
Warning : Semua serba ngawur dan hanya fiktif dan tidak lupa Typo.
.
.
" Diundur atau dipindahkah? Kau bercanda, Hidan! Kami tidak bisa melakukan dua-duannya." Bentak Pein.
"Tapi ini solusi untuk kalian yang terbaik. Dengar, asal kalian tahu kami melakukan hal itu untuk mencegah kalian di serang oleh kawanan orang yang kami duga sebagai kawanan geng motor yang ada di suna. Sudah dari dulu kami mengincar mereka tapi sampai sekarang kami belum bisa memberantas klub yang tak bertanggung jawab macam itu. Maaf bung tapi ini yang terbaik." Ujar Hidan panjang. Dari apa yang dikatakan Hidan tergambar jelas bahwa suasana di Suna tidak kondusif untuk mereka.
"Bagaimana? Kami tunggu keputusan dari kalian nanti malam." Tutur Hidan lagi yang makin membuat mereka makin shock.
.
.
"Ck …tidak perlu perlu repot-repot menunggu jawaban nanti malam, Hidan." Jawab Pein seenak jidatnya sendiri yang tentu memicu argumen dari yang lain.
"Pein kita tidak bisa gegabah memutuskan tanpa perundingan!" Sikap otoriter Pein langsung mendapat tantangan keras dari seorang Hatake Kakashi.
"Aku sependapat dengan Kakashi." Ujar Sasori untuk mendukung. Keputusan yang sepihak dan tanpa pertimbangan yang matang hanya akan menghasilkan keputusan yang tidak baik terlebih lagi menyangkut orang banyak.
Alih-alih membela diri justru seriangaian licik Pein-lah yang keluar. Pria bersurai orange spike dengan tampang brandal reflek memandang Hidan dengan tatapan mengejek. Entah apa artinya itu tapi ekspresi itu cukup familiar bagi yang mengenal Pein. Sebagai mantan anggota akatsuki yang sangat mengenal Pein maka Hidan tahu betul apa arti seringaian. Bulir-bulir keringat Hidan mulai turun saat dia merasakan ada tanda-tanda Pein akan berbuat sesuatu pada dirinya.
"Kau Hidan! Ikut aku sekarang juga!" Tidak sempat mengelak mantan anak buah Pein itu diseret secara paksa oleh Pein yang sudah bertampang ala Hiruma Yoichi untuk masuk kembali ke kantor polisi. Percuma Hidan mengelak karena Pein lebih sigap.
"Semoga kau beruntung Hidan-san!" Menma langsung melambai-lambai senang dengan background bunga-bunga bertebaran di kepalanya. Keriangan Menma berbanding terbalik dengan wajah rekan-rekannya melongo sweatdrop melihat sikap Pein mirip iblis dan mampu menyeret Hidan yang notabene berstatus anggota kepolisian.
Miris ternayata akatsuki bukanlah kumpulan orang berkarismatik tinggi seperti yang terlihat di depan publik, mereka lebih cocok disebut kumpulan orang nyaris normal. Tidak ketua, tidak wakil semuanya ternyata covernya saja yang karismatik.
"Kau sepertinya senang sekali Menma melihat Hidan menderita." Celetuk Naruto sweatdrop pada sepupunya yang absurd.
"Ho ho ho kalian cukup tunggu saja dan lihat apa yang terjadi. Jangan panggil kami akatsuki jika karena hal remeh harus menyerah. Tentu Pein tidak akan tinggal diam."
Tampaknya apa yang dikatakan Menma menjadi kenyataan, setelah dua jam menunggu Pein dan Hidan akhirnya keluar dari kantor Polisi. Mereka jadi bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di dalam. Dua orang itu keluar dengan wajah yang kontras layaknya bumi dan langit. Wajah Pein tampak berseri-seri seolah baru saja memenangkan undian dan ekspresi Hidan lebih mirip orang tertekan.
"Berikan KTP kalian semua!" Ucap Pein dengan nada galak pada semua yang hadir. Seringaian iblis Pein yang penuh misteri jujur membuat bergidik.
