Pelabuhan Hati Kaisar

Pelabuhan Hati Kaisar
Episode 2 Kemarahan Kaisar


__ADS_3

Gadis yang datang untuk menemui Kaisar itu bernama Aurora. Ia merupakan anak dari salah satu rekan bisnis Ayahnya Kai. Dan sekarang, gadis itu tengah menunggu Kaisar di ruang tengah.


Setelah diberitahu tentang kedatangan seorang gadis ke rumah nya, Kai langsung terdiam dengan tatapan dingin. Menghela nafasnya kasar, lalu membuang muka. Terlihat jelas ia sangat tidak suka dengan apa yang sudah dikatakan oleh Bi Hani.


"Maafkan Bibi, Tuan Muda. Bukan maksud Bibi lancang membiarkan Nona Muda itu untuk masuk ke dalam rumah. Melainkan karena Tuan Utama yang sudah mengijinkan nya." Ucap Bi Hani sembari menundukkan kepalanya. Berbicara dengan Tuan Muda Kaisar di depan pintu kamar Tuan Muda.


Sembari menghela nafas panjang, Kai berkata. "Aku sudah menduganya."


"Nona sudah menunggu Tuan di ruang tengah." Ucap Bi Hani memberanikan diri berbicara ditengah perasaan kesal yang sedang meliputi perasaan Tuan Muda nya.


"Katakan saja padanya aku sedang sibuk mengerjakan tugas."


"Tapi, Tuan--"


"Kedatangannya ke rumah ini sudah cukup membuatku kesal dan muak. Jadi lakukanlah perintahku ini, atau aku yang akan mengusir nya dan memecat Bi Hani!" Ucap Kai dengan tatapan tajamnya pada Bi Hani yang kini terlihat semakin ketakutan.


"Maafkan Bibi, Tuan Muda. Maafkan Bibi. Bibi akan segera melaksanakan perintah Tuan Muda." Ucap Bi Hana berjalan cepat menuju ruang tengah untuk merealisasikan perintah Tuan Muda nya karena tak ingin sampai ancaman pemecatan itu terjadi.


"Dimana Kai?" Melihat bagaimana Bi Hani berjalan ke arahnya tanpa adanya Kai sontak membuat Aurora beranjak dari tempat duduknya dan langsung bertanya tentang dimana keberadaan Kai.


"Tuan Muda ada di kamarnya, Nona." Ucap Bi Hani sembari menundukkan kepalanya.


"Iya aku tahu. Anda kan yang tadi sudah mengatakan kalau Kai ada di kamarnya. Sedang apa dia? Kenapa lama sekali untuk turun menemui ku?" Ucap Aurora yang terlihat semakin kesal karena lagi-lagi harus menunggu.


"Maaf, Nona. Tapi Tuan Muda tidak bisa menemui Nona karena sibuk mengerjakan tugas sekolah."


"Apa yang dia katakan?! Aku sudah menunggunya sejak tadi. Memangnya Kai tidak bisa mengerjakan nya nanti malam apa. Lagipula sebanyak apa sih tugas dia sampai tidak bisa menemui ku!" Batin Aurora kesal namun berusaha mengolah sikapnya untuk tidak berkata kasar karena takut kalau tiba-tiba saja Kai muncul, ya meskipun sekarang ia tahu Kai tidak ingin menemuinya. Yang bisa dipastikan laki-laki itu masih bertapa di kamarnya.


"Mohon kerjasama nya, Bi. Tolong katakan pada Kai aku sudah menunggunya sedari tadi. Tidak bisakah dia keluar sebentar saja untuk menemui ku? Aku pastikan tidak akan lama." Ucap Aurora seramah mungkin untuk bisa membuat pelayan di rumah Kai menuruti keinginannya. Tersenyum palsu yang sebenarnya terlihat jelas di mata Bi Hani.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Bibi tidak bisa. Di rumah ini Bibi bekerja untuk keluarga Utama. Dan Bibi diperintahkan oleh Tuan Muda untuk meminta Nona segera pulang."


"Apa? Dia benar-benar langsung mengusirku? Dasar laki-laki gila. Aku sudah suka rela datang menemuinya seperti ini tapi dia malah mengusirku begitu saja. Paling tidak dia datang menemui ku dulu kan bisa? Tapi ini apa maksudnya?!" Batin Aurora semakin kesal dan merasa diacuhkan oleh Kai.


"Aku tidak mau pulang!" Ucap Aurora memberanikan diri menantang Kai untuk terpaksa menemuinya.


"Saya mohon dengan sangat agar Nona tidak bersikap berlebihan."


"Apa Anda bilang? Aku berlebihan?! Yang jelas-jelas berlebihan itu ya Tuan kalian. Betapa sombongnya dia sampai menemui ku saja tidak mau!" Ucap Aurora menghentakkan kakinya kesal. Ia bahkan tidak menyadari bahwa nada suaranya berhasil mengganggu ketenangan Kaisar. "Pokoknya aku tidak mau pulang sebelum Kai yang langsung meminta nya tepat di depanku!" Ucapnya lagi lebih keras.


"Tolong pelan kan suara Nona. Jangan sampai suara keras Nona terdengar oleh Tuan Muda." Ucap Bi Hani terlihat panik. Apalagi saat melihat tatapan pelayan lainnya yang juga terkejut melihat sikap tamu Tuan Muda yang tidak bisa mengontrol suaranya hingga terdengar sangat berisik.


Beberapa pelayan wanita berjalan cepat menghampiri Bi Hani.


