
"Kau kesini naik motor seperti itu?" Naruto terperangah tidak percaya saat Sara satu-satunya wanita diantara mereka berhenti sejenak diparkiran. Sara memang minta ditunggu karena kendaraanya diparkirkan di blok lain. Sungguh Naruto dan Gaara tidak menyangka jika Sara yang seorang wanita ternyata membawa motor yang hampir mirip dengan Inari.
Sara membuka helmnya untuk menunjukkan wajahnya. "Kenapa?Kalian terkejut?"
000
Naruto garuk-garuk kepala diiringi senyum lebar khas orang kikuk. "Engg…hanya heran saja. Soalnya kami jarang lihat perempuan mengendarai motor sport, iya-kan Gaara?" Tangan kanan Naruto menyikut Gaara agar sang sahabat ikut tanggap. Naruto menyengir saja tanpa dosa saat Gaara terlihat sama bingungnya untuk menjawab sekaligus memperpanjang topik pembicaraan. Kehadiran Sara yang mengendarai motor dengan tipe tidak lazim untuk wanita jelas mengundang rasa penasaran keduanya.
"Engg..ya begitulah." Jika kau memaksa Gaara maka beginilah hasilnya, menghasilkan jawaban singkat, ala kadarnya dan itu bukan sama sekali yang diharapkan Naruto. Gaara bukan tipe pemuda yang pintar membuat alasan jadi dia jawab sekenanya saja, pria Sabaku lalu menimpali Naruto dengan senyum garing untuk meminta maaf. Ujung-ujungnya Naruto dan Gaara saling melempar deathglare karena tidak ada yang mau disalahkan.
Jika dua sahabat itu terlihat saling mendeathglare maka raut wajah cantik Sara yang baru saja melepas helm justru terlihat senang. Ekspresi wajahnya sulit didefinisikan saat seriangaian aneh menghiasi bibirnya mungilnya. Sara memang senang dan dia kini sedang berbangga karena ucapan Naruto dan Gaara tadi. Baginya kalimat yang dilontarkan oleh keduanya merupakan bukti bahwa gadis macam dirinya memang langka ditemui. Menjadi berbeda melalui hobinya membuat Sara lebih merasa unik dibandingkan dengan gadis-gadis umumnya yang rata-rata hanya pandai bersolek saja.
Sara memiringkan kepala lalu menatap keduanya dengan mata berbinar. "Yeah, aku memang menyukai kecepatan."
Inari menggeleng pelan ketika rekan satu klubnya mulai lagi pamer tentang hobinya pada orang lain. Pemuda sembilan belas tahun itu sudah bisa menebak bagaimana nanti antusiasnya jawaban Sara jika ditanggapi. Ya, dia sembilan belas tahun tapi gara-gara wajahnya yang baby face ia sering dikira anak sekolahan.
"Maksudnya kecepatan?" Tanya Naruto dengan raut wajah penasaran.
"Abaikan saja, dia hanya wanita gila yang hobinya balapan motor. Tapi sungguh kalian jangan berpikiran negative dulu jika mendengar balapan motor." Jawab Inari menyerobot sebelum rekannya sempat memberi jawaban. Sara sudah menampakkan wajah cemberut mengetahui gilirannya menjawab diambil seenaknya oleh Inari.
Gaara dan Naruto lagi-lagi saling melirik. "Jadi asli nih mereka rider?" Kira-kira itulah kesimpulan dalam benak Gaara dan Naruto secara bersamaan.
Yang paling menampakkan ekspresi horror tentu adalah sang Namikaze. Iris safirenya langsung memandangi Sara dari atas ke bawah. Dari tampilan motor, style busana Sara, sampai-sampai dia tidak sadar membuat sang gadis risih.
"Kamu? Anak perempuan? Balapan motor? Apa itu artinya kebut-kebutan dijalan, begitukah? Bagaimana pendapatmu tentang anak perempuan balapan motor, Gaara?" Paranoid Naruto kumat lagi soal balapan gara-gara tahu fakta Sara itu rider.
