
Di dalam sebuah ruang kamar sederhana dengan cat tembok berwarna putih.
Plak!! Tamparan keras tepat mendarat di pipi kanan.
"Apa kamu sudah gila? Sejak kapan kamu menjadi anak yang ceroboh?"
Laki-laki yang baru berusia 24 tahun itu tidak menjawab perkataan Ayah nya. Memilih diam sembari menundukkan wajahnya, menahan sakit yang terasa di pipi kanan nya bekas tamparan sang Ayah tadi.
"Apa kamu tidak berpikir sebelum melakukan nya? Bagaimana keadaan keluarga kita saat ini? Bagaimana keadaan Ibumu."
"Maafkan Yusuf, Ayah. Yusuf sangat menyesalinya." Ucap laki-laki yang bernama asli Yusuf Ramadhan Putra.
"Apa yang kamu katakan? Menyesal?" Ayah Yusuf melangkah mendekati anaknya, berdiri tepat di hadapan wajah anaknya dengan tatapan menusuk "Kenapa baru sekarang?! Kenapa tidak sebelum kamu melakukannya untuk pertama kali. Apa memang kamu sengaja ingin membuat keluarga kita yang miskin ini semakin melarat!"
"Cukup Ayah. Jangan terus berteriak seperti ini. Bagaimana jika tetangga kita mendengar nya." Ucap seorang gadis yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar yang pintunya tidak tertutup penuh. Ia sedari tadi diam mendengarkan percakapan sembari menangis di balik tembok kamar luar.
"Biarkan saja. Biarkan saja mereka semua tahu dan membicarakan betapa hancurnya keluarga kita!" Ucap Sang Ayah masih dengan nada menggebu-gebu.
"Ayah.. Xaxa mohon Ayah. Tenangkan diri Ayah. Kita bicarakan semuanya dengan tenang. Kak Yusuf juga kan sudah menyesali nya. Jadi Xaxa mohon Ayah maafkan Kak Yusuf, dan kita cari jalan keluarnya sama-sama." Gadis itu bernama lengkap Xavera Adelina Putri.
"15 juta."
Deg,
Ayah mendekati Xaxa, menatap putri keduanya dengan air mata yang mulai berjatuhan.
"Apa kamu pikir uang sebanyak itu bukanlah persoalan serius? Apa Ayah harus sabar mendengar nya sementara harta kita sudah habis untuk pengobatan Ibumu." Dengan berurai air mata Ayah berbicara tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Xaxa. Sementara Yusuf menangis sesenggukan dibelakang punggung Ayahnya.
"Kita bahkan sudah menunggak dua bulan untuk membayar sewa rumah ini. Gaji Ayah yang hanya cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari, harus kita pakai untuk pengobatan Ibu. Dan sekarang, Kakakmu berulah. Apa Ayah tetap harus bersabar? Bagaimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat ditengah keadaan keluarga kita yang butuh banyak uang untuk pengobatan Ibu, Nak."
Ayah memeluk Xaxa dengan tangisnya, "Ayah harus bagaimana, Nak? Ayah sudah tua. Uang pensiunan Ayah selama bekerja jadi buruh pabrik sudah habis dipakai pengobatan Ibumu. Sekarang pekerjaan Ayah sudah tidak tetap. Ayah berjualan keliling dengan hasil yang tak tentu. Kita sekarang mulai mengandalkan Kakakmu. Tapi... Tapi dia.." Sembari terisak Ayah tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Maafkan Ayah yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kalian. Maafkan Ayah, maafkan Ayah..."
__ADS_1
"Ayah.." Xaxa yang sedari tadi juga ikut menangis tersedu-sedu mencoba menenangkan Ayahnya. Mengusap pelan bahu sang Ayah. "Xaxa juga minta maaf karena belum bisa membantu meringankan beban Ayah dan juga Kakak."
"Tapi sekarang Xaxa akan berusaha mencari pekerjaan."
"Apa maksud kamu, Nak?" Ucap Ayah sontak mengurai pelukan dengan tatapan terkejut.
Yusuf yang sedari tadi menangis juga mulai mengusap air matanya dan fokus menatap Adiknya.
"Xaxa akan berhenti sekolah dan mencari--"
"Tidak, Xa. Ayah tidak setuju. Kamu harus tetap sekolah dan melanjutkan nya sampai lulus." Sela Ayah tak terima dengan keputusan anak perempuan nya.
