
Keesokan harinya di hari Senin. Kai kembali memulai aktivitas nya untuk pergi ke sekolah. Dan seperti biasa, ia hanya akan menggunakan motor matic sederhana yang ada di bagasi rumah nya. Mengabaikan banyaknya kendaraan mewah yang dimilikinya pemberian dari sang Ayah.
Sampailah Kai di sebuah sekolah paling favorit di kota X. Sekolah itu bernama SMA Mutiara Cinta. Meski menjadi sekolah favorit, SMA Mutiara Cinta bukanlah SMA yang biasa menjadi pilihan golongan atas seperti Kaisar. Karena biasa nya, orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi selalu memilih untuk menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah internasional dengan biaya yang fantastis.
Kai yang memiliki wajah tampan bak seorang pangeran, selalu menjadi pusat perhatian. Namun Kai yang sangat tidak suka ditatap oleh siapapun berjalan cepat melewati siswa lain termasuk teman-teman satu kelasnya.
"Kai memang yang paling tampan di sekolah ini. Aku sangat menyukainya." Ucap seorang siswa perempuan ketika Kai melewati nya.
"Aku juga begitu. Tapi sayang, sikapnya terlalu dingin. Akan sangat menyulitkan jika aku berharap dekat dengan nya." Teman di sampingnya ikut menyahuti.
"Hahhh.." Membuang nafas menyerah. "Kita memang tidak akan pernah bisa memilikinya. Bahkan dekat pun rasanya tidak mungkin."
"Itu memang benar. Aku tidak terima. Tapi mau bagaimana lagi. Apa aku boleh marah jika wajahnya terus terngiang-ngiang di kepalaku?" Ucapnya menghela nafasnya berat.
"Apa kamu kenal dengan Tania? Teman satu kelasnya Kaisar." Ucapnya dengan ekspresi sinis.
"Dia siswa perempuan yang paling cantik dan populer kan di kelas itu? Jangan katakan kalau dia memiliki hubungan dengan Kaisar." Ucapnya tak rela.
"Kamu tenang saja. Kai juga tidak meliriknya sama sekali." Ucapnya tersenyum senang sembari tak habis pikir. Bisa-bisanya Kai menolak pesona seorang Tania yang wajahnya mirip dengan Irene Red Velvet. Seorang Idol K-Pop yang terkenal dengan visualnya yang luar biasa.
"Apa? Kamu tidak sedang bercanda, bukan?"
"Aku serius."
"Kenapa bisa? Apa jangan-jangan Kai tidak normal?"
"Vivi!" Memandangi wajah temannya dengan tatapan tak percaya. "Apa kamu sudah gila? Bagaimana bisa kamu memikirkan hal itu tentang Kai. Dia jelas laki-laki normal. Karena seperti yang selalu aku perhatikan. Dia hanya memang senang menyendiri, bukan karena menghindari perempuan."
"I-iya maaf, Mila. Aku hanya tidak habis pikir saja. Tania yang sudah terlihat sempurna masih tidak ada artinya di hadapan Kai. Bagaimana dengan kita?"
"Kenapa membawa namaku juga?" Ucap Mila tak terima.
"Memang nya nasib kita tidak sama ya."
__ADS_1
"Iya sama. Tapi jangan terlalu jujur kan bisa?" Ucap Mila sembari berjalan meninggalkan Vivi yang langsung mengejar langkahnya dan tertawa di samping Mila yang cemberut. Mereka berdua merupakan Kakak kelas Kaisar.
Kaisar kini sudah berada di dalam kelasnya. Terdiam di tempat duduknya sembari mengenakan headphone yang selalu dibawanya. Mengisi waktu luang menunggu kedatangan guru di dalam kelas.
Setelah berdiskusi dengan teman-teman dekatnya. Tania memberanikan diri untuk mendekati Kaisar. Karena selama mengenal Kai dalam waktu hampir satu tahun ini. Tania hanya memandangi nya diam-diam. Berharap Kai akan mendekati nya lebih dulu. Namun sayangnya hingga kini laki-laki itu tak kunjung luluh dan selalu hidup dengan dunia nya sendiri.
"Ehemm.." Tania berdehem pelan di dekat Kaisar. Menyentuh bahu sebelah kanan dari laki-laki yang sedang dicintainya itu. Kaisar sendiri tengah berada dalam posisi menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, mendengarkan musik sembari menutup kedua matanya.
Sementara apa yang tengah dilakukan Tania menjadi perhatian satu kelas. Dimana mereka semua tahu bagaimana dingin dan mudah marah nya Kai ketika didekati. Mereka sudah khawatir Tania berada dalam masalah.
Dengan rasa kesal Kai membuka kedua matanya, melepaskan headphone yang dikenakan, lalu menatap Tania dengan dingin.
"Emm.. Maaf Kai aku sudah mengganggu kamu ya?" Ucap Tania dengan perasaan takut. Ia tidak menyangka Kai akan bersikap sedingin ini.
Tanpa menjawab perkataan Tania, Kai terus menatap nya dengan tatapan tidak suka. Tatapan yang seolah meminta Tania untuk pergi dan jangan mengganggu nya.
Tania yang mengerti tatapan itu tak berani melangkah lebih jauh, "Maaf Kai. Aku akan kembali duduk di tempatku. Sekali lagi aku minta maaf. Kembalilah menikmati musik yang kamu sukai. Aku tidak akan menganggu." Ucap Tania langsung membalikkan badannya sembari bernafas lega. Dalam hati ia tidak ingin mendekati Kaisar lagi, jantungnya yang berharga hampir saja lepas dari tempat nya.
