
Hinata-chan kau hebat!" Suara begitu meriah saat seorang gadis bermahkota dark blue turun dari mobil. Baru saja menginjakkan kakinya di tanah sang pacar sudah memeluknya manja. Pupus sudah bagi pria yang memuja Hinata karena sang lavender cantik sudah ada yang memiliki.
Hinata Hyuuga mahasiswi Jurusan Seni Universitas Konoha berstatus pacar Namikaze Naruto, anggota Black Roses pimpinan Sakura Haruno setelah sekian lama absen secara mengejutkan berhasil lolos ke babak utama menyusul kekasihnya Naruto yang sudah lolos. Pipinya kontan bersemu merah karena malu akan pelukan di depan umum. Siapa sangka gadis yang terkesan polos dan lugu menjadi garang di jalanan.
Di sudut lain Sora pundung dipojokkan karena kalah dari Hinata. Hancur sudah mimpinya untuk lolos setelah kandas di tangan gadis polos milik Naruto. Hidate dan Matsuri hanya bisa menepuk-nepuk pundak Sora untuk menghibur. Ketiganya sama-sama tidak lolos. Kasihan sekali tapi mau bagaimana lagi.
"Pasangan yang menakutkan!" Celetuk Hidate memandangi kebahagiaan Naruto dan Hinata.
Sekarang mereka tidak heran lagi jika melihat Naruto bisa heboh sendiri, berteriak-teriak dan autis kalau menyangkut Hinata. Mereka juga akhirnya tahu sifat asli Naruto yang urakan, berisik dan suka ribut. Sangat jauh sekali dengan image Naruto yang mereka kenal di kampus berpredikat Pangeran kampus yang cool. Kepala tiga manusia itu tertunduk bersamaan meratapi nasib.
Flash Back Sora vs Hinata
Sebuah Honda Jazz berwarna lavender dan peugeot 206 beradu kecepatan dikawasan ground Suna. Rumput bergoyang pelan saat dua mobil itu melaju kencang membelah jalan. Dari dalam mobil Honda Jazz modif ber cat warna kesukaan sang pemilik, pengemudi berambut panjang bermata indah tengah memainkan tangan dan kakinya untuk mengatur steer dan gas.
Jika dilihat dari dalam sang gadis kini tengah menekan kopling dan memindahkan ke gigi 2 dengan cepat saat mobil itu mendekati tikungan. Menginjak gas sepenuh hati dan penguasaan steer yang terampil Hinata tidak ragu melepas kopling untuk membuat ban belakang berputar sangat cepat dan bagian belakang mobil akan melintir. Jalan tertutup lagi untuk mobil belakang yang menjadi lawannya.
Sora ingin sekali menelungkupkan kepalanya saat bagian jalan dari tikungan tertutup lagi oleh kelakuan Hinata. Gadis dari Naruto itu sama sekali tidak memberinya kesempatan lewat. Bahkan dari awal pertandingan sudah tertinggal dan permanen diposisi pengejar.
"Cewek yang menakutkan, pasti kalau pacaran sama Naruto isinya duel terus." Sora masih sempat-sempat membayangkan apa yang dilakukan keduanya saat pacaran akibatnya Soara kehilangan focus maka jadilah makin kehilangan jarak dari Hinata.
"Sial! Sial!" Salah sendiri Sora malah menghayal gaya pacarannya Naruto-Hinata. Sadar tertinggal, pedal gas milik Sora coba injak dalam-dalam.
Yah duel ini memang agaknya tidak seimbang karena perbedaan level. Tapi Sora setidaknya ingin memperbaiki catatan waktunya, siapa tahu poin dari waktunya bisa membantuknya merangsek ke gelaran utama.
End Flash Back
"Hei kalian bertiga tidak bisakah kalian berdiri? Posisi kalian yang seperti itu tidak enak dilihat tahu." Tegur seseorang pada mereka, ketiganya menoleh bersamaan mendapati pemuda tampan berambut hitam legam dan pada bagian rambut bawahnya diikat.
Dia Itachi Uchiha membawa tiga cangkir coklat panas sekaligus di tangannya. "Mau coklat panas? Ini aku bawakan untuk kalian bertiga."
Sungguh sulung Uchiha itu bagaikan seorang penyelamat bagi mereka. Dari sekian orang yang ada di sana Itachi-lah adalah salah satu orang yang peduli pada mereka bertiga.
"Itachi-san sungguh kau ini baik hati sekali beda sekali dengan pantat ayam bermulut pedas." Ujar Hidate penuh haru sembari menerima coklat panas dari Itachi. Kakak Sasuke itu tersenyum tulus untuk mereka.
