
Sora apa di depan ada tikungan yang cukup lebar dengan jalanan lurus di depannya?" tanya Naruto yang masih focus pada jalanan. Dia berkonsentrasi agar tidak kehilangan jarak terlalu lebar.
Sora berpikir sejenak. "Ada, lima tikungan setelah ini."
Naruto langsung terlihat bersemangat. "Baiklah kalau begitu. Ayo perlihatkan apa yang bisa kita lakukan."
.
.
.
"Ha ha ha ha, apanya yang mau kau tunjukkan? Lihat kau mempermalukan dirimu." Ejekan itu keluar dari bibir Sora begitu mobil hitam Sai itu terhenti di garis start. Sudah bisa ditebak reaksi Naruto adalah menampakkan wajah manyun, bukannya gagal tapi ternyata diskripsi yang dikatakan Sora meleset sehingga apa yang direncanakan Naruto gagal.
"Kau yang tidak kompeten." Batin Naruto dalam hati. Dia tidak mau mengatakannya langsung karena hanya akan menimbulkan masalah.
"Hei Naruto sebaiknya kau urungkan niatmu melawan mereka. Jujur aku tidak tahu kenapa kau bisa berurusan dengan orang macam mereka. Berhubung pertandingan belum dimulai sebaiknya kita menyerah saja. Kita hanya jadi bahan mainan dan mempermalukan diri sendiri tahu!" Omel Sora sambil memandangi tiga mobil yang kali ini sudah benar-benar mempersiapkan posisi.
Sang sahabat terdiam sweatdrop mendengar ocehan Sora. "Bahan mainan? Mempermalukan diri? Yang benar saja! Penjelasan pada Sora nanti saja deh!" Dia tidak mau ambil pusing dengan anggapan Sora.
"Terserah katamu sajalah yang jelas aku tidak akan mundur." Jawab Naruto sambil tersenyum.
Sora merenggut kesal ternyata pemuda pirang itu keras kepala. "Jangan salahkan aku bila kau jadi badut di tempat ini ya!"
Naruto langsung tertawa lepas dan hanya dipandangi oleh Sora dengan keheranan. Beberapa waktu berikutnya pusat perhatian Naruto teralih pada pembawa bendera yang siap mengawali jalannya pertandingan panas antar sahabat.
Hitungan mundur dimulai. Ke-empat orang di balik kemudi menampakkan wajah sama seriusnya. Dari balik kemudinya Menma yang paling tampak antusias untuk menekan pedal gasnya dalam-dalam. Hasrat duelnya dengan adik sepupu begitu membuncah dalam dirinya. Jujur saja detak jantung Sora makin tidak karuan saat hitungan dimulai.
"Sepuluh."
"Sembilan."
"Delapan."
"Tujuh."
Hitungan berikutnya Naruto bergumam seraya menuju pose siaga untuk memulai.
"Enam…lima..empat..tiga…dua..satu!"
Hitungan terakhir selesai, tidak mau kalah dari yang lain Naruto menekan gas dalam-dalam. Baru saja mulai tapi tensi sudah panas saat mobil subaru impreza WRX milik Menma langsung berhimpitan dengan BMW M3 (E36) yang dikemudikan Naruto beradu mengambil posisi dibelakang Gaara. Dua mobil itu berlomba untuk mengambil posisi ketiga di tikungan pertama.
Ngunggg….
Naruto menaikkan kecepatan untuk menyalip sepupunya. Saat hampir memasuki tikungan dia sedikit diuntungkan karena menyalip dari luar sehingga mobil yang dikendarai Menma akan terhimpit. Dia berencana melakukan braking drift saat memasuki tikungan. Dengan sigap dia menginjak pedal rem dan berlanjut menekan pedal gas secara cepat namun tak dinyana mobil yang dikendarai Menma telah terlebih dahulu membelok seperti pendulum hingga memaksa Naruto untuk menurunkan kecepatannya.
