PEMBALAP JALANAN

PEMBALAP JALANAN
speed of destiny eps 10


__ADS_3

"Kenapa kau ada disini Naruto?" Kiba menjadi menjadi orang pertama yang bertanya pada Naruto.


Naruto tampak bingung dengan pertanyaan Kiba. "Kata Teme aku suruh jadi tutor kalian, sekarang sudah datang malah ditanya mau apa. Kalian aneh!"


Mendengar pengakuan Naruto sontak saja semua pandangan kecuali Gaara tertuju pada Sasuke yang tampak santai memainkan kunci mobilnya. Sasuke menyeringai.


"Seperti yang Dobe bilang, dia akan jadi tutor kita untuk menghadapi pertandingan. Aku memang sengaja meminta bantuannya, Ada yang mau protes?" Kata Sasuke santai tapi terdengar serius.


"Tuh-kan, Teme sendiri yang memintaku. Jadi wajar saja bila aku kesini, lagi pula aku harus menepati janjiku." Tutur Naruto menerangkan soal keberadaannya.


"Kau serius dengan hal ini Sas?" Ino tampaknya menjadi orang yang paling tidak percaya dengan keputusan Sasuke.


"Dua rius kalau perlu!" Sahut Gaara sangat bersemangat.


"Tunggu kenapa kalian kompak? Seperti tidak tahu Naruto saja, anak itu tidak bisa." Ujar Sai ikut menimpali sekaligus mempertanyakan. Merasa tidak diharapkan kedatangannya membuat Naruto bad mood. Tampangya juga sudah cemberut.


"Siapa bilang dia tidak bisa, Naruto bilang tidak suka. Tidak suka bukan berarti tidak bisa." Sasuke menerangkan sambil memandang Naruto yang tampak terganggu. Naruto mulai mengerti arah pembicaraan, yaitu mereka meragukannya.


Naruto terdiam.


"Apa dasarmu kau menjadikan Naruto sebagai tutor kita ?" Shikamaru meminta penjelasan lebih lanjut. Shikamaru sangat mengerti jalan pikiran Sasuke yang tidak mungkin mengambil keputusan tanpa difikirkan masak-masak. Pastinya ada alasan lain yang dapat dijelasakan.


"Mudah saja, Naruto memiliki kemampuan mengemudi diatas kita, sama seperti ayahnya. Iya kan Naruto?" Sasuke melempar pandang pada Naruto yang tampak terkejut dan detik itu juga kawanan Sasuke cs shock berat. Cukup dengan kalimat pendek itu akhirnya terjawab sudah rasa penasaran Sakura dan kawan-kawan.


"Eh? Kayaknya gak juga," gumam Naruto sambil mengacak-acak rambutnya pertanda bingung.


"Jadi mulainya kapan Sas? Aku sudah janji pada Ibu untuk pulang sebelum jam 21.00, sebaiknya cepat dimulai saja," rujuk Naruto untuk mengingatkan untuk apa dia kesini sambil memandangi teman-temannya yang berekspresi gado-gado.


Sakura mendekat pada Naruto.


.


.


CTAKKK!


"AWWWWW!" Jerit Naruto meraung kesakitan sambil memegangi kepalanya yang kini benjol. Nyata-nyatanya sebuah jitakan special made in Sakura telah meluncur pada kepala seorang Namikaze Naruto.


"Kau itu apa-apaan Sakura-chan?" Tanya Naruto tidak terima. Sebenarnya Naruto mau marah tapi berhubung dihadapannya adalah singa betina yang tampak horror maka nyalinya tiba-tiba menciut.


"KAU YANG APA-APAAN, KAMU MENYEMBUNYIKAN STATUSMU DARI KAMI. JIKA KAU BILANG SEJAK DULU KAMI TIDAK PERLU MENCARI-CARIMU, BAKA!" Sakura tidak kuat menyembunyikan kekesalannya pada Naruto sehingga melampiaskan dengan menjitaknya. Serangan kedua segera akan meluncur tapi melihat tanda-tanda itu maka Naruto memilih untuk mundur lebih jauh lagi.


Tidak disangka dibelakang telah berdiri teman-teman yang lain.


"MAU KEMANA KAU!" Ujar Kiba menyeringai licik diikuti teman-teman lain kecuali Gaara, Shikamaru, Sasuke dan Hinata yang telah mengepung Naruto. Naruto bergidik ngeri.


