PEMBALAP JALANAN

PEMBALAP JALANAN
speed of destiny eps 9


__ADS_3

Wah-wah sepertinya aku merepotkan keluarga ini. Tapi terimakasih bubur ayamnya, Minato Nii-san," Kakashi jadi merasa tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi dia harus menyampaikan informasi penting pada keluarga Minato.


"Tidak masalah Kakashi, lagi pula sudah lama kau tidak berkunjung kemari." Balas Minato dengan ramah diiringi dengan senyuman hangat.


"Benar, kami senang kau berkunjung Kakashi, ngomong-ngomong sepertinya tadi malam kita berpapasan. Kurasa tadi malam kami berbuat salah, aku sebagai ibunya Naruto minta maaf karena kami menganggu balapan." Kata Kushina yang tiba-tiba sudah muncul di ruang tamu membawa minum dan beberapa cemilan kecil bersama Naruto. Setelah meletakkan makanan dan minuman keduanya memutuskan duduk bersama Minato dan Kakashi.


Kakashi tersenyum kecil lalu melirik Naruto. Dia tidak menyangka bahwa keluarga dokter Minato benar-benar berbakat dalam urusan kebut-kebutan. Kakashi tidak heran Naruto bisa melakukan hal itu, secara genetik dia benar-benar mewarisi bakat ayah dan ibunya.


"Rupanya kau sudah besar ya Naruto! Kau hebat bisa mengalahkanku," puji Kakashi pada Naruto yang memandanginya heran.


"Terimakasih, Paman Kakashi. Sebentar jadi paman ini temannya ayah? Tapi kenapa aku baru tahu sekarang? Tunggu, nama lengkap paman adalah Hatake Kakashi? kenapa aku sepertinya familiar dengan nama itu. Rasanya aku pernah mendengar tapi dimana aku lupa." Rasa ingin tahu Naruto sudah tidak dapat terbendung lagi sehingga apa yang ada dalam fikirannya diutarakan secara beruntun.


Kushina yang mendengar pertanyaan itu reflek memandang Naruto sambil tersenyum lembut. Kushina baru akan menjawab tapi keburu sudah dijawab Minato.


"Itu, karena ayah lebih sering bertemu dengan Kakashi di rumah sakit. Ayah adalah perantara antara Kakashi dengan dokter spesialis mata teman ayah. Jadi wajar kalau kau tidak mengenalnya, sebenarnya dia dulu pernah berkunjung kesini namun kalian tidak pernah ketemu." Tutur Minato menerangkan pada Naruto.


Setelah Minato giliran Kushina angkat bicara.


"Kakashi juga ketua klub 'Night'. Dia ketuanya Sasuke. Kau ini kemana saja sebenarnya, apa teman-temanmu tidak pernah cerita?" Kushina sangat heran tentang ketidaktahuan putranya tentang Kakashi.


Kushina tahu Naruto tidak pernah terlibat secara langsung yang namanya balapan, namun teman-temannya adalah pembalap seharusnya paling tidak Naruto mengenal Kakashi walau hanya nama dan statusnya.


"Hmmm, he he he sepertinya si Teme pernah bilang tapi aku lupa," Naruto nyengir saja di depan orang tuanya dan Kakashi.


"Sudahlah tidak apa-apa. Mungkin besok kau bisa tanyakan saja pada Sasuke," jawab Kakashi berusaha lapang dada meski hatinya agak miris karena ternyata seorang Hatake Kakashi ketua klub 'Night' yang disegani dan popular tidak dikenal oleh Namikaze Naruto.


Minato dan Kushina hanya bisa menatap mereka berdua dengan pandangan gado-gado antara mau tertawa ataukah ikut prihatin untuk keduanya.


"Baiklah kalau begitu!" Jawab Naruto dengan semangat kemerdekaan.


Minato mengambil alih pembicaraan.


"Jadi Kakashi, katanya kau ingin menyampaikan sesuatu. Apa itu?"