Entah Gaara yang lagi kesambet atau tumben anak buah Sasori itu sedang waras jawaban dari si Panda adalah, "Itu kurang baik untuk anak perempuan." Padahal Gaara sekalipun tidak pernah mengkomentari adanya kaum hawa di dunia balap mobil, tapi kenapa bisa demikian? Jawaban paling logis mungkin Gaara terkena virus paranoidnya Naruto soal dunia balap. Hmmm..bisa jadi. Mungkin? Yang jelas tidak ada yang tahu jalan pikiran Gaara sebenarnya.
"Betul." Timpal Naruto sambil mengangguk-ngagguk polos.
Inari dan Sara malah terkikik pelan melihat bagaimana reaksi keduanya, ekspresi mereka benar-benar mirip pemuda lugu yang seolah baru tahu dunia luar.
"ha ha ha… khikhi, terimakasih. Kalian berdua benar-benar sangat bijak mau berkomentar jujur." Celetuk Sara tanpa dosa. Tangan kirinya bahkan digunakan menutup mulut untuk menahan tawa. Nampaknya Gaara dan Naruto jadi duo polos dimata Sara dan Inari.
Guratan kekesalan jelas terlihat diwajah si pemilik surai pirang dan merah. Apa maksud dari Sara tertawa tidak jelas seperti itu? Bukankah tidak ada yang lucu dari jawaban Gaara dan Naruto.
"Sara, jangan tertawa! Kau itu dinasehati bukan dipuji oleh mereka. Maaf kami tidak menertawakan kalian, hanya saja kami jarang bertemua orang yang tidak langsung mencaci jika tahu hobi kami." Kata Inari untuk menghentikan tawa Sara sekaligus menjelaskan pada Naruto dan Gaara agar mereka tidak salah paham tentang keduanya.
Bagai bunglon yang dapat mimikri dengan cepat mimik wajah Naruto sudah berseri-seri. "Ahaaa..jadi apa kalian tergabung dalam geng juga?"
"Bukan geng..tapi klub." Jawab Sara cepat penuh nada kesal. Tangannya sudah berkacak pinggang menunjukkan ketidaksukaan. Sara tidak terima klubnya bernaung disebut sebagai geng yang identik dengan konotasi negative.
"Ah iya-iya, maaf. Wah berarti cocok nih kalau diadu sama Gaara." Hell! Apa maksud Naruto barusan? Gaara shock ketika seenak jidatnya Naruto mengumpankan orang. Mendeathglare Naruto yang baru saja menepuk bahunya Gaara membalas dengan nyiyiran tajam, "Sepertinya kamu lebih cocok deh Naruto."
Sara dan Inari saling melirik karena belum paham orientasi percakapan mereka. "Apa kalian balapan motor juga?" Pertanyaan dari Inari mengalihkan percakapan kedunya.
"Maaa…tidak-tidak, jika ditawari terimakasih, aku sudah cukup trauma dengan namanya motor gara-gara pernah jatuh." Nada penolakan dengan tegas diucapkan Naruto sembari menampilkan ekspresi horror layaknya orang trauma akut. Kalau reaksi ini Gaara tidak meragukan lagi karena waktu SMA Naruto pernah seminggu tidak masuk gara-gara jatuh. Pemuda Namikaze cukup trauma pernah dijahili Sasuke dan kawan-kawan untuk mencoba motor sport milik Uchiha. Bisa dimaklumi.
Nah sebenarnya soal kebut-kebutan motor diantara mereka ada Itachi, Sasuke serta Menma yang mungkinbisa diharapkan.
Biasalah! Uchiha memang dikenal penyuka tantangan. Bahkan desas-desusnya Itachi Uchiha dulu dimasa SMA sempat bersinggungan dengan dunia balap motor. Benar atau tidaknya info itu Naruto tidak tahu karena belum pernah mendengar langsung dari mulut Itachi. Kalau Menma sih Naruto tahu betul pemuda saklek itu tumbuh dikalangan keluarga Uzumaki yang penggila balap, seingatnya Menma juga punya motor, pastinya tidak menutup kemungkinan Menma ber-skill juga dalam dunia balap motor.
