
Chapter 8
Nyaris! Benar-benar nyaris! Tidak mereka mengerti warm up itu apa? Rasanya Naruto ingin menjitak kepala mereka satu persatu saat itu juga.
.
.
.
"Me-mereka itu-."
"Gila!" Ucapan Sara dipotong oleh Naruto yang setengah berteriak. Umpatan cenderung kasar dilontarkan Naruto pada dua orang yang nyaris membuatnya gagal jantung. Naruto sungguh tahu menantangnya sensasi saat adrenalin mulai terpacu akan terasa menyenangkan tapi balap motor resikonya lebih berbahaya. Jika gaya balapan mereka tidak diubah maka tidak menutup kemungkinan akan ada yang celaka. Menggunakan motor jauh lebih riskan mengingat keseimbangan saat melaju dengan kecepatan tinggi lebih mudah goyah karena tubuh langsung menghadapi tekanan angin. Menma tidak seharusnya bertindak seperti tadi, seandainya Gaara telat bereaksi pemuda merah itu kemungkinan bisa jatuh.
Sebagian besar ekspresi rekan-rekan Inari dan Sara menunjukkan wajah tegang untuk sementara namun setelah waktu berlalu raut ekspresi mereka berubah menjadi penasaran, tidak terkecuali Inari.
"Dari cara start sepertinya Menma dan Gaara cukup potensial." Ujar Inari pada Naruto setelah aura ketegangannya lenyap. Intuisinya sebagai pembalap motor agaknya menangkap sesuatu. Tindakan Menma ditikungan pertama terlalu berani untuk ukuran pemula dan bagaimana cara Gaara menghindari Menma menjadi atensi tersendiri. Cara Menma tadi menantang Gaara menunjukkan adanya rivalitas tinggi, meski ragu tapi Inari yakin rivalitas keduanya menarik untuk diikuti. Bukan sekedar pemula tapi lebih dari itu. Layaknya benih persaingan yang tumbuh karena tersulut emosi. Artinya persaingan Gaara dan Menma bukan baru pertama kali ini terjadi.
Jika Inari dan yang lain tampak tertarik maka Naruto sebaliknya. Cemas? Bukan cemas maupun khawatir tapi lebih mengarah ke rasa jengkel. Seharusnya mereka ingat untuk tujuan apa mereka repot-repot mencari-cari info tentang geng motor kalau bukan ingin membantu kepolisian Suna. Daripada menghabiskan waktu untuk balapan tidak jelas, mereka bisa bertanya-tanya tenta geng motor di Suna. Tidak harus menunggu ketuanya, mereka bisa mengobrol dengan Inari, Sara ataupun orang-orang disana.
"Apa kau menghawatirkan mereka?" Lamunan Naruto terhenti ketika telapak tangan Sara digerak-gerakan dari atas kebawah tepat di depan wajah Naruto. Reflek dia berpaling pada gadis berambut merah panjang lalu menoleh pada Inari.
"Hah, tidak. Tadi kau bicara apa Inari? Mereka potensial? Kalau tertarik comot saja mereka. Aku ridha dunia dan akhirat jika mereka mau alih profesi." Cerocos Naruto entah mengapa kembali ke mode sensi. Awan gelap tanpa sebab musabab benar-benar datang menaungi kepala Naruto. Sepanjang waktu menunggu kembalinya Menma dan Gaara melakukan warm up pemuda bermata safire itu jadi sosok suram yang siap meledak jika diganggu. Para anggota klub yang penasaran dengan segera mereka pergi dari lokasi start untuk menyebar dibeberapa lokasi strategis untuk menonton.
Naruto terus menekuk mukanya bahkan dia mengabaikan teriakan Sara ketika mendapati catatan waktu yang dibutuhkan Gaara dan Menma untuk menyusuri jalanan yang digunakan. Catatan waktu Gaara 15 menit 13 detik dan Menma hanya terpaut 3 detik dibelakangnya. Putra semata wayang Namikaze geleng-geleng kepala, tidak habis pikir keduanya begitu menarik perhatian.
"Hei Inari, aku ingin bertanya." Akhirnya Naruto menyelesaikan acara jengkelnya dan mau berbincang lagi.