"Untuk apa Pein?" Tanya Sasori curiga.
"Sudah berikan saja!" Paksa Pein persis preman pasar.
"Kalau tidak mau bagaimana hmmm..kau mau memaksa juga." Tolak Naruto tidak terima. Putra semata wayang Namikaze itu agaknya mencium sesuatu yang buruk jika menuruti perintah Pein. Ditambah wajah mencurigakan Menma dia makin yakin akan ada sesuatu yang melibatkan mereka. Eh tunggu dimana Menma? Bukannya dia tadi disampingnya.
"Menma kau urus-."
"Tidak perlu kau minta aku sudah tahu apa yang ada di otakmu Pein." Sahut Menma dari belakang seraya mengenggam sepuluh dompet di genggaman tangan kanan dan kiri.
"Dompetku!" Pekik Sai saat ia melihat dompet berwarna coklat miliknya ada digenggaman Menma. Reflek Itachi, Sasuke, Kakashi, Sasori, Naruto, Kiba, Sai, Gaara, Shikamaru dan Jugo merogoh saku celana dimana mereka meletakkan dompet. Ajaib dompet mereka benar-benar berpindah dari tempatnya, tidak ada yang menyangka pemuda Uzumaki bisa melakukan pencopetan masal dalam sekejab.
"Good job!" Ujar Pein senang saat melihat wajah rekan-rekannya memucat. Dengan sigap Menma mengambili KTP rekan-rekannya lalu melemparkan dompet tak berdosa seenaknya. Sebelas KTP ditangan termasuk miliknya lalu diserahkan pada Pein.
"KTP ini akan jadi jaminan di kantor polisi selama kita bermain-bermain."
TARAM!
Dengan kebanggaan yang tinggi Pein lalu memperlihatkan surat tugas milik Hidan untuk mengusut dan menangkap geng motor bersama mereka.
"Orang sinting ini berhasil membuat kesepakatan dengan pihak Polisi Sunagakure Selatan untuk membantu mengusut kasus geng motor yang selama ini sulit kami tangkap. Selama pengusutan aku yang akan menjadi penanggung jawab kalian. Mohon kerjasamanya." Tutur Hidan tak kalah pasrah dari orang-orang yang diambil KTP-nya. Mereka tampaknya sama-sama harus mengakui kekuasaan sang iblis dari Akatsuki.
"Bagus-bagus! Kau anak yang baik Hidan."
Benar-benar Pein ini sukanya ingin menang sendiri. Bukan Pein namanya kalau dia akan tinggal diam tanpa memberi perlawanan.
.
.
.
"Sial! Sial! Sial! Sial sekali kita harus terlibat urusan kriminal seperti ini." Keluh Naruto dari balik kemudi. Malam ini adalah malam perdana mereka coba menyisir kawasan Suna bersama Gaara. Sebenarnya percuma Naruto mengeluh karena pemuda disampingnya yang ditugasi menemani Naruto untuk menyisir di malam hari sudah molor dengan manisnya di jok samping. Padahal belum ada lima menit mereka berbincang tapi pemuda bersurai merah nyatanya sudah terbang ke alam mimpi meninggalkan Naruto menyetir sendirian.
"Gaara?"
Twitch!
Perempatan siku Naruto langsung naik ketika menyadari Gaara tidur. Apa-apaan pemuda merah itu tidur seenaknya tanpa rasa dosa.
"Gaara!"
"Kyaaaa!"
Naruto dengan sengaja melakukan rem mendadak agar Gaara terkejut dan terbangun. Untung saja Gaara memakai sabuk pengaman kalau tidak jidatnya pasti sudah terbentur. Pria bersurai merah reflek menggeram jengkel pada sahabatnya yang menganggu acara tidur si Panda.
"Apa? Mau marah-marah hmmmm, geng motor itu tidak akan ketemu kalau kamu mencarinya di sudut-sudut jalanan mimpimu!" Ujar Naruto terlebih dahulu sebelum Gaara mulai merutuk dan mengumpat. Sejenak Gaara memandangi Naruto dengan tatapan tajam tapi akhirnya dia harus menyerah juga untuk tidak balik mengumpat kasar.