Gaara ikut menggeleng. "Ngg..aku tidak pernah balapan motor."
"Serius tidak pernah?" Gadis cantik bersurai merah mengernyit. Kalau dilihat dari face memang keduanya tampak seperti pemuda lugu, tapi entah mengapa merasa aneh pada keduanya.
"Lima serius kalau perlu! Memangnya kenapa?" Jawab Naruto dan balik bertanya.
Inari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia baru ingat dengan siapa mereka bicara. Warga sipil yang dikenal secara tidak sengaja dan mungkin tidak mengenal yang namanya dunia balap motor.
"Ahhh, tidak. Pasti kalian bukan warga asli Suna soalnya kalau pemuda Suna sih identik dengan dengan dunia kebut-kebutan he he he. Jadi bukan ya, sepertinya baru tahu juga." Inari jadi malu bicara kesana kemari tapi orang yang diajak tidak mengerti.
"Maaa..tidak apa-apa! Santai saja! Aku setuju orang-orang Suna itu identik kebut-kebutan! Memang sih identik dengan bahaya tapi keren kok asal tidak bikin rusuh saja he he he." Kata-kata Naruto tampaknya sedikit menyindir sang sahabat, apa itu maksudnya orang-orang Suna identik dengan kebut-kebutan? Gaara tersinggung karena dia lahir di Sunagakure.
Jika Gaara tersindir maka Inari dan Sara reflek terdiam. Bukan marah tapi prihatin, mereka tahu apa yang dimaksud Naruto, geng yang membuat rusuh sudah membuat stigma negative untuk anak motor di Suna.
Setitik nila rusak susu sebelanga.
"Yah aku tahu, ulah mereka yang menghajar anggota dari klub mobil membuat situasi panas. Kami juga tidak menginginkan hal itu." Ungkap Inari.
Gara-gara ocehan Naruto suasana diantara mereka jadi tidak nyaman. Sara terlihat tersinggung dan ia hanya diam sembari memainkan kunci motor. Bibir tipisnya terlihat mengerucut dengan pandangan mata keatas seolah membuang muka untuk menghindari kontak.
Ugh! Suasana tidak nyaman gara-gara Naruto.
Gaara melirik kekanan dan kekiri, dia baru menyadari jika dari tadi mereka mengobrol diparkiran rumah sakit yang sepi. Rupanya dari tadi mereka mengobrol banyak tapi tidak begitu membuahkan hasil, kesempatan mengorek info tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja terlebih mereka anggota klub balap.
"Lupakan ocehan Naruto, to de point saja sepertinya kita satu visi. Kebetulan kami juga sedang melakukan pengusutan siapa pelakunya, kita bisa bicara banyak, ngg… itupun jika kalian mau." Gaara akhirnya memecah kesunyian diantara mereka.
Naruto reflek melongo, tidak ada hujan tidak ada badai tumben Gaara bicara banyak.
Inari dan Sara terlihat berpikir.
"Setuju!" Sara yang menjawab mewakili Inari.
"Baiklah, tapi kalau kita bicara ditempat lain bagaimana?" Usul Inari. Ketidaknyamanan berbicara ditempat parkir nyatanya juga ditangkap oleh Inari.
__ADS_1
"Terserah kalian." Timpal Gaara.
"Hmmm, baiklah. Boleh minta nomor handphone kalian? Nanti aku akan mengirim pesan untuk kalian."
Gaara dan Naruto mengangguk menyetujui Inari. Mereka lalu bertukar nomor handphone. Mengingat ke empatnya belum istirahat semalaman akhirnya pertemuan diakhiri dengan ucapan singkat.
"Hei, Naruto aku penasaran." Tepat sebelum mobil Naruto berjalan tahu-tahu Inari sudah ada disamping mobil, dia belum memakai helmnya sehingga Naruto masih dengan jelas mendengar suara sang pemuda. Naruto menurunkan kaca mobilnya lebih rendah dari sebelumnya.