"Percobaan pertama gagal." Batin Naruto tanpa mengalihkan pandangan pada mobil milik Menma. Kegagalan justru makin membuatnya tertantang dan penasaran untuk mencoba lagi.
Dalam hitungan detik mobil-mobil itu lenyap ditelan tikungan pertama menyisakan beberapa wajah yang tertegun. Bagi beberapa orang mungkin ini baru pertama kali melihat langsung pertandingan semacam ini akan berdecak kagum. Namun, bagi sebagian orang hal ini dijadikan sebagai tolok ukur sejauh mana perkembangan para pemuda yang berada di bawah payung klub mereka.
Ketenangan Naruto dalam menghadapi lawan berat sangat patut diacungi jempol karena sama sekali tidak merasa terdetensi saat Menma mulai menunjukkan strategi untuk menutup gerakan Naruto secara total. Siapa saja yang menjadi lawan Naruto tentunya harus siaga karena pemuda dengan kontrol kombinasi antara gas dan setir yang baik bisa mempecundangi mereka jika lengah sedikit saja.
Rasa pening mulai menyergapi Sora saat mobil yang dikemudikan Naruto beradu lagi dan meluncur begitu keluar tikungan. Dari luar gerakan dua mobil itu melenggang anggun, keduanya bergerak bagai pendulum, bergerak kearah berlawanan dari tikungan kemudian bergerak secara cepat berbalik kearah tikungan. Keduanya sama-sama memiliki kontrol gas dan counter steer hingga mampu melenggang sempurna.
Naruto tidak ragu lagi saat ada celah sedikit ketika Menma kalah cepat menaikkan kecepatan. Jika ini suasana presentasi Sora akan langsung memberikan applause saat secara ajaib mobil hitam pinjaman Naruto sudah menyodok ke posisi tiga.
"Tidak mungkin." Batin pemuda di samping Naruto. Dia memang sengaja tidak mengajak Naruto berbicara karena takut menganggu konsentrasi si pirang. Dari ekspresinya Naruto sangat menikmati pertandingan.
Dari dalam mobil Mazda RX7 berwarna merah gelap sang pengemudi tidak terkejut lagi saat Naruto bisa melewati Menma. Gaara tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai ketika memikirkan nasib Menma yang gagal menghalangi Naruto.
__ADS_1
"Rupanya cara yang sama tidak akan mempan pada Naruto. Menarik." Gumam Gaara tanpa mengalihkan fokus dari mobil di depan. Naruto dulu sempat kalah dari Menma ketika bocah pirang itu bisa dibuat frustasi oleh Menma.
Gaara tidak mau posisinya diusik Naruto maka dia memutuskan untuk menganggu Sasuke yang ada di depan. Sudah cukup dia mengekor Sasuke dari belakang, dia kemudian menaikkan kecepatan untuk mendekati Sasuke. Begitu mendekati tikungan dia lalu menginjak kopling dan membelokkan stir untuk memepet. Seringai puasnya tak ayal berkembang saat mobilnya telah bergeser, tanpa ragu dia melepas handbrake yang tadi telah ditarik.
Dua mobil dengan warna kontras beradu kecepatan. Sasuke tidak tinggal diam dengan perlakuan Gaara, memanfaatkan kelemahan handbrake yang menurunkan kecepatan Sasuke berencana mengatasinya dengan power over drift. Belum sempat sang Prince Night mengatasi perlawanan dari belakang mobil Gaara telah melakukan sift lock.
Hitungan detik posisi terdepan telah di pegang Gaara. Dua mobil dibelakangnya tak kalah heboh dengan perebutan posisi ketiga. Mobil Menma hampir saja menyalip kembali mobil Naruto namun berkat keahlian si pirang dia dapat mempertahankan posisinya.
Tidak menguntungkan berada posisi tengah karena harus berpikir dobel.
"Hebat kau Gaara bisa memecundangi si Teme." Komentar Naruto sumpringah. Melihat Gaara berhasil menyalip Sasuke ikut memacu semangatnya.