"Kau menyebalkan Naruto." Rutuk Gaara pendek dan pelan karena tidak mau membuat masalah dengan pemuda berisik di sampingnya. Memastikan Gaara sudah benar-benar bangun Naruto kemudian melanjutkan perjalanannya menyisir kawasan Suna lebih tepatnya disepanjang Jalan Kazekage yang sepi.
"Hei Gaara, menurutmu kenapa kepolisian Suna sangat kesulitan mengusut kawanan geng motor?" Tanya Naruto sekaligus membuka percakapan untuk mencegah sahabatnya terbang lagi ke dunia mimpi.
"Ehmmm..perlu diketahui saja geng motor di Suna itu sudah ada dari dahulu dan jumlahnya sangat banyak. Geng motor di Suna bisa diibaratkan fenomena gunung es untuk Sunagakure, selain jumlahnya yang banyak beberapa geng bahkan katanya diwarisi dari generasi sebelumnya jadi sudah sangat kental disini. Selain itu mereka juga rapi dalam kucing-kucingan dengan polisi." Ujar Gaara setahunya. Dia juga tidak tahu banyak tentang geng motor di Suna karena tidak bersingungan dengan dunia balap motor yang umumnya ilegal diadakan di Suna dan meresahkan masyarakat.
Naruto mengangguk-angguk mengerti, setelah cukup lama berputar-putar Naruto akhirnya memilih untuk berhenti sejenak di depan mini market 24 jam. Rasanya dia perlu camilan gara-gara jalan-jalan malam tidak jelas bersama Gaara, kalau bersama Hinata sih tidak masalah justru dia akan jalan-jalan sepuasnya.
__ADS_1
"Aku mau turun sebentar beli makanan ringan, kau mau ikut?"
"Tidak, aku disini saja." Ujar Gaara cepat. Pemuda blonde itu kemudian turun sendiri untuk belanja. Merilekskan posisi duduknyad ia berharap bisa memejamkan matanya sebentar saja agar bisa tidur. Dia benar-benar butuh tidur.
Awalnya ia tidak mempedulikan keadaan sekitar karena diotaknya hanya ada kebutuhan untuk tidur ,tapi salahkan matanya yang beriris jade yang tertarik pada sesuatu hingga rasa kantuknya lenyap. Perhatiannya berhasil tersita oleh sebuah motor Ninja Kawasaki warna putih bertenaga 250 cc yang terpakir tepat disamping mobil Naruto. Motor besar itu terlihat sangat mengkilat, seolah motor itu adalah motor baru. Padahal jika dilihat plat nomornya motor itu sudah hampir dua tahun digunakan. Gaara asik mengamati motor itu sampai tidak lama kemudian datang seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun berpakaian kasual dengan jumper biru dan jeans hitam berjalan menuju motor disampingnya. Dari tampilannya yang kasual namun elegen mengindikasikan dia pemuda dari kalangan berduit.
"Yo, Gaara! Maaf membuatmu menunggu!"
"Gaara ada masalah?" Panggil Naruto pada kawannya yang terlihat asik mengamati seorang pemuda yang parkir di samping mobil milik sang Namikaze. Pasti ada sesuatu yang janggal hingga mampu menyita perhatian Gaara.
"Tidak, hanya heran ada pelajar keluyuran jam segini." Jawabnya kemudian mengalihkan pandangan pada Naruto.
"Bukannya sama saja denganmu saat SMA bahkan kurasa kau dan teman-teman lebih parah." Cibir Naruto pada Gaara yang mengomentari orang lain.
Sial, Gaara tidak bisa membalas komentar Naruto yang juga ikut mengkritik dirinya dimasa SMA. Menyebalkan sekali rasanya jika dikritik orang gara-gara mengkritiki perilaku orang lain yang belum tentu buruk. Ini jadi pelajaran untuknya untuk hati-hati bicara, salah-salah dia bisa dicibir habis-habisan oleh Naruto.