Alis pirang Naruto mengernyit, pertanda bingung. Apa yang membuat Inari penasaran? Gaara juga terlihat melongok untuk mencuri dengar.
"Penasaran apa?" Tanya Naruto heran.
"Apa kalian berdua ini polisi?"
"HAAAAHHHH! BUKAN!
.
.
.
"Mana orangnya? Kok tidak datang-datang?" Pertanyaan itu terus menggema berulang-rulang dari mulut rewel si pemuda Uzumaki. Menyesal sudah Naruto dan Gaara mengajak manusia absurd itu. Sudah rewel bikin malu pula di tempat umum dengan menggoda gadis-gadis yang lewat di taman kota Suna.
Ya, mereka akan bertemu dengan Sara dan Inari di taman kota. Taman kota di Suna pada malam hari ternyata sungguh ramai dan tidak heran menjadi tempat hang out para anak muda. Taman seluas dua hectare itu memiliki air mancur di pusatnya, jalan setapaknya di susun dari batu-batu hias putih. Jika kesana malam hari tidak perlu soal minimnya pencahaayaan karena lampu-lampu taman terjejer di sepanjang jalan setapak. Tapi jangan sekali-sekali berpikir untuk berbuat macam-macam disana karena disana terdapat petugas yang menjaga.
Hatching!
Tanpa diperintah Gaara dan Menma menggeser tubuhnya agar jauh dari si sumber virus. Bangku taman di sudut pintu keluar langsung kosong pada bagian tengah menyisakan Naruto yang duduk ditengah. Dua pemuda tampan lalu memandang jijik pada sang pemuda bersurai pirang yang mengenakan jaket hitam tebal sedang mengelap ingusnya dengan tisu putih. Dasar anak mami, baru kurang istirahat semalam saja Naruto sudah kena flu. Pastinya flu Naruto akan bertambah akut malam ini karena suhu udara cukup dingin.
"Maaf menunggu lama." Perhatian ketiganya teralih saat suara halus seorang perempuan menyapa. Ketiga pasang mata memandang dua orang yang datang.
Seorang wanita cantik bersurai merah tentu paling menyita perhatian Menma. Bukan kagum tapi lebih seperti rasa penasaran, dia sudah dengar dari Naruto tentang mereka.
"Ne..ne..pemuda berandal bertampang imut ini siapa?" Sara dengan ramahnya menunjuk-nunjuk Menma seperti anak kecil lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Twitch!
Pemuda berandal bertampang imut? Sungguhkah dia menyebut Menma imut? Dari mana imutnya coba penampilan Menma yang surai hitamnya acak-acakan, mengenakan celana jeans hitam kedodoran dan kemeja biru panjang yang digulung seperti tukang bangunan.
"Aku Sara dan ini Inari, salam kenal." Riang sekali Sara bertemu Menma untuk pertama kali. Inari menutupi wajahnya menggunakan sebelah tangan, sepertinya dia malu. Gaara dan Naruto sweatdrop ditempat, ia tidak menyangka wanita yang tadi pagi judes tampak ramah sekali.
Mereka tidak memungkiri Sara cantik terlebih malam ini. Surai merahnya yang tadi pagi dikuncir kuda dibiarkan tergerai, menggenakan jeans putih dengan jaket kulit merah marun dia terlihat anggun. Memang mengakui cantik tapi mereka tidak tertarik.
"Maaf aku hadir tanpa diundang, urusan ini juga urusanku. Kita akan bicara dimana? tidak mungkin rasanya membicarakan hal penting di tempat umum." Menma mengambil alih pembicaraan, dari sikapnya yang berubah serius Naruto tahu Menma tidak sedang ingin basa-basi. Sara menyeringai senang melihat sikap dingin Menma
"Jadi, kau berandal imut ikut campur juga. Baiklah sekarang kalian ikut kami ke lingkar luar Suna. Kita akan bicara bersama dengan ketua kami." Kata Sara tidak mau kalah.