"HUAAA IBU ! SESESORANG BANTU AKU!" Teriak Naruto gaje sambil mengangkat kedua tangan tanda mohon ampun ditengah-tengah kerumunan.


Gaara dan Hinata hanya bisa memandang kasian pada Naruto meskipun sedikit juga ikut menikmati kekonyolan teman mereka menyiksa Naruto. Sementara Shikamaru, jangan ditanya lagi dia sudah memandang bosan dan ngantuk. Sasuke beda lagi dia tampak menyeringai puas melihat Naruto dikerjai teman-temannya.


.


.


.


.


Setelah beberapa saat acara penyiksaan Naruto selesai karena Gaara yang turun tangan untuk melerai.


"Nah, sebagai tutor apa yang akan kau ajarkan pada kami Naruto?" Tanya Shikamaru pada Naruto yang kini berada di depan mereka.


"He he he, sebenarnya aku juga tidak tahu mau ngapain. Ada yang punya usul?" Kata Naruto sambil mengusap rambut pirangnya yang masih lumayan sakit karena di keroyok teman-temannya.


"Yah, aku memang sudah menduga jika kau yang jadi tutor tidak akan beres. Bukannya aku menggurui tapi sebaiknya kau harus melihat cara mengemudi kami satu persatu dahulu agar bisa memberi kami masukan." Ujar Shikamaru mewakili teman-temannya yang kali ini tampak serius.


"Aku setuju, kau harus melihat dan membuat catatan tentang teknik kami satu persatu." Sakura ikut menanggapi komentar Shikamaru. Gadis Pinkish satu ini sudah tidak sabar ingin ditutor oleh sang pengemudi misterius yang berhasil mengalahkan ketua klub 'Night' dan 'The Sand'.


"Kalau begitu menurut kalian, aku ikut saja. Bagaimana kalau aku melihat kemampuan kalian drive satu persatu dengan ikut kalian. Jaraknya hanya sampai persimpangan ujung kalau aku perhitungkan mungkin sekitar 10-15 menit dengan kecepatan tinggi sudah bisa bolak-balik. Aku kira itu cukup untuk melihat kalian." Kata Naruto dengan penuh perhitungan.


"Baiklah kalau begitu, kita mulai dari siapa?" Tanya Neji mengawali.


"Aku bersedia, nah ayo Naruto." Rupa-rupanya Kiba menjadi orang pertama yang ingin diberi kesempatan. Naruto mengangguk mengerti lalu berjalan mengikuti Kiba.


"Jangan lupa catat waktunya!" teriak Naruto begitu sudah masuk dalam mobil Kiba.


"Pastikan kau sudah siap, Naruto." Kiba memastikan teman blondenya itu telah menempatkan diri.


"Yeah semoga cara menyetir kalian lebih baik dibandingkan apa yang pernah kulihat." Naruto hanya bisa berharap semoga dia selamat sampai tujuan.


Kiba mulai mengemudikan mobilnya dengan semangat seperti memulai awalan start. Kiba meluncur ke jalanan dengan kecepatan penuh. Berbeda dengan Kiba yang menikmati, Naruto justru sudah pucat pasi, keringat dingin meluncur dari keningnya. Dia tidak tahan jika perutnya mengalami goncangan terlebih lagi posisi jalanan yang naik turun disertai tikungan tajam yang secara awur-awuran di lahap Kiba, tidak perlu melihat lebih jauh Naruto sudah bisa menyimpulkan cara mengemudi Kiba belumlah baik. Untuk percobaan pertama dari Kiba sukses membuat Naruto pening.


.


.


"Hoek ! Hoek !"


Naruto turun dari mobil Ino langsung muntah seperti masuk angin. Ini putaran ke sepuluh sebelum yang terakhir Naruto bersama Gaara. Teknik Ino menurut Naruto yang paling parah dibandingkan yang lain. Untuk Shikamaru, Sasuke, Neji, Sai, Shino bagi Naruto sudah baik cukup membuat dirinya nyaman.


"Naruto, maaf. Apa aku membuatmu sakit?" Ino tampak cemas melihat Naruto muntah-muntah.


"Tidak apa-apa, kau harus memperhalus lagi Ino." Kata Naruto yang masih duduk lemas disamping Hinata dan Sakura yang sedang memberi minyak angin.