"Huh kau ini, aku sedang berpikir. Menurutmu kalau dilihat dari tampilannya dia itu anak klub motor bukan?" Tidak ingin berdebat lebih panjang dia ganti topik pembicaraan agar pemuda pirang itu tidak perlu ceramah dan ungkit-ungkit masa lalunya.
Naruto lalu ikut-ikutan mengamati pemuda bersurai hitam dengan tampilan Kasual. Naruto menggeleng.
"Sepertinya tidak, dia terlihat polos. Penampilannya saja rapi." Ujar Naruto saat melihat wajah pemuda yang terkesan anak baik-baik. Untung kaca mobil Naruto itu sudah diganti dengan frame yang gelap jadi tidak begitu kelihat jika mereka mengamati. Sungguh dua makhluk itu terlalu nista untuk bisa jadi duo kepo.
"Begitukah? Bisa jadi dia itu sepertimu, cuma penampilannya saja yang lugu tapi aslinya jangan-jangan rider."
Reflek Naruto mendeathglare Gaara. "Balik nyindir ceritanya."
"Maaf, tapi tu memang kenyataannya." Jawab Gaara tanpa mengalihkan pandangan dari sosok pemuda asing yang kini memainkan smartphone miliknya.
"Heh cabut yuk! Tidak sopan mencurigai orang." Ajak Naruto pada Gaara . Sebenarnya Gaara masih ingin mencari tahu siapa pemuda aneh diluar namun apa daya Naruto telah mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu.
Seperti hampir jadi kebiasaan menyetir Naruto laju mobil tidak lebih dari 40 km/jam sehingga terkesan sedang santai. Di dalam mobil pun nampaknya Gaara belum puas untuk membicarakan pemuda yang tadi mereka lihat.
"Entah mengapa aku punya feeling jika pemuda itu seorang rider." Ujar Gaara pada Naruto yang masih menyetir untuk menyusuri jalanan yang sepi.
"Kau ini terlalu curigaan Gaara! Memangnya atas dasar apa kau mempunyai dugaan seperti itu?" Tanya Naruto pada Gaara.
"Naluri?" Jawab sekaligus bertanya dengan nada ragu. Seperti yang di duga Gaara, Naruto pasti akan mentertawainya. Sayangnya obrolan santai itu harus terusik saat ada mobil lain mengklakson mereka.
Tin!
Tin!
"Minggir!" Ucap Gaara reflek walau sebenarnya tidak perlu karena Naruto sudah minggir terlebih dahulu sebelum disuruh. Baru saja mereka dikejutkan dengan lewatnya mobil yang melaju kencang tiba-tiba dari belakang sudah ada tiga motor yang melaju cepat dan akibatnya Naruto kurang antisipasi saat tiga motor menyalip seenaknya dengan memepet dan memotong jalan hingga memaksa Naruto banting stir kekanan untuk menghindari tabrakan.
Brumm…
Brummm…
Bruuummmmmmmm….
Bunyi decitan ban akibat rem terdengar begitu keras saat Naruto berusaha menghentikan mobilnya sebelum menabrak pembatas jalan.
"Hosh! Hosh!" Nafas dua pemuda itu terengah-engah dan jantung mereka tak dipungkiri seperti mau copot saat mereka hampir saja mengalami kecelakaan, mereka tergolong sial karena meski laju mobil tidak dalam kecepatan tinggi tapi jalanan menikung dan agak licin membuat mobil sedikit kehilangan kendali.
Cukup membuat shock mendadak saat mereka menyadari mobil yang dikendalikan Naruto melintang ditengah jalan hingga menutupi setengah bagian. Untung saja Naruto memiliki reflek yang bagus sehingga mampu membelokan mobil dengan arah berlawanan tikungan untuk memperlambat gaya gesek. Jika hanya mengandalkan rem depan dan belakang melewati tikungan dari posisi vertikal besar kemungkinan mereka akan kecelakaan karena tidak akan ada kesempatan untuk membelok.