"Sebaiknya setelah minum kalian cepat berkemas, tadi adalah pertandingan terakhir dan yang lain sudah bersiap pulang. Oh ya kalian jangan sedih masih ada kesempatan untuk kalian pada event dilain kesempatan." Tutur Itachi bijak sebelum akhirnya menjauh dari mereka bertiga. Sungguh kakak idaman para adik.
Blush! Wajah Matsuri memerah dan disadari oleh Sora.
"Hei Matsuri wajahmu memerah apa kau sakit?" Tanya Sora sambil mengguncangkan bahu Matsuri agar gadis ini bereaksi.
Matsuri tersentak dan menatap bingung pada Hidate.
Sora dan Hidate memasang tampang menyelidik. "Jangan katakan kau naksir dengan Itachi-san." Terka Hidate sambil menunjuk cuping hidung Matsuri.
"Tidak kok." Sanggah Matsuri tapi wajah tidak bisa bohong karena wajahnya makin merah. Gadis itu kemudian membuang muka kemudian berdiri cepat lalu pergi tanpa pamit. Dua pria yang ditinggal hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan rekannya.
"Perempuan memang sulit dimengerti maunya." Tutur Hidate setelah Matsuri pergi.
Tidak butuh waktu lama area ground suna yang tahun ini jadi tuan rumah sudah sepi dari para peserta. Hanya tersisa beberapa orang yaitu para panitia yang memang masih harus melakukan evaluasi.
Dari sudut tempat yang tersembunyi beberapa orang berpakaian hitam memandang serius ke kerumunan orang yang tersisa. Mereka agaknya mengintai diam-diam.
"Orang-orang itu seenaknya mengusik dominasi kita." Kata seseorang pelan pada rekan-rekan yang lain. Tiga orang di samping kanan dan kiri juga memandang benci.
"Akan kita beri peringatan untuk jangan macam-macam dan mengusik dominasi yang sudah ada. Apa kau sudah dapat konfirmasi siapa saja yang akan turun malam ini?" Tanya seseorang lagi.
"Sudah, beberapa geng terkemuka turut andil. Hanya beberapa saja yang tidak." Jawab seseorang yang wajahnya samar di bawah bayang-bayang bulan.
"Bagus, sudah saatnya kita memberi tahu kenapa suna wilayah dulu jarang terjamah oleh orang seperti mereka. Kita lakukan." Ujarnya sarkatis, senyum sombongnya terukir jelas saat wajahnya mulai tersorot sinar rembulan.
.
.
.
Mitsubishi lancer evo IV berwarna dark blue meluncur bebas membelah jalanan Suna yang sepi. Malam telah larut namun Itachi baru saja pulang karena bertugas sebagai panitia tahun ini. Pria muda kakak Sasuke, malam ini memang sengaja bertukar mobil dengan adiknya karena untuk mempermudah Itachi mengontrol kondisi mobil Sasuke yang baru saja digunakan balapan. Jika dia sudah merasakan keganjilan saat digunakan pulang maka ke esokan paginya Itachi dapat dengan mudah menyetel mobil Sasuke. Hitung-hitung mempersingkat pekerjaannya di dalam gelaran event yang jangka waktunya sempit.
Itachi meluncur dengan mobil Sasuke dengan kecepatan tidak lebih dari 60km/jam. Bola onix hitam Itachi melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam. Itachi sudah membayangkan kasur empuk yang jadi pelepas rasa penatnya.
Dari kejauhan spion mobil memantulkan cahaya kendaraan lain yang mengekor. Dari pantulan sinarnya Itachi menerka itu adalah sepeda motor.
__ADS_1
"Ternyata masih ada juga orang suna yang keluar di jam seperti ini." Tutur Itachi sendirian. Dia merasa lega karena di jalanan yang sepi masih ada yang lewat, setidaknya dia bukan satu-satunya makhluk yang lewat di jalanan yang sepi dan terkesan horror. Beberapa motor dibelakang itu mendekat, Itachi awal mulanya menganggap kedatangan mereka hanya angin lalu karena menyangka mereka adalah pengguna jalan.
Keterkejutan dimata Itachi tidak dapat disembunyikan saat melihat motor-motor itu mengapitnya dari kanan-kiri-belakang. Mereka berboncengan sembari membawa pemukul base ball.
Tuk! Tuk!
Kaca mobil milik Sasuke diketuk kasar oleh orang yang ada disampingnya.
"Rampok!" Hanya itulah yang terlintas dipikiran Itachi. Siapapun juga akan berpikiran demikian jika ada motor mengapitnya sambil membawa pemukul base ball. Oke, peduli amat senjatanya pemukul base ball tapi jika diapit demikian semua orang juga akan berpikiran negative.