"Tapi Ayah--"
"Kakak juga tidak setuju dengan keputusan kamu. Kamu harus tetap sekolah."
"Lalu bagaimana dengan hutang Kakak? Pengobatan Ibu? Uang sewa rumah dan juga untuk kebutuhan kita sehari-hari seperti makan dan yang lainnya. Xaxa juga sekolah butuh uang untuk membayar uang SPP bulanan, beli buku dan untuk kegiatan lainnya Ayah. Xaxa mungkin bisa tahan untuk tidak membeli jajanan di sekolah, tapi untuk biaya tadi apa bisa ditahan juga? Xaxa tidak mau menambah beban pikiran kalian. Biarkan Xaxa juga bekerja untuk membantu keuangan keluarga kita."
"Kamu masih di bawah umur. Belum saatnya untuk bekerja, tidak ada yang akan menerimamu, sayang." Ayah mencoba memberi pengertian. Ia tidak mau Xaxa harus sampai putus sekolah. Hatinya akan merasa sakit dan bersalah jika sampai hal itu terjadi.
"Xa.."
"Iya bagaimana Ayah? Ayah setuju bukan dengan ide Xaxa?" Ucap Xaxa tersenyum bahagia hanya untuk meyakinkan Ayahnya jika ia baik-baik saja.
"Ayah akan berusaha mencari jalan keluar nya. Kamu harus tetap sekolah."
"Tapi Ayah--"
"Xa.." Kali ini Yusuf yang berbicara.
"Kak.. Kakak setuju bukan dengan ide Xaxa. Xaxa tidak masalah kok kalau harus berhenti sekolah." Ucapnya sembari menatap sang Kakak.
"Kakak tidak setuju. Tidak akan pernah setuju. Kamu harus tetap sekolah, melanjutkan nya sampai lulus."
__ADS_1
"Tapi Kak.."
"Kamu dan juga Ayah tidak perlu khawatir. Masalah hutang biar Kakak yang selesaikan."
"Maksud Kakak apa? Bagaimana cara Kakak melunasi nya?" Tanya Xaxa.
"Jangan bilang kamu akan keluar dari pekerjaan dan mengambil uang ketenagakerjaan mu." Ucap Ayah.
"Itu benar Ayah. Aku akan melakukannya. Maafkan aku yang sudah membuat Ayah kecewa."
"Tapi setelah nya kamu akan bekerja dimana? Tidak gampang mencari pekerjaan di lingkungan kita."
"Aku akan merantau ke luar kota. Berusaha mencari pekerjaan di sana. Ada temenku juga yang sudah lama tinggal di sana. Dia bilang akan membantuku jika aku sudah sampai."
"Siapa temanmu itu? Haris?" Tebak Ayah mengingat sahabat terdekat anaknya dulu ketika masih SMA.
"Bukan Ayah. Dia bekerja di kota X. Bukan di kota yang akan Yusuf tinggali. Dia bernama Fahmi."
"Fahmi?" Ucap Ayah karena baru mendengar nama yang disebutkan oleh anaknya.
"Dia temanku juga. Namun saat dulu di sekolah aku tidak dekat dengan nya. Baru setelah bekerja di tempat yang sama kita mulai akrab. Dia sudah lama pindah di luar kota itu bersama Kakak nya juga."
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu?"
"Di situasi seperti ini aku tidak bisa memikirkan hal itu. Aku akan menyelesaikan masalahku sampai semuanya benar-benar selesai. Meskipun pada akhirnya aku harus berhenti kuliah dan tidak melanjutkan nya lagi."
"Yusuf.."
"Sekali lagi maafkan Yusuf, Ayah."
"Uang 15 juta untuk apa? Kenapa kamu sampai berani meminjam pada seorang rentenir?"
"Dari sejak pertama kali Ayah memarahiku, aku menunggu Ayah menanyakan nya." Ucap Yusuf menatap penuh kesedihan pada Ayahnya. Sementara Ayahnya yang baru menyadari sesuatu hal kembali berkaca-kaca dan langsung memeluk erat anak laki-laki nya itu.
__ADS_1
"Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah." Keduanya pun saling menangis, meluapkan seluruh perasaan yang bergejolak di hati masing-masing dengan saling berpelukan. Sementara Xaxa menatap penuh tanya tentang masalah apa yang terjadi hingga membuat Kakaknya terjerumus dalam lingkaran hutang dengan seorang rentenir.