Tiga motor yang diketahui jadi penyebabnya melenggang pergi begitu saja tanpa tanggung jawab.
"Hampir saja!" Ucap Naruto lemas.
"Hampir." Balas Gaara tak kalah lemas. Siapapun juga akan shock jika mereka hampir saja mengalami kecelakaan.
Tuk! Tuk!
Tiba-tiba kaca pintu mobil diketuk dari posisi Gaara diketuk seseorang. Gaara kemudian menurunkan kaca mobil Naruto dan mendapati seorang pemuda yang ternyata mereka lihat di mini market.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya pemuda yang menunjukkan kekhawatiran.
"Ng..yah, kami baik-baik saja tidak ada yang terluka kok. Kami hanya sedikit shock tadi karena hampir saja mengalami kecelakaan." Ujar Naruto pada pemuda asing yang tiba-tiba muncul tanpa mereka sadari. Sangat mengejutkan jika pemuda itu ternyata ada dibelakang mereka tadi.
"Yah, aku tahu. Syukurlah jika baik-baik saja dan tidak mengalami luka, kalian masih bisa menyetir kan? Kusarankan kalian segera pergi dari area ini." Pinta pemuda itu secara baik-baik. Dari nadanya yang diperdengarkan jelas sekali kali kalau pemuda itu memberi peringatan bahwa ada bahaya.
"Memangnya ada apa?" Gaara bertanya dengan nada polos untuk berpura-pura tidak tahu. Naruto sontak melirik Gaara yang mengejutkan mau repot-repot bersikap seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
"Disini area tidak aman, ini daerah rawan." Ujarnya cepat. Pemuda asing itu tampaknya memiliki kesimpulan dua orang ini kemungkinan besar tidak tahu menahu soal geng motor.
"Sepertinya kami salah tempat ya he he he." Ucap Naruto basa-basi.
"Baiklah sepertinya kalian baik-baik saja dan tidak ada masalah. Maaf, aku tidak punya waktu banyak untuk berbincang aku harus pergi." Ujar pemuda asing berparas kalem yang entah siapa namanya. Dari nada bicaranya ia seperti sedang terburu-buru membuat heran Naruto dan Gaara.
"Terimakasih sudah repot-repot khawatir pada kami. Oh ya perkenalkan aku Sabaku no Gaara dan ini kawanku Namikaze Naruto." Kata Gaara untuk berterimakasih sekaligus memperkenalkan diri.
Pemuda asing itu tersenyum ramah. "Namaku Inari, sama-sama Sabaku-san, Namikaze-san."
"Cukup Naruto saja Inari dan kalau dia kau bisa memanggilnya panda." Gaara langsung memberi deathglare pada Naruto. Jelas dia tidak suka jika dipanggil panda meski julukan itu memang cocok untuknya.
"Abaikan dia. Kau bisa memanggilku Gaara, Inari." Ucap Gaara meluruskan perkataan Naruto sebelum pemuda bernama Inari lebih mengenalnya dengan sebutan panda.
"Senang bertemu denganmu Gaara, Naruto. Semoga kita dapat bertemu lagi." Ucap Inari cepat, sekarang terlihat jelas jika pemuda itu benar-benar terburu-buru ingin meninggalkan Gaara dan Naruto. Terbukti dengan wajahnya yang gelisah seperti mengejar sesuatu.
"Yah, sepertinya Inari sedang terburu-buru padahal aku masih ingin ngobrol. Ya sudahlah, semoga kita berjumpa lagi ya Inari." Ucap Naruto yang dibalas dengan anggukan dan senyum ramah Inari.
Pemuda berwajah lugu bernama Inari itu lalu memakai helmnya kemudian berlalu meninggalkan mereka. Tepat saat motor putih itu menghilang dibalik tikungan Naruto kemudian segera tancap gas mengikuti arah Inari pergi.
__ADS_1
"Kukira kau tidak akan mengikutinya." Komentar Gaara pada Naruto yang mengemudi disampingnya.
