tawanya yang teramat keras, mengundang teman-teman nya untuk ikut menertawakan. Ia begitu percaya diri setelah melihat Kai yang tiba-tiba saja menundukkan wajahnya setelah sedari tadi menatapnya penuh keberanian.

__ADS_1


Melihat bagaimana Kai terus terdiam dan belum menjawab tantangan Kevin membuat Tania dan juga teman-teman satu kelasnya yang lain yang begitu menyukai Kaisar merasa cemas. Karena pasalnya, orang yang sedang menantang Kaisar bermain basket saat ini merupakan kapten tim basket sekolah mereka. Dan iya, Kevin memang lihai bermain basket hingga selalu berhasil membawa kemenangan di setiap pertandingan antar sekolah.


"Bagaimana ini, dia curang. Dia menggunakan keahliannya sendiri untuk menyerang lawan." Laras.


"Kai akan menerimanya atau tidak ya. Tapi aku sangat berharap Kai akan mengamuk saja dan mengusir si Kevin." Timpal Amanda begitu kesal melihat nya.


Masih terdiam sejenak. Hingga saat Kevin hendak membuka suaranya lagi. Kai lebih dulu berbicara.


"Aku terima." Ucap Kai dengan sorot mata tajam nya yang kembali menyala. Jawabannya itu tentu membuat semua teman-teman yang ada di ruang kelas saat ini menatap tidak percaya.


"Aku tahu. Meski kamu pendiam dan tidak suka keramaian, sangat percaya diri dan pemberani. Tapi kenapa harus menerima tantangan dari Kevin. Apa Kai begitu frustasi sampai tidak bisa menolak ajakan gila si Kevin. Kenapa tidak diabaikan saja." Batin Amanda harap-harap cemas.


Kini Kevin dan juga teman-temannya tengah tertawa mengejek. Mereka sedang meremehkan kemampuan anak pendiam seperti Kaisar. Bahkan sorot mata tajam yang tengah ditunjukkan oleh Kaisar seolah menjadi lelucon yang tak lagi menyeramkan.


"Tapi dengan satu syarat." Kevin yang tengah asyik tertawa langsung terdiam dan menatap ke arah Kaisar dengan senyuman tipisnya.


"Aku ingin yang kalah membayar uang pada yang menang."


Mendengar perkataan Kaisar kembali memancing tawa Kevin yang semakin lebar saja, disertai oleh teman-temannya yang lain yang tak kalah heboh.


"Aku tahu kamu bukan berasal dari orang yang berada. Tapi tolong Kai. Tolong tahu diri sedikit saja. Jangan banyak mau nya. Karena aku akan menjadi orang yang paling mengasihani mu ketika kamu kalah nanti." Ucap Kevin. Ia berkata demikian karena melihat penampilan Kaisar yang menurutnya tidak ada yang istimewa selain wajah tampan nya, terlebih motor yang dikenakan Kaisar pun tergolong biasa saja. Sementara orang-orang terpandang di SMA Mutiara Cinta salah satu nya ada anak dari salah seorang pejabat. Dan anak itu baru duduk di kelas satu.


"Aku memang miskin. Karena itulah aku butuh uang. Jadi mari kita bertaruh. Meski aku tidak pernah memainkannya bukan berarti aku akan kalah, kan?" Ucap Kai dengan sorot mata tajamnya yang tak padam menyala. Memancarkan kemarahan yang terpendam.


"Wow.. Luar biasa. Aku sangat suka melihatmu tidak tahu diri seperti ini. Oke, aku setuju dengan syarat mu. Berapa uang yang harus dikeluarkan. Aku sih terserah padamu." Ucap Kevin seolah tengah tersenyum penuh kemenangan, padahal pertandingan belum siap dimulai.


"100 juta. Aku ingin kita bertaruh uang 100 juta dalam pertandingan nanti. Bagaimana?" Ucap Kai dengan ekspresi datarnya.


Mendengar angka yang sangat fantastis itu cukup membuat semua orang yang tengah berada dalam ruangan kelas begitu terperangah. Menatap Kaisar dengan rasa tidak percaya.

__ADS_1


"What? Are you serious?" Ucap Kevin menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


__ADS_2