Druagh!
Itachi mendengar suara pukulan dari belakang mobilnya.
"Apa-apaan mereka?" Dalam kepanikan Itachi menekan gasnya lebih dalam lagi untuk menghindar. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi tapi jelasnya kini dia dikejar.
Ngunggg!
Mitsubishi lancer evo IV milik adiknya menukik tajam dalam tikungan dan kembali kejalur dalam sepersekian detik diikuti beberapa motor berkapasitas sekitar 250 cc di belakangnya. Jantung Itachi makin berdegup saat beberapa orang tak dikenal secara nyata mengincarnya.
"Mati aku, Ya Tuhan tolonglah hambamu malam ini saja agar diberi kelancaran untuk meloloskan diri." Doa Itachi sebelum mulai beradu dengan motor dibelakangnya. Itachi cemas akan kemampuannya yang sudah lama tidak digunakan dalam balapan. Tidak boleh ada kata gagal atau nasibnya akan tidak jelas, kalau cuma salah paham maka akan senang hati Itachi memaafkan nah kalau beneran dia diincar maka dia bakal dihajar, malanglah nasib Itachi.
Dijalanan yang sepi mobil yang dikendarai Itachi meliuk indah disetiap tikungan untuk membuat jarak dengan motor-motor dibelakang. Dari sudut pandang luar mobil berwarna dark blue menukik tajam saat tikungan dengan posisi belakang mobil yang bergeser sebelum menaikkan kecepatan begitu keluar tikungan. Selang beberapa detik sudah ada motor yang mengekor. Salah satu pengendara tanpa penumpang tampak memiringkan sudut motornya hampir menyentuh tanah ketika tikungan untuk mengejar mobil di depannya. Hasilnya tidak sia-sia ia berhasil melaju terlebih dahulu dibanding yang lain.
Ngunggg….
Efek angin yang ditimbulkan dari mobil yang baru saja lewat menggoyangkan rumput sekitarnya. Itachi memandang panik spion, di belakangnya masih ada satu motor yang mengekor. Perlahan tapi pasti motor berkapasitas 250 cc berhasil mendekat. Itachi menaikkan gigi lagi kemudian menginjak gas sedalam yang ia bisa.
Adu kecepatan terjadi di jalan lurus.
Brummm…brummmmm…
Tahu-tahu motor yang tadinya dibelakang Itachi sudah ada di samping dalam posisi sejajar.
"Jangan katakan dia ingin memotong jalanku. Sial harus lolos secepat mungkin." Beberapa puluh meter lagi jalanan memasuki tikungan. Motor yang kecepatannya setara dengan laju mobil yang dikemudikan Itachi tampak belum mau menurunkan kecepatan. Jantung Itachi berdegup kencang saat berpikir ada kemungkinan ada adu head to head di tikungan nanti. Mobil vs motor jika salah satunya tidak ada yang mengalah maka bisa mengakibatkan kecelakaan.
Itachi meneguk ludahnya pelan saat motor disampingnya tidak mau menurunkan kecepatan. "Aku harus bagaimana?" Pikir dalam hati Itachi.
"Binggo! Itu dia!" Ujarnya senang. Tanpa berpikir panjang Itachi membelok mobilnya kearah berlawanan dari tikungan, sontak motor di depannya jadi kehilangan focus hingga menurunkan kecepatan saat mobil Itachi meluncur tidak biasa kearahnya. Kontrol steer sempurna diperlihatkan oleh Itachi saat mobil milik Sasuke melenggang tipis tanpa menyentuh motor pengejar sebelum berbalik arah meluncur cepat meninggalkan si pengendara motor.
Orang yang ditinggal Itachi hanya bisa terpaku horror saat mobil yang mereka incar berhasil lolos. Sungguh tidak menyangka jika dia yang seorang diri berhasil kabur.
.
.
"Drrrrrrrrrrrrrttttttt! Drrrrrrrrrrrrrrrrt!" Puluhan kali ponsel milik Menma bergetar diatas kasur namun tidak kunjung juga dipegang oleh Menma. Bukannya segera dibuka pemuda pemilik ponsel justru lebih asik memeluk guling. Disampingnya pemuda pirang yang berbagi kamar dengan sang sepupu tampak terganggu.
"Menma ponselmu getar. Angkat!" Ujar Naruto makin menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Dia masih ingin tidur setelah balapan tadi malam, berhubung cuaca dingin dan cocok untuk tidur maka dia berniat bangun siang.