"Naluriku mengatakan dia tahu sesuatu." Ucap Naruto tanpa berpaling pada Gaara. Bukan tanpa dasar Naruto mencurigai Inari tahu sesuatu, kehadiran Inari dirasa terlalu kebetulan saat mereka hampir saja kecelakaan. Bukankah sebelum kejadian ada mobil yang melaju kencang lalu diikuti tiga motor yang tampaknya mengejar. Dilihat dari ekspresi Inari yang begitu khawatir melihat keadaan mereka serta sikapnya yang seperti terburu-buru menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres.
"Gaara! Jangan-jangan mobil yang tadi itu tadi calon sasaran geng motor."
"Baru saja aku ingin berkata seperti itu."
Bodohnya mereka tidak sadar jika tadi ada mobil yang melaju kencang diikuti tiga motor. Jika tahu mobil itu dikejar pastinya mereka akan berusaha mengikuti, mungkin saja Inari resah karena dia tahu akan ada korban lagi.
Memburu waktu, Naruto segera bergegas untuk menyusuri jalanan Kazekage yang untungnya hanya jalanan yang satu akses dan akan berakhir saat memasuki persimpangan masuk kota dan tol.
Hanya kebetulan atau memang sudah takdir setelah menyusuri jalanan mereka bertemu Inari lagi yang berhenti disamping sebuah mobil Mitshubisi Lancer warna hitam. Yang membuat Gaara dan Naruto terkejut adalah bersama Inari ada dua orang yang terkulai lemah dengan banyak luka memar dalam keadaan hampir pingsan. Bergegas mereka turun dari mobil untuk melihat apa yang terjadi.
"Astaga! Apa yang terjadi?" Tanya Naruto pada Inari yang terlihat panik dan bingung berbuat apa disamping para korban.
"Mereka jadi korban geng motor." Jawab Inari mewakili dua orang yang tak berdaya.
"Gaara ambil P3K dan mitela di bagasi mobilku. Aku harus menghentikan perdarahannya dahulu sebelum membawanya kerumah sakit." Perintah Naruto pada Gaara disampingnya. Pemuda merah itu segera mengangguk kemudian mengambil apa yang dikatakan Naruto.
"Inari, tolong minggir sebentar." Inari menurut saja apa yang dikatakan Naruto karena ia sama sekali tidak paham tentang pertolongan medis pertama pada korban luka seperti ini.
"Apa kau bisa mendengarku?" Tanya Naruto untuk mencari tahu apakah si korban masih merespon atau tidak. Sikorban mengangguk namun tidak berbicara dan itu sudah cukup untuk Naruto melakukan tindakan.
"Ini, aku bawakan P3K dan mitela yang kau suruh." Gaara langsung memberikannya pada Naruto. Pemuda Sabaku itu sudah tidak heran lagi jika di dalam mobil Naruto tersedia alat P3K lengkap karena tahu betul sifat Naruto yang selalu siaga dengan hal-hal semacam ini.
Naruto mengangguk. Pemuda Namikaze itu kemudian memulai dari korban yang terlihat paling parah karena bagian kepala belakangnya mengalami perdarahan. Mula-mula dia cek bagian kepala yang merupakan bagian yang paling rawan kemudian berlanjut keseluruh tubuh. Untung saja tidak ada sampai ada patah tulang karena hanya mengalami babak belur biasa. Meski begitu tapi pasti si korban sudah kesakitan.
Berbekal sisa pelatihan yang dia ingat saat SMA jadi anggota PMR dan pengalaman bersama ayahnya dia kemudian melakukan balut bidai untuk melakukan pertolongan pertama untuk peristiwa semacam ini. Ini lebih dianjurkan daripada langsung membawa korban tanpa penanganan apapun karena dikhawatirkan korban korban bisa kehabisan darah apabila tidak dihentikan lebih dahulu. Dibantu dengan Gaara yang ternyata sudah tahu apa yang dibutuhkan Naruto maka mereka dapat memberi pertolongan dengan cepat.