"Ikut kami." Perintah Sara pada ketiganya.
"Berikan kuncimu Naruto, biar aku yang menyetir." Mau tidak mau Naruto menyerahkan kunci mobilnya meski diliputi perasaan was-was mobilnya akan dipakai kebut-kebutan.
Jadi sekarang mereka akan datang salah satu sarang klub balap motor?
Menggunakan mobil Corolla Axio warna biru laut milik sang sepupu Menma mengikuti jalannya dua motor di depan tanpa banyak bicara. Menyusuri jalanan lingkar luar Suna yang terkenal, dia hanya melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Dua motor di depan awalnya melaju dengan kecepatan cukup tinggi namun karena Menma tertinggal mereka menurunkan kecepatannya. Menma bisa saja mengimbangi mereka namun ada ujian tersendiri yang harus diberikan untuk memastikan apakah mereka memang mau serius bekerja sama atau tidak.
Inari dan Sara tidak meninggalkannya dan itu sudah cukup bagi sang Uzumaki untuk percaya. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju.
Mereka cukup terkejut mendapati banyaknya para anak muda bermotor disana. Ada sekitar dua puluhan pemuda yang hadir. Bukan masalah jumlah pemuda yang hadir tapi masalah dimana mereka selama ini? Menma dan kawan-kawan hampir tidak pernah berpapasan dengan komunitas motor saat menyusuri kawasan ini.
Kehadiran satu-satunya mobil di salah satu sudut area pertokoan terbengkalai membuat puluhan pasang mata terhenyak. Beberapa dari mereka terang-terangan memandang kearah mereka karena penasaran. Tidak mempedulikan semua itu, Menma memarkirkan mobilnya tidak jauh dari berhentinya motor yang dikendarai Sara dan Inari. Kesan cool begitu jelas terpancar begitu ketiganya keluar dari mobil, terlebih lagi Menma sang berandal imut dimata Sara jadi paling stoic diantara Gaara dan Naruto. Auranya jadi begitu berbeda saat serius, kesan dingin dan karismatik jadi lebih dominan sehingga tidak heran beberapa gadis yang ada tampak terpesona.
"Jadi disini tempat kalian berkumpul." Kata Menma pada Inari dan Sara. Iris onix sang pemuda menyorot setiap sudut untuk membaca situasi. Semua motor sport milik anggota berwarna putih dengan stiker hitam tulisan graffiti nama klub. Rasanya Menma tidak asing melihat mereka di berbagai sudut kawasan Suna.
"Ya, ini tempat berkumpul kami." Ujar Inari pada Menma. Dia ikut mengedarkan penglihatannya saat Menma mengamati. "Apa ada yang salah?" Pikirnya resah.
Setelah cukup lama terdiam Menma berpaling pada Sara dan Inari. "Dimana ketua kalian?"
"Ups..ya ampun aku lupa memberi tahu jika ketua tadi memberi pesan kalian diminta menunggu sebentar karena mendadak dia harus menemui teman lamanya." Ujar Sara panik sambil menepuk jidatnya. Bodohnya dia lupa menyampaikan pesan penting itu.
Alis Menma bertaut memandang tajam Sara.
"Kau tidak bohong kan?" Pertanyaan Menma begitu tajam dan menusuk. Merasa dituduh Sara langsung bereaksi keras.
"Untuk apa aku berbohong, tidak ada untungnya tahu." Ucap gadis cantik itu bernada amarah. Menma memandang acuh pada Sara.
"Baiklah kami menunggu tapi jika lebih dari satu jam, kami pergi." Kata Menma sinis. Meski tersinggung juga, Inari berusaha tetap ramah. Melupakan sejenak acara detensinya Menma menoleh kesamping kanan dimana tadi Naruto berdiri.
Kosong.
