
Di koridor sekolah. Istirahat 15 menit sebelum jam pelajaran terakhir.
Tepat setelah jam pelajaran ke-empat, Xaxa menerima panggilan telepon dari pihak SMA Mutiara Cinta. Dan sekarang, ia tengah tersenyum senang sembari menatap sahabatnya yang tak kalah bahagia. Syifa bahkan berjingkrak riang saking senangnya melihat Xaxa berhasil masuk SMA favorit yang diincar oleh banyak siswa di wilayahnya itu.
"Tuh kan apa yang aku katakan benar terbukti. Kamu pasti berhasil masuk. Ah, senangnya jadi anak MC. Aku sangat iri padamu, Xa. Andai saja otakku cerdas, aku sudah pasti akan berjuang ikut tes itu sepertimu. Tapi ya karena berhubung pas-pasan, aku sudah cukup bahagia melihatmu sekarang." Ucap Syifa begitu bangga dengan pencapaian Xaxa.
"Terima kasih ya, Syif. Aku terharu karena kamu begitu mendukung apa yang aku lakukan. Aku sangat bahagia memiliki sahabat sepertimu." Ucap Xaxa dengan ekspresi wajah yang kali ini terlihat tidak senang seperti tengah memikirkan sesuatu hal.
Syifa yang begitu peka akan perubahan mimik wajah Xaxa, sontak langsung menimpali nya. "Apa benar kamu bahagia memiliki sahabat sepertiku?"
"Jelas tentu aku bahagia. Kita sudah saling mengenal sejak kecil. Apa sikapku terlihat meragukan?" Ucap Xaxa berusaha tersenyum di hadapan Syifa.
"Lalu Kenapa ekspresi wajahmu tadi terlihat tidak senang saat mengatakan nya? Apa ada yang mengganggu pikiranmu sekarang?" Ucap Syifa menatap lekat sahabat baiknya. Tersenyum menyelidik, "Jangan katakan kalau kamu tidak akan mengambil beasiswa itu?" Xaxa terdiam. Mengalihkan tatapan matanya dari Syifa.
Melihat bagaimana Xaxa memalingkan wajah darinya cukup memperkuat dugaan Syifa yang langsung membombardir Xaxa dengan kata-kata nya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Xa? Kenapa kamu jadi berubah pikiran. Bukankah waktu itu kamu begitu bersemangat untuk mendapatkan nya. Kenapa sekarang hatimu berubah. Kesempatan kamu untuk bisa masuk dan mendapatkan beasiswa di MC hanya tinggal kali ini saja. Apa kamu yakin akan melepaskannya begitu saja setelah kamu berusaha berjuang untuk mendapatkan nya. Aku tidak ingin nantinya kamu kecewa, Xa?" Syifa berbicara panjang kali lebar tanpa memberi kesempatan untuk Xaxa bisa menyelanya.
Setelah menghela nafas panjang, Xaxa mulai berbicara, "Aku belum menjawab apapun." Ucap Xaxa mengelus lembut lengan Syifa yang tengah memeluk tubuhnya dari samping. Ia begitu menyayangi Syifa layaknya seorang adik. Meski memiliki usia yang sama, Syifa memang selalu terlihat kekanak-kanakan jika bersama nya.
"Memangnya apa jawaban sebenarnya. Tentu bukan untuk menolaknya, kan?" Tanya Syifa dengan ekspresi wajah cemberut untuk memperlihatkan ketidaksetujuan nya jika Xaxa benar-benar akan menolak beasiswa nya.
"Aku hanya--"
Dddrrrtt.. Dddrrrtt..
Saat Xaxa hendak menceritakan masalahnya pada Syifa, tiba-tiba nada getar yang menandakan panggilan masuk berbunyi pada ponsel Syifa.
"Sebentar, Xa. Ada yang menghubungiku." Ucap Syifa mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya dan melihat nomor siapa yang menghubungi nya saat ini.
Setelah melihat nama penelepon yang tertera di layar ponselnya, Syifa refleks menghindar saat Xaxa hendak melihat layar ponselnya.
__ADS_1
"Telfon dari siapa, Syif?" Ucap Xaxa dengan suara pelan menatap Syifa
Tak ingin membuat Xaxa curiga, Syifa pun langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya.
"Siapa lagi kalau bukan dari mantan sialan ku itu." Ucapnya berbohong.
Dengan tertawa mengejek Xaxa berbicara, "Jadi Rafa masih mengganggumu? Aku pikir dia sudah menyerah setelah acara malam itu."
"Aku juga berpikir yang sama sepertimu. Tapi anehnya dia masih saja terus menghubungiku." Ucap Syifa berusaha meyakinkan Xaxa.
"Emm.. Aku ingin ke toilet dulu sebentar ya, Xa. Kamu masuk duluan saja ke dalam kelas." Ucap Syifa sembari melangkah menjauhi Xaxa. Xaxa yang tidak menaruh kecurigaan mengikuti perkataan Syifa untuk masuk lebih dulu ke dalam kelas.
Dan yang terjadi sebenarnya saat ini ialah Syifa tengah mencari tempat paling nyaman untuk nya berbicara dengan seseorang yang tengah menghubungi nya saat ini. Setelah mendapatkan ruang atau tempat yang jauh dari adanya siswa yang tengah berkeliaran di jam istirahat terakhir, akhirnya Syifa kembali mengeluarkan ponsel di sakunya yang memang masih terhubung dengan seseorang yang menghubunginya saat ini.