"Kau memanggil Sasuke tadi apa, Teme?" Jika diperhatikan baik-baik Sora akhirnya mempunyai asumsi sendiri. Naruto dengan Gaara, Sasuke dan Menma sejak awal sudah saling kenal terlebih lagi jika disangkutkan dengan mobil pinjaman Naruto, sosok Naruto bukanlah orang asing bagi mereka semua.
"Itu karena dia duluan yang memanggilku dobe." Ujar sahabatnya tanpa menoleh. Pusat perhatiannya kini sedang asik tertuju pada cara memblok Menma. Sebuah kesenangan sendiri baginya bisa membuat sepupu jahilnya frustasi.
"Kau kenal mereka semua?" Tanya Sora penuh selidik.
"Tentu, Sasuke dan yang lain mereka sahabatku dari SMA. Kalau Menma dia sepupuku." Jawab Naruto cepat. Jawaban Naruto makin membuat Sora tercengang. Mengetahui pemuda berpredikat pangeran kampus yang terkenal akan sifat tenang dan rajin bisa terlibat dalam balapan saja sudah membuatnya shock apalagi mengetahui latar belakang pertemanan Naruto makin membuatnya geleng-geleng kepala.
"Air tenang menghanyutkan, peribahasa itu cocok untukmu Naruto." Batin Sora miris karena selama ini dia sangat tertipu dengan pembawaan Naruto yang tenang dan lebih mirip seorang kutu buku.
Sora memperhatikan baik-baik permainan tangan dan kaki Naruto dalam mengendalikan mobil. Kening pemuda disamping Naruto mengkerut saat Naruto memindahkan gigi lebih rendah untuk menurunkan rpm lalu melepas kopling untuk melambatkan roda belakang hingga mengalami oversteer.
"Hei Naruto bukankah melakukan shift lock gearboxnya rawan jebol? Sebaiknya jangan sering-sering kulihat kau sudah beberapa kali melakukannya." Peringat Sora pada sahabatnya.
"Kalau tidak begini makhluk tengil di belakang akan semakin susah dihindari tahu. Tak masalah paling nanti Sai cuma ngomel sebentar kalau gearboxnya jebol." Ucap Naruto di sela-sela memacu kecepatan. Selepas itu Sora tidak berani mengajak Naruto bicara terlalu banyak kecuali info-info kecil seputar jalanan yang mungkin dapat berguna bagi Naruto.
"Mau menyalipku, hm?" Gumam Sasuke melirik spion mobilnya untuk melihat mobil hitam milik Sai sudah tepat dibelakangnya persis. Pemuda raven itu harus putar otak agar tidak disalip sahabatnya. Dia sudah cukup kesal saat Gaara mengambil posisinya dan belum dapat merebut kembali kini posisi dua akan diusik Naruto.
Dia lalu memacu kecepatan lagi, Sasuke menginjak gas saat itu juga dengan tujuan menjaga roda bagian belakang tetap meluncur setelah melakukan countersteer. Dia memang lihai namun orang dibelakangnya juga tidak kalah cerdik.
"Sial, aku kalah moment." Umpat Sasuke tidak suka saat berhasil disalip lagi. Meski Sasuke sudah hafal betul dengan gaya milik Naruto yang menyalip dengan teknik overpower namun hingga sekarang dia belum bisa menemukan cara yang pas untuk menyaingi Naruto.
"Hebat berada di posisi dua." Sora semakin takjub.
Pertandingan hampir memasuki kilometer akhir dan saat ini posisi telah banyak berubah dari posisi awal. Gaara masih di tempat pertama, Naruto kedua, dan tempat ketiga baru saja diambil alih dari Sasuke. Semakin mendekati garis finish duel kini sudah terpecah menjadi dua karena jarak Naruto yang berada di posisi kedua dengan Menma yang di posisi ketiga terpaut sekitar dua puluh meter.
"Sial! Aku tidak mau jadi yang paling belakang." Posisi Sasuke seperti terjun bebas dari posisi pertama menjadi posisi terakhir. Target paling logis untuk saat ini mengingat jalanan sudah hampir memasuki finish adalah merebut posisi tiga dari Menma.