Tanpa berpaling dari Menma dan Gaara Inari menjawab. "Silahkan, memangnya kau ingin bertanya tentang apa?"
"Para anggota geng motor yang menyerang anggota klub mobil. Apa kau tahu sesuatu yang mungkin jadi penyebab mereka melakukan itu?"
Inari terdiam. Mendesah panjang, pandangan matanya dialihkan ke Naruto. "Hei sebelum aku menjawab, aku ingin mengajukan suatu pertanyaan. Ada urusan apa sebenarnya kau ingin tahu geng motor?" Wajar Inari bertanya penuh selidik pada Naruto. Kalau dipikir-pikir kenapa juga Naruto dan rekan-rekannya mau repot-repot menyelidiki bahkan ingin menangkap. Mereka bukan polisi, lalu mereka siapa?
Keterkejutan diwajah pemuda Namikaze sekilas terlihat lalu digantikan oleh wajah malu-malu. "Ehe…itu gara-gara kami dikejar waktu. Di ajang balapan mobil sedang ada event tapi karena gara-gara ulah geng motor, kepolisian Suna terpaksa menunda.."
"Ja-jadi kau itu bagian dari klub balap mobil." Inari jadi tidak fokus lagi terhadap Gaara dan Menma yang sedang melakukan start. Dia jadi lebih tertarik untuk mengobrol dengan Naruto. Dia tidak pernah punya hubungan pertemanan dengan anggota klub balap mobil karena di Suna dua komunitas ini saling bertolak belakang. Selama ini di Suna lebih kental akan persaingan balap motor ketimbang balap mobil.
Naruto tertawa canggung. "Kalau aku tidak bergabung dimanapun he he he , tapi kalau Gaara dan Menma keduanya memang tergabung dalam klub."
"Pantas saja kalau begitu. Jadi feelingku benar jika persaingan Gaara dan Menma bukan sekedar bermain-main."
"Hah, dasar mereka. Anggap saja mereka itu anak-anak, maklum mereka tidak pernah lihat motor." Sindiran Naruto membuat Inari tertawa lepas.
Arah pembicaraan dirasa semakin menarik untuk disimak oleh Inari. Situasi memang sedang runyam karena geng-geng kolot sedang berulah tapi bertemu dengan beberapa orang dari komunitas balap berbeda namun satu tujuan menjadi bumbu menarik dalam konflik ini. Kalau begitu dia akan senang hati membagi informasi pada mereka, ini dilakukan untuk coba membenahi stigma negative yang sudah terlanjur melekat. Mereka sama-sama berasal dari dunia balap, jika klub balap mobil sampai bisa mendapatkan kepercayaan dari polisi maka mereka juga bisa mendapat kepercayaan yang sama.
"Apa itu artinya kalian sedang berusaha menangkap geng motor yang rusuh?" Inari bertanya sekaligus mengajukan pertanyaan sebagai simpulan dari garis besar mengapa mereka bertiga ingin tahu.
"Ya, kalau begitu bersediakah klub kalian bekerja sama dengan kami?"
Pertanyaan Naruto membuat Inari diam. Bukan karena tidak mau tapi dia tidak mempunyai wewenang akan hal itu. Ketuanyalah yang berhak memutuskan, dia hanya anggota disini. Jika boleh menjawab dari lubuk hati yang paling dalam dia tentu mau tapi apa ketua dan rekan-rekannya mau bekerja sama dengan orang-orang dari klub mobil mengingat selama ini dua klub ini jarang mau bersinggungan satu sama lain. Lebih-lebih di Suna klub mobil dan motor bahkan tampak anti satu sama lain. Membagi info mungkin masih bisa di zona aman tapi bekerja sama dengan klub mobil itu artinya langsung mendeklarasikan perang. Saat ini saja klub mereka sudah dimusuhi secara halus, apalagi nanti jika kerja sama dengan klub mobil.
Pertandingan Gaara dan Menma sudah dimulai, seperti biasa sorak-sorai menggema di tempat itu begitu dua motor melesat dari garis start. Naruto dan Inari menjadi dua orang yang tampak tidak menikmati suasana. Mereka berkutat dengan pikiran masing-masing. Cukup lama terdiam sampai perhatian mereka teralihkan oleh pendatang baru yang memasuki area tersebut.