"Naruto, jika kau tidak kuat. Sebaiknya tidak perlu melanjutkan." Nasehat Gaara pada sang sahabat, pria Sabaku sangat memaklumi keadaan Naruto yang tiba-tiba jadi mabuk darat. Siapa juga yang tidak mabuk jika perutmu terus-terus digoncang dengan kecepatan tinggi di jalan naik turun.


"Tidak apa-apa, selanjutnya giliranmu Gaara, ayo!" Kata Naruto ceria untuk menyakinkan.


"Kau yakin?"


"Yups!" Naruto sudah berdiri.


"Awas saja jika kau membuatku pusing Gaara, aku bakal memecatmu jadi teman!" Hardik Naruto tapi dengan senyuman jahil.


"Coba saja kalau bisa!" Tanggap Gaara secara singkat.


.


.


"Dari data yang aku peroleh, pemegang waktu terbaik masih Sasuke, lalu Gaara, Shikamaru, Sai, Sakura, Neji, Shino, Kiba, Ino, Ten-Ten, dan Chouji. Perbedaan waktunya rata-rata cukup tipis, interval Sasuke-kun dan Chouji berbeda sekitar 2 menit saja." Kata Hinata membacakan list yang diperoleh.


"Lumayan, ternyata aku masih lebih hebat darimu Ino-pig!" Sakura cukup senang dengan hasil ini.


"Huh, jangan senang dulu Fore Head suatu saat aku akan mengalahkanmu." Ino merutuk kesal karena posisinya cukup di bawah.

__ADS_1


"Aku bicara keseluruhan saja. Aku akui kalian memang hebat bisa menyelesaikan dalam waktu singkat. Untuk bisa melaju dengan kecepatan tinggi menurutku kalian jangan hanya mengandalkan mesin mobil saja yang telah di modif tapi harus juga mengandalkan teknik. Rata-rata kalian masih hanya memanfaatkan kecepatan dari mobil saja masih dan belum mengembangkan teknik, perpindahan gigi kalian belum bisa menemukan time yang pas sehingga kalian sering kehilangan kecepatan, terlebih lagi saat tikungan kalian sangat lambat, cara berbeloknya pun masih kasar, masih semaunya kalian sendiri. Secara umum kalian belum bisa memanfaatkan tikungan untuk menambah kecepatan." Tutur Naruto panjang yang justru bikin heran teman-temannya.


"Perasaan kalau ulangan tidak bisa menjawab sepanjang ini, tumben pintar," batin Sasuke heran.


"Shikamaru bagaimana kalau sekarang kau ikut aku untuk mengamati cara mengemudiku. Aku akan melakukan hal yang sama dengan kalian." Kata Naruto dengan tegas layaknya seorang pemimpin.


"Hei, tunggu kenapa harus aku. Pastinya Gaara atau Sasuke pasti mau menemanimu." Ujar Shikamaru dan juga sedikit mempertanyakan pilihan Naruto.


"Kalau itu sih, kau disini kan yang paling jenius Shika, pastinya kau bisa dengan mudah menerangkan hal ini pada mereka." Naruto menerangkan tujuannya memilih Shikamaru.


"Beneran nih aku yang disuruh, apakah kalian rela?" Tentu saja pertanyaan ini ditujukan pada selain Naruto. Shikamaru memandang mereka intens untuk melihat reaksi kawan-kawannya.


"Yah rela tidak rela. Kalau aku dapat kesempatan aku juga mau. Tapi demi kita semua, aku setuju saja." Komentar Sai. Cukup dari Sai saja Shikamaru sudah tahu apa yang dipikirkan teman-temannya.


"Ya sudahlah, ayo!" Ujar Shikamaru.


"Ehm satu lagi, pakai mobilmu ya Shika. Kalau pakai mobilku tidak akan dapat data akurat secara mobilku bukan modif yang khusus untuk balap. He he he he." Naruto meminta dengan melas.


"Ya sudahlah terserah!"


Naruto dan Shikamaru masuk dalam mobil milik Shikamaru.


Pria rusa jadi gugup saat Naruto mulai melaju. Awalnya mobil itu meluncur pelan namun beberapa saat kemudian dia sudah merasakan mobilnya melaju sangat cepat bahkan sampai tidak sadar melewati tikungan pertama. Shikamaru mulai memperhatikan gerakan tangan dan kaki Naruto yang bisa mengendalikan mobilnya dengan lihai. Shikamaru hanya bisa melongo melihat Naruto bisa berbelok ditikungan tajam tanpa mengurangi kecepatan yang terlalu besar. Dia semakin dibuat terbelalak lagi ketika melihat laju spedometernya yang bisa konstan di medan seperti ini, bahkan Shikamaru hampir tidak merasakan adanya operan kasar perpindahan gigi. Dalam situasi itu Shikamaru benar-benar memanfaatkan seluruh pikirannya untuk focus memperhatikan bagaimana cara Naruto mengemudi. Shikamaru sampai tidak sadar mereka telah kembali.


