
Kini Ayah, Yusuf dan juga Xaxa tengah duduk berkumpul di ruang tamu. Ketiganya saling menatap serius untuk mendengarkan apa yang akan Yusuf jelaskan.
"Disaat pertama kalinya kita membutuhkan uang untuk pengobatan Ibu. Disaat itu aku memberikan uang pada Ayah. Dan uang itu sebenarnya uang yang mau aku pakai untuk membayar semester kuliah."
Ayah dan juga Xaxa menatap lekat Yusuf yang tengah menjelaskan duduk perkara dari hutang yang dimilikinya saat ini.
"Aku tidak tega melihat penyakit yang diderita Ibu. Untuk itu aku berbohong pada Ayah, dan mengatakan bahwa aku punya simpanan. Di saat aku membutuhkan uang untuk membayar uang semesteran, aku mengandalkan pinjaman pada rentenir itu tanpa memperdulikan bunganya yang cukup besar. Dari situlah, karena uang Ayah yang juga habis untuk pengobatan Ibu, aku memaksakan diri meminjam lagi untuk kebutuhan kita sehari-hari hingga pada akhirnya aku justru terperangkap. Yang awalnya aku hanya meminjam sekitaran empat juta, karena harus gali lobang tutup lobang menjadi 15 juta. Sekali lagi maafkan kebodohan Yusuf, Ayah." Terang Yusuf menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.
Ayah yang mulai menyadari kesalahannya yang tidak memperhatikan posisi Yusuf, kembali memeluk putra sulungnya itu dan kembali menangis. Ia tidak menyangka karena masalah keuangan yang diderita dalam keluarganya saat ini hingga membuat Yusuf menanggung beban hutang yang harus ia lunasi sendiri.
"Kenapa kamu tidak mengatakan nya pada Ayah, Nak? Maafkan Ayah yang tidak berguna ini."
"Tidak Ayah. Ayah sangat bertanggung jawab dalam keluarga kita. Selama bertahun-tahun ini Ayah sudah berjuang untuk menghidupi kita. Aku yang seharusnya berpikir. Jika saja aku tidak bekerja sambil kuliah, mungkin masalah ini tidak akan terjadi." Ucap Yusuf menundukkan wajahnya dalam.
"Tidak begitu Yusuf. Kamu memang seharusnya kuliah. Kamu sudah bersabar untuk menunda waktu selama tiga tahun. Kamu seharusnya bisa menikmati hasil jerih payah mu. Tapi Ayah malah membebanimu dan membuat mu dalam masalah."
Keduanya saling berpelukan cukup lama. Xaxa yang tidak kuat lagi melihat bagaimana keadaan keluarga nya saat ini, berusaha berpikir keras untuk meringankan beban dalam keluarganya.
"Aku harus bagaimana? Ayah dan juga Kak Yusuf melarang ku untuk berhenti sekolah. Tapi aku tidak tahan melihat mereka terus berjuang sementara aku yang kebagian untuk meminta hasil dari jerih payah mereka." Batin Xaxa berusaha memikirkan yang terbaik yang dirinya bisa lakukan. Namun ia masih saja kebingungan untuk melangkah.
• • •
Aurora berlari memasuki rumahnya dan langsung melangkah cepat menuju dimana kamarnya berada. Mengabaikan Mamanya yang tengah duduk di ruang tengah bersama adiknya yang baru berusia empat tahun.
"Ada apalagi dengan anak itu. Setelah semalam merengek meminta alamat dari Tuan Utama, sekarang dengan tidak sopan nya mengabaikan ku." Ucap Maya, Mama kandung Aurora.
Aurora yang tengah kesal, menutup pintu kamar nya dengan kasar setelah masuk ke dalamnya. Menghempaskan seluruh tubuh nya ke atas tempat tidur, lalu menangis sejadinya. Meluapkan seluruh emosi yang dirasakan nya setelah mendapat perlakuan tidak mengenakan dari Kaisar.
"Aku membencimu Kaisar. Aku membencimu!! Berani-beraninya kamu mengabaikan ku, sementara teman-teman di sekolah yang berusaha untuk bisa mendapatkan ku, aku abaikan. Kamu benar-benar makhluk aneh! Kurang cantik kah aku di matamu, Kai? Apa kamu memiliki gangguan penglihatan, hah?!" Aurora berbicara dengan berteriak. Memukul mukul tempat tidurnya dengan kekesalan yang mendalam.
Maya yang mendengar kegaduhan di dalam kamar putri sulungnya itu bergegas menemui nya.
"Jihan!" Teriaknya memanggil pelayan yang bertugas untuk menjaga Meisya ketika ia sedang punya urusan.
"I-iyaa, Nyonya." Jihan pun datang dengan cepat.
__ADS_1
"Tolong jaga Meisya. Saya mau menemui Aurora dulu di kamarnya."
"Baik, Nyonya." Ucap Jihan sembari menundukkan wajahnya.
Maya pun bergegas menuju kamar Aurora.
"Dede Meisya sedang main apa?" Tanya Jihan mendekati Meisya yang tengah duduk di atas sofa. Sementara dirinya duduk di bawah lantai tepat di hadapan Meisya.
"Main boneka beruang." Ucapnya dengan bibir mungil yang imut dan lucu. Pipinya yang chubby semakin terlihat menggemaskan.