"To de point saja Minato Nii-san, aku ingin memberi peringatan pada keluarga anda tentang jalanan yang biasa kalian lewati kurasa untuk beberapa waktu kedepan akan sering ramai dengan mobil luar Konoha yang ingin menemukan anda. Situasinya kini seperti dulu, kecepatan mengemudi Nii-san dan Naruto belakangan sering ter-ekspos dan kalian akan sering dicari, aku menyarankan Nii-san untuk lewat tengah kota saja agar tidak menganggu pekerjaan Nii-san. Tentunya Nii-san tidak akan mau jika berurusan dengan mereka." Jelas Kakashi secara serius pada Minato yang didengarkan baik-baik pula oleh Kushina. Bahkan Naruto yang hiperaktif juga mendadak serius.


Kakashi memang benar pembalap yang haus akan tantangan, namun terhadap Minato dia berperilaku berbeda. Perbedaan sikap pada Minato ini dikarenakan dia telah menganggap Minato sebagai seorang kakak yang sangat dihormati dan sayangi sehingga dia menyimpan rahasia ini rapat-rapat dari publik dengan maksud agar tidak menyulitkan keluarga Namikaze terutama Minato. Selain itu dia juga merasa hutang budi atau tepatnya berhutang nyawa pada Minato.


Ketika usia 17 tahun, masa dimana dia sedang gila-gilaan mengandalkan nafsu untuk meraih kemenangan apapun caranya. Dimasa itu isu tentang pengemudi misterius juga telah beredar, Kakashi yang penasaran berniat menemukan dan mengalahkannya dengan terus meningkatkan diri, berlatih, menentang seniorpun dia lakukan. Kakashi saat itu sedang berduel dengan Kakuzu, salah satu anggota klub 'Akatsuki' yang memang terkenal dengan gaya balap yang keras. Naas bagi Kakashi muda yang masih mengandalkan nafsu, tanpa mengandalkan rencana dan teknik matang dia tidak bisa menghindari serempetan antara mobilnya dengan mobil Kakuzu. Kakashi tidak dapat mengendalikan stirnya sehingga menabrak mobil Kakuzu secara frontal. Sial bagi keduanya yang mengalami kecelakaan di tempat sepi, Kakuzu dan Kakashi sama parahnya bahkan dipikiran keduanya hanya ajal mereka telah dekat.


Kakashi yang masih punya cukup tenaga mencoba meraih Kakuzu yang sudah tak sadarkan diri. Pandangan Kakashi semakin buram dengan seiring berjalannya waktu, dia juga telah kehilangan banyak darah. Dalam situasi ini Kakashi hanya berdoa ada seseorang yang lewat untuk menolongnya atau mungkin anggota mereka yang sadar jika mereka belum kembali segera mencari. Setelah hampir putus asa, dalam keheningan malam dia mendengar suara mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah mereka. Si pengemudi yang melihat Kakashi dan Kakuzu mengalami kecelekaan tidak lantas mengabaikannya, dia langsung turun lalu menolong mereka. Kakashi yang kondisinya sudah lemah akhirnya tidak sadarkan diri. Yang dia ingat saat terbangun dirinya telah ada di rumah sakit dengan kondisi mata yang sudah di perban.


Matanya rusak. Kakashi sempat hampir putus asa, tapi berkat dorongan motivasi dari Minato dan keluarganya dia bisa semangat kembali.


Minato, penolongnya dengan sukarela merawat Kakashi dan terus memberinya semangat hingga ia bisa seperti sekarang ini. Sejak itulah dia dekat dengan si dokter pirang dan istrinya. Kakashi yang dekat dengan Minato akhirnya menemukan fakta bahwa Minato merupakan pengemudi misterius yang dicari-cari. Kakashi memutuskan menutup fakta itu rapat-rapat mengingat dia tidak melihat niat apapun yang menjadi motif Minato melakukan hal itu, yang dia tahu Minato hanya ingin berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin dan Kakashi sangat menghargai itu.