Dari dalam mobil subaru impreza WRX Menma makin dilanda frustasi gara-gara jarak dengan mobil di depan semakin jauh. Meski wajahnya masih menunjukkan wajah tenang namun otaknya terus berfikir untuk memikirkan strategi apa yang mungkin dipakai.
"Sial, kenapa si ayam ikut-ikutan!" Omel Menma saat mengetahui Sasuke telah menempelnya ketat. Dalam tikungan Uchiha sempat-sempatnya menekan dengan mobil yang sedikit dibelokkan seperti Naruto namun Menma bisa menghindari dengan membuat mobil sliding lebih cepat.
Abaikan saja dua mobil yang kini asik ribut sendiri karena pertandingan tak kalah menarik terjadi antara Gaara dengan Naruto yang sudah ribut sendiri mencapai posisi pertama.
Saat ini Naruto sedang berusaha keras mempertahankan posisi pertama yang baru saja di capainya beberapa saat yang lalu. Handbrake kini ia pakai untuk menjauhkan jaraknya dengan Gaara.
"Panda jadi-jadian apa-apaan dia!" Frustasi Naruto membuat Sora berjengit karena sikap Naruto yang tiba-tiba emosional. Pemicu kesalnya Naruto karena Gaara sekarang menduplikat gerakan Naruto. Mobil Gaara bagai bayangan mobil yang dikendarai oleh Naruto.
Sementara Naruto frustasi Gaara nampak tersenyum saat bisa membuat panas Naruto. Dia memang sengaja membuat situasi ini karena Naruto akan cenderung agresif bila emosinya naik. Yang Gaara pelajari kelemahan Naruto justru pada saat melakukan beberapa teknik berurutan. Tujuannya memang marenggangkan jarak namun jika mengatasi maka bisa menghasilkan celah dan itulah yang coba dimanfaatkan Gaara.
Walau belum pernah menang dari Naruto namun dia banyak belajar dari Menma yang pernah mengalahkan Naruto beberapa kali.
Pemuda berambut merah itu menyeringai saat melihat arah gerakan mobil yang membelok menyisakkan sedikit celah. Detak jantung Gaara berdetak makin cepat saat adrenalin terpacu.
Dadanya sedikit nyeri ketika menaikkan kecepatan untuk melakukan kombinasi antara teknik feint dan cluth kick. Terlambat bagi mobil di depan untuk menaikkan kecepatan karena apa yang dilakukan Gaara memang tidak disangka oleh pengemudi di depan alias Naruto. Final sudah hasil akhir saat ke empat mobil memasuki garis finish.
.
__ADS_1
.
.
Ke empat pemuda yang baru saja bermain (bukan maksud sebenarnya) terduduk atau lebih tepatnya istirahat di trotoar jalan dengan gayanya masing-masing. Naruto tampak menundukkan kepala, di tangan kanannya ada air mineral yang isinya telah kosong karena sebagian diminum dan sebagian lagi di siramkan ke kepala untuk meredakan ketegangan yang masih tersisa. Padahal ini sudah malam namun baginya terasa gerah hingga perlu penyegaran.
Disampingnya ada Sasuke yang di dampingi Sakura yang tidak tahu tempat bisa bermesraan. Kalau Menma jangan ditanya karena pemuda itu sudah menelungkupkan badan di trotoar tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang heran. Sang pemenang pertandingan ini meneguk pelan air mineral ditangannya tanpa mengurangi kewibawaan yang tidak perlu dijatuhkan layaknya Menma.
"Pertandingan yang bagus anak-anak." Kata Kakashi untuk menyapa ke empatnya yang beristirahat dengan caranya masing-masing.
"Akhirnya aku bisa juga lihat Menma jadi juru Kunci. Selamat ya." Ucapan dari sang ketua akatsuki langsung membuat alis Menma tertaut. Pein itu orang yang aneh kadang bisa saklek kadang bisa serius. Tidak ketua tidak wakil sama saja ternyata.