"Halo, Ayah nya Xaxa."
"Xaxa sudah tidak ada di sampingmu kan sekarang?" Tanya Ayah Xaxa memastikan.
Dan iya, yang menghubungi Syifa saat ini ialah Ayah Xaxa. Saat melihat adanya panggilan telepon dari Ayah Xaxa yang namanya terpampang jelas di layar ponselnya, Syifa juga sudah lebih dulu membaca pesan singkat dari Ayahnya Xaxa yang meminta nya untuk berdiri menjauh dari Xaxa. Ada hal penting yang akan di sampaikan nya.
"Baiklah, terima kasih Syifa."
"Sama-sama, Ayah." Syifa memang sudah biasa memanggil sebutan Ayah pada Ayahnya Xaxa sejak kecil, bahkan sebelum dirinya masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Ayahnya Xaxa yang begitu ramah langsung menarik perhatian Syifa untuk menyebut nya Ayah. Sementara pada orang tua kandungnya sendiri, Syifa memanggil nya dengan sebutan Papah.
Hening. Keduanya saling terdiam dalam beberapa saat. Syifa yang diam karena menunggu apa yang akan dikatakan Ayahnya Xaxa. Sementara Ayahnya Xaxa terdiam sembari menahan tangisnya, tak kuasa membuka suaranya untuk menjelaskan.
"Ayah Xaxa. Maaf untuk hal penting yang ingin Ayah katakan pada Syifa itu apa?" Tanyanya segera karena tak kunjung mendengar suara Ayahnya Xaxa.
Sementara Ayahnya Xaxa kini tengah mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya berucap, "Ibunya Xaxa meninggal dunia"
Deg, Apa?
__ADS_1
Syifa yang begitu terkejut dan tidak menyangka membulatkan matanya.
"Ini pasti salah kan Ayah? Bukankah Ibunya Xaxa baik-baik saja dan sebentar lagi akan bisa pulang ke rumah?" Ucap Syifa yang tahu akan berita itu dari Xaxa sendiri. Sedangkan Xaxa mengetahui hal itu dari Ayahnya yang sengaja berbohong hanya untuk tidak membuat anaknya khawatir dengan kondisi Ibunya yang sebenarnya.
"Ayah sudah membohongi Xaxa. Tadinya Ayah pikir, keadaan Ibu Xaxa akan segera baik-baik saja dengan adanya penanganan dokter. Dan Xaxa tidak perlu khawatir karena kebohongan itu hanya untuk sebentar saja. Tapi kenyataannya takdir berkata lain. Takdir sudah membawa istriku untuk meninggalkan ku." Ucap Ayah Xaxa sembari menangis terisak. Perjuangannya untuk bisa membuat istrinya sembuh dan kembali berkumpul bersama-sama lagi di dalam rumah sirna oleh kepergian.
Syifa tentu ikut menangis. Tidak bisa membayangkan bagaimana jika Xaxa mengetahui tentang hal ini.
Syifa masuk ke dalam kelas bersama Ibu guru yang akan mengajarnya di jam terakhir. Ibu guru tersebut tidak langsung duduk di tempatnya, melainkan berjalan menghampiri Xaxa dan Syifa yang tentunya langsung duduk di samping Xaxa.
"Selamat untuk beasiswa yang sudah berhasil kamu raih. Ibu bangga sama pencapaian kamu." Ucap Ibu guru tersebut tersenyum menatap Xaxa. Sementara reaksi dari teman-teman sekelas Xaxa yang tidak mengetahui akan hal ini begitu terkejut mendengarnya. Mereka jadi saling berbincang satu sama lain, hingga membuat keadaan kelas menjadi gaduh.
"Jangan berisik ya anak-anak. Ibu tidak ingin sampai kelas di sebelah kita merasa terganggu." Ucap guru tersebut menenangkan.
"Iya, Bu." Ucapnya serentak.
"Emm, tapi Bu. Apa beasiswa yang sudah didapatkan oleh Xaxa? Apa dia akan pergi keluar negeri?" Ucap seorang laki-laki yang duduk di barisan paling depan.
Ibu guru pun menggelengkan kepalanya, "Xaxa akan bersekolah di SMA Mutiara Cinta."
"Apa?" Ucap semua teman-teman Xaxa dengan ekspresi terkejut terkecuali Syifa yang sudah tahu semuanya.
"Xaxa mau jadi anak MC? Kenapa? Sekolah itu kan jadi saingan sekolah kita."
"Iya. Kenapa harus memilih Mutiara Cinta, Xa. Dari dulu setiap pertandingan basket antar sekolah, sekolah kita selalu dikalahkan oleh SMA Mutiara Cinta. Aku tidak masalah dan menerima nya. Hanya saja aku tidak suka dengan gaya mereka yang terlihat sangat sombong!"
"Iya benar, Xa. Kenapa tidak memilih sekolah lain. Apa kamu akan menjadi musuh kita juga."
"Tidak usah berlebihan. Xaxa tidak mungkin menganggap kita sebagai musuh. Hidup itu jangan terlalu drama, biasa aja lah." Ucap Syifa tak suka teman-temannya terlalu banyak mengomentari keputusan Xaxa.
"Aku harap kamu bahagia di sana. Biarlah perasaan ini aku simpan sendirian. Aku sudah cukup bahagia melihatmu tersenyum setiap hari." Batin seseorang yang duduk di barisan paling depan, yang pertama kali nya melontarkan pertanyaan pada Ibu guru.
__ADS_1