"Aku tidak mau lagi. Aku tidak sanggup. Dia terlalu gila dengan kedinginan nya." Batin Tania melangkah menuju tempat duduknya. Menatap semua teman-teman satu kelasnya yang terlihat kasihan padanya terutama para siswa laki-laki. "Aku sangat malu. Aku benar-benar malu. Bagaimana ini. Biarlah, aku harus bersikap biasa saja. Karena aku cantik, mereka pasti tidak akan berani menghinaku di depan mata." Batin Tania mensyukuri kecantikan yang dimilikinya disituasi memalukan ini. Diacuhkan Kai di depan teman-teman satu kelasnya.
• • •
Di lain tempat. Di sekolah yang berbeda. Xaxa tengah belajar di sebuah perpustakaan di sekolah nya sebelum bel masuk berbunyi.
Seorang siswa perempuan amat tergesa-gesa mencari keberadaan Xaxa. Ia bertanya pada semua teman-teman yang dikenalnya tentang dimana Xaxa saat ini.
"Tadi aku lihat dia pergi ke perpustakaan."
"Oke, baiklah. Terima kasih, Nay."
"Sama-sama, Syif." Syifa pun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju perpustakaan.
"Permisi, Bu." Ucapnya menyapa seorang wanita yang bertugas mengelola perpustakaan di sekolah nya.
__ADS_1
"Masuk saja langsung, Syif." Ucap wanita itu dengan ramah. Ia begitu mengenali Syifa.
"Terima kasih, Bu." Syifa pun langsung mencari keberadaan Xaxa dan menemukan nya di sudut ruang perpustakaan yang tengah duduk di dekat sebuah jendela yang menyajikan pemandangan taman di sekolah nya.
"Syifa kamu kenapa?" Ucap Xaxa melihat keberadaan Syifa yang datang dengan nafas yang memburu. "Duduk dulu. Tenang, oke."
Syifa langsung menuruti perkataan Xaxa dan duduk di depan nya. Setelah terlihat tenang, Xaxa kembali bertanya.
"Ada apa? Kamu kelihatannya terburu-buru menemui ku." Ucap Xaxa menatap lekat Syifa.
"Kamu tahu. Hasil dari tes yang dua bulan lalu kamu ikuti."
"Maksud kamu, tes masuk SMA Mutiara Cinta jalur beasiswa?"
"Yes. Hanya itu kan yang sedang kita nantikan." Jawab Syifa penuh semangat. Ia ikut senang jika melihat sahabat baiknya bahagia.
"Hasilnya sudah keluar?" Syifa menganggukkan kepalanya tersenyum menatap Xaxa yang justru terlihat gelisah.
"Seperti nya siang ini kalau kamu keterima, kamu akan dihubungi sama pihak sekolah SMA Mutiara Cinta. Semoga saja kamu berhasil ya, Xa." Ucap Syifa dengan senang. Setelah drama tidak ingin berjauhan selesai, Syifa ikut senang jika Xaxa bisa meraih impiannya untuk bersekolah di SMA Mutiara Cinta tanpa biaya. Sementara di sekolah nya sekarang, tidak ada sistem beasiswa yang mewajibkan seluruh siswa membayar uang sekolah sesuai prosedur.
Jika bertanya mengapa Xaxa tidak melakukan nya dari sejak awal pertama kali dirinya memilih untuk masuk SMA. Jawaban nya satu. Tempat sekolah nya saat ini lebih dekat dari rumah nya. Sementara SMA Mutiara Cinta lebih jauh lagi dan harus mengendarai kendaraan umum.
Di saat kemarin Xaxa dibingungkan dalam memilih pilihan yang terbaik di antara bersekolah atau tidak padahal dirinya sudah mengikuti tes beasiswa di SMA Mutiara Cinta. Hal itu tak lain karena Xaxa memiliki kepercayaan diri yang rendah, menganggap bahwa dirinya tidak mungkin bisa masuk ke sekolah favorit tersebut.
Dan sekarang, di saat Syifa kembali membahas tentang hasil dari keikutsertaan nya dua bulan lalu mengikuti tes program beasiswa di SMA Mutiara Cinta. Hatinya menjadi tidak tenang. Ia takut berharap lebih hingga akhirnya kecewa.
"Sepertinya aku tidak mungkin berhasil."
"Ya ampun, Xaxa. Selalu saja merendah diri."
"Aku hanya berpikir kemungkinan besar."
"Kemungkinan besar apanya? Itu hanya dugaan mu saja yang tidak mendasar. Harusnya kamu selalu optimis. Apapun hasilnya nanti yang penting harus selalu semangat." Ucap Syifa berusaha memberi motivasi pada sahabatnya yang selalu merasa pesimis.
__ADS_1
"Kalau pun aku mendapat beasiswa itu, apa lebih baik?" Ucap Xaxa lalu menatap jendela di sampingnya. "Lokasi sekolah itu terlalu jauh. Aku tetap harus mengeluarkan uang untuk ongkos naik kendaraan umum. Sedangkan hasil keuntungan yang Ayah dapatkan dari berjualan nasi goreng, digunakan untuk biaya pengobatan Ibu. Apa aku memang seharusnya berhenti bersekolah." Batin Xaxa penuh dilema. Di satu sisi ia butuh uang untuk sehari-hari nya di sekolah. Tapi di sisi lain ia tidak tega jika harus meminta uang pada Ayahnya setiap hari.