"Kakashi Nii-san, memangnya kalau kami berurusan dengan mereka apa yang akan terjadi? Toh itu kan jalan umum semua orang bebas kan untuk lewat." Bantah Naruto dengan polosnya membuat ketiga orang disana geleng-geleng.


"Aduh duh duh, pantas Sasuke memanggilmu Dobe, Namikaze Naruto. Jika mereka sampai identitasmu kau akan semakin sering berurusan dengan mereka." Kata Kushina pada anaknya.


"Ow, begitu. Berarti kalau mendesak terpaksa berurusan dengan Ojii-san dulu dong. Itu namanya merepotkan. Mana kakek ketua kepolisian cerewet banget!" Keluh Naruto.


"Ojii-san?" Tanya Kakashi bingung.


"Ha ha ha, Naruto selalu menyebut Kepala Kepolisian dengan Ojii-san Kakashi. Dia itu kalau sedang mendesak dan harus lewat jalan raya utama selalu minta izin Kepala Kepolisian Konoha. Bahkan dia berani jujur tidak punya SIM. Apakah itu namanya bukan bunuh diri?" Tutur Minato sambil tertawa pada putranya. Minato sangat ingat kejadian pertama kali Naruto menelphone kepala kepolisian untuk izin lewat, bahkan identitas sedetail-detailnya dia sampaikan juga. Tentu saja itu membuat kepolisian Konoha bingung.


"Aku belajar itu dari mu Pak Tua," cibir Naruto pada Minato.


"Ayolah, pastinya Iruka Sensei senang mendengar murid kesayangannya akan sering berkunjung," ujar Minato dengan senyum.


"Kalau begitu Tou-san jadi dokter haruslah teliti, cermat, jangan seenaknya meninggalkan dokumen dan barang-barang penting dirumah! Berhentilah menjadikan anaknya kurir." Kali ini Naruto mengomeli ayahnya habis-habisan.


"Dasar pemalas! Ayah hanya minta tolong. Satu bulan juga bisa dihitung dengan jari, keadaan di rumah sakit tidak selalu bisa ditebak, kau harus mengerti itu Naru, anakku baik deh!" Minato berusaha membuat Naruto mengerti.


Mengenai Iruka, Iruka adalah seorang polisi yang bertugas pada ujian SIM mobil. Dialah orang yang mengajarkan berbagai teknik mengemudi yang baik dan benar pada Naruto


"Ya ya ya ya, terimakasih Kakashi Nii-san sudah memberitahu kami tapi sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku dan ayah tidak terus-terusan lewat dalam keadaan buru-buru. Jadi kesimpulannya tidak masalah aku dan Tou-san lewat mana yang penting tidak merugikan orang lain. Itu pendapatku jika Nii-san ingin tahu." Ujar Naruto.


Mendengar hal itu Kakashi kemudian tersenyum lembut memandang Naruto yang memiliki sifat sama seperti ayahnya yang sama-sama menganggap hal ini tidak perlu di khawatirkan. Niat Kakashi disini hanya membantu Minato untuk tidak berurusan dengan para fanatik balap yang kadang melakukan segala cara untuk memuaskan hasrat mereka.


"Kalau begitu itu terserah kamu Naruto, aku sudah memperingatkanmu. Sebaiknya kau harus sedikit hati-hati lagi, jika sampai mereka tahu identitasmu kau akan sering dapat tantangan." Kakashi memandang ketiga penghuni yang menampakkan ekspresi macam-macam. Mulai Minato yang tampak santai, Kushina yang justru tampak bersemangat, Naruto yang tampak berpikir.


GUBRAK!


Kushina memecah keheningan dengan menggedor meja. Wajahnya sumpringah disertai senyuman licik tersungging di bibir manisnya.


"Hieeee!" kali ini Minato dan Naruto memekik bersamaan dengan wajah yang terkejut. Siapa juga yang tak terkejut tiba-tiba meja di hadapannya digebrak tiba-tiba.