Tidak lama setelah pertandingan Gaara dan Menma dimulai datang sebuah mobil hitam bermerek ternama berplat nomor Konoha. Dibelakangnya kemudian datang sepeda motor yang identik dengan klub Inari. Naruto melongo mendapati siapa yang datang, Uchiha bersaudara. Dunia benar-benar sesempit daun kelor!
Itachi dan Sasuke juga tak kalah terkejut, saat turun dari mobil mereka bertemu dengan Naruto di tempat ini. Alis Sasuke bertaut bingung, di otaknya penuh dengan pikiran tanda tanya melihat sahabat kuning nan berisiknya ada di sarang anak klub motor.
"Dobe, apa yang kau lakukan disini?"
.
.
.
Gaara vs Menma
__ADS_1
Brummmm! Brummmmm!
Derungan liar suara dua motor yang beradu berhasil memecah keheningan malam jalur lingkar Suna. Keduanya melaju dengan kecepatan yang bisa dikatakan cukup tinggi untuk ukuran sepeda motor. Beradu untuk menjadi yang paling depan keduanya terlihat saling menyusul meski satu sama lain berusaha melaju seaman mungkin. Sensasi beradu kecepatan dengan sepeda motor jauh berbeda ketika menggunakan mobil. Jika keduanya biasa memainkan stir mobil yang dikombinasi dengan permainan gas maka kunci dari adu kecepatan motor berubah pada teknik memainkan kopling dan gas yang ada di tangan serta gigi pada kaki. Tekanan angin saat melaju kencang menjadi hambatan lain yang harus dihadapi.
"Kuso!" Umpat Menma dalam hati ketika lagi-lagi ditikungan dia hampir mengalami tergelincir saat mencoba menyalib Gaara yang didepan. Mengendalikan kuda besi dari klub Inari bernaung membuatnya kepayahan. Dugaan Menma motor yang dia kendarai menggunakan konfigurasi mesin dua silinder, tenaga yang dihasilkan terasa besar tapi sangat liar baginya yang terbiasa menggunakan motor berkonfigurasi satu silinder. Roda belakangnya sungguh sulit dikontrol saat gas dibuka besar secara mendadak, akibatnya dia berulang kali hampir tergelincir dan mengurangi kecepatannya.
Bagaimana dengan Gaara? Ternyata sifatnya yang sabaran sangat membantu memaksimalkan peforma motor yang dikendarainya. Tidak seperti Menma yang hampir selalu tergelincir dia bahkan bisa mengendalikannya dengan mudah. Berprinsip asal selamat dan tidak mau aneh-aneh dia ternyata justru dapat menemukan kunci untuk menaklukan kuda besi berkapasitas 250 cc yang juga dikenal mirip superbike mini. Kuncinya adalah waktu yang tepat dalam mengontrol gas.
Brummmm!
Beberapa orang berteriak riuh ketika dua motor itu keluar dari tikungan kemudian saling mengejar dilintasan lurus. Meski hanya menonton para anggota White Eagle begitu terhibur melihat motor yang ada di posisi belakang berhasil mendekati motor di depan. Hanya sepintas lewat namun euforia yang ditebarkan begitu terasa. Meski kecepatannya belum menyaingi para senior tapi atraksi yang dipertunjukkan dua pemuda asing cukup menghibur. Layaknya anggota baru yang punya ambisi menggebu-gebu ujuk gigi ke senior. Ambisi besar itu sangat-sangat diperlihatkan oleh Menma yang ada dibelakang Gaara. Tertatih namun tetap gigih memangkas jarak.
Brummmmm! Brummmm!