Menoleh kesamping kiri juga kosong, makhluk merah cap panda juga tidak ada disampingnya. Mengedarkan matanya panik ia mencari sosok Gaara dan Naruto di area itu. Pemuda bermarga Uzumaki itu terlihat kaget begitu melihat dua orang yang dicari justru asik berbincang dengan salah satu anggota klub. Gaara tampak asik memainkan gas pada motor sementara Naruto terlihat menginterogasi si pemilik. Pantas dari tadi dia tidak mendengar suara mereka.
Sara tersenyum kecil saat ikut melihat dua pemuda rekan Menma akrab dengan salah satu anggota timnya
"Mereka berdua mungkin mulai tertarik pada motor." Ujar Inari pada Menma.
__ADS_1
Tidak berpaling, Menma terus memperhatikan intens tingkah Naruto dan Gaara yang mirip anak kecil. Sebuah seringain muncul ketika selintas ide lewat dikepalanya. Memangnya Menma mau mati kebosanan menunggu seseorang tanpa melakukan apapun.
"Hei Inari, boleh pinjam dua motor?"
Inari berjengit ngeri ketika melihat wajah stoic Menma memberikan pandangan lapar pada Gaara dan Naruto. "U-untuk apa?" Tanya Menma gagap. Pikiran negative mulai berterbangan di otak Inari.
Menma menyeringai. "Tentu saja mengisi waktu luang untuk menunggu."
"Ba-baiklah." Entah apa yang terjadi pada Inari, dia menuruti saja perintah Menma. Sara bahkan terlihat takut memandang Menma. Naluri Sara mengatakan mereka tidak sedang berurusan dengan orang sembarangan. Apakah dia Intel?
Dua kunci ada ditangan Menma sekarang. Tidak perlu basa-basi kaki jenjang Menma kemudian melangkah dimana Naruto dan Gaara berada.
Puk!
Sebuah kunci motor melayang kearah Gaara dan tanpa sadar sang pemuda Sabaku reflek menangkapnya sebelum mengenai jidat.
"Eh..kunci motor?" Gaara memandang heran kunci ditangannya, reflek ia mencari siapa pelaku pelempar kunci. Iris onix dan jade saling terpaku. Dari raut wajahnya Gaara sudah tahu pelaku pelempar kunci. Menma
"Apa maksudnya ini?" Tanya Gaara lagi tapi menggunakan nada tinggi. Iris jadenya menatap serius Menma. Beberapa orang bahkan sampai menengok karena ingin tahu apa yang terjadi
"Memangnya kau tidak bosan? Bagaimana kalau kita balapan motor?" Ajakan Menma membuat Gaara mengernyit.
Meloading apa yang dikatakan Menma, Gaara lalu memekik dengan tidak elitnya. "Heee…balapan motor?" Ulang Gaara untuk memastikan pendengarannya normal.
Sang Uzumaki melepas topeng stoicnya dan nyengir kuda pada Gaara. "Naruto tidak mungkin mau, bocah itu punya trauma. Ayo kita bermain sebentar!" Kerah baju sang Sabaku diseret seenaknya oleh Menma. Tarik menarik antara Menma dan Gaara membuat sweatdrop banyak orang. Sudah tidak jelas dari mana datangnya, tiba-tiba membuat keributan dengan adegan tarik menarik ala anime. Meski ujung-ujungnya bisa ditebak Menma pemenangnya tapi perlawanan Gaara patut diacungi jempol.
"Aku masih dendam padamu di balapan terakhir!" Nada Menma kembali tajam.
"Heee…!" Gaara sekali lagi menjawab dengan cara tidak elit.
"Aku akan menghancurkan mobilmu jika kau menolak!" Ancam Menma tanpa memberi kesempatan bicara.
Naruto menganga lebar. Dia tidak habis pikir sempat-sempatnya sang sepupu cari perkara di kawasan orang.
"Ta-tapi-"
"Kau harus menurut padaku jika tidak mau pulang jalan kaki Sabaku no Gaara." Benar-benar deh! Menma selalu tahu bagaimana cara membuat orang menurut. Buktinya dia berhasil memaksa Gaara untuk mengangguk kaku tanda menurut.