"Yosh! Aku tahu maksud pembicaraanmu Kakashi! Jadi status suamiku masih buronan para pembalap seperti dulu dan sepertinya anakku yang manja ini mewarisi hal yang sama. Aku bangga pada kalian, sebagai mantan pembalap aku bangga memiliki kalian," kata Kushina lantang dan membuat yang lain hanya bisa geleng-geleng.


"Sejak kapan aku jadi buronan Kushi-chan ?" Fikir Minato sambil memandang takut-takut istrinya.


"Buronan? Memangnya aku salah apa?" Kalau ini fikirannya Naruto.


"Ya, biar kuperjelas lagi. Di kalangan para pembalap status Minato Nii-san dan Naruto sekarang adalah pengemudi misterius yang sedang di cari-cari." Perjelas Kakashi untuk mendukung argument Kushina.


"APAAAA!" Minato dan Naruto memekik bersamaan lagi dengan wajah terkejut luar biasa bahkan Naruto sudah mangap layaknya ikan lohan.


"Lo, kok- kok bisa ?" Tanya Naruto tak percaya sekaligus meminta penjelasan pada Kushina dan Kakashi. Kalau Minato sih habis terkejut pasang tampang sok mikir.


"Haduh susah memang harus menjelaskan pada anak yang tidak peka," desah Kushina sambil memijit kening ketika memandang reaksi suaminya dan anaknya polos. Kalau diibaratkan di kehidupan nyata itu seperti orang yang habis bikin kerusuhan di kampung tapi pelakunya tidak merasa, bagaimana coba?


"Dasar! Itu gara-gara aksi kalian sendiri. Minato Nii-san dari dulu juga tidak berubah, dan sepertinya Naruto pun juga sama seperti ayahnya. Benar-benar keluarga unik, dua pria polos dan satu wanita dengan obsesi besar. Menarik." Sua Kakashi dalam hati.


Pukul 10.00


Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrt…drrrrrrrrrrrrrrrrrrrt….drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

__ADS_1


Getaran handphone Sasuke Uchiha begitu keras bergetar di meja. Meskipun dia telah sengaja ment-silent HP-nya agar tidak ada yang menganggu toh nyatanya cukup dengan suara getar bisa membuatnya bangun.


Sasuke dengan mata terpejam dengan malas mengambil handphone di atas meja kecil samping tempat tidurnya.


"Ini yang menelphone sungguh tidak tahu diri, apa tidak tahu aku tidur! Menganggu mimpi indahku saja bersama Sakura," batin Sasuke merujuk kesal. Wow rupa-rupanya gossip Sasuke dan Sakura benar adanya .


"Teme!" Teriak seseorang dari ujung telephoneya dengan keras dan sukses membuat Uchiha bungsu langsung sadar siapa yang menelfon.


"Kebiasaan buruk kau Dobe, jangan berteriak!" Hardik Sasuke jengkel.


"Upss Sorry, ini penting ada yang ingin kutanyakan?"


"Hn?" Jawab Sasuke malas.


"Dasar Dobe, membuatku kesal saja. Awas saja kalau tidak penting."


"Teme, Apa kau mengenal yang orang bernama Hatake Kakashi ?"


"Hatake Kakashi ? Dia itu ketuaku bodoh. Jangan kau katakana kau hanya ingin menanyakan hal itu Dobe," Gerutu Sasuke sebal.


"He he he, jadi Hatake Kakashi itu ketua klubmu. Kau tahu ternyata ayahkuku mengenalnya," perubahan suara Naruto yang tadinya datar menjadi semangat.


"Lalu apa masalahnya?"Sasuke menjawab Naruto dengan nada malas. Matanya dipejamkan lagi pertanda akan melajutkan tidur sementara handphonenya telah ditempelkan asal-asalan di telinga.


"Kakashi Nii-san memintaku bertanya padamu jika ingin tahu dia." Tutur Naruto lugu.