Dua motor yang dikendarai Gaara dan Menma jaraknya makin berdekatan. Gaara masih memimpin di depan, sekilas iris jadenya melihat pantulan lampu motor yang kian mendekat dan dipastikan itu Menma. Jalanan lurus seharusnya dimanfaatkan pria Sabaku untuk menaikan kecepatan lalu menjauh, ya seharusnya. Tapi nampaknya hal itu tidak dilakukannya karena pandangan terhadap jalanan sungguh membuatnya takut. Melirik spidometer yang hampir menembus angka 110 km/jam cukup membuatnya ngeri. Dia tidak tahu apa sebabnya tapi desiran di jantungnya tidak bisa bohong ketika jantungnya berdegup kencang saat pekatnya jalanan tertembus oleh laju motornya. Semua benda di kanan-kiri seperti lebih cepat bergerak dibandingkan dia saat melajukan mobil. Rasa takut yang bercampur kengerian selintas membayangi pikiran ketika memikirkan kehilangan kendali motor. Jika kecelakaan tubuhnya akan langsung terkena dampaknya.
Mengerikan. Tapi mendapati Menma sudah hampir sejajar, reflek tangannya memutar gasnya lebih dalam untuk menjauh. Boleh dia takut tapi secara alamiah dia tidak sudi kalah dari Menma. Egonya untuk menjadi terbaik masih tetap menyala apapun caranya.
Pria Uzumaki itu mendecih pelan ketika Gaara menaikan kecepatannya. Dia selalu kalah dalam mempertahankan kecepatan untuk menikung, belajar dari kesalahan dia coba bersabar layaknya pemuda bersurai merah. Tidak ada yang istimewa dari cara mereka menikung, tidak lagi-lagi mencoba memiringkan posisi layaknya pebalap motor professional untuk mengurangi turunya kecepatan secara drastis. Seperti warm up tadi dua-dunya sama-sama hampir mengalami tergelincir gara-gara shock akan perputaran ban belakang yang terlalu liar. Untung masih bisa mengendalikan, kalau sampai keduanya tergelincir habislah reputasi mereka dihadapan Naruto. Pastinya mereka akan kena ceramah luar biasa dasyat dari sang Namikaze.
Memasuki tikungan lagi kini Menma mulai menemukan feeling bagaimana cara mengendalikan motor setidaknya untuk mengimbangi kecepatan Gaara hasilnya lumayan cukup memangkas jarak. Suasana menjadi makin jadi menegangkan bagi Gaara dan Menma karena sudah memasuki tiga tikungan keduanya hampir selalu beriringan. Jika balapan mobil biasanya Menma berani seenaknya memotong jalan maka di balapan motor dia begitu memperhatikan keselamatan. Teknik mereka pas-pasan atau bisa dibilang sekedar tahu untuk Menma dan sekadar bisa naik motor bagi Gaara. Masalah reflek juga mereka tidak sebaik saat menguasai mobil.
Berbeda. Kepuasan batin akan balapan masih dirasa kurang ketika ada batasan disana-sini yang belum terlewati.
Shit!
Mereka belum bisa menemukan cara menikmati balapan ini.
.
.
.
Uchiha bersaudara dan Naruto saling terpaku sesaat ketika saling mendapati satu sama lain di tempat tidak terduga. Dipikiran Itachi dan Sasuke hanya ada keheranan tentang kenapa bisa ada si pemuda paranoid.
"Kalian berdua juga kenapa ada disini?" Naruto membalik pertanyaan untuknya.
"Inari inikah temanmu yang kau ceritakan itu?" Tanya pemuda pirang itu lalu dijawab anggukan singkat oleh Inari. Sekilas orang disamping Inari tersenyum hangat kemudian memperkenalkan diri.
"Perkenalkan aku Temujin, ketua White Eagle. Maaf aku tadi menemui temanku ini dan tampaknya kalian saling kenal juga." Tangan kanan sang ketua terulur untuk Naruto, dan sang Namikaze membalas dengan senang hati. Naruto mengernyit tidak mengerti ketika melihat ekspresi Itachi yang tidak biasa, terlebih lagi saat menatap Temujin.
"Namikaze Naruto, senang bertemu denganmu Temujin-san." Jawab Naruto pada pria dihadapannya.