"Wah, main sama boneka beruang kesayangan Dede Meisya ya. Hadiah pemberian dari Kak Aurora."
Meisya menganggukkan kepalanya sembari fokus menatap boneka beruang yang setia berada dalam dekapan tangan mungil nya.
Sebenarnya Jihan hanya berbasa-basi bertanya untuk memulai pembicaraan. Karena siapapun pasti akan tahu apa yang dilakukan Meisya yang tengah memeluk boneka beruang sambil berbicara pelan dengan boneka itu.
Maya sudah berdiri di depan pintu kamar Aurora dan berulang kali mengetuk pintu kamar dari anaknya itu. Namun tidak ada sahutan apalagi gerakan membuka pintu untuk mempersilahkan nya masuk. Karena yang ada ia hanya mendengar suara jeritan dan teriakan dari anaknya di dalam kamar.
"Sayang tolong buka pintunya. Mama mau masuk" Pinta Maya pada Aurora yang masih saja meraung-raung dengan tangisannya.
Aurora yang sudah kehabisan tenaga pun terdiam. Mengatur nafasnya perlahan untuk kemudian turun dari tempat tidur menuju pintu kamarnya dan membukanya perlahan.
"Ya ampun sayang, sebenarnya ada apa?" Tanya Maya dengan sangat panik setelah melihat penampilan Aurora yang berantakan. Terlebih saat melihat seisi kamar dari anak gadisnya itu yang tak kalah hancurnya.
"Mama!! Hiks. Mama!!" Aurora bergerak memeluk Mamanya sambil kembali menangis.
"Aurora, tenanglah. Dan jelaskan semuanya sama Mama. Apa anak laki-laki Tuan Utama menyakitimu? Apa yang dia lakukan?" Ucap Maya tak sabar mendengar penjelasan dari anaknya.
"Dia, dia menyakitiku, Ma.. Dia mengacuhkan ku dengan mengusirku dari rumahnya. Huaaaaa." Aurora pun kembali menangis kencang.
"Sayang, tenanglah dan jelaskan lagi. Apa yang menjadi alasan anak dari Tuan Utama itu mengusirmu." Ucap Maya tak bisa sembarang melapor pada suaminya tentang apa yang terjadi pada anaknya kini. Karena mengingat bagaimana status sosial Tuan Utama yang jauh lebih tinggi dari nya.
"Emmm.." Sembari mengatur nafasnya Aurora berpikir tentang bagaimana tanggapan Mamanya jika tahu sifat asli Kaisar yang dingin dan pemarah.
Maya mengurai pelukan, memandangi wajah anaknya lebih intens, "Apa alasannya Aurora? Jelaskan sama Mama. Dia tidak menyakitimu secara fisik, kan?" Desaknya ingin mendengar jawaban Aurora.
__ADS_1
"Kai sama sekali tidak melakukan itu. Dia hanya.."
"Dia hanya apa?" Tanya Maya kesal melihat anaknya seperti memendam sesuatu.
"Dia hanya tidak menyukaiku. Tapi aku sangat menyukainya, Ma!" Jawab Aurora dengan lantang. Ia kembali merengek sembari menangis kencang.
Melihat anaknya terus bertingkah seperti anak kecil cukup membuat Maya geram. Namun ia masih berusaha menahan amarahnya. Mengingat bagaimana manjanya Aurora yang tidak bisa ia perlakukan dengan keras.
"Bukankah kamu sudah lama mengenal Riko. Dia anaknya baik dan tampan juga. Apa kamu benar tidak pernah menyukainya? Dia suka sama kamu, kan?"
"Jika di bandingkan dengan Kaisar, Riko sama sekali tidak ada apa-apa nya, Ma. Dia itu sempurna. Tampan dan sangat mempesona. Kalau saja aku punya fotonya, aku bisa tunjukkan itu pada Mama."
"Cari saja sosial medianya. Mama penasaran ingin lihat."
"Tidak ada, Ma."
"Kenapa tidak ada?"
"Dia itu ansos!"
"Maksudnya apa?"
"Anti sosial, Ma. Dia tidak suka main sosial media. Ayah Kai yang langsung mengatakan nya padaku di acara event bulan lalu saat aku meminta nama media sosial Kai di berbagai platform. Tapi Ayahnya langsung bilang kalau Kai itu sangat privasi. Menyebalkan bukan?"
Maya menghela nafasnya perlahan, "Melihat bagaimana tampan dan gagah nya Tuan Utama, Kai pasti tidak jauh berbeda."
"Kai jauh lebih tampan." Sahut Aurora tak mau kalah.
"Itu karena dia masih muda."
"Tidak, Ma. Itu karena Kai memang berbeda. Mama memang harus melihatnya secara langsung."
"Sudahlah, jangan menyiksa diri. Carilah laki-laki yang bisa menerimamu dan lupakan Kaisar."
"Aaaaaaa, Mama!! Aurora mau nya Kaisar. Pokoknya Kaisar! Tidak mau yang lain. Mama sama Papah harus bantu aku untuk bisa bersama dengan Kaisar. Bagaimana pun caranya." Ucap Aurora memaksakan keinginan nya dengan mendesak kemampuan kedua orang tuanya.
__ADS_1