"Dobe, kau membangunkanku cuma gara-gara itu. Kalau tidak penting akan kututup!" Sasuke akhirnya mengomel keras pada Naruto.


"Tunggu Teme! Satu lagi, aku mau minta pendapatmu, ini masalah penting." Jawab Naruto agak menggantung.


"Apa?" balas Sasuke pendek dengan malas.


"Apa kau tahu ternyata aku mendapat julukan baru."


"Memangnya apa pentingnya itu dobe? Pembicaraanmu makin tidak penting," Kata Sasuke makin jengkel.


"Teme! Dengarkan! Aku di cap pengemudi misterius. Apa yang harus kulakukan?" Suara Naruto berubah melengking menjadi panik.


Sementara itu Sasuke yang mendengar langsung saja tersentak dari tidur dan sukses terjatuh dari ranjang.


BRUKK!


"AWW!"


Begitulah yang di dengar Naruto.


"Teme? Kau masih di sana?" Naruto memanggil Sasuke.


"Kau, tadi apa?" Tanya Sasuke tidak percaya,.


"Kenapa kau jadi tuli, kuulangi! Aku di cap pengemudi misterius. Puas!"


"Kata Kakashi Nii-san itu gara-gara aku terlalu menarik perhatian terutama saat pertandingan Kakashi Nii-san tadi malam. Kau tentu sudah biasa menemui kasus semacam itu, berikan aku solusi untuk membersihkan namaku!" Pinta Naruto dengan nada memelas.


Mendengar hal itu kali ini Sasuke hanya bisa Sweatdrop.


"Mana ada hal seperti itu bisa dibersihkan, Baka! Memangnya itu kasus fitnah, lagi pula itu hanya julukkan. Seharusnya kau itu bangga!" Jawab Sasuke sambil duduk di kasur. Dia menanggapi telephone Naruto dengan serius, terlebih lagi yang diajak bicara adalah orang yang membuat penasaran banyak orang.


"Aku tidak suka itu, Sekarang apa solusimu?"


"Eh Solusi?" Sasuke berpikir sejenak.


Mana ada solusi untuk masalah seperti itu.


"Kalau kau tidak ingin terganggu jangan berulah!" Timpal Sasuke sekenanya karena ia sendiri juga bingung dimintai solusi sahabatnya seperti itu.


"Uhm begitu, memangnya kapan aku pernah berulah? Jawabanmu hampir sama dengan Hinata-chan. Intinya jangan menarik perhatian, baiklah."


"Kau ini ada-ada saja, Dobe," Komentar datar Sasuke.


"Ha ha ha begitulah, Terimakasih Teme! Sekarang lanjutkan tidurmu saja!" Belum sempat Sasuke menjawab balik ternyata saluran telephone sudah dimatikan.


"Dasar!" Umpat pelan Sasuke.


Adik dari Itachi tidak habis fikir dengan jalan fikiranNaruto yang benar-benar terlalu polos menurut Sasuke. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa dia tidak sadar jika Naruto itu bisa melakukan hal semacam itu, bahkan teman-temannya pun tidak ada yang tahu.


Fikiran Sasuke sekarang cuma si bocah ramen yang ternyata dicari-cari. Sambil berbaring dia mulai membuka-buka memori untuk membuat kesimpulan. Mulai dari munculnya pengemudi misterius, Paman Minato yang mengalahkan Shikamaru, dan sedikit informasi terlupakan adalah penyebab kecelakaan Shion yang jika ditelisik akan aneh jika hanya gara-gara putar balik Shion bisa kecelakaan. Tentunya Shion menemui orang hebat hingga bisa melakukan kesalahan seperti itu. Satu fakta lagi terlupakan yaitu yang mengemudi saat itu adalah Naruto, bukan Hinata. Belum lagi tentang pengakuan langsung dari Naruto si pelaku utama. Ditambah tentang Kakashi yang menyembunyikan rahasia. Semuanya cocok.


"Tunggu!" Sasuke bergumam lirih.