Kurang dari 10 menit semua korban sudah dapat pertolongan pertama. Inari hanya melongo melihat dua pemuda yang terampil memberi pertolongan, yang satu membidai yang satu melipatkan mitela dan mempersiapkan segalanya. Benar-benar beruntung dia bertemu orang yang mampu mengambil tindakan paling tepat.
"Kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit untuk ditindak lanjuti secara medis. " Ujar Naruto mengkomando. Kalau sudah soal begini Gaara sepenuhnya menuruti Naruto, bersama Inari ketiganya lalu membawa korban ke rumah sakit.
Inari benar-benar layaknya penonton sekarang terlebih lagi saat dirumah sakit. Naruto sibuk mengurus administrasi ke sana kemari dan Gaara tak henti-hentinya berbicara dengan seseorang di telephone. Dialah yang bertugas menjaga dua orang asing yang sekarang tertidur dan sama sekali tidak dikenalnya. Melihat dua pemuda yang baru dikenalnya tampak sibuk jadi membuatnya bertanya-tanya apakah mereka mengenal si korban? Tapi jika dilihat saat memberi pertolongan mereka juga tidak terlihat mengenal si korban. Lantas kenapa mereka jadi sesibuk itu?
Cklek.
Pintu kamar rawat kelas II kamar mawar terbuka, Inari sedikit lega saat yang masuk adalah Gaara. Ia segera turun dari ranjang kamar yang kosong karena kebetulan hanya mereka berdua yang menempati.
"Kau tampak sibuk sekali Gaara? Apa mereka temanmu?" Tanya Inari pada pemuda Sabaku yang baru masuk.
"Bukan, memangnya kalau bukan temanku tidak boleh ditolong? Aku juga baru bertemu mereka kali ini. Tadi aku hanya menghubungi temanku untuk menghubungi kenalannya di klub mobil untuk mencari tahu adakah anggota mereka yang memakai mobil bertipe seperti milik mereka." Ucap Gaara sambil duduk di kursi tunggu.
"Tidak menghubungi polisi?" Tanya Inari lagi.
"Tanpa kau suruhpun aku sudah menghubungi polisi. Ini pasti ulah geng motor lagi!" Jawab Gaara sarkastik. Mendengar Gaara menuduh geng motor sedikit membuat Inari berjengit. Rupanya reputasi kelompok balap motor di Suna sudah serusak itu dimata masyarakat.
"Geng motor ya, yah beberapa dari mereka memang pengacau tapi tidak semuanya seperti itu tahu." Ucap Inari sedikit membela. Pemuda itu jadi prihatin tentang cap buruk yang melekat pada anak-anak motor seperti dirinya. Padahal kelompoknya bukanlah tipe yang mengacau, justru kelompok ini ikut mengawasi keamanan Suna meski secara sembunyi-sembunyi. Buktinya ia dan rekan-rekannya menyebar di wilayah Suna. Mereka tahu resiko akan dimusuhi kelompok lain tapi mereka lebih memilih dimusuhi daripada ikut mengacau. Hanya masalah wilayah kenapa bisa sampai memicu masalah?
"Mungkin kau benar, tapi mereka keterlaluan." Jawab Gaara penuh kemarahan. Inari jadi menunduk prihatin, ternyata orang-orang mungkin akan semarah ini jika bertemu dengan anggota klub motor. Inari tidak mau menganggap klubnya 'White Eagle' sebagai geng karena ia tahu klubnya bukanlah kumpulan orang tidak bertanggung jawab, mereka bahkan sebenarnya klub legal. Beberapa dari mereka bahkan sudah mengikuti kompetisi resmi, meskipun begitu tapi tidak bisa dipungkiri mereka terkadang harus berduel secara ilegal dengan kelompok lain untuk berlatih. Hal inilah yang menjadikan White Eagle bisa berada di dua sisi.
Bruagh!
"Hei kalau jalan lihat-lihat! Berserakan semua bawaanku!"
"Maaf aku tidak sengaja."