"Arghhhhh…ganggu orang tidur aja!" Gumam Menma marah namun meraih juga ponsel miliknya. Tahu begitu dia matikan hp-nya sebelum tidur seperti Naruto. Dengan mata terpejam dia angkat ogah-ogahan panggilan dari si penganggu.
"Hallo, Siapa?" Jawab Menma tanpa semangat hidup. Terlanjur bad mood gara-gara acara tidurnya terganggu. Dari ujung telepon di tempat lain seseorang berbicara cepat dan panjang pada Menma.
"Itu serius? Baik aku akan segera kesana." Menma yang tadinya malas-malasan sudah bangun dari tidurnya dengan ekspresi tak terdefinisikan. Dia tutup telfon kemudian memandang Naruto yang masih tidur dengan nyenyaknya.
"Naruto bangun! Ayo bangun!" Menma menggulingkan Naruto tapi pemuda berambut pirang itu tak bereaksi.
"Bangun! Bodoh!"
Brugh!
Sebuah tendangan berhasil membuat Naruto jatuh dari tempat tidur.
"Menma kau gila, kau menganggu tidurku!" Umpat Naruto marah menatap tajam Menma. Sang pelaku balik menatap tajam Naruto.
"Hei dengar ini bukan waktunya tidur tahu. Aku mendapat kabar penting dari Pein." Nada bicara Menma yang biasanya selengekan berubah menjadi serius. Naruto menyadari itu kemudian menurunkan emosinya.
"Ada masalah apa?" Tanya Naruto tak kalah serius.
"Tadi malam beberapa rekan kita mobilnya dirusak oleh gerombolan orang misterius. Aku tidak tahu kebenarannya seperti apa tapi kita diminta untuk berkumpul di Kantor Polisi Daerah Suna Selatan sekarang." Ujar Menma membuat Naruto shock. Permasalahan ini sudah sampai kantor polisi maka artinya ini masalah serius.
__ADS_1
"Baiklah kita kesana setelah ini. Kita harus bersiap-siap sekarang juga." Ujar Naruto cepat sudah menyambar handuk kemudian meluncur ke kamar mandi meninggalkan Menma yang masih melongo memandangi pintu kamar yang sudah tertutup.
"NARUTO! SIALAN KAU!" Teriak Menma karena baru sadar jika Naruto sudah mendahului Menma dalam menggunakan kamar mandi. Terpaksa dia harus mengantri mandi setelah Naruto. Yah, wajar seharusnya Menma mengalah karena dia hanya numpang di kontrakan Naruto.
.
.
.
Menma dan Naruro turun bersamaan dari mobil milik Naruto. Mereka datang secepat yang mereka bisa bahkan keduanya sampai lupa pamit pada Hidate dan Sora yang masih tidur nyenyak. Saat itu hari masih pagi tapi di area parkir kepolisian sudah banyak orang berkumpul dan mereka familiar untuk Naruto dan Menma.
"Hei sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Menma dengan nafas memburu bertanya pada Kakashi yang sedang berbincang serius dengan Sasori serta Pein.
"Akhirnya kau datang juga. Ada peristiwa penting yang perlu kami sampaikan." Ujar Kakashi berusaha setenang mungkin.
"Sudah cepat katakan saja Kakashi-nii, apa yang terjadi?" Potong Naruto ingin tahu. Pikirannya sudah macam-macam karena belum tahu berita sebenarnya.
Sasori menghela nafas panjang sebelum berbicara. "Tadi malam mobil dari Lee, Suigetsu dan dua mobil dari klub yang ada di suna dirusak oleh orang tidak dikenal. Mereka dihadang kemudian dipukuli hingga babak belur."
"Lalu bagaimana keadaan mereka semua, apa baik-baik saja?" Tanya Menma ikut panik. Dia sangat prihatin akan musibah yang menimpa rekannya.
"Tenanglah mereka semua baik-baik saja, semua korban sudah dilarikan ke rumah sakit. Hanya babak belur biasa." Kali ini Kakashi yang menjawab pertanyaan Menma.
"Syukurlah, lalu bagaimana pelakunya?" Tanya Naruto bergantian. Sadar atau tidak Menma dan Naruto bertanya layaknya wartawan koran yang bertanya bergantian dan saling menyambung.
"Belum terungkap, polisi masih menginterogasi Itachi-nii." Dari belakang mereka Sasuke ikut menyahut. Menma dan Naruto sontak memandang bungsu Uchiha yang berdiri bersedekap dengan muka masam seolah baru saja mengalami hal yang tidak enak.
"Itachi-nii jadi korban juga?" Rasa Ingin tahu Menma sudah tidak terbendung lagi. Situasi ini makin membuatnya penasaran dan bingung.