"Jika saat itu Hinata bersama Naruto, pasti Hinata tahu kemampuan dari si Dobe." Sasuke bergumam tidak jelas.


"Dan- jika aku tidak salah, berarti kemungkinan yang di sembunyikan Gaara adalah fakta tentang Naruto." Terka Sasuke sambil menyeringai kemenangan.


.


.


.


Kantin Sekolah


"Kemana perginya teman-teman?" Gaara tampak bingung melihat meja kantin yang biasa mereka tempati hanya menyisakan Sasuke, Hinata dan Naruto.


"Mengurus kesibukan masing-masing, padahal aku sudah menyuruh mereka untuk kumpul tapi mereka lebih mementingkan pengurusan ferivikasi pertandingan," ujar Sasuke tenang yang justru membuat Gaara heran karena dia terlalu cuek untuk orang penasaran.


"Pertandingan balapan lagi ?" Respon Naruto penasaran.

__ADS_1


"Bukan, tapi lebih mirip kompetisi untuk standar level klub dan individu. Tumben penasaran, kau tertarik?" Mata Sasuke tidak mengarah pada Naruto melainkan pada sosok Gaara.


Merasa dipandangi Sasuke dengan aneh Gaara berusaha mengalihkan matanya pada Naruto.


"Tidak, hanya merasa pantas saja akhir-akhir ini meja ini sepi. Kalau begitu kenapa kalian tidak sekalian pergi saja?" Justru sekarang Naruto yang penasaran, tumben seorang Prince of Night macam Sasuke dan Sabaku no Gaara tidak kumpul.


"Uhhm, Naruto-kun. Kalau aku sudah memutuskan tidak ikut." Hinata menjadi orang pertama yang menjawab dan tentu saja membuat Naruto bingung.


"Benarkah ?"


Hinata mengangguk pelan.


"Lalu kenapa kalian juga masih di sini?" Tanya Naruto keheranan.


"Semua urusan sudah diurus klub kami, berbeda dengan kawan-kawan yang status klubnya tergolong baru harus mengurus sendiri." Jawab Gaara dan balik menatap Sasuke penuh tanda tanya.


"Jangan memandangiku seperti itu Panda!" Hardik Sasuke kesal karena tidak tahan dipandangi Gaara.


"Biar kujawab, aku tidak ikut karena alasan yang sama dengan Gaara. Lalu kenapa tidak ikut mengurus jadwal latihan karena aku sudah memutuskan siapa yang akan melatihku." Ujar Sasuke cepat dengan emosi yang sedikit naik bahkan sebelum Naruto bertanya.


"Oh!" Jawab Naruto pendek.


"Jadi Sasuke, seperti janjiku kemarin akan kujelaskan-."


Belum Gaara menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong Sasuke.


"Aku sudah tahu!" Jawab Sasuke pendek dan membuat mata Gaara membulat memancarkan rasa ingin tahu.


"Jika kau bertanya kenapa bisa tahu jawabanya adalah siapa yang tidak tahu jika kau di telephone seseorang untuk membersihkan namanya dari julukkan pengemudi misterius." Sasuke menyeringai ke Naruto yang masih belum mengerti arah pembicaraan.


"Jangan cuma bisanya komentar, kau sudah punya solusi belum?" Naruto langsung angkat bicara menanggapi pertanyaan Sasuke.


"Aku sudah katakan mana ada untuk solusi seperti itu dobe!"


Gaara dan Hinata terdiam seolah menikmati debat mulut dua sahabat.


"Satu lagi, kau harus melatih kami untuk pertandingan nanti. Kau tidak boleh menolak atau kau tidak akan mendapat contekan dari siapapun, bukankah begitu Gaara?" Ancam Sasuke, sang raven kembali ke ekspresi yang mereka kenal pada Gaara yang ternyata ikut merespon niat Sasuke.


"Setuju, lumayan dapat tutor gratis, setimpal dengan contekan yang kita berikan selama ini." Gaara sangat lega saat Sasuke bisa menyikapi secara bijak fakta tentang Naruto meskipun ujung-ujungnya memanfaatkan juga.