"Fine, kali ini aku kalah total tapi pertandingan berikutnya kupastikan tidak semudah ini." Koar-koar Menma dengan nada keras hingga mendapat hadiah lemparan botol mineral.
"Awww! Naruto kau itu apa-apaan."
"BERISIK TAHU! Kalau sudah kalah, kalah saja, dasar raja echi." Umpat Naruto pada sepupunya yang rupanya masih punya tenaga untuk sesumbar. Tenaga Naruto sendiri sudah hampir habis gara-gara siang tadi keluyuran di kampus dengan berjalan dari ruang satu ke ruang lain.
"Kau tadi sebut aku apa, hm?" Inilah satu keburukan dari Menma yang sangat diketahui Naruto yaitu Menma hobi nonton anime bergenre echi. Naruto akhir-akhir ini memang hobi mengejek Menma dengan hal ini. Dia pelototi tajam Naruto yang sama sekali tidak membalas karena asik sendiri dengan Hinata yang baru saja datang. Menma semakin panas karena diabaikan oleh sepupunya. Untung saja sebelum suasana semakin panas perhatian Menma sudah teralih gara-gara jitakan Pein.
Kalau Pein sudah turun tangan maka Menma angkat tangan. Terlalu seram untuk membantah pria berpierching itu.
"Terimakasih Hinata-chan." Ucap Naruto saat Hinata membawakan segelas susu hangat yang baru saja dibelinya.
"Minumlah untuk menghangatkan tubuh, kepala Naruto-kun basah juga." Hinata sangat perhatian sekali pada sang pacar. Naruto merasa beruntung memiliki kekasih seperti Hinata. Senyum Naruto mengembang hingga meronakan pipi .
"Eng..teman Naruto-kun tadi kemana?" Tanya Hinata pada Naruto. Pasalnya ia juga membelikan minuman itu untuk teman Naruto yang telah membantu sang pacar walaupun hanya menempati posisi dua dibawah Gaara.
Naruto mengedarkan matanya untuk mencari Sora. Jika tidak diingatkan dia bahkan lupa Sora tadi disampingnya.
"Ahhh, pasti dia menuju ke yang lain. Baiklah aku akan menyusul." Sebelum dia pergi dia mengacak poni Hinata untuk izin pada sang gadis.
Jarak antara kumpulan Sasuke dkk dan teman-teman kuliahnya tidak begitu jauh. Dari jauh Naruto sudah cengar-cengir saat Hindate dan Sora menatapnya begitu mendekat.
"Eng, gomen aku kalah." Ucap Naruto meminta maaf.
"Jadi?" Hidate pasang tampang ketus pada Naruto.
"Kau perlu menjelaskan banyak pada kami Naruto-kun." Kata Matsuri manis.
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Eng baiklah."
.
.
.
"Selamatlah uangku! Yes!" Kata-kata materialistis itu keluar lagi dari mulut Menma yang berhasil mendapat tumpangan tidur di Sunagakure. Menma jadi pemuda licik ketika jatah uang untuk menyewa penginapan dari klub bisa utuh karena menumpang pada Naruto.
"Bicara lagi kutendang kau dari sini." Ketus Naruto sambil menendang tas pakaian Menma yang dibawa ke kontrakan Naruto.
Naruto berpaling pada Sora dan Hidate. "Maaf aku bawa makhluk aneh kesini."
Menma tanpa malu-malu merangkul Hidate dan Sora yang sudah senyam-senyum. Mereka bertiga nyatanya mudah akrab meski baru bertemu. Melihat hal itu Naruto berjengit ngeri ketika melihat kelakuan mereka bertiga yang duduk akrab di ruang tengah.
"Mereka bertiga kelakuannya jadi mirip tokoh anime apa ya? Mengerikan." Wajar saja Naruto berpikiran seperti itu karena mereka bertiga sudah senyam-senyum tidak jelas di depan laptop Hidate.
Bersambung
__ADS_1