Naruto dengan wajah ceria segera turun dari mobil Shikamaru.


"Nah Hinata berapa catatan waktuku ?" Tanya Naruto dengan semangat.


"Naruto-kun lebih cepat satu menit lima belas detik dari Sasuke," Ujar Hinata sambil tersenyum memandangi stopwatchnya.


"Hmm…. lumayan sesuai dugaanku, kalau aku pakai mobilku mungkin akan hanya berbeda sekitar beberapa detik dari Teme!" Kata Naruto membuat terkejut semua orang. Ternyata teknik bisa mempengaruhi sejauh itu.


Malam mulai beranjak, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 20.30 tanpa mereka sadari. Daerah yang tadinya hanya ada mereka mulai didatangi para driver dari berbagai klub satu persatu sehingga kawasan itu mulai ramai.


"Ya ampun, ternyata orang-orang balap itu seram. Aku heran kenapa kalian bisa tahan," tutur Naruto ngeri karena melihat para wajah pembalap yang rata-rata menakutkan.


"Mereka tidak seburuk yang kau fikirkan Naruto meski sifat mereka kadang ambisius," ujar Gaara menimpali Naruto yang duduk di sudut mobil bersama Hinata. Karena kondisi mulai ramai gerombolan Sasuke cs lebih memilih untuk berada agak jauh dari kumpulan klub.


"Hoi, kenapa kalian tidak berkumpul dengan klub kalian masing-masing?" Tanya seseorang yang kini menghampiri mereka. Dia Rock Lee anggota Night, kakak kelas mereka.


"Ehm kami ada urusan sendiri senpai," Jawab Sai diiringi senyuman palsu. Lee memandangi mereka dan menemukan wajah baru disana.


"Tunggu kalau tidak salah kau Namikaze Naruto, anggota PMR sekolah. Kenapa kau disini, bukankah gossip yang beredar kau takut sekali kebut-kebutan?" Tanya Lee polos begitu melihat keberadaan Naruto. Ternyata gossip soal paranoidnya Naruto memang sudah amat di kenal oleh warga sekolah.


"Dia disini sedang berkencan dengan Hinata, ada masalah?" Jawab Sasuke cepat sebelum Naruto yang menjawab mengingat terlalu polosnya Naruto. Tapi reaksi Naruto dan Hinata bukannya tanggap asik berpandang ria layaknya pengantin baru.


"Wah-wah Naruto setia pada Hinata sampai rela melakukan hal yang tidak disukai. Selamat datang di dunia balap malam Naruto." Sambut Lee turut bahagia dengan semangat.


"Eh, maksudnya?" Naruto terkejut dan tampak bingung dengan ucapan Lee.


"Loh kalau malam minggunya di sini berarti kau akan ikut dalam dunianya Hinata?" Asumsi Lee keluar begitu saja. Tanpa disadari Lee, teman-teman lain telah tersenyum seperti menahan tawa.


"YAAA bukan, aku cuma bermain saja, dattebayo!" Elakan Naruto cukup keras hingga beberapa orang melihat kearahnya.


"Yah sayang sekali, padahal aku bersedia loh mengajarimu." Lee tampak kecewa dengan pengakuan Naruto.


"Ternyata image Naruto dimata anak –anak sekolah belum berubah," Gaara dan yang lain sweatdrop sendiri jika menghubungkan antara kenyataan dan opini publik yang sangat berbeda jauh.


"Naruto!" Panggil seorang pria dengan kacamata yang baru saja datang. Disampingnya telah ada Itachi Uchiha kakak Sasuke dan beberapa anak buahnya.


"Kakashi Nii-san?" Naruto dan yang lain langsung menoleh pada beberapa pendatang baru.


"Aku cuma main-main saja, mungkin sebentar lagi aku juga pulang," kata Naruto menerangkan. Baru akan Kakashi menimpali terdengar ringtone HP seseorang.


Ting ! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!


Ringtone HP Naruto terdengar seperti suara bel. Naruto melihat siapa yang menelphone


"Ibu!"