"Tidak tapi hampir. Itachi-nii tadi malam berhasil lolos dari mereka." Kata-kata Sasuke benar-benar menyiratkan emosi kemarahan. Marah karena diserang oleh orang-orang tak dikenal, mereka salah apa pada mereka?
"Ini buruk." Gumam Menma.
Untuk beberapa saat mereka terlibat pembicaraan serius sembari menunggu Itachi yang sedang diperiksa. Setelah hampir dua jam menunggu dari gedung kepolisian, Itachi keluar bersama seseorang. Seorang polisi muda yang wajahnya familiar untuk beberapa orang.
"Hidan?" Panggil Pein yang pertama kali. Ketua akatsuki itu nampak begitu terkejut melihat mantan anggota klubnya datang dengan seragam polisi lengkap. Pein pikir keluarnya Hidan dari akatsuki untuk jadi polisi hanya gurauan, setiap kali mereka berkomunikasi dengan pria itu Hidan juga tidak pernah membicarakan kerja apa dia sekarang.
"Lama tak bertemu wajahmu kenapa masih jelek Pein."
Twitch!
Urat syaraf Pein seketika naik mendengar penuturan mantan anak buahnya. "Aku tidak menyangka anak brandal sepertimu jadi polisi, ku kira itu hanya gurauan." Ketus Pein sengit membalas ucapan Hidan.
"Tunggu! Hidan-san dan Pein Nii-san saling kenal?" Tanya Naruto bingung. Si pirang ingat betul wajah polisi di depannya itu. Dia adalah Hidan sang polisi yang menolongnya saat tersesat di jalan awal semester lalu. Hidan memandang Naruto sejenak untuk mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu pemuda ini.
"Ah, aku ingat. Kau Namikaze Naruto-kan? Wah-wah aku tidak menyangka akan bertemu banyak orang hari ini." Ujar Hidan dengan tersenyum berwibawa. Pein meneguk ludah melihat senyuman Hidan, seingatnya pria brandal itu bisanya cuma menghajar orang sambil menyeringai jahat saat SMA.
"Kurasa sebaiknya Hidan-san segera saja menyampaikan hal penting itu agar kami dapat segera memutuskan sesuatu." Tegur Itachi tegas ketika melihat justru Hidan terbawa suasana untuk berbicara out topic dari point pembicaraan yang harus disampaikan.
Senyuman Hidan itu kemudian menghilang digantikan dengan wajah serius.
"Baiklah, tuan Uchiha. Aku perlu menyampaikan sesuatu pada kalian mengenai gelaran utama dari acara milik kalian yang akan diadakan di ground Suna." Tutur Hidan yang langsung membuat wajah-wajah orang disana tegang.
"Jangan katakan acara ini harus dibatalkan! Ya ampun baru juga aku ikut perdana masa harus gagal lagi."Fikiran negative Naruto sudah berkecamuk di kepalanya.
"Lanjutkan." Tutur Pein sinis untuk menyuruh Hidan berkata to de point dan tidak secara sengaja memberi jeda untuk mendramatisir suasana.
"Mengenai perizinan dari kalian memang sudah mendapat persetujuan. Namun sebagai pihak keamanan kami tidak bisa begitu saja membiarkan resiko yang akan terjadi bila acara dilanjutkan." Tutur Hidan dengan tenang namun tetap membuat tegang.
"Apa itu artinya kami harus membatalkan?" Tanya Kakashi langsung pada focus utama pembicaraan.
"Tidak tapi kami memberi opsi diundur sampai situasi mereda atau gelaran dipindahkan ke sirkuit di Suna." Jawaban Hidan berhasil membuat mereka shock.
"Diundur atau dipindahkah? Kau bercanda, Hidan! Kami tidak bisa melakukan dua-duannya." Bentak Pein.
"Tapi ini solusi untuk kalian yang terbaik. Dengar, asal kalian tahu kami melakukan hal itu untuk mencegah kalian di serang oleh kawanan orang yang kami duga sebagai kawanan geng motor yang ada di suna. Sudah dari dulu kami mengincar mereka tapi sampai sekarang kami belum bisa memberantas klub yang tak bertanggung jawab macam itu. Maaf bung tapi ini yang terbaik." Ujar Hidan panjang. Dari apa yang dikatakan Hidan tergambar jelas bahwa suasana di Suna tidak kondusif untuk mereka.
"Bagaimana? Kami tunggu keputusan dari kalian nanti malam." Tutur Hidan lagi yang makin membuat mereka makin shock.
Bersambung
__ADS_1