"Pokoknya aku tidak mau tahu-…"
"Naruto/Sara?" Panggil Gaara dan Inari bersamaan. Dua orang yang hampir saja bertengkar di depan pintu kemudian menoleh pada yang memanggil. Naruto segera memberesi bawaan yang berserakan miliknya dan milik sang gadis. Tidak mau tahu gadis bersurai merah itu seenaknya pergi saat melihat Inari.
"Inari-chan! Kau membuatku khawatir! Kau tahu aku sudah panik saat dikabari kau dirumah sakit." Gadis yang dipanggil Sara oleh Inari itu langsung memeluk sang pemuda tanpa rasa canggung. Dia adalah Sara rekan Inari di klub motor, gadis bersurai merah berpenampilan tomboy mirip style laki-laki minus rambut merah yang dikuncir kuda.
" Inari-chan! Demi apapun aku menyesal tidak menemanimu tadi malam. Inari-chan lain kali jangan pergi sendiri." Ucap Sara dengan nada manja yang menggelikan ditelinga Gaara.
"Maaf Nona bisakah kau menurunkan volume suaramu itu? Disini ada pasien yang dirawat." Pinta Gaara secara halus. Agaknya pria merah itu sedikit terganggu ketika tahu-tahu datang wanita aneh berbicara dengan nada tinggi yang cukup menganggu telinga. Terlebih sikapnya yang kelewat heboh saat memeluk Inari jadi membuat Gaara ilfell.
"Ah, aku jadi lupa. Perkenalkan wanita berisik ini namanya Sara, dia temanku. Mohon dimaafkan jika dia agak menjengkelkan. Sara perkenalkan ini Sabaku no Gaara dan itu Namikaze Naruto." Ucap Inari untuk mencairkan suasana. Sara reflek memberi deathglare manis pada Inari.
"Ya, dia memang agak menjengkelkan." Jawab Gaara jujur.
Setelah memberi deathglare pada Inari kemudian Sara berpaling pada Gaara dengan ekspresi merendahkan. Dua pemilik surai merah tak ayal saling melayangkan pandangan tidak suka karena menemukan ketidak cocokan sifat dari masing-masing. Sengatan listrik percik dari perselisihan tidak dapat dihindarkan lagi timbul antara Sara dan Gaara di waktu itu juga.
"Hei..hei..hei.. kalian berdua sebaiknya jangan bertengkar, tidak baik tahu." Relai Naruto pada keduanya.
Sara langsung membuang muka tidak mau menatap Gaara.
"Wanita benar-benar merepotkan." Pikir Gaara dalam hati sekaligus menyetujui pendapat Shikamaru soal wanita. Lihat baru pertama kali bertemu tapi mereka sudah hampir terjadi masalah. Benar-benar merepotkan.
Setelah kejadian itu mereka berempat hampir tidak ada percakapan sama sekali karena tidak terlihat berusaha ada yang memulai baik dari pihak Naruto maupun Inari. Akibatnya suasana canggunglah yang terbangun. Tapi itu dirasa lebih baik daripada mereka ribut.
Tidak berapa lama kemudian datang dokter diikuti keluarga dan rekan-rekan korban yang dengan segera mengambil alih tugas mereka berempat. Maka dari itu selesailah tugas mereka.
.
.
.
Sebagai perpisahan mereka berempat memutuskan untuk pulang bersama. Mereka cukup berbincang banyak tapi sama sekali tidak menyinggung soal geng motor. Saat ini mereka sedang diparkiran untuk menunggu Sara yang katanya harus mengambil kendarannya dahulu. Disinilah Naruto dan Gaara dikejutkan akan suatu hal yang menurut mereka tidak biasa.
"Kau kesini naik motor seperti itu?" Naruto terperangah tidak percaya saat Sara satu-satunya wanita diantara mereka berhenti sejenak diparkiran setelah minta ditunggu karena kendaraanya diparkirkan di blok lain. Sungguh Naruto dan Gaara tidak menyangka jika Sara yang seorang wanita ternyata membawa motor yang hampir mirip dengan Inari.
__ADS_1
Sara membuka helmnya untuk menunjukkan wajahnya. "Kenapa?Kalian terkejut?"
Bersambung