"Sungguh ini kebetulan sekali, ternyata teman Inari dan temanku saling mengenal. Hmmmm…apa ini intinya Naruto-san juga ingin mencari tahu lebih banyak tentang geng motor yang merusuh?" Tanya Temujin basa-basi. Naruto mengangguk singkat. Sekilas pria bersurai pirang panjang rekan Itachi tersenyum aneh pada Naruto. Cepat-cepat Itachi memberikan death glare manis pada Temujin.
"Temujin, jangan coba berpikiran untuk melibatkan Naruto." Kata Itachi cepat sebelum ketua White Eagle bermain-bermain dengan sahabat adiknya. Temujin, rekan Itachi semasa SMA. Meski Temujin di Konoha hanya satu tahun, Itachi bisa dikatakan bersahabat dengannya dan sangat mengenal bagaimana karakteristik sang ketua White Eagle.
"Ya..ya..ya…sahabatku. Setelah lama tidak bertemu kau ini masih sama saja, tidak suka bermain-main sedikit." Ucap Temujin penuh bosan pada Itachi. Dimatanya Uchiha Itachi masih jadi sosok yang sama, kesan serius dan angker sulit lepas dari image yang ada di otaknya. Ingatannya masih jelas mencetak memori seorang Itachi Uchiha yang dingin dan karismatik, sosok angkuh yang sulit dijatuhkan namun menyimpan kehangatan bagi yang mengenalnya dekat.
"Aku tidak punya waktu banyak Temujin sebaiknya kau percepat permainanmu atau-." Kata-kata dari Itachi ini jujur membuat bulu kudu Naruto meremang. Tidak pernah sekalipun dia mendengar nada dingin, tajam apalagi mengancam keluar dari mulut sang Uchiha sulung. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka?
"Atau apa Itachi? Jangan seenaknya mengancamku Uchiha." Bentak Temujin tidak mau kalah. Naruto yang masih bingung melempar pandangan minta dijelaskan oleh Sasuke. Pasti telah terjadi sesuatu sebelum mereka datang , tidak mungkin mereka berdua sampai ngotot kalau tidak terjadi sesuatu.
"Hei Teme Itachi-nii kenapa?" Tanya Naruto berbisik rendah.
"Biasa, aura devil-nya sedang bangun." Jawab Sasuke tanpa menoleh bagaimana reaksi Naruto. Adik Itachi itu benar-benar sedang menikmati sisi setan Itachi yang sedang muncul. Dia sendiri jarang-jarang bisa melihat Itachi yang dikenalnya saklek bin ajaib bertransformasi jadi demon versi manusia. Sekali-sekali dia ingin berduel dengan Itachi dalam hal apapun dalam keadaan serius. Menyesal Sasuke tidak pernah mengetahui perangai Itachi di sekolah saat SMA. Pasti menarik jika setiap hari berhadapan orang macam ayahnya yang jadi kakaknya.
Cklek..cklek..
Naruto melotot kaku ketika entah sejak kapan ditangan seorang Uchiha Itachi telah memegang revolver dengan moncong mengarah ke kepala Temujin. Ya, sebuah senjata api dengan bagian pegangan berwarna emas berhias ukiran klasik. Jika diperhatikan lebih detail tampak lambang kipas Uchiha tercetak sebagai identitas pemilik. Semua keturunan laki-laki Uchiha akan memilikinya jika usianya sudah 21 tahun. Bukan untuk sekedar gengsi tapi itu sudah jadi tradisi.
Jadi selama ini Itachi membawa senjata itu kemana-mana! Sasuke girang bukan kepalang ternyata feelingnya tidak salah, ternyata kakaknya tidaklah sepolos kelihatannya. Bukan sekedar pemuda yang biasa disuruh-suruh Mikoto untuk memasak, bukan pula seorang kakak yang baik hati mau menjadi teknisi adiknya. Pantas! Itachi sering terkena lemparan panci Ibunya tanpa sebab. Sebagai Ibu Mikoto pasti tahu betul hitam putih sifat anaknya.