Naruto segera mengangkat telephone dari Ibunya dan minta izin menjauh.


"Halo Ibu." Sapa Naruto pendek.


"Naru-chan, ini sudah jam berapa? Kau sudah berjanji pulang sebelum jam Sembilan. Kau dimana sekarang?" Tanya Kushina dengan lembut. Begitu-begitu Kushina sangat sayang pada putra kesayangannya itu.


"Ehm sedang di KDS," Kata Naruto sambil menelan ludah membayangkan apa yang akan dikatakan ibunya. Dia tadi izin pergi tapi izin untuk berkencan dengan Hinata saja.


"Kyaaa…akhirnya anakku kau mau meneruskan perjuangan ibumu!" Teriak Kushina kegirangan yang hampir bikin Naruto tuli mendadak.


"Lihat Minato anakku akan menjadi penerusku!" Sayup-sayup Naruto bisa mendengar Kushina berbicara pada suaminya.


"Tunggu Ibu aku hanya main saja. Ini aku sudah mau pulang," jawab Naruto yang langsung bikin Kushina jatuh harapannya.


"Ne, bukan mau ikut balapan?" Kushina tampak kecewa. Di sela-sela telephone Naruto bisa mendengar tawa Ayahnya.


"Diam kau Minato!" Hardik Kushina kesal.


"Tidak!" Tegas Naruto.


"Naru-chan, apa di situ ada Kakashi, kalau ada aku ingin bicara dengannya?"


"Ada, Ibu mau apa?" Tanya Naruto horror. Firasatnya mendadak tidak enak.


"Sudah berikan saja telephonenya pada Kakashi atau tidak akan Ibu bukakan pintu jika kau pulang!" Ancam Kushina pada Naruto. Mau tidak mau akhirnya Naruto berjalan gontai menuju kerumunan.


"Ada apa Naruto-kun?" Tanya Hinata bingung.


"Kakashi Nii-san, Ibu ingin berbicara denganmu," kata Naruto takut-takut.


"Denganku?" Kakashi tampak terkejut. Kakashi lalu menerima telephone dari Kushina untuk beberapa saat.


Kakashi hanya sesekali bergumam pendek. Jelas sekali tampak yang mendominasi percakapan adalah Nyonya Namikaze. Diakhir percakapan tampak raut wajah Kakashi telah berubah.


"Akanku usahakan Onee-san," ujarnya mengakhiri telephone. Setelahnya Kakashi memandang Naruto dengan senyum aneh.


"Ada apa Kakashi Nii-san?" Naruto sudah sangat penasaran.


"Hmm bagaimana menjelaskan?" Kakashi berpikir untuk menemukan kata-kata yang pas.


"Ibu-mu memintaku mendaftarkanmu dalam event pertandingan terdekat." Ujar Kakashi pendek sambil melihat reaksi Naruto.


"Apa?"


Kalimat itulah yang pertama muncul dari bibir Naruto. Sementara teman-temannya juga tampak sama terkejutnya dengan Naruto.

__ADS_1


"Ibu!" Naruto menggeram sebal. Dia menggerutu tidak jelas


"Hinata-chan kau tidak keberatan jika pulang sekarang?" Tanya Naruto sedikit menahan emosinya. Bahkan dia tidak menanggapi lebih lanjut pernyataan Kakashi.


"Baiklah Naruto-kun!" Timpal Hinata tanda ia setuju.


"Gomen semua , aku harus pulang!" Entah kesurupan setan apa Naruto bisa berkata dingin layaknya Sasuke bahkan raut wajahnya pun bisa sama stoicnya dengan Sasuke.


"Baiklah, salamkan pada Kushina Nee-san dan Minato Nii-san, Naruto." Salam Kakashi mewakili yang lain. Tapi sepertinya Naruto benar-benar tidak ingin diganggu, menjawab balik pun tidak. Dia hanya mengangguk kecil dan langsung berjalan menuju mobil bersama Hinata.


Mereka memandang Naruto dalam diam. Terpana akan kehangatan safire yang membeku tanpa sebab.


"Wao!" Komentar pendek Sai.


"Dia ternyata bisa sedingin dirimu juga Sas, kurasa kita akan sering melihat Naruto seperti itu jika kita mengusik ketenangannya." Kata Shikamaru menganggapi perubahan sifat Naruto.


"Ini sebenarnya ada apa?" Itachi langsung bertanya serius karena dari tadi seperti obat nyamuk.