Cap devil pada Menma langsung melekat malam itu juga.
Dasar!
Orang-orang disana tidak tahu menahu ada perkara apa, tiba-tiba mereka akan disuguhi balapan antara dua pemuda tidak jelas identitasnya. Sabaku no Gaara, Menma, kedua nama itu dibicarakan terus sepanjang persiapan balapan. Mereka asing dengan nama itu dan mereka juga tidak ada yang tahu reputasinya. Saat ditanyai oleh Inari, Naruto juga hanya menggidikan bahu.
"Mereka memang seperti itu." Naruto tampak enggan bicara banyak.
"Aku lebih menghawatirkan keselamatan mereka." Gumam Sara lirih, fokus matanya tidak bisa lepas dari sosok Gaara dan Menma yang sedang melakukan persiapan warm up. Wajar Sara khawatir karena ia tidak tahu latar belakang keduanya. Kalau terjadi kecelakaan bagaimana?
"Biarin, kalau jatuh aku bawa P3K banyak!" Jawab Naruto acuh seakan tidak peduli atau memang tidak peduli?
"Apa mereka pernah melakukan balap motor?" Tanya Inari pada Naruto.
"Tidak tahu!" Oke..pemuda pirang itu benar-benar jadi ketus jika ditanyai balapan antara Gaara dan Menma. Mungkin Naruto sedang kesal.
"Kau tidak cemas?" Lagi-lagi Naruto jadi sasaran pertanyaan oleh Inari.
Oke baiklah! Sudah cukup menginterogasi Naruto. Tiga pemuda yang ditemui Inari dan Sara benar-benar bermuka dua. Bermuka lugu cocok, bersikap stoic-pun juga cocok. Lihat saja bagaimana tajamnya mata Naruto sekarang, layaknya harimau memburu mangsa.
.
.
Brummm! Brumm!
Derungan suara motor memecah kesunyian malam saat Gaara dan Menma untuk pertama kali mencoba motor sport milik anggota white eagle. Melakukan warm up jadi uji coba pertama untuk mengetahui karakteristik motor serta jalanan yang akan dilewati. Tanpa persiapan matang , bermodal nekat dan bisa naik motor mereka akan menjajal dunia balap roda dua.
Brummm! Brummm!
Suara knalpot lagi-lagi menggema dari dua motor sport kawasaki warna putih yang kini dinaiki oleh Gaara dan Menma. Dibalik helm, fokus mereka tidak bisa dialihkan lagi dari jalanan.
Brummm! Brummmmmmm!
Diawali oleh Gaara kemudian disusul oleh Menma, dua motor warna putih itu telah melenggang bagai busur yang lepas. Permulaan yang benar-benar baik dimata Inari. Kecepatan mereka bisa naik secara konstan. Ini baru pemanasan dan sepertinya jadi benar-benar panas gara-gara di ujung tikungan pertama motor yang dikendarai Menma secara sengaja memepet motor Gaara yang mengambil sudut menikung agak ke tengah.
"Kyaaa!" Reflek Sara menutup saat motor yang dikendarai Menma sama-sama menikung mengikuti Gaara. Dua motor dengan jarak yang begitu sempit menikung dalam rentang waktu hampir bersamaan kemungkinan besar akan mengalami kecelakaan. Beberapa anggota juga terlihat menutup mata karena takut melihat.
Apa reaksi Naruto? Pemuda itu setia menonton dan hasilnya ia hampir saja jantungan gara-gara melihat kelakukan sang sepupu.
"Huhhh…"Benafaslah lega layaknya Naruto karena Gaara secara atraktive mampu melewati tikungan lebih dulu daripada Menma sehingga kecelakaanpun terhindarkan.
Gaara secara mengejutkan mampu menghindari salipan Menma yang berbahaya di tikungan awal.
Nyaris! Benar-benar nyaris! Tidak mereka mengerti warm up itu apa? Rasanya Naruto ingin menjitak kepala mereka satu persatu saat itu juga.
-Bersambung-
__ADS_1