"Kau…." Iris mata Temujin melotot tidak percaya. Seharusnya dia bisa sedikit mengontrol Itachi bukan sebaliknya. Itachi memintanya untuk disusupkan masuk ke lingkup geng-geng elit di Suna. Dalam hati dia menyetujui namun dia juga ingin sedikit memberi permainan pada Itachi. Hanya permainan kecil dan dia yakin 100 persen Uchiha akan lulus. Hanya bayaran sederhana sebagai ganti karena dia ikut mempertaruhkan klub motornya. Temujin tidak menyangka Itachi benar-benar serius menanggapi taruhannya. Keringat dipelipis Temujin perlahan turun seiring tatapan tajam mata Uchiha.
Wow..
__ADS_1
Senjata api tepat menuju kepalanya. Temujin sangat percaya jika lebih ditantang Itachi akan berani menarik pelatuk senjatanya.
Benar-benar mengerikan jika berhadapan dengan anggota keluarga berlambang kipas itu. Tidak main-main, langsung minta diakseskan ke sasaran utama. Selama ini tidak ada yang punya cukup nyali besar untuk mengusik kekuasaan para geng, bahkan kepolisian Suna kesulitan membersihkan. Uchiha Itachi apa yang kau rencanakan?
"Kami tidak punya waktu banyak. Aku sudah berbaik hati menuruti keinginanmu, kukira kau sudah mengenalku Temujin-san. Apa kau suka membiarkan peristiwa ini berlarut-larut?" Itachi masih mengarahkan moncong pistolnya ke Temujin. Inari, Sara dan rekan-rekan lain sudah tegang luar biasa mendapati ketuanya diancam. Ingin membela tapi Temujin memberi sinyal gerakan tangan untuk mereka tidak ikut campur.
"Sebaiknya cepat kau katakan, siapa yang harus Itachi-nii lawan? Kau, pemuda itu atau perempuan itu? Itachi-nii tidak akan melanggar janjinya." Tunjuk Sasuke satu-satu. Dia berinisiatif menjadi penengah sebelum situasi tidak terkendali.
"Baiklah, kau akan melawanku. Sekarang." Jawab Temujin cepat sebelum rekan SMA-nya berbuat lebih.
Itachi tersenyum bengis mendengar jawaban itu. Dia turunkan senjata api pengancamnya.
"Baguslah, itu yang kutunggu." Itachi memasukkan kembali senjatanya dibalik baju hangatnya. Sadar dia menjadi pusat perhatian wajah bengis sang raven kembali melembut. Senyum hangatnya kembali diukir seolah tidak terjadi apa-apa diantara dirinya dan Temujin. Kini Naruto menyadari suatu hal, sekian banyak orang-orang ternama di dunia balap mereka punya hampir satu kesamaan. Otaknya tidak ada yang beres sehingga sulit dibedakan mana sifat asli dan mana sifat topengnya. Mulai dari Kakashi, Pein, Menma dan sekarang Itachi.
Siapa mereka? Entahlah.
Kembali ke duel manusia panda dan si abstrak Menma.
Apa kabar duo yang sedang bertanding? Siapa pemenangnya?
Pemenangnya adalah Menma dengan jarak yang begitu tipis. Gaara memang terlihat kesal tapi pria Sabaku itu tidak begitu mengambil hati karena dia anggap pertandingan tadi hanya untuk senang-senang. Terserah Menma mengklaimnya sebagai kemenangan. Gaara tidak peduli.
"Heh, kenapa ada kalian disini? Jangan-jangan kalian mengikuti kami!" Kalimat itu meluncur mulus dari bibir Menma saat kembali ke tempat semula untuk mengembalikan motor. Iris mata sepupu Naruto itu memandangi Uchiha bersaudara dari atas kebawah dengan tatapan sinis dan lebih sinis lagi saat beradu tatapan dengan Sasuke.
"Cih, jangan seenaknya menuduh. Buat apa mengikuti trio berisik macam kalian. Kami punya misi sendiri tahu."
Sudah pasti ada yang tersinggung di cap trio berisik. Orang yang tidak terima adalah Gaara. Hei, dia baru datang dan juga belum komentar apapun kenapa dilabeli trio berisik.
"Jangan samakan aku dengan mereka!" Protes Gaara pada Sasuke.