"Tidak apa-apa, tau sendirilah Naruto tidak suka dengan balapan. Kurasa dia sedang memiliki masalah dengan Ibunya. Tapi aku heran kenapa ibunya ingin Naruto ikut." Kata Sasuke mempertanyakan ibu Naruto.


"Uzumaki Kushina atau Namikaze Kushina dulunya mantan pembalap, Kushina Nee-san di eranya adalah salah satu pembalap papan atas." Ujar Kakashi tenang dan membuat hari itu semakin lengkap dengan kejutan.


"Jadi itu wajar, tapi sayangnya Naruto tidak tertarik sama sekali." Kakashi menambahkan kalimatnya.


"Tampaknya begitu." Timpal Itachi pendek lalu memandang adiknya untuk minta penjelasan lebih lanjut.


"Yah sudah, lebih baik kita mulai membicarakan strategi lebih lanjut untuk kedepannya. Sebaiknya kita kembali ke klub masing-masing!" Ajak Kakashi untuk segera melupakan kejadian tadi.


.


.


Kediaman Namikaze.


"Apa yang Ibu lakukan, Ibu tahu sendiri aku tidak suka!" Bentak Naruto sambil melipat kedua tangannya tanda jengkel.


"Ayolah Naru-chan, apa kau tidak merasa menyia-nyiakan bakatmu itu. Seharusnya anak seumuranmu itu suka tantangan." Kata kushina dengan nada ceria bahkan tidak merasa bersalah telah menjerumuskan anaknya.


"Tapi tetap saja Ibu, apa Ibu tidak khawatir nanti anak kesayanganmu ini kenapa-kenapa. Iya kan Ayah ?" Naruto mencoba meminta bantuan namun terlihat Minato tidak mau ikut-ikutan.


"Ehg..itu terserah Ibu, ayah tidak mau ikut-ikut hal seperti itu." Rupanya Minato pilih cari aman daripada menghadapi keganasan Kushina.


"Kau pokoknya harus ikut!" Bujuk Kushina dengan nada manja dan menampilkan kemanisan diwajah ayunya.


"Tap-tapi Ibu-." Eak Naruto lagi.


"Tidak ada tapi-tapian lagi Namikaze Naruto, kau itu anak kami berdua. Tidak adil jika kau hanya mirip sifat malas Minato. Kau harus ikut, Titik." Kata Kushina manis sekaligus mematikan. Kushina sudah tidak mau lagi mendengar elakan Naruto maka itu dia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.


Minato tersenyum lembut.


"Nah, Naru-chan selamat berjuang!" Kata Minato menyeringai tapi terdengar sedikit ejekan di dalamnya.


"Huh, Ayah sepertinya bahagia sekali jika aku susah," umpat Naruto jengkel lalu lebih memilih pergi ke kamarnya untuk tidur.


"Dasar anak aneh!" Minato menghela nafas panjang pertanda sedang pusing dengan kelakuan anak dan istrinya.


.


.


.


Kantin Sekolah


Istirahat hari itu tampak normal lagi seperti biasa. Penghuni meja yang akhir-akhir ini hanya Naruto, Sasuke, Gaara dan Hinata sudah utuh semua. Mereka sedang berbincang asik meskipun ada saja yang sedang bad mood karena pusing soal balapan dan dia tidak lain adalah Namikaze Naruto.


"Sudahlah Naruto, sampai kapan kau mau resah? Lagi pula apa juga salahnya dengan pertandingan balap?" Gaara tampak berusaha menenangkan Naruto.


"Tapi tetap saja, aku tidak suka." Naruto tampak frustasi diikutkan pertandingan.


"Kau itu aneh Naruto!" Gumam Sakura heran. Mendengar dikatakan aneh Naruto mengangkat wajahnya.


"Apa maksudmu mengataiku aneh Sakura-chan?" Naruto terganggu dengan kalimat Sakura tadi.


"Iya, lihatlah dirimu. Wajahmu terlihat frustasi seperti mengerjakan Ujian padahal dengan teknik yang kau muliki aku yakin kemampuanmu diatas Kakashi yang masuk top five tahun kemarin." Ujar Sakura menenangkan sang Namikaze.


"Aku bukannya takut Sakura-chan, tapi aku memang tidak suka hal berbahaya. Untuk sekedar tutor bagi kalian mungkin aku masih bisa menolerir, tapi ini PERTANDINGAN BALAP." Kata Naruto penuh penekanan untuk menujukkan tekadnya.