"Eh apa-apaan itu. Kalian tahu aku tidak suka!" Tolak Naruto tegas.


"Tidak suka bukan berarti tidak bisa, Hinata-chan boleh kami pinjam Naruto untuk dijadikan tutor." Rayu Sasuke ke Hinata yang tentunya gadis lavender itu tidak bisa apa-apa.


"Tidak ada contekan atau jadi tutor kami!" Paksa Gaara.


"Curang! Tidak mau!"


Hening


Dua pemuda menyeringai keji pada Naruto. Duo setan tampan beraksi memaksa Naruto.


"Kapan?" Tanya Naruto cepat dengan perasaan sebal.


"Baiklah, jadwal menyusul!" Kata Sasuke lalu membuat tos dengan Gaara tanda kemenangan. Hitung-hitung sedikit memberi pelajaran pada Naruto yang dengan polosnya menyembunyikan kemampuan di atas mereka. Salah sendiri tidak bagi-bagi.


"Kehidupanku yang tenang akan kacau!" Rutuk Naruto pada semuanya.


"Salah sendiri punya bakat tidak memberi tahu kami. Tapi kami sungguh tidak menyangka kemampuanmu diatas kami. Dasar bodoh! Tidak disangka pengemudi misterius yang dicari-cari justru buka kartunya sendiri." Timpal Sasuke sedikit mencemooh kebodohan Naruto yang dengan lugunya mengungkap statusnya.


"Tahu begitu kemarin aku tidak minta solusi ke kamu, tidak untung tapi rugi." Ucap Naruto yang baru sadar jika akan dimanfaatkan Sasuke cs.


"Siapa juga yang suruh! Anggap saja impas sebagai bayaran contekan kami padamu selama ini. Kedua terimakasih atas perbuatanmu yang membuat kami penasaran tentangmu. Tapi tenang saja kami tidak akan mengungkap identitasmu sehingga kau tidak akan terganggu. Hanya jadi tutor apa susahnya Naruto." Imbuh Gaara untuk mendesak Naruto lebih jauh.


Sesuai dugaan sang Naruto Namikaze hanya bisa pasrah dan membuat Naruto uring-uringan selama seharian. Terpaksa Hinata yang harus melumerkan hati sang Namikaze.


.


.


.


.


Sabtu Sore KDS


"Kau belum memberi tahu mereka Sasuke?" Tanya Gaara yang baru saja tiba di jalanan KDS. Pandangannya dialihkan pada teman-teman yang berbeda klub.


"Belum, biarlah jadi kejutan, Dobe belum datang ?" Sasuke balik bertanya sambil memandang jalanan yang tampak lengang.


"Katanya menjemput Hinata dahulu. Mungkin sebentar lagi." Kata Gaara pada Sasuke.


"Sas, semua sudah kumpul. Ayo segera kita mulai saja, apa kita masih menunggu seseorang?" Shikamaru bertanya penuh selidik karena merasa agak janggal dengan kedua teman itu.


"Iya, kita masih menunggu satu orang lagi yang akan bergabung." Jawab Sasuke dengan tenang dan kalem.


"Siapa?" tanya Shikamaru bingung.


"Naruto." Jawab Gaara singkat sambil memandangi intens kedatangan sebuah mobil berwarna biru laut menuju mereka. Dengan segera saja semua mata teralih pada mobil yang baru datang.


"Mau apa dia kesini?" Shikamaru langsung bertanya pada kedua bocah mencurigakan dengan tatapan bingung.


"Lihat saja nanti!" Ujar Sasuke berteka-teki sambil menyeringai licik.


Naruto turun dari mobil bersama Hinata.


"Maaf, aku telat!" Kata Naruto diiringi cengiran kelewat lebar.

__ADS_1


"Naruto?" Sakura kebingungan melihat kedatangan Naruto.


Bersambung


__ADS_2