Naruto menekan keningnya lebih dalam. Sudah kuliah tapi kelakuannya masih saja seperti anak SMA. Lihat, dia tidak perlu ikut-ikutan berkomentar ketiganya sudah mulai perang lidah sendiri. Kapan mereka akan mengentikan hobi mengikuti Naruto yang berisik? Naruto saja sudah jauh lebih dewasa dalam bersikap. Jika mengikuti perang ketiganya tidak akan pernah habis. Lama-lama malu punya teman yang hobinya ribut dimanapun dan tidak tahu tempat.
Naruto akhirnya memilih mendekati Inari dan Sara yang tampak berbincang serius dengan anggota lain. Topik pembicaraan mereka sudah pasti duel Itachi dan Temujin yang akan dilakukan sebentar lagi. Baru saja datang, Inari dan Sara sudah menggeret Naruto ketempat agak sepi namun tidak jauh dari kerumunan. Dari sikap mereka yang serius sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan keduanya.
"Naruto, apa benar pria itu yang bernama Uchiha Itachi?" Tanya Sara serius sambil menunjuk Itachi yang di dekat Temujin. Wajah cantik Sara begitu penasaran ketika memandangi Itachi.
"Dia memang Itachi, kenapa?" Naruto balik bertanya.
Sara dan Inari lalu saling melirik kemudian mengangguk. Entah itu kode apa jelasnya Naruto tidak tahu apa maknanya.
"Tidak salah lagi, berarti dia adalah orang yang selama ini ketua bicarakan. Uchiha Itachi sahabat SMA ketua, yang juga ikut merintis berdirinya White Eagle." Bukan main terkejutnya Naruto mendengar fakta Itachi punya keterkaitan dengan klub ini. Dia mungkin tidak terlalu terkejut mengetahui Itachi akan balap motor tapi Itachi ikut merintis White Eagle membuatnya tidak percaya. Jadi terasa wajar jika Itachi berani menantang Temujin.
"I-itu serius. Itachi-nii perintis White Eagle. Su-su-lit dipercaya."
.
.
.
Tuk!
Busa soda dari sebuah minuman kaleng keluar begitu saja dan tepat sebelum menumpahi secara sigap minuman itu telah masuk kemulut seseorang. Terasa segar saat melewati tenggorokan yang kering di tengah pikiran yang panas membuat rencana. Tidak sampai satu menit hampir semua minuman soda itu hampir habis. Tidak mempedulikan maupun sekedar basa-basi untuk menawari pria bersurai orange itu menikmati sendiri soda kaleng yang dia beli.
"Ups aku lupa..maaf sudah habis." Katanya tanpa dosa layaknya anak kecil.
"Tidak perlu basa-basi kalau tidak niat memberi tidak usah pura-pura lupa aku disampingmu." Pria berstatus polisi sudah tahu betul sifat rekannya. Membenarkan posisi topi dark blue dikepalanya, iris mata sang polisi kembali mengamati suasana.
Ditepi jalanan dekat café seputar kawasan Universitas Suna, Pein memarkirkan mobilnya. Pein dan Hidan kini sedang istirahat setelah mencoba menyusuri pusat kota Suna yang sering menjadi tempat tongkrongan anak muda. Sekilas tidak akan ada yang menyangka jika pria tampan bertopi bertubuh tegap dengan pakaian casual adalah seorang polisi yang sedang menyamar. Menanggalkan pakaian dinasnya, dia terlihat seperti pemuda umumnya seusia Pein.
"Hei."
"Hmm.." Jawab Pein asal.
"Apa kau tidak khawatir? Apa tidak terlalu mencolok mengirimkan dia?" Tanya Hidan bertubi, raut wajahnya menampakkan kecemasan.
"Huh, sama sekali tidak. Aku sudah mencari info secara detail dan hanya dia yang cocok melakukan ini. Ibarat nelayan, jika kau ingin menangkap ikan maka berilah umpan apa yang menjadi selera sang ikan." Pein lalu meremas-remas kaleng soda dengan mudah seolah kaleng itu adalah botol plastik. Menimbulkan debaman kecil saat dilempar ke tempat sampah, ketua Akatsuki itu lalu menyeringai menang.
__ADS_1
"Tenang saja brother, kita akan melewati dua-tiga pulau sekaligus."
Bersambung