"Siapa dia, Bi?" Bisik salah satu di antara mereka.


"Tuan Muda pasti tidak mau menemuinya." Timpal pelayan lainnya.


"Tapi sepertinya dia bukan orang sembarangan. Status nya pasti setara dengan Tuan Muda makanya dia bisa tahu tempat tinggal Tuan Muda Kaisar."


"Iya seperti nya begitu. Tapi dia harus cepat kita bawa keluar sebelum Tuan Muda marah." Salah satu pelayan tak sabar ingin mengusir Aurora. Ekspresi wajah nya kini sudah terlihat pucat. Ia tahu bagaimana Tuan Muda nya tak bisa toleransi ketika sedang marah.


Para pelayan yang menghampiri Bi Hani saling berbisik, dan hanya sedikit yang dapat didengar oleh Aurora.


"Cih. Memangnya kenapa jika Tuan Muda kalian mendengar nya? Karena aku memang sengaja menantang nya untuk datang menemui ku!"


"Nona, Bibi mohon. Pulanglah. Jangan sampai apa yang Nona lakukan sekarang membuat Tuan Muda marah." Ucap Bi Hani yang tak ingin menjadi sasaran kemarahan Tuan Muda Kaisar karena tidak bisa segera mengusir Nona Aurora.


"Iya benar Nona.. Pulang lah. Semoga di lain waktu Nona bisa menemui Tuan Muda." Salah satu pelayan lainnya ikut menimpali. Sementara yang lainnya menganggukkan kepala mereka setuju.

__ADS_1


"Aku katakan tidak mau ya tidak mau! Apa kalian tidak mengerti bahasa Indonesia?!" Aurora yang tetap pada pendiriannya. Tak perduli jika dirinya telah melakukan kesalahan dengan membuat para pelayan keluarga Utama ketar ketir.


"Nona, Bibi Mo--"


"Hei sialan!" Bi Hani yang hendak kembali membujuk Nona Aurora dan ingin membawanya keluar dibantu pelayan yang lain langsung terdiam membeku di tempatnya saat ini ketika suara yang ditakutkan benar-benar muncul. Pelayan yang lain juga ikut terperangah dibuatnya. Bayangan tentang bagaimana Tuan Muda Kaisar meluapkan amarahnya pada salah satu karyawan yang diam-diam memotretnya karena tidak tahan dengan ketampanan Tuan Muda Kaisar, kembali menari-nari dalam benak seluruh pelayan di barisan inti rumah.


Sementara Aurora yang baru pertama kalinya bertemu dengan Kaisar di salah satu event bisnis Ayahnya, mulai ketakutan saat mendengar suara menggelegar Kaisar yang seolah siap menerkam nya.


"Apa dia memang ganas dan menakutkan? Apa mungkin itu juga yang membuat para pelayan tadi sampai memohon-mohon padaku." Batin Aurora menyesali perbuatannya.


Kai dengan tatapan tajamnya berjalan menghampiri para pelayan nya dan juga Aurora.


"OH MY GOD! OH MY GOD!! Kai pakai baju santai begitu kenapa auranya jadi tampan berkali-kali lipat sih." Batin Aurora terkesima. Ia bahkan lupa dengan kemarahan Kai yang tercipta di wajah nya saat ini.


"Kai, aku--" Aurora hendak menjelaskan maksud kedatangan nya. Namun Kai langsung menimpali perkataan nya dengan penuh emosi.


"Keluar!!" Ucap Kai dengan sangar dan tegas hingga membuat Aurora yang tengah terkesima dan tersenyum tipis-tipis tersadarkan diri dan hampir terjatuh karena refleks ingin menjauh.


"Aku tekankan sekali lagi padamu, keluar! Apa perkataan ku tak cukup kamu mengerti?!" Ucap Kai dengan tatapan tajam dan dingin yang dimilikinya.


Aurora yang terus mendengar bentakan Kai tidak kuat juga hingga rasanya ingin menangis dan mulai berkaca-kaca, "Kai.. Apa kamu tidak bisa berbicara lembut padaku? Aku hanya ingin menemui mu karena kita sudah berteman." Ucap Aurora menganggap perkenalkan yang dilakukan oleh Ayahnya dan juga Ayah Kai adalah awal dari pertemanan nya dengan Kaisar yang saat itu bahkan tak mengajak nya berbicara sepatah kata pun.


"Keluar sekarang, atau aku akan memerintahkan petugas di rumah ini untuk membawamu paksa keluar." Ucap Kai masih dengan tatapan tajamnya.


"Oke aku akan keluar. Tapi janjinya ya. Setelah kamu tidak sibuk nanti kita bisa main sama-sama." Kai kembali melangkah mendekati Aurora hingga berjarak tipis.


"Keluar, sialan!!!" Teriakan yang menggema hingga memenuhi setiap sudut ruangan membuat semua orang yang ada di ruang tengah saat ini terdiam dalam hati penuh ketakutan. Aurora yang tadinya ingin lebih lama berbicara dengan Kaisar langsung melangkahkan kakinya cepat, keluar dari rumah Kaisar dengan tangisan yang tidak bisa ia bendung lagi.


"Aku membencimu Kaisar. Aku membencimu! Tapi kenapa kamu terlihat sangat tampan sih dan wajahmu yang tampan itu terus terngiang-ngiang dipikiranku." Batin Aurora sembari menghapus air matanya yang terus berjatuhan.

__ADS_1


__ADS_2