"Sudahlah Sakura, memang susah bicara pada orang keras kepala. Biarkan Naruto melakukan sesukanya, kita sekarang harus fokus untuk menaikkan peringkat kita." Ujar Gaara untuk menyelesaikan perdebatan Naruto-Sakura.


"Peringkat, seperti sekolah saja!" Cibir Naruto untuk menyidir.


Dia memutuskan untuk diam dan lebih memilih untuk mojok bersama Hinata. Meskipun pada akhirnya dia mendengar juga percakapan itu.


Naruto sedikit bisa menarik kesimpulan dari pembicaraan mereka yang intinya tentang memperbaiki peringkat. Dari yang didengarnya dia tahu jika Kakashi Nii-san dan Ketua Gaara, Sasori menempati peringkat 5 dan 6. Sasuke peringkat 6, Gaara 8, Shikamaru 9 dan yang lainnya masih bercecer di peringkat 11-30 besar.


"Pantas saja jadi begini situasinya, rupa-rupanya yang berhasil kulewati adalah orang berperingkat. Pantas jadi ribut!" Batin Naruto yang saat ini bisa mengerti kenapa dia sedang di cari-cari dan banyak yang penasaran tentang dirinya.


.


.


.


Sudah hampir satu bulan Naruto telah menjadi tutor Sasuke cs dan hari menuju pertandingan semakin dekat. Saat ini Gaara dan Sasuke sedang beradu kecepatan lagi untuk berlatih tanding. Tentulah dua duo setan ini yang paling sepadan dan paling meningkat tekniknya dibanding yang lain. Mereka berdua sedang termotivasi untuk meraih posisi lima besar. Naruto saat ini sedang bersama Sasuke, Naruto sudah tidak lagi trauma jika Sasuke yang mengemudi. Pertandingan itu berlangsung dua kali, yang pertama Naruto bersama Gaara dan hasilnya Gaara bersama Naruto menang.


Posisi Sasuke untuk saat ini tertinggal dari Gaara.


"Sekarang naikkan kecepatanmu, tempel Gaara sekarang juga!" Naruto mengkomando Sasuke. Bungsu Uchiha mengangguk pelan.


Sasuke segera menempel Gaara tepat dibelakangnya.


"Nah setelah ini di depan ada tikungan pastikan kau memiliki moment untuk menyalipnya," Sasuke segera melaksanakan perintah Naruto, setelah bergelut dengan Gaara cukup lama, Sasuke bisa mengalahkan Gaara. Begitu pertandingan selesai mereka berkumpul kembali ke tempat semula.


Hari itu liburan sekolah sedang berlangsung jadi mereka dapat menggunakan jalanan untuk berlatih dan dipantau langsung oleh Naruto. Satu lagi, jangan lupakan Naruto yang baru saja beranjak ke usia 17 tahun, tepat satu hari setelah ulang tahunnya Naruto langsung di seret sang Ibu ke kantor polisi untuk membuat SIM sehingga Naruto sudah resmi boleh mengemudi.


"Pertandingannya sudah semakin dekat saja, bagaimana ini?" Naruto semakin sering marah-marah.


"Tenanglah, kau itu tutor kami. Apa yang sebenarnya kau cemaskan?" Tanya Neji heran.


"Ini semua gara-gara Ibu!" Naruto masih menyalahkan Ibunya.


"Hei ada info terbaru, jadwal pertandingan telah keluar dan kau Naruto akan bertanding pada malam pertama sesi kedua melawan Kimimaru dari klub 'Snake'." Kata Itachi yang masih berada di depan notebooknya. Itachi memang sering mendampingi latihan mereka semenjak diberi tahu oleh Sasuke mengenai apa yang terjadi.


"Benarkah, coba-coba kulihat!" Naruto segera meminjam notebook Itachi lalu memandang daftarnya. Dia cukup terkejut langsung dapat lawan dari level peserta klub. Dari daftar ini Naruto bisa melihat hanya ada beberapa orang saja yang pesertanya tidak memiliki klub balap namun mereka sudah memiliki peringkat. Jadi dia tidak heran ketika dia menempati urutan paling rendah dari daftar itu.

__ADS_1


"Sial namaku benar-benar tercantum, ini merepotkan!" Gumam Naruto meratapi nasibnya.


Bersambung


__ADS_2